Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki
CTHM 82


__ADS_3

Keesokan pagi nya, tepat setelah sarapan, Lala mencium punggung tangan kedua orang tuanya, pagi ini memang ada jadwal kampus dan berakhir nanti di siang hari pukul 11.00


"Ma pa, Lala berangkat ya" Lala tersenyum seraya membenarkan posisi tas nya.


"Iya sayang, hati hati dijalan ya" Yuri mencium pucuk rambut putri nya.


"Berangkat sendiri atau sama pak Slamet?"


"Sendiri kok pa" Lala tersenyum manis.


Saat hendak keluar dari rumah, tiba tiba bel rumah berbunyi menandakan kalau ada tamu diluar sana.


Lala pun segera membukakan pintu rumahnya, dan terlihat Raja yang berpakaian rapi dengan sepatu dan tas ransel nya.


"Raja, ma-mau kemana?" Lala bertanya gugup.


"Ke kampus, elo ada jadwal ngampus ga? kalo ada ayo sekalian bareng gue aja"


Lala hanya terdiam dengan mulut menganga, ia menoleh ke belakang meminta persetujuan kedua orang tuanya.


Tanpa panjang lebar, Yuri dan Iris menganggukinya menyetujui Lala dan Raja berangkat bersama menuju kampus.


"Kalian hati hati ya" Yuri menerima uluran tangan Raja, Raja pun mencium punggung tangan kedua orang tua Lala yang kelak akan menjadi orang tua keduanya.


"Tante, om kita berangkat ya"


"Iya, jaga anak om baik baik" Iris menimpali.


"Siap om" Raja menyengir memperlihatkan gigi rapi nya.

__ADS_1


Raja dan Lala pun keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil milik Raja, saat hendak keluar dari gerbang, Raja mengelakson bel mobilnya seraya tersenyum pada satpam rumah Lala, tanda terimakasih karena telah membukakan pintu gerbang.


Setelah keluar dari area rumah Lala, mereka pun memulai pembicaraan walau hanya sekedar basa basi agar suasana tidak canggung.


"Hmmm elo kenapa tiba tiba samperin gue"


"Ga ada, cume feeling aja kalo elo kayaknya masuk pagi"


"Ouhh, btw gimana kabar Dion?"


"Baik, dia disana udah ada perubahan, mulai punya banyak temen ga kayak dulu"


"Ohh syukur"


"Elo masih sering chattingan sama dia? atau telfonan sama dia?"


'kenapa tiba tiba raja tanya begitu, emang dia cemburu' batin Lala menyelidik.


"Ohh yaudah"


Suasana kembali hening saat lampu merah tiba, setelah lampu hijau kembali barulah pembicaraan dimulai lagi.


"Ja"


"Iya?"


"Lo kenal Rehan?"


"Rehan siapa? banyak loh yang namanya Rehan"

__ADS_1


"Itu yang kemarin dia di ruangan 24 belakang ruangan elo, bahkan kemarin gue juga sempet liat dia ngobrol sama elo di parkiran" jelas Lala.


"Oh dia, Rehan Andian? dia anaknya dosen namanya Mr.Adri"


"Elo kenal sama dia?"


"Iya kenapa?"


"Dia mirip Leo" seketika raut wajah Lala menjadi sedih, saat menyebut nama Leo.


"Masa sih? beda ah sama yang elo kasih tau ke gue waktu itu di foto"


Perjalanan masih berlangsung, dan percakapan pun juga masih diperpanjang.


"Iya, dari gaya jalannya, wajahnya, senyumnya, suaranya, postur tubuhnya sama dan gue juga ngerasa kalo dia Leo"


"Masa sih? beda ah la, dia culun loh"


"Penampilannya aja yang culun ja, tapi coba kalo dia diperbaiki penampilannya pasti mirip banget sama Leo, apa Leo masih hidup ya?"


"Ga mungkin la, elo liat sendiri ga jasad Leo dikuburin?"


"Enggak, gue dateng kepemakaman dia di sore hari tepat setelah dia udah dimakamkan" Lala tertunduk sedih.


"Yaudah lah, mungkin itu tandanya elo kangen sama dia, jangan lupa doain dia terus ya, kalo perlu ntar liburan kita kesana jenguk Leo di tempat peristirahatannya" Raja mengelus rambut panjang Lala dengan satu tangannya.


"Iya" Lala kembali tersenyum menatap Raja, hatinya kembali tenang.


'elo mirip banget sama mendiang Yara, kalo udah di elus rambutnya pasti langsung tenang dan senyum, sifat kalian ga beda jauh, gue jadi kangen Yara' batin Raja dengan melirik sekilas wajah Lala.

__ADS_1


~•~


__ADS_2