Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki
mas Gibran?


__ADS_3

HAPPY READING🤗🥰


Setelah menginap sehari di hotel, keesokan paginya Yuri menuju ke rumah mantan suaminya yang dulu.


15 menit perjalanan, Yuri telah sampai dirumah mantan suaminya dulu, ia memarkirkan mobilnya lalu memencet bel rumah tersebut.


'semoga, mas Gibran masih tinggal disini' Yuri berharap kalau Gibran masih menetap dirumah tersebut.


Beberapa menit kemudian, sang pemilik rumah pun keluar, dia adalah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda nan cantik.


'apa dia istrinya mas Gibran?' batin Yuri dengan terus menatap wanita didepannya.


"Siapa ya?" Tanya wanita tersebut.


"Mas Gibrannya ada?" Tanya Yuri pada wanita tersebut.


"Mas Gibran siapa?" Tanya balik wanita tersebut.


'hah! dia ga kenal sama mas Gibran?... ini bener rumah mas Gibran yang dulu kan, yang dulu aku dan mas Gibran tinggali' batin Yuri.


Yuri pun mulai bingung. "Mbak bukannya istrinya mas Gibran ya?" Tanya Yuri lagi.


"Bukan mbak, maaf saya ga kenal mas Gibran" jawab wanita tersebut yang hampir menutup pintunya, namun ditahan oleh Yuri.


"Ada apa lagi mbak?" Tanya wanita tersebut.


'apa jangan jangan, mas Gibran udah pindah rumah?' batin Yuri.


Saat ditengah tengah kebingungannya, tiba tiba seorang lelaki paruh baya datang dari belakang wanita tadi.


"Siapa?" Tanyanya pada wanita tersebut.


"Ga kenal, dia cari cari orang yang namanya Gibran" jawab Wanita tersebut pada lelaki dibelakangnya, yang mungkin itu adalah suaminya.


'gibran?' batin lelaki tersebut.


"Mbak cari mas Gibran?" Tanya lelaki tersebut pada Yuri.


"Iya iya" jawab Yuri dengan mengangguk.


"Pak Gibran sudah pindah mbak, dia ga lagi tinggal disini, rumah ini sudah dia jual pada saya" jawab lelaki tersebut.


"Ha" sontak Yuri terkejut dengan menutup mulutnya yang menganga.

__ADS_1


"Kalo boleh tau, mbak ini siapanya ya?" Tanya Lelaki tersebut.


"Eum... Sa-saya... Temannya" jawab Yuri dengan terbata bata.


"Ouhh, kalo ga salah.... Pak Gibran pindah ke Jakarta bersama anak perempuannya saat anaknya berumur 5 tahun" ucap lelaki tersebut.


'dia pindah sudah cukup lama' batin Yuri.


"Jakarta mana ya pak?" Tanya Yuri.


"Maaf mbak, saya kurang tau" jawab lelaki tersebut.


Yuri menghela nafas, "yasudah, terimakasih pak atas info nya, saya permisi" ucap Yuri lalu pergi masuk kedalam mobilnya.


"setelah aku tau keberadaan anakku, aku akan membawanya bersamaku, Lala berhak tau kalau dia sebenarnya mempunyai Kakak perempuan" gumam Yuri saat sudah berada didalam mobil.


Yuri pun menancapkan gas nya, pergi kembali ke Jakarta, mobil mulai melaju membelah jalanan yang sangat ramai.


Jam menunjukkan pukul 13.30, perutnya sudah mulai terasa lapar, ia pun meminggirkan mobilnya ke sebuah restoran, lalu ia memutuskan untuk makan dan beristirahat sejenak di restoran tersebut.


20 menit berlalu, ia sudah selesai dengan makannya juga sekaligus merasa cukup dengan istirahatnya, lalu ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju Jakarta tepatnya Jakarta pusat.


Mobil mulai melaju, melewati jalan tol yang amat panjang.


Tepat pukul 16.00 Yuri telah sampai disekolah Lala, sesuai dengan perkataannya tadi pagi bahwa ia akan menjemput Lala pulang sekolah.


Tak lama, Lala keluar dari gerbang sekolah bersama teman lelakinya, siapa lagi kalau bukan Dion yang slalu membuntutinya, tak ada Yara, Lala lah yang menjadi sasaran Dion untuk ia ikuti sepanjang jam sekolah.


"Mama" panggil Lala dengan mencium punggung tangan sang mama.


Yuri membalasnya dengan tersenyum dan mengelus rambut panjang anaknya.


Tanpa basa basi, Keduanya masuk kedalam mobil.


"Siapa cowok yang jalan sama kamu tadi?" Tanya Yuri.


'mampus!, gue lupa kalo mama benci banget kalo gue deket sama cowo kecuali bang willy' batin Lala dengan membelalakkan matanya.


"Temen ma" jawab Lala.


"Beneran?, Kamu ga boleh pacaran, masih kecil, kamu harus selesain pendidikan kamu dulu, kalo udah kerja baru boleh pacaran!" Tegas Yuri pada anak gadisnya.


"Iya ma" jawab Lala tanpa diperpanjang lagi."Mama sama papa kapan baikan?" Tanya Lala.

__ADS_1


"Tanya aja sendiri sama papa mu" jawab Yuri.


Lala menghela nafas, lalu tak lagi bertanya karena ia lagi malas berdebat dengan ibunya, ia sudah cukup berdebat dengan Dion tadi.


suasana hening didalam mobil, tak ada percakapan lagi diantara ibu dan anak tersebut.


Sampai akhirnya, keduanya telah sampai dirumah, sebelum turun dari mobil, Yuri menggenggam tangan Lala.


Lala menatap mamanya, begitu juga dengan Yuri, ia menatap Sang anak.


"Mama mau beli rumah disini, buat tinggal kita berdua, kamu setuju?" Izin Yuri pada anaknya.


"Kenapa?, Kenapa harus berdua? Kenapa ga sama papa juga?" Semua pertanyaan tersebut keluar dari mulut Lala, saat sang mama mengatakan harus tinggal berdua.


"Gapapa sayang, kalo mama sama papa udah baikan, kita kembali kumpul lagi disurabaya ya" ucap Yuri menenangkan anaknya.


"Janji ya ma?, Mama sama papa ga pisah kan?" Tanya Lala lagi dengan mata yang dipenuhi dengan cairan bening.


Yuri menggeleng pertanda ia menjawab 'tidak' , melihat sang anak yang akan menangis, ia memeluknya dengan erat seraya mencium kedua pipinya.


"Jangan nangis sayang, mama sama papa ga akan pisah, kita masih sayang sama kamu" ucap Yuri dengan air mata yang menetes, namun segera dihapusnya agar tak terlihat oleh Lala.


Lala mengangguk, lalu menghapus air matanya yang sudah sebagian jatuh dipipi mulusnya.


"Lala berharap, keluarga kita segera kembali utuh, ga ada lagi pertengkaran" ucap Lala dengan tersenyum.


Yuri mengangguk, "jadi, Lala mau kan tinggal berdua sementara?, Malu loh tinggal dirumah Tante kamu terus" ucap Yuri.


"Iya ma mau, Lala juga berfikiran begitu, malu kalo tinggal Disana terus" jawab Lala dengan tersenyum Pepsodent, menampilkan gigi putihnya.


"Tapi.... Gimana sama usahanya mama?" Tanya Lala.


"Mama bisa menanganinya dari sini, lagian disana juga ada om kamu yang sudah mama percayakan" jawab Yuri.


Lala mengangguk, Lalu keduanya turun dari mobil dan masuk kedalam mobil.


~•~


BUDAYAKAN LIKE, KOMEN & VOTE 💛🧡


MAKASIH UDAH BACA 😊


BYEE 👋

__ADS_1


__ADS_2