
Tepat pukul 09.00 akan diadakan meeting disebuah perusahaan x , Yuri yang santai berjalan diperusahaan tersebut ia akan masuk kedalam ruang meeting, tiba tiba dia difokuskan oleh seorang lelaki berpostur tubuh tinggi nan gagah.
Lelaki tersebut terlihat sedang mengobrol dengan salah satu karyawan, posisi lelaki tersebut membelakangi Yuri, Yuri yang penasaran dengan lelaki tersebut, ia menyipitkan matanya memperjelas penglihatannya apakah dia benar seseorang yang ia kenal atau bukan.
Ia berjalan mendekati lelaki tersebut, sampai akhirnya lelaki tersebut selesai mengobrol, dan Yuri pun menepuk pelan pundak lelaki tersebut.
Sontak sang pemilik pundak menoleh ke belakang tepat berhadapan dengan Yuri.
Ternyata, dugaan Yuri memang benar, lelaki tersebut adalah seseorang yang ia kenal, seseorang yang selama ini ia cari cari.
"Mas Gibran" ucap Yuri, kata kata tersebut langsung keluar dari mulutnya saat tau seseorang yang ia cari cari selama ini akhirnya bisa bertemu.
"Ka- kamu"
"Mas dimana anakku?" Tanya Yuri dengan air mata yang lolos turun tanpa diperintah.
"Enggak! aku ga akan ngebiarin kamu ketemu sama anakku" jawab Gibran dengan amarah yang mulai memuncak.
"Dia juga anakku mas, tolong kasih tau aku dimana dia, aku ingin bertemu sama dia, aku mohon mas, sekali saja" pinta Yuri mengemis ngemis.
"Iya tau dia juga anakmu, tapi kenapa kamu tega tinggalin anak kamu waktu dia masih bayi cuma gara gara aku miskin?!" Bentak Gibran yang merasa sangat sakit hati dengan sikap Yuri di masa lalu.
"Ma-maafkan aku, a-aku cuma mau ketemu sama anakku"
Tanpa jawaban, Gibran pun pergi meninggalkan Yuri yang masih dengan air matanya, menyesali kelakuan yang telah ia lakukan dimasa lalu.
'maafkan mama ya nak, belum bisa bertemu sama kamu' batin Yuri dengan Isak tangisnya.
Ia pun kembali ke ruang meeting seraya menghapus air matanya yang terus keluar.
****
Disisi lain. Lala, Yara dan Jessica sedang berada di kantin, mereka telah menghabiskan makanan yang mereka pesan masing masing, tinggalah mereka menunggu bel masuk berbunyi seraya menyelipkan obrolan.
"Katanya ntar jamkos, emang bener?" Tanya Jessica pada Yara yang anak sang pemilik sekolah.
"Ngga tau, gue kan bukan guru" jawab Yara.
"Kan elo anak pemilik sekolah ini"
"Belum tentu anak pemilik sekolah tau tentang semua yang akan terjadi disekolah contohnya jamkos, gue kan murid disini, lagian papa gue juga ga tau bakal ada jamkos atau ngga" jawab Yara.
"Emang Lo tau dari siapa Jess kalo ntar ada jamkos?" Tanya Lala.
"Gue denger dari kelas sebelah, anak kelas sebelah dikasih tau pak Doni katanya" Jawab Jessica.
"Ohh, ya liat ntar aja apa bener jamkos apa ngga"
Tak lama bel masuk berbunyi, semua murid masuk Ke kelas masing masing, ternyata benar sesuai ucapan Jessica kalau jam mata pelajaran selanjutnya adalah jamkos.
Di jamkos ini, Lala memutuskan untuk mendengarkan musik menggunakan earphone, menempatkan kepalanya diatas meja dan tangan sebagai bantalnya.
Ia menatap tembok seraya asik mendengarkan musik, tiba tiba nomor tak dikenal muncul di WhatsApp nya.
"Siapa?" Gumam Lala seraya membuka chat dari nomor tak dikenal tersebut.
^^^+62^^^
^^^Hai^^^
Me
Siapa?
^^^+62^^^
^^^Leo^^^
Me
Leo siapa? Maaf ga kenal
^^^+62^^^
^^^Kamu Lala anaknya Tante Yuri kan?^^^
__ADS_1
'what! apa dia Leo yang dijodohin sama gue?' batin Lala saat membaca pesan dari seseorang tersebut.
Me
Hmmm
^^^+62^^^
^^^Aku Leo orang yang dijodohin sama kamu^^^
Me
Oh
'ya kan bener, dahlah gue males, ga akan gue bales lagi pesan dari dia' batin Lala merasa kesal.
Sedangkan Leo terus saja memberi pesan pada Lala, tentang bagaimana kabarnya, dan bagaimana tentang sekolahnya dll, tetapi semua pesan tersebut Lala abaikan, ia enggan untuk membalasnya.
'sok kenal' batin Lala menatap pesan dari Leo yang terus terusan muncul.
Leo tetap terus memberi pesan pada Lala, hingga membuat Lala kesal dan memblokir nomer tersebut.
"Dasar Posesif!!" Ucap Lala dengan nada tinggi.
Sontak semua pasang mata yang berada didalam kelas menatap Lala kebingungan.
Lala pun tercengang dengan ucapan yang ia lontarkan tadi, ia merasa sangat malu.
"Ma-maaf, tadi kebawa suasana so-soalnya gue baca komik" ucap Lala dengan terbata bata.
Teman temannya pun menyadarinya, mereka tau kalau Lala memang suka membaca komik dan novel.
"Lo beneran baca komik?" Tanya Dion yang duduk disebelah Lala.
"I-iya kenapa?
"Ohh tapi gue ga yakin kalo Lo baca komik, kayaknya ada yang disembunyiin nih" goda Dion dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Lala.
"Cihh muka lo Dio ga boleh sedeket itu" ucap Raja yang menatap tak suka Dion sedekat itu dengan Lala.
"Sok, gue juga mau nonton anime" jawab Dion yang tak mau kalah.
Selama Lala membaca komik, Raja yang berada didepan Lala, dia slalu memandang Lala yang fokus membaca komik online di handphone nya.
Tiba tiba sebuah senyuman muncul di bibir Raja.
'maafin gue yang ga berani ungkapin perasaan ini, karena kita ga mungkin bisa bersama, gue udah dijodohin sama Yara' batin Raja dengan tersenyum memandang Lala.
namun perlahan senyum itu mulai hilang saat ia mendapat pesan Whatsapp dari Yara.
^^^Yara^^^
^^^Ja, ntar anterin gue ke rumah ya, soalnya gue ga bawa mobil^^^
Raja
Iya
"Dio ntar gue anter Yara ke rumahnya dulu, Lo pulang sendiri aja ga jadi nebeng" ucap Raja dengan wajah datarnya.
"Ohh oke" jawab Dion dengan mulut yang menganga.
"Hmm, tutup tuh mulut takut ada laler nyasar" ucap Raja dengan tertawa kecil.
Dion membalas dengan menjulurkan lidahnya meledek Raja.
"Ja, ini jamkos sampe pulang?" Tanya Dion pada Raja.
Raja pun menoleh ke belakang dengan mengangguk, lalu kembali menaruh kepalanya diatas meja dan tangan sebagai tumpuannya.
"La, Lo ga mau ngobrol gitu sama gue? Gue lagi capek nih nonton anime" ucap Dion seraya melepas 1 earphone yang dipakai Lala.
"Ogah" jawab Lala dengan singkat seraya mengambil kembali earphone nya.
****
__ADS_1
Disis lain Yara yang berada di toilet, ia menatap sebuah cermin didepannya.
"Mimisan? Ke-kenapa gue mimisan?" Gumam Yara dengan membasuh hidungnya yang terus keluar cairan merah yaitu darah.
"Padahal gue ga pernah mimisan, and kenapa gue pucet banget" tambahnya dengan melihat pantulan dirinya di cermin.
Tanpa pikir panjang, Yara kembali ke kelasnya dengan menyumpat hidungnya dengan tisu.
Sesampai dikelas, Yara menutup hidungnya dengan tangan, agar teman temannya tak tau akan hal itu.
Saat Yara duduk dibangkunya, Jessica terus memperhatikan gerak gerik Yara, dan sekilas ia melihat darah yang keluar dari hidung Yara.
"Ra.... Elo mimisan?" Tanya Jessica yang penasaran.
"Eng-enggak" Jawab Yara yang telah mengelap darah tersebut dari hidungnya, namun meskipun telah dibersihkan darah tersebut tetap keluar dari hidung Yara.
"I-itu, Ra mending Lo istirahat di UKS gih, ayo gue anterin, muka Lo keliatan pucet banget"
"Ga usah Jess, gue disini aja bentar lagi kan pulang" tolak Yara dengan nada pelan dan lemas.
"yaudah"
'kenapa gue ngerasa capek banget, gue juga ngerasa pusing, tapi gue ga mau ngeliat temen temen gue panik' batin Yara yang menaruh kepalanya diatas meja.
Sampai akhirnya tak terasa, bel pulang telah berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas hendak pulang ke rumah masing masing.
"Ayo Ra" ucap Jessica yang menepuk pundak Yara pelan. Tetapi tak ada balasan dari Yara, Jessica kira Yara sedang tertidur tetapi setelah beberapa kali ia bangunkan, Yara tetap tak bangun bangun.
"Jangan jangan Yara pingsan" gumam Jessica, Jessica pun segera menelefon Raja untuk segera ke kelasnya, didalam kelas telah sepi hanya tersisa Yara dan Jessica saja.
Tak lama Raja sampai di kelas Yara dan Jessica, Raja mencoba membangunkan Yara berkali kali tetapi tetap saja Yara tak bangun bangun.
"Ja gimana ini? Yara pingsan, kita anter Yara ke rumahnya naik apa?" Tanya Jessica yang terlihat sangat panik.
"Elo ga bawa mobil?" Tanya Raja.
"Eng-enggak, tadi gue dianter mama, trus ini gimana?"
"Ga ada cara lagi, Lo telfon om Gibran aja"
"I-iya"
Jessica pun melakukan apa yang diperintah Raja, ia menelefon Gibran, yaps Gibran adalah papa dari Yara.
📞 Halo om ma-maaf ganggu
📞 Iya gapapa, ada apa Jess?
📞 I-itu... Ehmmm.... Anu.... Ya-yara pingsan d-di kelas
📞 Apa? Kok bisa?
📞 Ta-tadi habis dari toilet, hidung Yara mimisan, trus wajahnya pucet banget om
📞 Yasudah, om segera kesana
Telfon pun berakhir, Gibran segera menuju ke sekolah untuk menjemput anaknya.
Beberapa menit kemudian Gibran telah sampai di sekolah miliknya, ia segera menuju ke kelas Yara.
"Yara!" Ucap Gibran sangat khawatir.
"Om, mendingan cepet bawa Yara ke rumah sakit" titah Raja.
"Iya" jawab Gibran.
"Kita ikut ya om" pinta Jessica yang hanya dibalas anggukan oleh Gibran.
Mereka pun menuju ke rumah sakit terdekat.
****
Selang beberapa menit, Yara telah siuman, dan dokter mengatakan bahwa Yara hanya kelelahan jangan terlalu banyak pikiran.
Yara yang sudah mulai enakan, ia pun dibawa pulang ke rumah oleh sang ayah.
__ADS_1
~•~