
Sesampai dirumah Lala, ketiga gadis tersebut turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Dirumah Lo ga ada orang la?" Tanya Jessica.
"Iya, kenapa?"
"Pembantu Lo ga ada?" Tanya Jessica lagi.
"Gue ga punya pembantu, gue cuma tinggal berdua di sini, kalo di Surabaya ada pembantu" jawab Lala.
Jessica membalasnya dengan ber 'oh' dan mengangguk.
Tanpa pikir panjang, Lala memperbolehkan kedua sahabatnya masuk kedalam kamarnya.
"Wahh kamar Lo esthetic banget la" ucap Yara berdecak kagum melihat kamar Lala yang dihiasi cat berwarna hitam putih dan beberapa foto foto nya bersama keluarga nya juga foto foto idola nya terpajang di dinding, tak lupa juga diisi dengan lampu LED.
Lala hanya tersenyum manis pada kedua sahabatnya.
"Boleh ga malam Minggu kita nginep disini?" Pinta Jessica dan Yara bersamaan seraya memasang wajah melas.
Lala berfikir sejenak, lalu ia menyetujuinya.
"Yesss makasih cantik" ucap Yara dan Jessica dengan memeluk erat Lala.
"Sabtu sore kita kesini, trus malemnya kita malmingan, baru besoknya kita joging sekalian ngafe juga gimana?" Tanya Jessica pada kedua sahabatnya.
"Wahh Lo udah nyiapin rencana Jess?" Ucap Yara dengan tersenyum menampakkan gigi putihnya.
"Gue sih mau aja asalkan ga ajak anak cowo , gue males kalo di diantara kalian ada yang bawa cowo" jawab Lala.
"Iya, disini cuma gue yang punya pacar, jadi gue ga bakal bawa cowo janji deh" saut Yara.
Lala pun membalasnya dengan acungan jempol seraya tersenyum.
Ketiga sahabat tersebut pun mengobrol dan bersenda gurau didalam kamar seraya memakan camilan yang telah dibeli sebelumnya.
__ADS_1
Sampai akhirnya, hari sudah mulai sore Yara dan Jessica memutuskan untuk pulang. Saat Lala, Yara dan Jessica menuruni tangga, mereka melihat wanita paruh baya yang masih terlihat muda, yang tak lain dan tak bukan adalah mama Lala.
"Ini mama ku guys, dan ini temen temen ku ma" ucap Lala pada kedua sahabatnya dan mamanya.
Yara dan Jessica pun mencium punggung tangan Yuri lalu berpamitan untuk pulang.
"Makasih ya udah nemenin Lala, sering sering main kesini ya" ucap Yuri dengan tersenyum pada kedua gadis tersebut.
"Iya tante"
'senyum mama mirip banget sama Yara' batin Lala saat melihat ada kemiripan diantara Yara dan mama nya.
'kenapa dia mirip denganku sewaktu aku masih remaja?' batin Yuri dengan terus menatap Yara.
"Kita pamit tante, permisi"
Yuri tetap berada diposisi nya menatap kepergian kedua gadis tadi.
"Ma" panggil Lala dengan menyentuh pundak mamanya.
"Mama capek ya, Lala buatin teh dulu ya.... Mama mandi aja dulu" ucap Lala pada sang mama, tak biasanya Lala perhatian seperti ini.
Yuri kebingungan dengan sikap aneh Lala.
'tumben banget nih anak' batin Yuri dengan menahan tawa.
"Iya boleh, makasih ya, mama mandi dulu" jawab Yuri seraya melambaikan tangannya dan masuk kedalam kamar untuk membersihkan badannya.
"Lala mau jadi anak yang berbakti ma" gumam Lala dengan tersenyum. Lalu ia pun segera menuju ke dapur untuk membuatkan teh celup untuk mamanya.
'lala ga mau lagi jadi anak manja, Lala mau jadi anak yang pemberani, kuat dan mandiri' tekad Lala untuk merubah dirinya sendiri.
Selesai membuat teh, Lala menaruh teh tersebut diatas meja ruang keluarga, seraya duduk menunggu sang mama yang selesai mandi.
Tak lama, Yuri pun datang dan langsung duduk disebelah Lala. hal pertama yang ia lakukan adalah meminum secangkir teh buatan sang anak gadisnya.
__ADS_1
"Makasih ya sayang" ucap Yuri dengan mengelus pipi Sang anak. Lala membalasnya dengan anggukan dan tak lupa ia juga menyuguhkan senyuman mautnya.
"Aduh cantik banget sih anak mama kalo senyum" puji Yuri pada anaknya.
"Mamanya cantik, anaknya juga cantik dong" jawab Lala.
"Gimana ujiannya sayang? Lancar kan?" Tanya Yuri.
"Lancar ma" jawab Lala.
"Sayang, sebenarnya mama udah jodohin kamu sama anak sahabat mama yang sekarang sedang berkuliah di swiss jurusan kedokteran, umurnya beda 4 tahun dari kamu" jelas Yuri pada Lala.
Seketika wajah Lala yang sebelumnya terlihat ceria menjadi suram. Badannya terasa lemas, tak ada harapan lagi ia bisa mendapatkan Raja, karena ia tau kalau orang tuanya tak akan mudah untuk merubah pikirannya.
"Kenapa mama buru buru banget, apa papa menyetujui perjodohan ini?" Tanya Lala dengan nada bicara yang pelan.
"Papa setuju, apa kamu setuju?"
Lala menghela nafas berat "sebenarnya Lala ga mau dijodohin, tapi kalau kata mama papa dia yang terbaik buat Lala.... Lala terima" jawab Lala dengan pasrah meskipun hatinya sangat berat untuk bisa melupakan Raja, karena ia telah dijodohkan dengan lelaki selain Raja.
"Makasih ya sayang, bulan depan dia akan pulang ke Indonesia, dan kita akan ada pertemuan keluarga membahas tentang perjodohan ini" ucap Yuri.
"Iya ma, tapi bisakah kita ngga terlalu terburu buru, Lala masih pingin kuliah dan capai cita cita Lala dulu, Lala masih ga mau nikah" pinta Lala.
"Iya sayang, calon suami mu juga ga terlalu memaksakan, dia bilang kalau kamu boleh mencapai cita cita kamu dulu"
"Iya ma, Lala ke kamar dulu" ucap Lala yang langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Ia merenung sendiri didalam kamarnya, menunggu air mata yang tak bisa ia keluarkan, dadanya sesak matanya berkaca kaca.
"Gue punya cinta pertama yang ternyata ga bisa gue gapai, dia nyata tapi dia bukan milik gue, bahkan gue juga ga bakalan bisa dimiliki oleh dia, karena gue udah dijodohin sama orang yang ga gue kenal" ucap Lala dengan duduk diatas kasur dan menekuk kedua lututnya.
"Harusnya gue ga punya perasaan ke Raja, harusnya gue ga punya cinta pertama selama ini biar gue ga ngerasain sakit ini, biar gue ga se hancur ini saat tau kenyataan kalau kita ga bakal bisa bersama, gue tau kalau elo udah dijodohin sama Yara"
"Akhhhhhhhhh" teriak Lala seraya menjambak rambutnya.
__ADS_1
~•~