Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki
CTHM 92


__ADS_3

Setelah berlama lama di perusahaan, bahkan otaknya sudah mulai panas, tak tahan ia pulang lebih awal, tepatnya dipukul 12 siang.


Tanpa menghubungi Raja, ia pulang kerumah menaiki taxi online yang sebelumnya ia pesan lebih dulu.


Didalam taxi, ia melihat jemari manisnya yang sudah dipasangi sebuah cincin pertunangan beberapa minggu yang lalu.


Seseorang yang pernah memberinya harapan palsu dulu di waktu SMA, kini dia adalah tunangannya, merasa berat untuk menerimanya, merasa sudah dikecewakan namun dia datang kembali untuk membawa kepastian, bahkan sudah memasangkan cincin tanda keseriusannya pada dirinya.


"Cincin terpaksa" Lala bergumam tertawa kecil.


"Entah, sampai saat ini gue masih belum bisa jatuh cinta sama elo ja, gue masih inget betuk saat elo dulu deketin gue diwaktu SMA dan ngejauhin gue gitu aja, elo cinta pertama gue dulu" gumamnya masih terus memandangi cincin dijemari manisnya.


"Neng? neng kenapa ngomong sendiri?" saut supir taxi yang mendengar ucapan Lala.


"Eh, engga pak, ini saya lagi telfonan sama temen" jawab Lala jelas berbohong.


Supir tersebut memang sudah tua, mungkin sudah berumur 50 tahun keatas.


Hingga akhirnya, sesampainya dirumahnya, ia berjalan sempoyongan menuju masuk kedalam rumah, halaman depan rumahnya sangat lebar, jaraknya cukup jauh dari gerbang depan.


Sesampainya didalam rumah, ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya yang berada dilantai 2


"Kok pulang lebih awal la?" tanya Iris yang tak sengaja melihat anaknya menaiki tangga.


"Eh papa, iya pa... Lala ngerasa ga enak badan jadi Lala pulang duluan, maaf ya pa"


"Oh iya gapapa sayang, kamu istirahat yang cukup, nanti biar papa pergi ke kantor"

__ADS_1


Lala hanya mengangguk paham, ia melanjutkan perjalanannya menaiki tangga menuju kamar tercintanya.


Tanpa mengganti pakaian dan hanya melepas sepatunya saja, ia langsung merobohkan badannya di atas ranjang empuk berukuran king size tersebut.


Badannya terasa sangat lelah dan lesu, lemas rasanya seperti tak bertenaga, tanpa pikir panjang, ia langsung terlelap dalam tidur siang nya.


****


Disore harinya, ia terbangun dengan rambut yang acak acakan, dirinya terbangun akibat suara dering telfon handphone nya yang terdengar keras di pinggir telinga nya.


"Ah siapa sih, ganggu orang tidur aja" oceh Lala.


Tanpa melihat nama yang tertera, ia langsung mengangkat telfon tersebut, dan terdengar suara yang tak asing ia dengar.


Suara yang telah menemaninya 3 hari berturut turut sehari yang lalu, dia adalah Dion.


'ya ampun ternyata Dion, gue kira Raja' batin Lala.


📞 Ya?


📞 Apa kabar la?


📞 Baik, tapi ya badan gue kerasa capek banget tau, apalagi tadi gue habis dari kantor ngurusin tugas tugas perusahaan, jadwalnya sih pulang jam 4 tapi gue pilih pulang lebih awal karena badan gue ngerasa ga enak banget


📞 Ya ampun, elo kecapek an, istirahat yang cukup la, kalo badan kerasa ga enak jangan dipaksa beraktivitas yang membuat badan dan pikiran lelah


📞 Iya Dion, makasih ya, ehmm denger suara elo gue jadi sehat lagi nih, ahaha

__ADS_1


📞 Bucin lagi nih, cie yang udah punya tunangan


📞 Stt diem, udah jangan bilang itu lagi, gue ga mood


📞 Oke


Percakapan terus berlanjut, Dion slalu menggoda Lala yang merasa sebal jika Dion menyebut nama Raja.


Entah kenapa ia se sebal itu pada Raja, malas sekali menanggapi semua omongan Raja, bahkan jika Raja berada dirumahnya mengobrol bersama, ia hanya membalasnya dengan singkat.


Beberapa menit kemudian, sambungan telefon telah terputus, Lala segera mandi karena hari sudah mulai sore, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Lama banget tadi ya gue tidurnya" gumam Lala seraya mengaca melihat wajahnya yang cantik.


Kini matanya terdapat sebuah lingkaran hitam, meskipun tak terlalu hitam namun itu cukup terlihat jelas dikulit putihnya, mungkin karena akhir akhir ini dia sering insomnia dan mengerjakan tugas tugas yang begitu membuat otaknya panas.


Selesai mandi, ia kembali merebahkan badannya diatas ranjang, melihat sebuah drama Korea terbaru, sangat asik melihatnya, ia jadikan drama Korea sebagai hiburannya agar tak terlalu stres memikirkan tugas kantor.


Namun tiba tiba pikirannya tertuju pada masa depannya.


"Masih muda aja gue udah mikir segini banyaknya, ini belum nikah loh, kalo udah nikah tambah banyak lagi yang harus gue pikir"


"aaaaa engga.... pokoknya gue ga mau nikah muda, masa muda gue harus diisi dengan kenangan masa masa menyenangkan, bukan malah diisi dengan kesibukan yang bisa buat gue stres"


Ia menggeleng gelengkan kepalanya berulang ulang kali, hingga akhirnya ia kembali fokus pada drama korea nya.


~•~

__ADS_1


__ADS_2