
"Kamu tega Syam, kamu membuat ku jadi janda yang ke dua kalinya dalam waktu yang singkat. 5 hari lalu kita resmi jadi suami istri dan sekarang kamu talak aku hanya karna aku tidak bisa jadi apa yang kamu mau, semua ini karna anak pungut itu. Aku benci sama kamu Salma, gara-gara kamu hidup ku jadi berantakan," batin Ayu terus menyalah kan Salma atas apa yang terjadi padanya dan Syam.
Ayu masuk dan duduk di kursi ruang tamu, terus menangisi kepergian Syam dan perkataan Syam terus terngiang di telinganya saat Syam menyatakan kata talak padanya.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku ga bisa kehilangan Syam, apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membuat Syam kembali pada ku dan membatalkan perceraiannya," gerutu Ayu memegang kepalanya dan terus menangis.
Natasya keluar dari kamarnya lalu menghampiri Ayu yang sedang duduk dan menangis. Natasya terus berjalan mendekati Ayu dan duduk di samping Ayu.
"Mama kenapa nangis?" tanya Natasya dengan polosnya.
"Maaf kan mama ya nak, mama ga bisa kasih kebahagiaan buat kamu," ucap Ayu memeluk tubuh mungil Natasya dan terus menangis di pelukan anaknya.
"Apa ada yang menyakiti mama, sampai mama menangis seperti ini? Terus papa dan kak Salma kenapa buru-buru pulang?" pernyataan demi pertanyaan dari Natasya semakin membuat Ayu tersayat hatinya, Ayu terus menangis tanpa henti.
"Kenapa mama ga jawab pertanyaan aku, kan aku juga ingin tau apa yang terjadi dengan mama. Sampai mama nangisnya kaya gini," sambung Natasya.
"Mama ga apa-apa sayang, papa dan kak Salma ada urusan lain. Nanti mereka balik lagi ke sini," ucap Ayu beralasan dan menghapus air mata di pipinya.
Sementara di dalam mobil, Salma terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi antara Syam dan Ayu tapi Syam memilih diam tanpa mau menjawab pertanyaan dari Salma.
...***...
Seminggu berlalu Ayu menerima surat panggilan dari pengadilan agama untuk panggilan sidang perceraian antara Ayu dan Syam.
"Syam benar-benar menggugat cerai aku, apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku ga mau pisah dari Syam," gerutu Ayu saat membaca surat yang di antar oleh pak pos.
__ADS_1
Ayu meminta solusi pada temannya yang berprofesi sebagai pengacara, Ayu mendatangi tempat Lury setelah mendapat surat dari pengadilan agama.
Ayu mencerita kan semua kejadian demi kejadian yang sudah menimpanya sejak awal pernikahan sampai akhirnya Syam menalak dirinya setelah 5 hari menikah.
"Aku harus gimana sekarang, aku ga mau pisah dari suami ku. Aku sayang sama dia, cuma 5 hari pernikahan udah di gugat cerai sama mantan suami ku yang pertama aja 3 taun pernikahan baru kita cerai," ucap Ayu di ruangan kerja Lury.
"Bantuin aku dong Lury aku harus apa sekarang," sambung Ayu terus meremas rambut panjangnya.
"Gini Yu, kan kamu udah pernah ngalamin proses perceraian tuh gimana. Pasti ada mediasi dulu, naha saat mediasi ya kamu bilang aja masih sayang dan mau menerus kan pernikahan sama suami kamu. Coba itu dulu aja, kalau ga berhasil nanti aku kasih tau lagi cara berikutnya," ucap Lury memberi saran.
"Oh iya ya, kamu bener juga. Semoga ini berhasil ya, ya sudah aku pamit pulang ya," ucap Ayu merapihkan kembali rambutnya yang berantakan lalu keluar dari ruangan Lury.
"Dasar kamu Yu.. Yu ga pernah berubah kalau urusan cowok. Datang dengan muka stres dan banyak beban pikiran, baru di kasih solusi gitu aja kamu udah senang padahal itu bisa di pikir kan sendiri tanpa harus jauh-jauh datang kemari," gerutu Lury heran dengan tingkah laku Ayu.
30 menit berkendara menembus jalanan dan kemacetan, akhirnya Ayu sampai di rumahnya. Natasya yang menunggu Ayu di ruang tamu karna tidak bisa keluar karna pintu rumah di kunci dan Ayu membawa kuncinya. Ayu melupakan Natasya yang berada di dalam kamarnya saat Ayu pergi tadi.
"Astaga nak, maaf kan mama nak. Mama lupa sama kamu, mama lupa kalau kamu ada di dalam," ucap Ayu mencari kunci rumahnya dan langsung membuka pintu yang sudah Ayu kunci sejak 2 jam lalu.
"Mama dari mana? Aku kira mama ada di rumah," tanya Natasya yang sudah menangis sejak tadi.
"Maaf kan mama nak, tadi mama ada urusan jadi mama buru-buru pergi dan mengunci pintu. Maafin mama ya nak," ucap Ayu memeluk tubuh mungil Natasya dan menyeka air mata di pipinya.
Ayu menggendong Natasya ke kamarnya mencoba tenang kan hati Natasya. Setelah Natasya tenang, Ayu keluar dari kamar Natasya dan masuk ke dalam kamarnya.
"Aku mau tinggal sama papa aja, mama udah mulai melupakan aku. Mama sering lupa kalau aku ada di rumah dan menunggu mama pulang, aku mau telpon papa Syam aja," gerutu Natasya mengambil ponselnya yang di simpan di atas meja belajarnya.
__ADS_1
📱"Halo papa, lagi sibuk ga?"
📱"Iya kenapa sayang, papa lagi duduk minum teh sama kakak Salam di balkon hotel,"
📱"Papa boleh ga aku tinggal sama papa aja. Aku ga mau terus-terusan di tinggal mama pergi, tadi aja di kunci dari luar dan mama bilang lupa kalau ada aku di rumah,"
📱"Sekarang mamanya mana sayang?"
📱"Ada di kamarnya pa, aku juga mau kaya kak Salma. Di manjain sama papa jalan-jalan sama papa,"
📱"Ya udah besok kita jalan-jalan ya biar kamu ga sedih lagi, sekarang kamu tidur ya. Jangan nangis lagi ya nak,"
📱"Iya pa, besok aku tunggu papa sama kak Salma ya jemput aku. Aku tidur dulu ya pa, bye bye papa,"
Syam menutup telponnya dan menyimpan ponselnya di atas meja.
"Adek Tasya kenapa pa?" tanya Salma.
"Besok kita jalan-jalan sama Natasya ya biar Natasya ga sedih lagi, katanya tadi dia di kunci dari luar sama mama Ayu," jawab Syam mengajak Salma jalan besok.
"Oh iya pa, kenapa waktu itu kita pulang buru-buru dari rumah mama Ayu. Aku kan mah tidur bareng sama adik aku yang pintar," ucap Salma baru berani bertanya pada Syam.
"Papa ga mau kamu di hina sama tante Ayu, kamu lebih berharga dari apa pun di dunia ini sayang. Jangan pernah pergi dari papa ya, kalau kamu dewasa nanti dan kamu udah menemukan pendamping hidup yang pas dan cocok. Papa udah siap kan rumah buat kamu, biar kamu ga pergi jauh dari papa," ucap Syam.
"Terima masih ya pa, papa udah kasih sayang sama aku lebih dari cukup. Papa udah jadi papa sekaligus mama buat aku, aku sayang sama papa," ucap Salma memeluk tubuh kekar Syam yang duduk tegap di kursi dekat pintu.
__ADS_1