
Willy dan Lala telah siap dengan seragam rapi nya, keduanya telah berada diatas motor dan hendak melajukan motornya, tetapi niatnya diurungkan karena ada sebuah mobil yang berhenti tepat didepan mereka.
Sang pemilik mobil turun, betapa terkejutnya kedua remaja tersebut melihat seseorang yang ia kenal turun dari mobil mewah.
"Mom" gumam Lala dengan menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Lalu Lala menyikut siku Willy.
"Ga halu kan?" Bisik Lala pada Willy. Sedangkan Willy membalasnya dengan gelengan.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut, menghampiri kedua remaja yang duduk terdiam diatas motor trail.
"Apa kabar sayang?" Tanya wanita paruh baya tersebut, seraya memeluk Lala. Perempuan tersebut adalah mamanya Lala yaitu Yuri.
Lala terdiam mematung tak percaya kalau wanita yang memeluknya adalah mama nya.
"Ini beneran mama?" Tanya nya mulai bingung, karena ia berfikiran apakah dia berhalusinasi.
'ini nyata kah? tapi pelukan ini terasa nyata' batin Lala dengan terus menatap wajah perempuan tersebut, yang tak lain adalah mamanya.
Lalu, Lala menyentuh wajah sang mama perlahan, dan benar, itu nyata.
"Ini mama sayang" ucap Yuri.
Lala tersenyum simpul dan membalas pelukan sang mama dengan tetes air mata bahagia, ia tak menyangka kalau mamanya akan menjenguknya.
Keduanya berpelukan cukup lama, sampai akhirnya ucapan Willy membuat keduanya melepas pelukan hangat tersebut.
"Maaf Tante, ini udah mau telat, kita berangkat dulu ya" ucap Willy dengan senyum canggung.
"Iya, kalian berangkat, hati hati dijalan" jawab Yuri dengan tersenyum dan mengelus rambut Willy.
Willy dan Lala mencium tangan Mama Yuri, dan mulai melajukan motornya, membelah jalanan kota yang cukup ramai.
Selama diperjalanan, Lala tersenyum sepanjang jalan, hari harinya terasa lebih bewarna.
"Jangan senyum senyum gitu la, geli tau, takutnya dikira orang, gue bonceng cewe gila" ucap Willy yang memperhatikan Lala sedari tadi melalui kaca sepion.
Plak!! Lala memukul lengan Willy yang dilapisi jaket hitam cukup tebal.
"Lo yang gila" balas Lala.
__ADS_1
5 menit kemudian, mereka telah sampai disekolah, keduanya turun dari motor, lalu berjalan menuju ke ruang kelas masing masing tanpa ada percakapan.
Entah mengapa akhir akhir ini Willy dan Lala jarang sekali mengobrol, dan hanya mengeluarkan sepatah kata jika penting.
Saat Lala telah sampai didalam kelas, seorang remaja laki laki lewat dengan tersenyum simpul dan menyapanya.
"Pagi la" sapa remaja tersebut, yakni Dion.
"Pagii!!!" Balas Lala dengan tersenyum.
Dion menghentikan langkah kakinya.
'tumben, biasanya dia cuek, jawabnya singkat singkat, gue kira dia ga bakal bales sapaan dari gue' batin Dion dengan melirik sekilas Lala yang sedang menaruh tasnya dengan bernyanyi kecil.
Melihat Lala yang sepertinya terlihat bahagia, tiba tiba senyum simpul muncul dibibir Dion, entah mengapa dia tiba tiba ikut bahagia melihat Lala yang ceria.
Lalu, Dion pun melanjutkan langkahnya, menuju untuk mencari siswi yang telah mencuri hatinya kemarin, yaitu Yara.
"I am coming Yaraaaaaa" ucap Dion dengan tertawa bagai orang stres.
Karena bel masuk belum berbunyi, Lala memilih untuk duduk dibangku taman sambil menatap sekeliling menunggu bel masuk berbunyi.
"Gue bahagia banget hari ini, gue harap semoga papa bakalan jenguk gue juga nanti siang" gumam Lala dengan tersenyum.
"Cantik, tumben dia keliatan ceria" ucap seseorang tersebut.
Saat Lala menoleh, ia melihat seseorang yang ia kenal, sedang memperhatikannya dengan ikut tersenyum melihatnya.
Dengan cepat, ia memalingkan wajahnya, sedangkan seseorang tersebut, secepat mungkin berlari menjauh.
Dalam hati Lala, ia merasa senang melihat seseorang tersebut tersenyum melihatnya.
'meskipun ga deket, tapi gue suka elo yang slalu senyum ngeliat gue, tanpa sepengetahuan gue' batin Lala.
Tak lama bel masuk pun berbunyi, semua murid bergegas masuk ke kelas masing masing.
Pelajaran pertama pun dimulai ~
****
Jam istirahat ~
__ADS_1
Lala duduk sendiri dibangku, setelah memesan makanan.
"La" sapa Yara, yang berdiri didepan Lala.
"Duduk aja" jawab Lala. setelah dipersilahkan duduk, Yara pun duduk didepan Lala sambil menunggu pesanannya juga.
"Jessica belum pulang?" Tanya Lala.
"Ga tau, sejak kemarin, dia ga ada kabar, udah gue chat ga dibales, ditelfon juga ga diangkat, apa dia marah ke gue ya?" Jawab Yara.
"Kayaknya ga mungkin deh Jessica marah ke elo, elo kan sahabat satu satunya dia, kalian kan udah temenan dari kecil, ga mungkin kalo marahnya lama" jelas Lala panjang lebar.
"Masa sih?"
"Serah deh"
Tak lama makanan datang, keduanya melahapnya sampai habis.
Selesai makan, mereka berdua melanjutkan pembicaraan.
"Lo keliatan aneh banget hari ini" ucap Yara dengan terus memperhatikan gerak gerik Lala.
"Apanya yang aneh?"
"Lo keliatan beda, kayak lebih ceria gitu, biasanya kan cuma diem, jawabnya singkat, jarang senyum" ucap Yara.
"Hehe tau aja Lo, gue lagi bahagia" jawab Lala.
"Bahagia apa nih? Uhu apa jangan jangan elo udah punya pacar?" Tanya Yara mulai penasaran.
"Apaan sih, pacar aja yang dipikirin, gue masih kecil ga boleh pacaran" saut Lala.
"Jadi.... Mama gue tadi pagi Dateng ke Jakarta jenguk gue, betapa senengnya gue, kalo mama papa gue udah baikan, gue bakal balik ke Surabaya lagi" jelas Lala dengan tersenyum Pepsodent.
"Hah!" Jawab Yara, bukan raut wajah bahagia yang nampak diwajah Yara, melainkan raut wajah sedih lah yang nampak di raut wajah Yara.
'gue ga mau Lo pergi la, Lo udah kayak adek gue' batin Yara. Ia menganggap Lala adalah adiknya, karena ada rasa sayang dan seperti ikatan batin diantara nya.
"Kenapa?" Tanya Lala dengan memiringkan kepalanya.
"Ga papa" jawab Yara sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
~•~