Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki
CTHM 41


__ADS_3

Saat Yara telah memakai seragamnya, ia menatap dirinya disebuah cermin.


"Gue kok tambah kurus" gumamnya seraya berkacak pinggang.


"Pad-" suara ketukan pintu membuatnya tak melanjutkan ucapannya.


Tok! Tok! Tok!


"Non Yara sudah ditunggu tuan dari tadi, ayo non Yara sarapan dulu" ucap asisten rumah tangga Yara yang bernama bi Siti.


"Iya bi ini Yara keluar" saut Yara dari dalam kamar, Yara pun segera keluar kamar dengan membawa tasnya yang lalu diberikan kepada sang bibi untuk membawakannya ke lantai bawah.


"Papa belum berangkat?" Tanya Yara pada sang ART.


"Belum non, kata tuan.... non Yara tuan yang nganterin ke sekolah" jawab bi siti.


"Oh gitu, tumben Bi papa mau anterin Yara ke sekolah"


"Katanya sih karena kemarin non pingsan, jadi tuan ga mau non Yara ada apa apa dijalan kalo non Yara berangkat ke sekolah sendiri" jelas Bi Siti panjang lebar.


"Ohhh"


Sesampai diruang makan ~


"Pagi pa" sapa Yara pada sang papa yang menunggunya untuk sarapan bersama.


"Pagi juga anak papa yang cantik" jawab Gibran dengan tersenyum.


Keduanya pun memulai sarapan, entah mengapa Yara merasa tidak enak makan, karena tidak ingin membuat papa nya khwatir dengan keadaannya, Yara hanya memakannya sedikit.


"Kok sedikit banget?" Tanya Gibran.


"Hehe lagi diet pa" jawab Yara yang jelas berbohong.


"Jangan sering sering diet, ga bagus"


Yara menjawabnya dengan anggukan.


10 menit kemudian, ayah dan anak tersebut telah selesai sarapan dan akan berangkat menuju ke sekolah Yara, lalu Gibran akan lanjut berangkat ke perusahaannya.

__ADS_1


Sesampai disekolah ~


Saat Yara hendak membuka pintu mobil, dengan cepat Gibran mencegahnya hingga membuat Yara kebingungan.


'itu kan Yuri, aku ga akan ngebiarin Yuri ketemu sama Yara, tapi kenapa dia bisa ada disini, apa dia tau kalau Yara sekolah disini' batin Gibran yang melihat Yuri berada didepan gerbang sekolah.


"Kenapa pa?" Tanya Yara kebingungan.


"Ah.. ngga apa apa, ehmm.... nanti istirahat kamu ga boleh jajan sembarangan, kalo ngerasa pusing capek atau apalah langsung istirahat di UKS atau di ruangan papa" ucap Gibran dengan mengelus rambut panjang sang anak.


"Iya pa, Yara baik baik aja.... Semoga kejadian kemarin ga terjadi lagi" jawab Yara seraya tersenyum.


Saat Yuri telah kembali masuk kedalam mobil, dan mobilnya pun telah pergi meninggalkan sekolah, barulah Gibran membolehkan Yara keluar dari mobil.


"Yasudah kamu cepet masuk keburu telat" ucap Gibran.


"Iya pa, makasih ya pa, oh ya papa hati hati dijalan" ucap Yara. "Ahh iya lupa..... Papa ga mampir dulu ke sekolah, melihat kemajuan sekolah atau liat fasilitas sekolah?"


"Nanti aja, sekalian jemput kamu pulang sekolah" jawab Gibran.


"Ohh oke, byee pa"


Setelah Yara turun dari mobil sang papa, Gibran pun segera menyuruh supirnya menancapkan gas menuju ke perusahaan.


Yara pun segera berlari menuju ke toilet yang berjarak cukup jauh dari tempatnya sekarang berada.


"Kenapa lagi? Kenapa slalu keluar darah" gumam Yara.


Sesampai di toilet, dengan cepat agar tak terlihat oleh siswi lain, Yara segera membasuh hidung dan mulutnya yang keluar darah seraya menatap cermin.


'gue kenapa?' batin Yara.


Saat Yara terus membasuh darah yang keluar, tiba tiba Lala masuk kedalam toilet.


"Ra elo kenapa?" Tanya Lala pada Yara.


"Gapapa kok, gue keluar dulu ya" ucap Yara yang langsung keluar dari toilet seraya menutupi hidungnya dengan tisu.


"Aneh" gumam Lala.

__ADS_1


Saat Lala hendak cuci tangan di wastafel tempat Yara berada tadi, ada sebuah bercak darah yang membuat Lala terkejut.


"Darah?, I-ini darah Yara?" Tanyanya pada diri sendiri.


Lala pun segera mencuci tangannya seraya menyiram bercak darah tersebut, lalu ia berlari mencari keberadaan Yara.


Ia terus mencari keberadaan Yara tetapi tak tertemukan, dikelasnya pun tak ada.


"Yara kemana? Dikelasnya ga ada, apa gue tanya Jessica aja ya" gumam Lala.


Tanpa pikir panjang Lala langsung menelefon Jessica, bertanya apakah ia tau tentang keberadaan Yara, tetapi Jessica sama tak mengetahui keberadaan Yara karena sedari tadi ia tidak melihat adanya Yara, tasnya pun tak ada didalam kelas.


"Masa gue salah liat sih? Itu tadi dikamar mandi bener Yara kan bukan hantu yang nyamar jadi Yara" ucap Lala mengingat kejadian tadi dengan bergidik ngeri.


"Gue takut ihh, mana ada darah lagi, kalo itu bener Yara kenapa dari tadi gue cari cari dia keliling sekolah ga ada"


Saat Lala menaiki tangga hendak ke kelasnya, tiba tiba Yara telah berada didepannya.


"Ra, ini beneran elo?" Tanya Lala pada Yara.


Penampilan Yara tak lagi seperti awal, Yara terlihat lebih rapi dari yang tadi, karena Yara bersembunyi di ruangan sang papa yang tak boleh dimasuki oleh siapapun kecuali papanya dan dirinya, bahkan yang memegang kuncinya pun hanya Yara dan papanya.


Didalam ruangan tersebut, Yara membenarkan seragamnya agar terlihat rapi kembali, dan mengganti dasinya dengan dasi yang baru, karena yang tadi telah terkena noda darah.


"Iya ini gue" jawab Yara.


"Elo tadi ke toilet kan?, Trus yang di wastafel ada bercak darah itu darah Lo kan?, Elo kenapa kok bisa berdarah?" Tanya Lala.


"Eng-enggak, gue ga ke toilet, ini juga gue baru dateng" jawab Yara yang jelas berbohong.


"Masa sih? Tapi tadi gue beneran liat elo di toilet kayak nutupin sesuatu gitu"


"Ahh mungkin Lo salah liat, gue ini baru dateng and seragam gue juga masih rapi dan wangi, kalo gue berdarah pasti gue udah bau amis"


"Iya juga sih, trus tadi yang gue liat di toilet siapa?, Ihh ngeri" ucap Lala seraya bergidik ngeri.


Yara hanya menahan tawa melihat Yara yang ketakutan.


'maaf la gue bohong' batin Yara.

__ADS_1


Yara dan Lala pun berjalan bersama menuju ke kelas masing masing, dengan Lala yang terus terbayang bayang dengan kejadian tadi di toilet.


~•~


__ADS_2