
"ma Lala masuk ya, mama hati hati dijalan" ucap Lala seraya mencium punggung tangan sang mama.
"Iya sayang, nanti ada seseorang yang jemput kamu, bukan mama... Dia naik motor sport merah" ucap Yuri.
"Lala ga mau pulang sama orang yang ga dikenal, mending Lala pulang sama bang Willy aja" tolak Lala secara terang terangan, karena ia memiliki firasat kalau yang menjemputnya adalah Leo.
"Lala jangan bandel, harus nurut apa kata mama!"
Tanpa menjawab ucapan sang mama, ia langsung berjalan masuk ke area sekolah tanpa menghiraukan ucapan sang mama.
"Anak satu susah diatur" gumam Yuri dengan berjalan menuju mobilnya.
Selama diperjalan menuju kelasnya, Lala terus menggerutu kesal dengan sikap mamanya.
"Kenapa sih mama ini maksa banget, pokoknya gue bakal nolak perjodohan ini, dan gue bakal kabur dari rumah" gumam Lala dengan raut wajah kusut.
"Aaaaa gue benci benci benci, kenapa sih gue harus dijodohin, mana posesif banget si Leo alay" tambahnya seraya mengacak acak rambutnya dan menghentak hentakkan kakinya dilantai.
Beberapa siswa yang lewat didepan Lala, semua bergidik ngeri melihat tingkah Lala yang bagai orang gila.
"Ihh gila" gumam seorang siswa dengan berjalan menghindari Lala. Lala pun membalas dengan tatapan tajam.
Sampai akhirnya, ia telah sampai dikelasnya, dia menjatuhkan dirinya pada bangku dengan menatap ke langit langit kelas.
"Gue ga akan mau dijodohin sama Leo, kalo sama sama alaynya gue lebih milih Dion" ucap Lala dengan nada tinggi.
tiba tiba Dion masuk kedalam kelas.
"What!!!" Dion terkejut dengan ucapan Lala yang baru ini didengarnya.
Seketika wajah Lala menjadi pucat saat tau Dion mendengar ucapannya. Ia pun membungkam mulutnya dengan membelalakkan matanya.
"Lo suka gue?" Tanya Dion dengan berjalan cepat menghampiri Lala.
Lala menjawabnya dengan gelengan kepala berkali kali.
"Eng-enggak!"
"Tadi Lo bilang lebih milih gue kalo Lo dijodohin"
"Enggak Dion! Udah deh jangan kepedean"
"Ahh jujur Beib" goda Dion dengan mencolek hidung mancung Lala.
"Minta gue tampol?" Ucap Lala dengan posisi tangan yang akan menampar.
"Ehh eh jangan, tapi kenapa elo bilang tentang dijodohin, emang Lo dijodohin ya?" Tanya Dion yang mulai penasaran.
"Eng-enggak kok" jawab Lala.
"Yaudah kalo Lo ga mau cerita, tapi kalo lo butuh temen cerita, gue siap dengerin ehe"
"Hemm"
*****
Jam Istirahat tengah berjalan ~
Yara yang hanya ingin sendiri, ia duduk sendiri dibangku kantin dengan pandangan kosong menatap makanan yang berada didepannya.
"Gue butuh temen buat ceritain penyakit ini, sebenernya ini aib tapi gue ga sanggup nahan ini, apa gue cerita aja ke raja, toh dia bakal jadi suami gue kelak kalo gue masih hidup" gumam Yara.
Lalu ia pun menelefon raja untuk datang ke kantin, duduk bersamanya.
Raja menurutinya, tak lama ia sudah berada di kantin tepatnya berada dibangku depan Yara.
"Ja, ada yang mau gue omongin tapi jangan disekolah, ntar Lo ikut gue ke rumah ya ini penting!" Ucap Yara dengan suara lemah, badannya terasa sangat lemas dan juga terasa sangat lelah.
"Iya, ntar gue kerumah elo, tapi gue pulang ke rumah gue dulu ganti baju ya" jawab Raja dengan mengelus rambut panjang sang kekasih.
Yara pun mengangguk paham.
"Tapi ini cuma rahasia kita berdua, gue ga mau ada yang tau"
Seketika 'deg' jantung Raja bagai berhenti sejenak.
'ada apa? a-apa Yara hamil? mana mungkin, gue sama Yara ga pernah ngelakuin hal itu, ahh positif thinking aja lah' batin Raja mulai frustasi.
Pikirannya mulai kacau, ia berfikir kalau Yara hamil.
"Te-tentang apa?" Tanya Raja yang jantung sudah berdegup sangat kencang.
"Ntar aja kalo dirumah" jawab Yara dengan tersenyum. "Sekarang gue mohon Lo pergi dulu, gue mau sendirian disini" ucap Yara dengan kembali merenung.
"I-iya"
Raja berjalan dengan sempoyongan, pikirannya mulai kacau, hatinya tak henti berdegup kencang.
'kalo Yara beneran hamil gimana? aduh gimana masa depan gue, gue kan ga mau punya anak dulu ga mau nikah dulu, masa masih kecil udah jadi ayah sih' batin Raja dengan mengacak acak rambutnya.
Sesampai dikelas, Raja hanya duduk terdiam dengan pandangan kosong menatap papan tulis, hingga ia tersentak dari lamunannya akibat suara teriakan Dion yang sangat kencang ditelinganya.
"Woiiii!" Teriak Dion tepat di telinga Raja.
Plak!!
Refleks Raja memukul lengan Dion begitu keras.
__ADS_1
"Sakit BG" Dion membalas pukulan Raja tetapi hanya pelan.
"Lo ngapain teriak ditelinga gue!!! kalo Lo ngelakuin itu lagi gue ga segan segan tonjok Lo!!" ucap Raja yang terbalut emosi.
"Emosi bang?" Ejek Dion dengan tertawa kecil "tumben Lo marah marah kayak gini, biasanya Lo anggep candaan"
"Bercanda Lo kelewatan!!" Bentak Raja.
"Ya ga usah bentak juga anying!!!" Balas Dion dengan membentak Raja. "Kalo Lo ga suka sama gue bilang!! ga usah gitu, semenjak gue pindah ke Jakarta sikap Lo jadi beda ke gue, kita sepupu Ja! Inget masa kecil kita yang slalu akur"
Raja menghela nafas berat seraya memejamkan matanya.
"Maafin gue" ucap Raja seraya merangkul Dion. "Maaf gue lagi ada masalah, jadi bawaannya emosi terus"
"Kalo Lo ada masalah cerita ke gue ja, gue adek Lo.... Lo mau cerita apa aja ke gue bebas, gue ga akan bilang ke siapa siapa and siapa tau gue bisa bantu masalah Lo ini" terang Dion pada sepupunya tersebut.
"Iya Dio, makasih ya... Tapi gue masih belum bisa cerita sekarang"
"Iya gapapa, maaf gue jadi kebawa emosi juga tadi" ucap Dion dengan mengelus lengan Raja, Raja hanya membalasnya dengan anggukan.
Keduanya pun mengobrol bersama didalam kelas seraya menunggu bel masuk, Dion sengaja menjadi badut untuk Raja, ia ingin menghibur sepupunya tersebut agar tak lagi sedih.
"Tetep senyum ya ja, kita sodara..... Lo sedih gue juga ikut sedih, kita dari kecil slalu bareng cuma pisah aja 3 tahun waktu gue pindah ke Bandung"
"Iya ahaha, gue sedih waktu Lo pindah ke Bandung, gue kira Lo ga bakal balik ke Jakarta lagi, gue kira Lo bakal lupa sama sepupu Lo ini"
"Ya ngga lah ahaha sepupu akan selamanya menjadi sepupu, kita saudara" jawab Dion tersenyum.
Seorang siswi mendengarkan percakapan mereka berdua saat hendak masuk kedalam kelas, ia berdecak kagum dengan hubungan persaudaraan mereka.
'jadi kangen bang Willy deh' batin Lala, yaps seseorang tersebut adalah Lala.
Saat Lala hendak melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kelas, tiba tiba ia terjatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri.
"Aduh!" Pekik Lala mengaduh kesakitan.
"Lala" ucap Dion dan Raja bersamaan.
Raja dan Dion berlari bersamaan menghampiri Lala yang duduk selonjor dilantai.
"Mana yang sakit?" Tanya keduanya bersamaan.
Lala hanya diam tercengang.
'bisa bisanya mereka ngomongnya kompak terus' batin Lala dengan menatap kedua lelaki didepannya.
"La" panggil Raja seraya menepuk lengan Lala.
"Ahh.... Iya apa?" Jawab Lala kebingungan.
"Apa nya yang sakit?" Tanya Dion mengulangi pertanyaannya tadi.
"Beneran?" Tanya keduanya lagi secara bersamaan.
"Kok bareng terus ngomongnya" gumam Lala dengan suara yang sangat kecil, tetapi masih bisa didengar oleh Dion dan Raja.
Dion dan Raja saling tatap dan tertawa kecil.
"Ga ada yang sakit kan?" Tanya Dion yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Lala.
"Yaudah berdiri sendiri deh" ucap Dion yang langsung pergi meninggalkan Lala dan Raja.
"Butuh bantuan?" Tanya Raja seraya mengulurkan tangannya.
Lala tersenyum dan menerima uluran tangan Raja, akhirnya ia pun berdiri dari duduknya
"Makasih" ucap Lala seraya membersihkan rok nya yang kotor.
"Iya" jawab Raja dengan tersenyum manis.
'udah ya la, sampai disini aja gue mencintai elo, atau mungkin lebih tepatnya kagumi elo' batin Raja dengan terus tersenyum menatap Lala.
"Gue ke bangku gue dulu ya" ucap Lala malu malu dengan menundukkan pandangannya.
Raja mengangguk dan keluar dari kelas untuk mencari keberadaan Dion.
"Dion biasanya kemana aja sih, slalu kalo dicariin ga pernah ketemu" gumam Raja yang berkeliling mencari keberadaan Dion.
Sampai akhirnya ia telah menemukan Dion yang berada di lapangan basket, ternyata ia sedang bermain basket dengan 2 kakak kelas yang tak lain adalah sahabat Willy yaitu Zendy dan Lay.
"Dio!!" Panggil Raja, suara Raja terdengar jelas ditelinga mereka bertiga. Seketika mereka bertiga menoleh ke sumber suara secara bersamaan.
"Apa ja?" Saut Dion.
"Gue ikut gabung boleh?" Tanya Raja seraya berlari menghampiri mereka bertiga.
"Boleh" jawab mereka bertiga.
Ketiganya pun bermain basket bersama sama, sambil menunggu bel masuk berbunyi.
****
Sampai akhirnya, Bel pulang berbunyi semua murid berhamburan keluar kelas.
'ahh iya gue lupa, kan gue harus kemoterapi dulu, yadeh ntar gue telfon Raja biar kerumahnya jam 8 malem aja' batin Yara seraya berjalan menuju mobilnya.
Sesampai didalam mobil, Yara menelefon Raja, dan Raja menyetujuinya.
__ADS_1
Tanpa berganti pakaian, Yara segera menuju ke rumah sakit untuk kemoterapi karena penyakitnya masih belum terlalu parah.
Sesampai rumah sakit, sesuai jadwal perjanjian, Yara pun segera melakukan kemoterapi.
Hingga akhirnya 3 jam telah berlalu, Yara telah selesai melakukan kemoterapi, badannya sangat lemas matanya berat untuk terbuka, rasa kantuk yang amat tak tertahankan sempat akan membuatnya pingsan ditengah jalan.
Tetapi ia tetap melanjutkan perjalanannya menuju ke mobilnya, sesampai di mobil Yara tak memilih untuk langsung pulang, tetapi ia memilih untuk istirahat sebentar didalam mobil.
"Demi keselamatan, mending gue tidur aja dulu" gumam Yara yang langsung memejamkan matanya, ia pun tertidur didalam mobil.
1 jam setengah telah terlewatkan, Yara telah bangun dari tidurnya, dan segera menancapkan gas mobilnya menuju pulang ke rumah karena jam sudah menunjukkan pukul 18.10
Selang beberapa menit, Yara telah sampai di istananya, ia turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, tanpa sepatah kata ia langsung naik ke lantai atas tepatnya menuju ke kamarnya.
"Aduh capek banget sih" oceh Yara seraya merebahkan badannya diatas kasur king size nya.
30 menit kemudian, setelah begitu lama mengumpulkan niat untuk mandi, Yara pun telah selesai membersihkan badannya.
Badannya sudah terasa fresh, setelah mandi, ia turun ke lantai bawah untuk memakan makan malamnya.
"Papa belum pulang bi?" Tanya Yara pada art nya.
"Belum non" jawab bi Siti.
"Oh"
'lagi dan lagi, papa slalu pulang malem' batin Yara dengan muka kusutnya.
Tanpa pikir panjang, ia pun segera melahap makanan yang berada didepannya.
****
Setelah menunggu lama di ruang tamu, akhirnya seseorang yang ia tunggu tunggu telah datang, yaps Raja telah datang kerumah Yara.
Sang pemilik rumah sangat senang, ia menyambutnya dengan sangat baik dan slalu disuguhi dengan senyuman.
"Ja, kita ngobrol di kamar aja ya" ajak Yara.
"Iya" jawab Raja dengan mengangguk.
Mereka berdua pun masuk kedalam kamar Yara yang berada dilantai atas. Keduanya duduk disebuah sofa yang berada didalam kamar tersebut.
"Jadi...... Gue punya penyakit leukimia" ucap Yara dengan meneteskan air matanya, lalu ia pun memberikan surat keterangan tentang penyakitnya pada Raja.
Raja pun membaca surat tersebut, dan benar bahwa Yara menderita penyakit Leukimia, entah mengapa tiba tiba air matanya jatuh mengalir dipipinya.
"Ini beneran?" Tanya Raja dengan sesekali mengelap air matanya.
Yara pun mengangguk.
"Tolong jaga rahasia ini, gue ga mau ada yang tau tentang ini, cuma elo aja yang tau" pinta Yara.
"Iya, gue bakal jaga rahasia ini, gue bakal lindungi elo, elo semangat ya.... gue yakin elo pasti bisa sembuh" ucap Raja memberi semangat calon istrinya tersebut seraya memeluk erat Yara yang masih dalam keadaan terisak tangis.
"Gue mau akhir akhir ini elo sering sama gue ya, gue ga mau kalo disaat terakhir gue, elo ga ada disisi gue, dan gue harap... Kalo suatu saat gue meninggal, elo jagain Lala dan jadi suami dia ya" pinta Yara dengan menggenggam erat tangan Raja.
"Enggak! Gue akan tetep sama elo Ra, jangan ngomong gitu Ra, elo ga akan pergi ninggalin gue kan, jangan Ra pliss lo harus berjuang, lo pasti bisa sembuh" ucap Raja dengan tangisan yang mulai menjadi jadi.
"Hiks.... Hiks.... Hiks"
"Iya gue harap juga gue bisa sembuh, tapi kayaknya ngga" ucap Yara dengan menunduk.
"Gue akan turutin apapun permintaan elo Ra, plis jangan bilang gitu, gue ga mau elo pergi, yang gue harepin kita bisa bersama sama selamanya hiks... Hiks..." Ucap Raja dengan terus memeluk erat Yara.
Yara hanya bisa tersenyum.
'sebenarnya kata dokter, umur gue difonis udah ga lama lagi ja, maafin gue kalo tiba tiba gue ninggalin elo, maafin gue udah bikin Lo sedih' batin Yara.
"Pokoknya gue ga mau elo pergi, elo harus tetep disisi gue selamanya" tambah Raja dengan tangis yang menjadi jadi.
Tangis Yara mulai reda saat melihat Raja yang menunjukkan kasih sayangnya terhadap dia, ia tersenyum manis menghapus air matanya.
"Jangan nangis lagi ya, pangeranku ga boleh nangis nanti gantengnya ilang" ucap Yara dengan tersenyum dan mata yang berkaca kaca.
"Gue mohon Lo jangan nangis dihadapan gue ja, kalo Lo nangis gue juga ikut nangis, gue ga mau Lo nangisin gue, gue maunya elo bahagia disamping gue" ucap Yara.
"Iya, gue ga akan nangis, gue bahagia ada disamping elo"
'Yara, gue janji mulai detik ini gue akan terus setia sama elo, gue ga akan ninggalin elo didalam keadaan Lo yang berjuang ngelawan penyakit ini' batin Raja menahan tangisnya.
"Makasih ya ja, elo slalu ada buat gue, semoga calon istri Lo bisa lebih baik dari gue"
"Sttt!!! Ga boleh bilang gitu ya, kelak kita akan jadi suami istri, istri gue itu elo bukan orang lain" ucap Raja.
Yara hanya bisa tersenyum.
'maafin gue ja udah bikin Lo sedih' batin Yara.
"Sekarang Lo istirahat dulu ya, itu hidung Lo udah keluar darah lagi" ucap Raja dengan menyuruh Yara tidur diranjangnya.
"Iya, elo pulang deh gue ga mau liat elo kecapek an" ucap Yara.
"Engga, gue akan tetep disini jagain elo sampe papa Lo pulang" ucap Raja.
"Yaudah deh serah, makasih ya" ucap Yara tersenyum manis pada Raja, Raja pun menyelimuti tubuh Yara dengan selimut.
"Tidur yang nyenyak ya cantikku, mimpi indah" ucap Raja dengan mengelus pipi Yara.
__ADS_1
~•~