Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki
Episode 134


__ADS_3

"Semoga kalian selalu bahagia nak, dengan pernikahan ku kali ini semoga ini menjadi yang terakhir," batin Syam.


Syam dan anak-anak keluar dari kamar Salma dan berjalan bersamaan menuju ruang keluarga.


"Ayo kita sudah siap," ajak Syam.


Syam dan anak-anak pamit pada kedua orang tua Syam dan mencium punggung tangan ayah dan ibu, di ikuti olah Ayu.


"Ga usah pake sopir, biar aku aja yang nyetir," ucap Ayu menawar kan diri.


"Jangan biar pak Suryo aja yang antar biar kamu ga cape, belum nanti kan mau pulang ke Bandung kamu juga harus nyetir sendiri," ucap Syam.


Mereka pun pergi dengan mengguna kan mobil yang selalu di pakai oleh Salma dengan pak Suryo sebagai sopirnya.


Sesampainya di mal, Syam mengajak Ayu membeli keperluan untuk hantaran nanti. Dari mulai baju, sepatu, sandal, tas dan yang lainnya.


"Kenapa kamu pilih barangnya yang biasa aja dan yang murah lagi?" tanya Syam sesaat setelah keluar dari toko make up.


"Aku tuh ga butuh barang mahal, aku cuma butuh kamu untuk jadi pendamping hidup ku," ucap Ayu.


Setelah melamar Ayu, tidak sedikit pun Syam menyentuh Ayu walau pun hanya berpegangan tangan.


Sementara Salma dan Natasya lebih memilih menunggu sambil bermain game di timezone, menghabis kan waktu selama mama dan papanya memilih barang-barang untuk hantaran.


"Seru ya kak," ucap Natasya merasa bahagia bisa bermain bersama Salma.


"Iya dek, nanti kita bakalan sering main kaya gini dek," ucap Salma.


Salma dan Natasya terus bermain game semua game mereka coba kecuali mainan untuk anak balita, sampai Syam pun datang menjemput mereka berdua.


"Kalian sudah puas mainnya?" tanya Syam.


"Masih seru sih pa, papa udah selesai belanjanya?" jawab Salma masih memain kan game mesin capitnya dan Natasya ada di sebelah Salma.


"Papa dan mama tinggal beli perhiasan aja sih untuk mahar, itu bisa nanti aja kalau sudah mau dekat hari H," jawab Syam.


"Mama mana pa?" tanya Natasya.

__ADS_1


"Mama lagi ke toilet sayang, mungkin sebentar lagi kembali," ucap Syam.


"Aku haus pa," ucap Salma duduk di dekat Syam.


"Tunggu sebentar, papa beli kan kalian minum. Kalian mau minum apa?" tanya Syam.


"Apa aja deh pak asal rasa coklat," ucap Salma.


"Sama pa aku juga rasa coklat ya minumnya, maaf merepot kan," ucap Natasya.


Syam hanya tersenyum dan membelai rambut Natasya lalu pergi untuk mencari minum dan meninggal kan anak-anak.


Tak lama Syam pun datang dengan membawa 3 minuman di tangannya dan memberi kan nya pada anak-anak dan yang satu untuk Syam minum sendiri.


Ayu pun datang dan melihat pemandangan yang jarang dan belum pernah di lihatnya, melihat Syam begitu dekat dengan anak-anak dan tertawa lepas.


"Andai senyuman dan tawa itu untuk ku, aku akan lebih bahagia lagi dan tak akan ku biar kan kamu pergi dari hidup ku," batin Ayu saat melihat canda tawa Syam dan anak-anak dari kejauhan.


Ayu pun berjalan mendekati Syam dan anak-anak.


"Iya ma, aku istirahat dulu habis main game sama kak Salma. Kak Salma jago main gamenya ma," ucap Natasya memuji Salma.


"Kok kamu lama ke toiletnya?" tanya Syam.


"Tadi lagi penuh toiletnya jadi harus antri deh," jawab Ayu.


"Kalian udah selesai belum main gamenya?" tanya Ayu.


"Aku udah cape, udah dulu aja main gamenya," ucap Salma lalu menyeruput minuman di tangannya.


"Adek juga ah, udah aja. Main sendiri ga seru," ucap Natasya.


"Ya udah kalau gitu kita pulang ya, udah mau sore juga. Kita kan mau pulang ke Bandung nak, nanti kapan-kapan kita main game lagi ya," ucap Ayu.


Mereka pun pulang dengan rasa lelah karna seharian berada di mal, berkeliling dan bermain game bersama.


...***...

__ADS_1


Ayu pun pulang ke Bandung dengan hati riang gembira dan rasa bahagia yang tak terkira, mengingat semua kejadian saat Syam melamarnya sampai saat berpisah dari Syam.


"Tunggu aku di Bandung ya, nanti aku akan datang bersama keluarga ku untuk melamar mu secara resmi," perkataan Syam yang terus terngiang-ngiang di telinga Ayu.


"Dari tadi mama terus senyum-senyum," ucap Natasya.


"Mama bahagia nak, akhirnya mama punya pendamping hidup yang mama cintai dan kamu bakalan punya papa baru yang lebih baik dari papa mu," ucap Ayu.


"Kamu senang punya papa kaya papa Syam?" sambung Ayu dengan satu pertanyaan untuk Natasya.


"Aku senang ma, aku punya kakak yang mau berbagi kasih sayang dari papa dengan ku bahkan kak Salma begitu menyayangi ku. Dari pada punya adik dari papa yang ga mau berbagi papa dengan ku, dia malah merebut papa dari ku," jawab Natasya.


Ayu merasa bersalah pada Salma atas perkataan Natasya yang menyatakan bahwa Salma begitu menyayangi anaknya.


Sementara Syam masih di rumah orang tuanya, mendiskusi kan banyak hal dengan Salma yang ikut serta.


"Salma nenek mau tanya, kalau papa nikah nanti. Salma mau ikut papa di Bandung atau tinggal dengan nenek di sini? karna Salma kan sekolah tinggal sebentar lagi, tanggung kalau pindah sekolah. Nanti sudah lulus sekolah Salma boleh ikut papa di Bandung, gimana nak kamu pilih yang mana?" tanya ibu perlahan memberi pengertian.


"Aku terserah papa aja nek, karna aku tau semua keputusan yang papa ambil pasti itu yang terbaik untuk ku," jawab Salma.


"Gimana dari kamu Syam?" tanya ayah.


"Aku melaku kan semua ini untuk kebahagiaan Salma yah, mana mungkin aku tinggal kan Salma di sini. Apa pun yang terjadi aku akan membawa Salma kemana pun aku pergi," ucap Syam.


"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan mu, ibu doa kan semoga ini jadi yang terbaik untuk mu dan pernikahan terakhir mu," ucap ibu mendoa kan yang terbaik untuk anaknya.


"Oh iya, Doni belum di kasih kabar baik tentang rencana pernikahan mu dan Ayu," ucap ayah.


"Belum yah, biar aku yang telpon kak Doni," ucap Syam lalu mengeluar kan ponsel di saku celananya.


Syam mencoba menghubungi Doni tapi tidak ada respon sama sekali, akhirnya Syam memilih mengirim pesan pada Doni.


💌Kak maaf mengganggu, nanti kalau kakak udah ga sibuk langsung telpon balik ya kak.


"Kayanya kak Doni sibuk, jadi aku kirim pesan aja suruh kak Doni telpon balik kalau ga sibuk," ucap Syam lalu memasuk kan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Ya sudah kita tunggu Doni telpon aja," ucap ibu.

__ADS_1


__ADS_2