
4 hari di rawat, kesehatan Syam berangsur membaik dan Syam sudah di perbolehkan untuk pulang. Doni masih sengaja ambil cuti untuk mengurus semua administrasi agar Syam bisa pulang hari ini.
Selama Syam di rawat Ayu tidak menampak kan diri di hadapan Syam dan keluarganya karna Ayu malu sudah di usir oleh suster atas permintaan dari Syam sendiri. Ayu terus menyibukkan diri dengan terus bekerja tanpa menghiraukan Natasya, sepulang dari kantor Ayu selalu menghabis kan waktu di toko distro nya. Setiap hari Ayu pergi pagi pulang malam, bekerja keras hanya untuk Syam. Agar Syam tetap mau tinggal bersamanya karna Ayu terus memikir kan omongan Syam yang akan meninggal kan semua yang Syam miliki dan memulai dari nol lagi.
"Akhir-akhir ini mama sibuk banget, tiap hari mama pulang larut malam. Aku takut mama sakit, atau mama merawat papa di rumah sakit ya," gerutu Natasya menunggu Ayu pulang.
Karna Ayu tak kunjung datang, akhirnya Natasya tertidur di kursi ruang keluarga dengan tv yang masih menyala. Sedang kan Ayu pulang ke rumah setelah toko tutup sekitar jam 10 malam.
Saat Ayu sampai di rumah dan melihat Natasya tertidur di kursi ruang keluarga, Ayu menggendong Natasya untuk memindah kan ke kamarnya.
"Aku kira menikah dengan Syam akan merubah segalanya, aku akan lebih bahagia jika aku punya sandaran baru di rumah ini. Tapi mengapa semuanya jadi seperti ini, aku tetap harus kerja keras untuk mencukupi kebutuhan anak ku. Aku yang udah sah jadi istri Syam di mata hukum dan agama tapi aku tidak merasa jadi istri, bahkan di saat Syam sakit aku ga bisa merawatnya. Mungkin ini memang salah ku, terlalu mengingatkan sesuatu dan terlalu memaksa kan kehendak ku. Maaf kan mama ya nak, mama belum bisa bahagia kan Tasya," batin Ayu.
Ayu keluar dari kamar Natasya dan berjalan masuk ke kamarnya, Ayu membuka semua foto-foto Syam yang ia pasang di kaca riasnya dan di dinding kamarnya lalu menyimpannya di laci meja rias.
"Aku akan mencintai mu seadanya Syam, andai kamu tau sebesar apa rasa cinta ku pada mu dan kamu bisa membalas semua rasa cinta ku pada mu. Semuanya ga akan jadi seperti ini, kita menikah tapi kamu bilang menyesali itu semua. Sakit hati ini Syam, kamu yang bilang akan belajar mencintai ku lalu kamu dengan cepat menginginkan pernikahan ini di laksana kan tapi kenapa semuanya jadi seperti ini Syam. Kenapa Syam, kenapa kamu mempermain kan hati dan perasaan ku," gerutu Ayu melihat foto Syam di tangannya dan menetes kan air mata di pipinya.
Sementara di tempat lain, Syam di bawa pulang ke rumah Doni bersama Salma dan kedua orang tuanya. Syam ingin semuanya selesai, termasuk urusan dengan Ayu dan peresmian rumah makan yang baru di buka.
"Besok aku akan meresmikan rumah makan dan sorenya aku akan menyelesai kan urusan ku dengan Ayu, semoga semuanya lancar tanpa ada hambatan apa pun," batin Syam lalu menarik selimutnya untuk tidur.
...***...
__ADS_1
Pagi-pagi Mila sudah menyiap kan sarapan untuk semua orang yang ada di rumahnya, termasuk pa Suryo. Syam keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih, menyusul semua yang sudah duduk di meja makan.
"Pagi semua," sapa Syam.
"Pagi, kamu mau kemana Syam udah rapih aja," ucap Doni.
"Aku mau persiapan peresmian rumah makan ku yang di Lembang kak, nanti kakak dan semuanya datang ya. Khususnya kamu sayang, papa mau kamu yang gunting pita di acara peresmian rumah makan yang sekarang," ucap Syam memegang tangan Salma.
"Kenapa harus aku pa, kan papa juga bisa," ucap Salma.
"Rumah makannya kan punya kamu, papa cuma mengelolanya dan hasilnya untuk kamu. Biar kamu bisa sekolah tinggi dan hidup layak karna semua ini peninggalan mama untuk kamu," ucap Syam.
"Tapi kan pa, aku cuma anak angkat kenapa semua hasil kerja keras papa untuk ku?" tanya Salma membuat semua yang mendengar terdiam dan bertanya-tanya dari mana Salma tau kalau dia anak angkat Syam.
"Aku udah tau nek kalau aku bukan anak kandung papa dan mama, bahkan panti asuhannya pun aku tau. Aku bisa berbagi dengan teman-teman ku di panti juga nek, aku pakai uang ku untuk membeli hadiah buat teman-teman ku di sana," ucap Salma.
"Salma mau cari ayah dan ibu kandung Salma?" tanya Mila.
"Ga tante, papa minta aku untuk tetap bersama papa sampai aku dewasa nanti. Aku mau cari kemana, kata ibu panti aku di temukan di depan pintu panti asuhan tanpa tau siapa yang sudah menyimpan ku di panti asuhan jadi mau cari kemana, aku sendiri ga tau," jawab Salma.
"Kami di sini adalah keluarga mu nak, kamu jangan merasa sendiri ya. Kita semua sayang sama kamu," ucap Doni.
__ADS_1
"Iya om, meski pun aku bukan anak kandung papa tapi papa selalu memberi apa yang aku mau dan memberi kan kasih sayangnya lebih dari apa pun di dunia ini. Papa terbaik yang Tuhan kasih untuk ku," ucap Salma.
Selesai sarapan, Doni berangkat ke kantornya dan Syam pergi ke rumah makannya yang ada di lembang di antar oleh pak Suryo.
"Papa pergi dulu ya nak, nanti siang pak Suryo jemput kamu sama kakek dan nenek ke sini," ucap Syam.
"Iya pa, jangan terlalu cape ya nanti papa sakit lagi," ucap Salma mengingat kan Syam.
"Iya nak," ucap Syam.
Syam berangkat dari rumah yang memang cukup jauh dari tempat usahanya. Pak Suryo yang selalu mengantar kemana pun Syam pergi karna Syam masih belum berani membawa mobil sendiri.
Sesampainya di rumah makan, sudah ada Dendy dan yang lainnya yang menunggu di depan rumah makan. Syam sengaja mengada kan briefing pagi sebelum memulai pekerjaan hari ini.
"Pagi semuanya," sapa Syam.
"Pagi pak," ucap semua karyawan.
"Kita mulai pagi ini dengan membaca doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar kegiatan kita hari ini berjalan dengan lancar. Berdoa di mulai," ucap Syam, semua karyawan pun menunduk kan kepalanya untuk berdoa dalam hati.
"Berdoa selesai, semoga acara hari berjalan dengan lancar dan rumah makan ini tempat kita mencari rezeki bisa terus berkembang dan kita sukses bersama di sini. Sekarang kita bekerja di bagian masing-masing dan selamat bekerja," sambung Syam.
__ADS_1
semua karyawan masuk ke dalam rumah makan menurut bagiannya masing-masing, sedang kan Dendy membantu Syam untuk membagi kan brosur promosi pembukaan rumah makan khas sunda pada setiap orang yang melintas di depan halaman rumah makan dan Dendy membagi kan agak jauh dari area rumah makan.
"Semoga usaha ini terus maju, amin," batin Dendy.