Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki
Episode 168.


__ADS_3

"Hai, teman-teman," sapa Salma saat masuk dan sampai di halaman belakang dengan anak-anak yang sedang bermain dan berlarian.


"Hai kak Salma," teriak anak-anak kompak.


"Aku bawa ini untuk kalian," tunjuk Salma pada 2 kantong besar paper bag dari toko mainan.


Anak-anak panti pun datang menghampiri Salma dan berbaris untuk mendapat kan mainan dari Salma.


Sementara di dalam ruangan, Syam memberikan semua bahan makanan pada ibu panti dengan di bantu pak Suryo yang mengangkut.


"Ini semua dari Salma bu, Salma sengaja mengumpul kan uang jajan yang saya beri kan untuk bisa berbagi dengan teman-teman di sini," ucap Syam bercerita singkat tentang Salma.


"MasyaAllah, Salma memang anak yang baik ya. Terima kasih sudah mendidik Salma menjadi anak yang pandai dan baik hati pak,"


"Iya bu sudah jadi kewajiban saya mendidik Salma menjadi insan yang baik, pandai dalam segala hal dan selalu rendah hati hanya itu yang bisa saya tanam kan sejak Salma kecil. Meski pun hanya saya seorang yang berperan ganda tapi saya tetap ingin yang terbaik untuk Salma,"


Di tengah perbincangan antara ibu panti dan Syam, terdengar ketukan pintu dari arah pintu utama.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, sepertinya ada tamu di luar. Sebentar ya pak, saya tinggal dulu," ucap ibu panti sebelum melangkah pergi meninggal kan Syam yang masih berdiri di ruangan makan panti.


"Iya silah kan bu, saya mau susul Salma ke halaman belakang," ucap Syam lalu pergi menyusul ibu panti dengan tujuan berbeda.


Di pintu utama panti sudah ada wanita mudah dengan memakai hijab berwarna moca dengan baju yang senada sudah menunggu ibu panti.


"Eh ada nak Indah ternyata, ayo masuk nak," ucap ibu panti saat melihat sosok wanita berhijab di ambang pintu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum bu, apa kabar?" ucap Indah lalu mengambil tangan ibu panti dan mencium punggung tangannya.


"Walaikumsalam nak, alhamdulillah kabar ibu baik nak. Ayo masuk nak," ucap ibu Anita menggenggam tangan Indah untuk masuk ke dalam panti.


Indah adalah salah satu anak panti yang sudah dewasa dan memilih keluar dari panti karna sudah bisa mencari uang sendiri. Sejak sekolah menengah pertama sampai kuliah, Indah masuk dengan beasiswa prestasinya dan sekarang Indah bekerja di salah satu perusahaan ternama di Jakarta.


Setiap hari minggu Indah pasti datang berkunjung ke panti untuk menemui ibu Anita dan adik-adiknya di panti, sesekali Indah pasti membawa makanan pesanan adik-adiknya.


Indah ikut membantu ibu Anita di panti dengan mengurus anak-anak panti selagi ibu Anita kerepotan karna yang menjaga anak-anak dengan jumlah yang tidak sedikit hanya dengan 4 orang tenaga pembantu dan Anita membantu di saat libur bekerja.


"Ayo ibu kenal kan dengan donatur tetap di sini dan anaknya yang di adopsi dari panti ini," ucap bu Anita mengajak Indah ke halaman belakang.


Ibu Anita memperkenal kan Indah pada Salma dan Syam, Syam melihat Indah seakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Indahnya ciptaan mu Tuhan," gerutu Syam.


"Papa bilang apa?"


"Tante cantik, sering ke sini?"


"Kebetulan tante berasal dari sini juga sayang, sejak lulus sekolah tante memilih untuk kuliah sambil bekerja dan hidup sendirian di kost-kost an. Sekarang tante udah kerja jadi bisa bantu ibu Anita, walau pun ga banyak tapi masih bisa memberi untuk adik-adik di sini,"


Syam semakin tertarik dengan gadis berparas cantik dengan balutan hijab yang menutup auratnya semakin menambah kecantikannya, gadis belia berusia 26 tahun yang masih betah sendirian tanpa mau mencari jodoh karna merasa minder dengan keadaanya sendiri. Gadis tanpa nasab itu karna sejak bayi Indah di temukan di depan pintu panti asuhan sama seperti Salma, bedanya Salma langsung di adopsi oleh Syam dan Indri sedang kan Indah tetap di panti sampai usia dewasa.


Syam hanya terdiam memperhati kan Indah yang sedang asyik bercerita bersama Salma dan anak-anak panti yang lainnya, Indah bercerita tentang kisah-kisah para nabi membuat Syam semakin mengagumi sosok Indah.


"Tuhan, memang indah ciptaan mu dan sempurna. Udah baik hati, sholeha, dan cantik, putih, tinggi itu hanya bonus. Sungguh wanita idaman, tapi mana mungkin dia mau sama aku seorang duda yang sudah 2 kali gagal dalam pernikahan," batin Syam.


Salma merasa senasib dengan Indah karna Salma pun di buang oleh orang tuanya ke panti ini tanpa meninggal kan sedikit pun jejak untuk di cari keberadaannya.

__ADS_1


"Tante kapan-kapan main ke rumah ku ya, nanti tante aku kenal kan sama nenek dan kakek ku. Boleh kan pa?"


"Boleh dong sayang,"


"Udah dapat izin dari papa tuh tante, mau ya,"


"Insya Allah ya sayang, kalau ada waktu luang tante pasti berkunjung ke rumah Salma. Atau kita janjian di sini aja setiap hari minggu ya, biar kita bisa main bareng teman-teman di sini,"


"Papa, boleh ga aku ke sini setiap hari minggu?"


"Boleh nak. Kapan pun kamu mau, kamu boleh datang di sini. Kalau papa sibuk, kamu tinggal minta antar ke pak Suryo aja,"


Indah dan Salma saling bertukar cerita tentang semua hal, Salma bercerita tentang baiknya Syam yang menjadi papa sekaligus mama untuknya selama ini, sedang kan Indah bercerita tentang pengalaman hidupnya sejak kecil yang hidup di panti asuhan sampai usia dewasa.


...***...


Seminggu berlalu, Syam tak henti memikir kan tetang Indah yang selalu hadir dalam mimpi dan pikirannya. Sesuai janji, Salam datang lagi ke panti karna ingin bertemu dengan Indah.


"Papa mau kemana, pagi-pagi gini udah rapih dan wangi lagi,"


"Papa mau ke resto dulu, nanti papa nyusul Salma ke panti asuhan ya setelah kerjaan papa di resto selesai. Papa cuma ngerjain laporan aja terus pulang,"


"Papa janji ya, setelah selesai kerjaan papa di resto papa nyusul aku ke panti ya,"


"Iya sayang, papa berangkat dulu ya. Bye sayang," ucap Syam mencium puncak kepala Salma lalu pergi dari tempat Syam semula.


Syam sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak bertemu dengan Indah karna Syam takut jatuh pada Indah. Syam dan Indah terpaut usia cukup jauh, makanya lebih baik Syam menghindar dari Indah.


"Lebih baik seperti ini, aku takut jatuh hati pada Indah terlalu jauh," batin Syam terus melangkah menuju parkiran mobil.

__ADS_1


Seharian Syam sibuk dengan pekerjaannya sampai Salma pulang pun Syam masih sibuk di resto.


"Katanya papa mau nyusul tapi ternyata sampai aku pulang pun papa masih belum pulang," gerutu Salma kesal saat pulang tidak melihat Syam ada di rumah.


__ADS_2