
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Syam menghampiri Indah hanya sekedar menyapa Indah.
"Hai, Indah," sapa Syam.
Indah segera membalik kan badannya untuk melihat ke arah sumber suara yang tak asing baginya, si pemilik suara yang selalu ia rindu kan.
"Eh ada pak Syam, sedang apa di sini pak?" ucap Indah saat membalik badannya dan menyimpan jus alpukat yang telah ia minum.
"Saya hanya berkunjung saja ke sini, Indah sendiri lagi ada acara apa ini. Ramai sekali,"
"Ini lagi ada acara ulah tahun teman saya pak,"
Lala yang punya hajat memberi kode pada Indah agar mengenal kan Syam padanya.
"Oh iya kenal kan pak ini teman-teman ku,"
Satu persatu teman-teman Indah memperkenal kan diri pada Syam dan berjabat tangan, termasuk Lala dengan sigap menangkap tangan Syam untuk berkenalan. Lala termasuk wanita yang sering gonta ganti pacar, kadang Lala siap menjadi simpanan om-om demi gaya hidupnya yang elit.
"Ayo gabung pak," ucap Lala mempersilah kan Syam duduk di dekatnya.
"Terima kasih atas tawarannya, tapi maaf saya lagi ada pekerjaan lain. Maaf ya Indah, saya tinggal ya semua. Selamat menikmati hidangan makanannya," ucap Syam izin pamit pada teman-teman Indah lalu pergi ke arah kasir.
"Wi, meja nomor 10 yang tadi saya datangi, tolong di kasih diskon 30% ya. Itu teman saya,"
"Baik pak,"
Syam melangkah pergi masuk ke dalam ruangannya, dan ternyata sudah ada jus mangga di atas meja kerja Syam. Syam duduk dan membuka laptopnya, mengerjakan laporan harian yang biasa ia kerja kan tapi hati dan pikiran tetap fokus pada Indah.
"Rasanya aku ingin duduk berdua dan bicara dari hati ke hati dengan Indah, tapi apa mungkin semua itu bisa terjadi," batin Syam menghentikan pekerjaannya sejenak.
__ADS_1
Satu jam duduk di resto dan makanan pun sudah habis, obrolan ngaler ngidul pun sudah di bicara kan akhirnya Indah dan teman-temannya memilih untuk pulang.
"Mba," panggil Lala mengacung kan tangannya untuk memanggil pelayan.
"Minta bill nya ya mba,"
Pelayan datang dengan membawa bill yang harus di bayar oleh Lala, "Ini yang harus di bayar dan ada diskon 30% dari owner resto ini, jadi yang harus di bayar hanya ini," ucap pelayan menunjuk kan angka di akhir bill.
"Memangnya siapa owner resto ini mba, kami tidak mengenalnya, bayar pake debit bisa kan mba," ucap Lala memberi kan kartu atm pada pelayan resto.
"Bapak Syam, beliau pemilik resto ini. Tadi beliau bilang yang duduk di sini teman beliau dan memberi diskon,"
Pelayan pun pergi dan kembali dengan membawa mesin EDC (Electronic Data Capture) dan menggesek kan kartu debit yang di beri kan oleh Lala.
Selesai pembayaran, mereka pun keluar dari resto dan kembali berjalan ke arah kantor karna kendaraan yang mereka pakai sengaja mereka simpan di kantor. Kecuali Indah yang memang tidak memiliki kendaraan pribadi karna kost an Indah yang dekat dengan kantor.
"Aku ga tau kalau pak Syam itu pemilik resto, yang aku tau dia seorang pebisnis aja. Aku kenal di panti asuhan, beliau adalah salah satu donatur tetap di panti asuhan mutiara bunda," ucap Indah bercerita singkat.
Indah pun berpisah dengan teman-temannya di depan pintu masuk kantor, Indah berjalan kaki menuju kost annya.
"Walau pun pertemuan kita hanya sesaat tapi itu bisa mengobati rasa rindu ku pada mu, tapi kalau benar pak Syam pemilik resto tadi. Mana mau dia sama aku yang hanya seorang pegawai biasa, ga jelas asal usulnya pula. Sudah lah Indah jangan terlalu berharap pada seorang manusia, cukup mengagumi tanpa harus memiliki," batin Indah di sepanjang perjalanan menuju kost annya.
Sementara Syam masih sibuk dengan semua laporan yang selama 3 hari baru di kerja kannya karna Syam memang jarang datang ke resto cabang ini. Setelah selesai Syam keluar dengan membawa gelas kosong bekas jus dan menyimpannya di meja kasir, Syam mengedar kan pandangannya mencari Indah tapi ternyata Indah sudah keluar dari restonya.
"Ah aku telat keluarnya, mungkin memang bukan saatnya untuk ku bisa dapat jodoh dari Tuhan," batin Syam merasa kecewa karna tidak bisa bertemu dengan Indah.
Syam pergi dari resto dan masuk ke dalam mobil, sebelum pulang Syam mampir ke minimarket untuk membeli camilan dan minuman kaleng yang di pesan oleh Salma.
"Oh Iya Salma kan punya nomor ponsel Indah, kalau aku ajak Indah ketemu mau ga ya? nanti aku coba ngomong sama Salma deh," batin Syam saat masuk ke dalam mobil dengan membawa satu kantong berisi camilan dan minuman kaleng.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, ternyata Salma sudah menunggu di depan teras. Salma menyambut kedatangan Syam dengan suka cita karna Syam membawa apa yang Salma pesan.
"Akhirnya papa pulang juga, semua pesanan aku udah di beli kan pa," ucap Salma mengambil tangan Syam lalu mencium punggung tangan Syam, tak lupa sekantong belanjaan yang di bawa oleh Syam pindah tangan dengan cepat.
"Semua pesanan anak gadis papa ada di dalam sana,"
"Terima kasih ya pa, papa memang yang terbaik. Nanti malam temenin aku nonton drakor ya pa, kita nonton sambil ngemil kan seru,"
"Tapi jangan yang cinta-cintaan ya, drakor nya yang ada action nya biar seru. Baru papa mau,"
Syam dan Salma masuk ke dalam rumah dengan janji nonton setelah makan malam.
Jam di dinding sudah menunjuk kan jam 07:30 malam, Syam keluar kamar setelah mandi dan menunai kan ibadah 3 rakaat. Syam menghampiri Salma yang sudah menunggu di meja makan untuk makan malam.
"Jadi ya pa, udah makan kita nonton,"
"Iya nak, oh iya tadi papa ketemu sama tante Indah loh sayang,"
"Dimana pa? udah lama juga ya kita ga ke ketemu sama tante Inda dan teman-teman di panti, jadi kangen,"
"Tadi papa ketemu di resto, tante Indah lagi ada acara ulang tahun temannya di reston papa. Kalau kamu kangen sama tante Indah, kenapa ga di telpon aja di ajak ke rumah sekalian kita nonton bareng kan jauh lebih seru,"
"Bener juga tuh pa, setelah selesai makan aku mau coba telpon tante Indah,"
"Ya udah kamu habis kan dulu makanannya ya,"
"Iya pa,"
Sesuai rencana, setelah selesai makan malam Salma masuk ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Indah.
__ADS_1