Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta Tak Harus Memiliki
Sama sama terluka


__ADS_3

Remaja laki laki sedang berdiri sendiri dibalkon rumahnya seraya terus meneteskan air mata dan menatap fotonya dengan mantan kekasihnya dilayar handphone.


Hiks.... Hiks....


"Ra gue kangen" ucap remaja tersebut.


Ya benar saja, remaja tersebut adalah Raja yang masih bersedih atas meninggalnya Yara.


"Hiks...hiks.... sesuai ucapan lo gue mau liat lo bahagia dengan melihat senyum gue, tapi gue ga bisa senyum diatas kesedihan om gibran, gue ga mau tersenyum disaat lo pergi, gue mau tersenyum kalo kita bahagia bersama ra"


ia terus menangis dan mulut yang tak henti henti mengoceh, dari belakang tubuh Raja nampaklan Dion yang berdiri tegak menatap Raja yang terus menangis.


'gue juga sedih ja, gue sedih atas meninggalnya Yara, bagaimanapun juga Yara pernah ada dihati gue, dia cinta pertama gue, gue ga tega kalo liat lo nangis gini ja' batin Dion dengan air mata yang tiba tiba terjatuh dipipinya saat melihat sepupunya menangis sejadi jadinya di balkon.


merasa tak tahan melihat Raja yang menangis dan terus menangis, ia pun menghapus air matanya dan menghampiri sepupunya tersebut dan mencoba menenangkannya.


"Ja" panggil Dion.


Seketika, Raja pun menoleh ke sumber suara dan dengan cepat cepat ia menghapus air matanya saat tau Dion lah yang memanggilnya.


"elo yang sabar ya, jangan nangis terus ja, gue ga tega liat lo nangis, Yara bakalan ngerasa sedih kalo orang yang dia sayangi nangisin dia terus" ucap Dion dengan mengelus pundak Raja.


"kalo elo mau buktiin kalo elo sayang sama dia, jangan tangisi dia kasih dia senyuman dan doa biarkan dia tenang, dan elo jangan patah semangat ja, elo harus turuti apa permintaan Yara yang terakhir kalinya, jadikan dia kenangan yang paling indah buat elo" jelas Dion.


"Iya Dio, makasih banyak" jawab Raja dengan memeluk sepupu nya tersebut, lalu ia pun menghapus air matanya.


"Yara minta gue kasih hasil tes DNA nya ke lala, dan dia juga minta gue untuk jadi pendamping Lala seumur hidup" ucap Raja.


"Oh ya, Lala udah dikasih tau belum tentang berita ini?" tanya Dion.


"Belum, gue sama dia udah lost kontak" jawab Raja.


Dion pun segera mengambil handphone nya dari saku celananya, lalu ia pun segera memberi pesan memberitahukan tentang berita ini pada Lala.


Tetapi WhatsApp Lala off line sejak dua hari yang lalu, entah ada apa dengan Lala mereka berdua pun tak tahu.


"Gimana, dia bales?" tanya Raja.


Dion hanya menggelengkan kepalanya dengan terus mencari tau media sosial milik Lala.


"Dia ga online di WhatsApp" ucap Dion yang lelah, lalu ia pun memasukkan handphone nya kembali kedalam saku celananya.


"Yaudah biarin, yuk masuk ke kamar gue, gue mau cerita" ajak Raja yang langsung diangguki oleh Dion.

__ADS_1


Keduanya pun duduk di sofa yang berada didalam kamar Raja.


Raja mengambil tes DNA milik Yara yang harusnya diberikan pada Lala.


"Tes DNA siapa ja?" tanya Dion.


"Gue ga tau, ini punya Yara katanya disuruh kasih ke Lala" jawab Raja.


"Boleh dibuka ga?" tanya Dion lagi.


"Waktu itu dia bilang ke gue, kalo yang boleh buka tes DNA ini cuma gue, Lala and mamanya Lala" jawab Raja.


"Lala and mamanya? ada hubungan apa Yara sama mereka?"


"Entah, gue juga ga tau.... yaudah gue buka dulu ya, tapi apapun hasilnya lo jangan bilang ke siapa siapa, cukup rahasia kita.... ke Jessica sama om Gibran pun jangan" titah Raja.


"Iya"


Raja pun membuka hasil tes DNA tersebut, betapa terkejutnya ia saat membaca hasilnya, ternyata benar Yara merupakan anak kandung dari Yuri yang berarti merupakan kakak kandung Lala.


Seketika Raja hanya terdiam dengan mulut menganga.


"Kenapa ja?" tanya Dion yang penasaran.


'ra kasian banget sih elo, disaat terakhir elo, mama lo ga bisa nemenin elo, bahkan elo juga belum ngerasain kasih sayang and pelukan dia' batin Raja dengan mata yang mulai dipenuhi dengan cairan bening yang sedikit lagi akan terjatuh.


"Ja kenapa ja" ucap Dion dengan menggoyang goyangkan tubuh Raja yang terus terdiam.


'kenapa gue takut kalo ini hasil tes DNA kehamilan Yara' batin Dion yang mulai berfikiran macam macam.


ia pun segera menyaut kertas yang Raja pegang tersebut.


karena rasa penasaran sudah memuncak Dion pun segera membaca hasil tes tersebut, dugaannya salah ia pun sama seperti Raja yang terdiam dengan mulut menganga tak percaya.


"Pantes aja kalian berdua deket banget, ternyata kalian punya ikatan batin yang kuat bisa dipertemukan sebelum pergi nya Yara" ucap Dion saat mengingat kedekatan Yara dan Lala.


"Andai dari awal lo tau kalo Lala adalah adik kandung elo ra, elo pasti bahagia banget" tambah Dion.


"Pantes aja elo nyuruh gue buat jadi pendamping Lala, ternyata Lala adik elo ra, gue bakal turutin kemauan elo, tapi hati gue berat banget buat cinta ke lain hati, gue sayang banget sama elo ra" ucap Raja.


Ya sejak Yara mengalami sakit leukimia tersebut, Raja fokus dengan Yara ia terus menjaga Yara dan melupakan Lala yang pernah ia sukai, hingga akhirnya ia susah untuk jatuh cinta lagi ke siapapun.


"Di coba dulu aja ja demi amanah Yara, memang berat sih ngehapus cinta yang terlanjur dalam, tapi mau gimana lagi sekeras apapun elo coba paksain, tetep aja Yara ga akan balik lagi"

__ADS_1


"Mungkin Yara bahagia kalau dia liat kedua orang yang dia cintai bahagia bersama"


"Gue kasian sama om Gibran Di"


"Ya kalo lo ga sibuk, elo temenin dia dan ajak dia ngobrol, coba tenangin dia supaya dia ga terlalu mikirin Yara terus" jawab Dion.


Raja hanya mengangguk paham dengan pandangan yang terus kosong menatap tembok dibelakang Dion.


"Kalian berdua memang sudah ditakdirkan bersama ja, Lala beberapa hari yang lalu ditinggal pergi sama orang yang dijodohin sama dia, dia udah terlanjur sayang ehh malah calonnya meninggal karena kecelakaan pesawat yang waktu itu muncul di berita"


"Beneran? jadi Lala juga dijodohin?" tanya Raja.


"Iya"


"sekarang elo ditinggal pergi selama lamanya sama Yara, kalian berdua lagi sama sama terluka, mungkin jika kalian mencoba untuk bersatu luka itu akan sembuh perlahan, kalian akan bahagia dan menjadikan Yara dan Leo bayangan kenangan yang takkan pernah terlupakan"


"Entahlah di, ga secepat itu gue bisa pindah ke lain hati, mungkin butuh waktu yang lama buat gue bisa sembuh dari luka ini, gue masih ga mau ngehapus Yara dari hati dan pikiran gue, melupakan itu sangat sulit" jawab Raja dengan badan yang bergetar.


"Iya ja gue ngerti, perlahan lo pasti bisa, sekarang elo harus semangat jalani hidup tanpa Yara, elo harus bisa beradaptasi kembali" ucap Dion dengan memeluk Raja.


"Iya di makasih"


Saat keduanya masih berpelukan, tiba tiba suara ketukan pintu kamar terdengar membuat keduanya melepas pelukan dan keduanya berjalan membukakan pintu.


"Mama" ucap Raja saat melihat mama nya lah yang mengetuk pintu.


"Mama sama papa mau kerumah om Gibran, kamu mau ikut?" Ajak mamanya.


Raja tersenyum "ngga dulu ma, Raja mau nenangin diri dulu, Raja ga mau tambah sedih kalo masuk ke rumah Yara" jawabnya dengan sangat lembut


"Yasudah, jangan tangisi Yara terus ya, kamu keliatan capek banget, istirahat ya nak" ucap mamanya dengan mengelus rambut Raja.


Raja membalasnya dengan anggukan dan senyuman tipis, lalu berjalan ke ranjangnya.


"Dio, tolong jagain abangnya dulu ya, tante takut dia berbuat hal yang membahayakan diri, kalo tante sama om udah pulang kamu boleh pulang, kalo mau nginep juga gapapa"


"Iya tante siap, Dion ntar pulang aja deh soalnya kak Dino sama papa mau ke Bali jadinya Dion jagain mami" jawab Dion.


"Oh yaudah, tante berangkat ya"


Dion mengangguk dan ia kembali duduk di sofa dalam kamar Raja, sesuai amanat mamanya Raja, ia pun menjaga Raja sampai mama dan papa nya pulang ke rumah.


~•~

__ADS_1


__ADS_2