
"Terima masih ya pa, papa udah kasih sayang sama aku lebih dari cukup. Papa udah jadi papa sekaligus mama buat aku, aku sayang sama papa," ucap Salma memeluk tubuh kekar Syam yang duduk tegap di kursi dekat pintu.
"Tapi pa kasian juga mama Ayu, kenapa papa ga kasih kesempatan sama mama Ayu biar mama Ayu bisa berubah," sambung Salma melepas kan pelukannya.
Syam berpikir sejenak perkataan anak gadisnya yang selalu memikir kan Ayu tapi Ayu sendiri malah membenci dirinya.
"Harusnya Ayu bisa bersyukur bisa memiliki anak sebaik dan setulus Salma tanpa ada rasa benci sedikit pun, mungkin aku bisa memberi mu kesempatan dan aku bisa belajar mencintai mu Yu. Semua sudah terlihat jelas kalau kamu memang bukan untuk ku dan bukan ibu yang baik buat Salma, bahkan anak kamu sendiri kamu terlantar kan hanya demi mengejar laki-laki," batin Syam.
...***...
Hari yang di nanti kan pun tiba, hari yang di tentu kan dalam surat yang di kirim oleh pengadilan agama untuk mediasi pertama.
Sebelum berangkat ke pengadilan agama, pagi-pagi setelah sarapan Syam mengajak Salma untuk mengecek rumah makan. Selama di perjalanan dari hotel tempat Syam menginap ke rumah makan yang ada di Lembang, Syam terus mendekap Salma penuh kasih sayang.
"Kamu harus bisa belajar mengelola rumah makan dan resto juga, karna semuanya akan menjadi milik kamu. Meski pun kamu hanya anak angkat tapi semua ini sudah mama dan papa siang kan untuk mu," ucap Syam mengelus rambut panjang Salma.
"Tapi pa aku kan masih kecil mana ngerti urusan yang beginian," ucap Salma yang memang belum mengerti apa-apa tentang bisnis.
"Papa tau kamu masih umur 9 tahun tapi kan setiap hari umur mu bertambah, makin hari kamu tumbuh semakin besar dan nanti setelah kamu dewasa kamu bisa gantiin posisi papa. Itu maksud papa," ucap Syam mencolek hidung mancung Salma.
Sesampainya di rumah makan, Syam dan Salma turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah makan yang sudah di buka oleh Dendy.
"Pagi pak, pagi Salma," sapa Dendy.
"Pagi mas Dendy," jawab Salma dengan senyuman ramahnya.
"Papa aku di sini ya, aku mau minum jus aja," ucap Salma menunjuk satu meja di dekat jendela.
"Iya sayang, kamu minta tolong di buat kan sama mba Erni ya," ucap Syam.
__ADS_1
"Dendy, saya minta laporan ke uangan selama seminggu ini. Saya tunggu di ruang kerja saya," ucap Syam dengan tegas lalu masuk ke dalam ruang kerjanya.
Tak lama Dendy pun datang dengan membawa laporan keuangan yang di minta oleh Syam.
Tok tok tok
"Ya masuk," ucap Syam, Dendy pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan kerja Syam.
"Ini pak laporan yang bapak minta," ucap Dendy memberi kan berkas laporan keuangan mingguan.
"Duduk, ada yang mau saya bicara kan sama kamu," ucap Syam lalu Dendy pun mengikuti apa yang di perintah kan oleh bosnya.
Syam membaca dengan seksama dan teliti, setiap laporan yang di buat oleh Dendy.
"Ya bagus, saya percaya kan rumah makan ini sama kamu dan mungkin saya akan jarang mampir ke sini karna saya harus mengurus resto di Jakarta. Saya harap kamu bisa menjaga kepercayaan yang saya beri kan sama kamu," ucap Syam.
"Kamu bisa kirim laporan keuangan pada saya lewat email ya, kalau ada masalah dengan rumah makan ini kamu bisa langsung telpon saya," sambung Syam memberi kepercayaan pada Dendy, karyawan biasa yang pernah menolong Syam di saat membutuh kan pertolongan untuk mengantarnya secepat kilat.
Obrolan pun terus berlangsung dengan membahas pekerjaan, sementara Salma di luar duduk sambil memain kan ponselnya dan menikmati secangkir jus alpukat dengan susu coklat. Tak lupa Salma memesan jud mangga untuk pak Suryo yang menunggu di parkiran.
Sebelum jam 11 siang Syam pergi dari rumah makan dan langsung menuju pengadilan agama Bandung.
Dengan hati sakit akan pernikahannya yang singkat, Ayu pun datang ke pengadilan agama dengan berharap Ayu masih bisa menyelamat kan pernikahannya dengan Syam.
"Semoga mediasi ini bisa membawa kamu kembali pada ku Syam, karna alasan kamu pun harus kuat dan adanya bukti," gerutu Ayu di dalam mobil menuju pangadilan agama.
Ayu sengaja izin cuti hari ini untuk memenuhi panggilan dari pengadilan agama.
Sesampainya di parkiran Syam meminta Salma menunggu di dalam mobil dan Syam keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam gedung pengadilan agama dengan tujuan ruang mediasi.
__ADS_1
"Sepertinya Ayu belum datang," batin Syam duduk di ruang tunggu ruang mediasi.
5 menit berselang Ayu pun datang, langsung melihat Salma yang duduk di pinggiran tempat parkir. Ayu memarkir kan mobilnya tepat di sebelah mobil Syam.
"Apa harus lewat Salma aku bisa kembali lagi sama Syam?" gerutu Ayu sebelum turun dari mobilnya.
Ayu turun dari mobil dan langsung mendapat kan sambutan dari Salma, membuat Ayu memikir kan lagi ide cemerlangnya untuk mengambil hati Syam.
"Mama..." teriak Salma berlari menghampiri Ayu dan memeluk Ayu dengan eratnya.
"Papa mana nak?" tanya Ayu.
"Papa udah masuk tadi ma," jawab Salma melepas kan pelukannya.
"Ya sudah mama masuk dulu ya, kamu tunggu di sini ya," ucap Ayu lalu pergi meninggal kan Salma yang masih berdiri di dekat mobil Ayu.
Ayu sudah melihat Syam dari kejauhan, duduk sambil main kan ponselnya, Ayu terus berjalan menghampiri Syam.
"Hai Syam," sapa Ayu duduk di samping Syam.
"Ya," jawab Syam singkat tanpa mau melihat siapa yang menyapanya.
"Sinis amat jawabnya, ga bisa ya lembut dikit sama aku. Aku mau minta maaf sama kamu dan Salma, aku sadar aku salah dan aku terlalu egois. Aku mencintai mu dengan sepenuh hati ku dan aku terlalu takut jauh dari mu apa lagi sampai berpisah sama kamu, maaf ya. Aku mohon jangan tinggal kan aku," ucap Ayu ungkap kan rasa di hatinya.
Syam hanya diam mendengar kan perkataan dari Ayu, seakan tidak mendengar kan perkataan Ayu sampai petugas bagian mediasi pun memanggil nama Syam dan Ayu.
Syam berdiri dari tempat duduknya dan langsung berjalan masuk ke dalam ruangan dan di ikuti oleh Ayu.
Mediasi pun di mulai, pertanyaan demi pertanyaan pun di lontar kan pada Syam dan Ayu.
__ADS_1
"Saya ga mau pisah dari suami saya bu, saya sayang sama suami saya," ucap Ayu.