Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 10


__ADS_3

@Hotel Salton Pasific


Dena duduk didepan cermin rias memandang dirinya sendiri saat ini. Ia sedang dirias oleh beberapa orang dari pihak perias pengantin.


Pandangan Dena begitu sendu melihat dirinya sendiri yang sudah siap dengan kebaya pernikahan yang akan digunakan untuk ijab qobul. Dia tidak pernah menyangka bahwa ia akan menikah dengan orang yang bahkan belum ia kenal. Dan dia juga tidak pernah menyangka awal pernikahannya begitu penuh Drama.


Ini semakin membuatnya khawatir, di awalnya saja sudah seperti ini, ia bersitegang dengan Dirga yang akan menjadi suaminya. Apalagi disaat mereka sudah menikah nanti akan menjadi seperti apa pernikahannya. Sungguh ia tidak ingin dalam situasi yang seperti saat ini, tapi mau bagaimana lagi ini demi apa yang ibunya telah tinggalkan untuknya dan Daniel.


Ia tidak ingin Papanya itu menjual semua peninggalan milik mamanya dan dia tidak ingin Anak-anak Panti yang dimana mamanya menjadi Donatur di sana mengalami kesulitan karena Papanya akan mencabut hak donatur itu.


Tak terasa air mata Dena menetes melihat dirinya sendiri yang sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan pendukung setianya yang selalu mendukungnya adiknya sendiri saat ini sangat marah pada dirinya. Karena menerima perjodohan ini,.


Begitu hancur hatinya saat Daniel marah padanya, karena dia dan Daniel bagaikan satu tubuh. Sungguh berat baginya saat ini


………………


Flashback On


"Darimana kak?" ucap Daniel curiga saat Dena akan masuk kedalam kamar. Kebetulan saat itu ia juga akan keluar dari kamarnya yang berada di sebelah Dena.


"Dari Mall" ucap Dena singkat.


"Tumben ke mall?ada perlu apa ke sana?" heran Daniel karena setahu Daniel kembarannya itu tidak suka sekali dengan yang namanya Mall karena dia tidak suka berbelanja.


"Beli cincin" ucap Dena.


"Beli cincin?untuk?" Daniel semakin penasaran saja.


"Pernikahanku" jujur Dena.


Membuat Daniel menatap tak percaya,


"Kamu mau dengan perjodohan yang dilakukan Papa?pikiranmu dimana kak" ucap Daniel meninggikan suaranya.


"Aku capek, aku mau istirahat" Dena tidak menanggapi perkataan Daniel, ia langsung masuk kedalam tapi sebelum itu Daniel sudah mencekal tangan Dena agar tidak masuk kedalam.


"Jawab aku kak? Kamu menerima perjodohan ini" bentak Daniel.

__ADS_1


"Bukan urusanmu" ketus Dena melepaskan tangan Daniel, lalu ia masuk kedalam kamarnya. Daniel juga ikut masuk kedalam dia masih belum terima dengan pernyataan kakaknya.


"Kenapa kamu menerimanya?Bukannya waktu itu kamu bilang tidak mau lalu kenapa sekarang kamu menerimanya. Dimana pikiranmu sebenarnya kak. Tolong batalkan itu, batalkan sekarang juga"


"Aku tidak bisa"


"Kenapa?Kenapa tidak bisa, aku tidak mau kamu menderita nantinya kak. Tolong, tolong batalkan itu, " ucap Daniel terus memohon.


"Kamu keluarlah dari kamarku, aku capek" lirih Dena lalu duduk di kasurnya.


"Dena aku tidak mau kamu menderita, aku tidak mau. Aku tidak mau kamu tersakiti oleh orang itu, orang itu sama seperti papa. Aku tidak mau kamu tertekan dan mengakibatkan dirimu menjadi depresi aku tidak mau kehilanganmu. Karena hanya kamu yang aku punya" Daniel menatap Dena penuh harap.


"Kamu pergilah Daniel aku lelah," bentak Prisia menatap Daniel.


"Apa yang membuatmu tetap kukuh untuk menerima ini Dena!!" bentak Daniel tak kalah keras dari bentakan Dena barusan.


"Aku bilang bukan urusanmu, urusi saja urusanmu sendiri. Sana bekerja dengan baik urusi perusahaan kakek tua dan Nenekmu itu" Dena berdiri dari duduknya mengusir paksa Daniel dari kamarnya.


Dena langsung menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.


"Oke jika itu bukan urusanku, aku tidak akan mengurusi lagi apa masalahmu" teriak Daniel dari luar pintu kamar Dena.


°°°°°


"Saya terima nikahnya Dena Nindia Sharman binti Marco Alexander Sharman dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap Dirga lantang. Itu semua ia lakukan agar tidak membuat mamanya kecewa. Sebenarnya di kepalanya terus-terusan menyebut nama Clara yang akan dia ucapkan di ijab qobul tetapi ia berusaha untuk menahannya mengucapkan itu semua.


"Bagaimana para Saksi Sah?"


"SAHH" jawab mereka semua yang ada disitu.


Membuat Dirga menghembuskan nafasnya kasar, sungguh ini bukanlah keinginannya. Menikah dalam tekanan dan Paksaan. Apalagi bukan menikah dengan orang yang ia cintai yaitu Clara.


Nama Clara tidak akan pernah terganti di dalam hatinya nama itu akan melekat di hatinya sampai ia bisa menjadikan Clara miliknya.


Dena mencium tangan Dirga dengan paksa karena bisikan Mama tirinya Soraya yang menyuruhnya mencium tangan Dirga. Dirga melihat Dena biasa saja walaupun perempuan itu tampak cantik dengan kebayanya saat ini.


Dena melihat ke sekeliling mencari keberadaan Daniel yang tidak tampak di tempat ijab qobul nya saat ini. Membuatnya semakin sedih, hatinya begitu sakit ketika tidak melihat kembarannya itu. Bisakah ia menjalani pernikahan ini nantinya.

__ADS_1


…………………


Acara pernikahan sudah selesai para tamu sudah pulang dan beberapa kerabat juga sudah pulang hanya keluarga inti saja yang menginap di hotel saat ini.


Dena berada di kamar pengantinnya saat ini melihat kamar itu yang sudah dihias sedemikian rupa. Begitu indah sekali, tetapi keindahan itu malah membuat hatinya tak bahagia, Seharusnya dia kelak akan menikah menghabiskan sisa umurnya dengan orang yang dicintai tetapi kini ia harus menikah dengan seorang pria yang baru saja masuk kedalam kamar dan menatapnya tajam.


"Kau puas, sudah menikah denganku. Keluargamu akan semakin mendapatkan kekayaan yang berlimpah berkat keluargaku. Dan gara-gara dirimu Pacarku tidak bisa dihubungi sekarang" Dirga mencengkram pundak Dena kuat membuat perempuan itu merintih kesakitan.


"Jangan harap kau akan bahagia dengan pernikahan ini, aku tidak akan membuatmu bahagia menikmatinya. Ini semua salahmu karena kau malah menerimanya" lanjut Dirga masih mencengkram kuat pundak Dena.


"Argggh, Sakit" akhirnya rintih kesakitan keluar dari mulut Dena dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu.


"Lepas.." ketus Dena disela-sela ke sakitan nya ia melihat Dirga.


Dirga melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Dena dengan kuat sehingga membuat Dena terjatuh ke lantai dan tak terduga kepala Dena terbentur lantai karena dorongan kuat dari Dirga barusan.


Dirga sendiri merasa terkejut dengan itu, tapi ia tidak perduli. Untuk apa ia perduli dengan orang yang telah menghancurkan impian-impian masa depannya.


Dirga jongkok dilantai melihat Dena yang memegangi dahinya sambil melihat Dirga penuh amarah.


"Rasakan semua itu, jangan berharap ini semua akan berakhir. Justru ini awal dari kesengsaraan mu mengerti. Dan kau jangan pernah menginjakkan kakimu di ranjang itu. Itu tempatku, entah kau akan tidur dimana? Dan kau jangan sesekali berharap akan mendapatkan perlakuan manis seorang istri mengerti" ucap Dirga panjang lebar lalu ia bangkit berdiri menuju ranjang tempat tidurnya yang bertebaran bunga serta terdapat rangkaian bunga berbentuk hati.


Ia menarik selimut itu dengan kasar sehingga membuat rangkaian bunga itu berantakan dan berjatuhan di lantai.


"Kenapa kau melihatku seperti?kau tidak terima aku melakukan ini, jangan-jangan kau mengharapkan malam pertama yang indah denganku" ketus Dirga melihat kearah Dena tidak suka.


Sementara Dena mengepalkan tangannya kuat lalu berdiri melihat Dirga dengan tatapan tajam menusuk.


"Aku tidak pernah mengharapkan malam pertama yang indah dengan. Aku tidak sudi menyerahkan tubuhku pada manusia sepertimu" ucap Dena tajam lalu ia segera pergi dari hadapan Dirga dan berjalan masuk kedalam toilet. Untuk menenangkan dirinya di sana. Jujur ia sangat syok dengan perlakuan yang ia dapatkan tadi. Seakan hati Dena semakin hancur membayangkan kedepannya melihat sifat Dirga yang ternyata bisa se kasar itu.


Denah berjalan ke bathub mengisi bathub itu dengan air lalu ia masuk kedalam situ tanpa melepas gaun pernikahannya. Dia duduk didalam situ dengan guyuran air dari shower yang mengguyur tubuhnya saat ini.


Ia menelungkup kan tubuhnya memeluk kedua lututnya yang mulai masuk kedalam air bathub yang sudah meninggi.


Air matanya langsung luruh begitu saja, apalagi ketika ia mengingat terus-terusan perkataan Papanya dulu pada Mamanya. Apakah itu sekarang akan terjadi juga padanya..


"Mama aku kangen sama kamu ma.." tangis Dena pecah ketika mengingat mamanya dulu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2