
Dirga berlari mengejar Dena dan Daniel yang sudah masuk kedalam mobil.
"Argh, Sial," kesal Dirga saat dia tidak bisa mengejar Dena yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Semua ini gara-gara Clara," lagi Dirga melampiaskan ke kekesalannya.
Dirga langsung berjalan lagi masuk kedalam Mall dia akan ketempat acaranya tadi. Memberitahukan kepada Samuel kalau dia harus pergi sebentar.
Saat Dirga akan berjalan masuk kedalam seorang perempuan yang ia cium tadi terus saja memperhatikan dirinya. Tentu saja Dirga menyadari hal tersebut.
"Apa yang kau inginkan?jangan melihatku seperti itu" Dirga langsung mengeluarkan dompetnya memberikan segepok uang pada perempuan tersebut.
"Ini untukmu, lupakan tadi mengerti" ucap Dirga lalu pergi begitu saja meninggalkan perempuan itu yang hanya melihat segepok uang di tangannya.
Lalu dia melihat Dirga yang sudah berjalan masuk kedalam
"Kau kira harga ku hanya segini" ucap perempuan itu tersenyum licik.
"Kita akan bertemu lagi tuan Dirga," sinis perempuan itu.
Didalam ruangan Fashion Show, Dirga menemui Samuel di sana.
"Sam,." panggilnya saat sang sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu sedang berbicara dengan orang.
"Iya, ada apa Dirga?" tanya Samuel melihat Dirga yang sudah berdiri di sampingnya.
"Tolong, kamu handle ini semua. Dan tolong nanti suruh Juna untuk mengecek di kantor" ucap Dirga pada Samuel.
Samuel merasa heran kenapa Dirga menyerahkan semua pekerjaan hari ini pada dirinya dan Juna memang akan kemana temannya ini.
"Kau mau kemana?Kenapa semua pekerjaan kau serahkan padaku dan Juna?" tanyanya pada Dirga.
"Aku ada urusan, tolong selesaikan ya" Dirga langsung pergi setelah mengatakan hal itu. Samuel hanya bisa geleng-geleng saja.
………………
Dena dan Daniel saat ini sedang berada di dalam mobil. Dena hanya diam saja tidak bicara sama sekali pada Daniel. Daniel melirik kearah kembarannya tersebut dia merasa khawatir apa Dena merasa sakit hati gara-gara melihat suaminya yang mencium perempuan lain tadi.
"Dena,." panggil Daniel.
"Ya," Dena langsung melihat kearah Daniel yang melihatnya.
"Kamu tidak apa-apa?" ucap Daniel pelan takut kakaknya akan tersinggung.
"Aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa. Memang kenapa?"
"Kamu tidak masalah melihat suamimu tadi mencium perempuan lain"
"Tidak, kenapa aku harus terpengaruh. Hubungan kita tidak seperti suami istri pada umumnya, dan aku tidak mencintainya jadi untuk apa aku terpengaruh dengan itu" pungkas Dena mantap menatap Daniel.
"Kamu serius, Kamu tidak mencintainya, lalu kenapa kamu masih menjalani pernikahanmu ini?" tanya Daniel bingung dengan Dena.
"Bagaimana masa Depanmu nanti, kalau kamu menjalani pernikahan bohongan seperti ini" ucap Daniel lagi sambil melihat kakaknya penasaran.
"Untuk sementara aku akan menjalani pernikahan ini, baru setelah apa yang ingin aku lakukan dengan perempuan ular dan Papa. Aku akan mengajukan cerai pada Dirga" jelas Dena yakin dengan tujuannya saat ini.
__ADS_1
"Kamu sudah memikirkannya?" Daniel semakin dibuat penasaran dengan apa yang akan dilakukan kakaknya nanti.
"Sudah,.Kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku. Aku sudah memikirkannya dengan matang" jelas Dena meyakinkan Daniel lagi.
"Kalau kamu sudah memikirkannya, apapun akan ku dukung kak"
"Terimakasih, karena selalu mendukungku Daniel"
Daniel meraih tangan kakaknya, dan menggenggam tangan itu dengan tangannya yang tidak ia gunakan untuk menyetir saat ini.
"Kita mau kemana sekarang?" tanya Daniel melihat kearah kakaknya.
"Ke rumah kita dulu bagaimana?"
"Tapa di sana ada Om Michel dan keluarganya," ucap Daniel.
"Kalau begitu, kita ke Villa saja bagaimana?" tawar Dena lagi.
"Baiklah, sekalian ajak Bija ya Dena. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya" saran Daniel pada Dena.
"Baiklah, aku kirim pesan dulu pada Bija"
°°°°°
Saat ini sudah siang hari dan Dirga baru saja pulang dari acaranya di luar tadi dia segera berjalan cepat masuk kedalam rumah miliknya. Dia membuka pintu kasar, melihat rumahnya yang tampak sepi saat ini. Dia segera berjalan masuk keruang tengah dan menaiki tangga rumahnya menuju kamar dirinya.
Dengan segera ia membuka pintu kamar masuk kedalam, pandangannya langsung mengedar kearah Sofa tempat dimana Dena biasa duduk dan tidur di situ. Tapi orang yang ia cari tidak ada, Dirga mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, dia berjalan kearah balkon kamarnya melihat di situ siapa tahu Dena ada di situ. Tapi tidak ada, segera saja ia menuju ke kamar mandi yang tertutup.
"Dena, Dena.." panggilnya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar mandi tersebut.
"Kemana perempuan itu saat ini, kenapa dia tidak ada di kamar. Apa dia belum pulang?" ucap Dirga seorang diri.
Dirga berjalan keluar kamar lagi, kemungkinan Dena ada di dapur benar mungkin dia ada di sana batin Dirga.
Dengan terburu-buru Dirga menuruni tangga rumahnya bergegas untuk mencari Dena ke dapur siapa tahu perempuan itu di sana.
Saat sampai di dapur harapannya pudar Dena juga tidak ada di sana.
"Kemana kau hah," kesal Dirga saat tidak mendapati Dena.
Dirga memukulkan keras tangannya di meja, dia merasa kesal karena dia tidak mendapati Dena di manapun.
………………
Dirga duduk di balkon kamarnya, bahkan saat ini sudah sore hari menjelang magrib tapi Dena juga belum pulang. Membuat Dirga merasa tertekan sendiri memikirkan kemana sebenarnya perempuan itu. Entah kenapa dia terus memikirkan Dena, apa yang perempuan itu pikirkan saat melihat dirinya mencium perempuan lain tadi. Itu terus yang terpikir di kepalanya saat ini.
Dirga berdiri kasar dari duduknya, dia sudah lelah sedari tadi menunggu Dena yang tidak pulang-pulang. Dia berjalan masuk kedalam kamar miliknya, melihat tempat yang biasa di tempati Dena masih kosong, membuat Dirga gelisah sendiri kali ini.
Cklek,.
Terdengar seseorang yang membuka pintu. Otomatis langsung mengalihkan Dirga saat ini, ia langsung menoleh kebelakang melihat siapa yang membuka pintu. Dia begitu bersemangat saat menoleh kebelakang berharap itu Dena yang membukanya.
Semangatnya langsung hilang seketika saat dia melihat siapa orang yang membuka pintu. Ternyata bukan seseorang yang dia harapkan.
Itu mamanya yang membuka pintu langsung menatap Dirga heran karena pria itu langsung berekspresi suram tak bersemangat.
__ADS_1
"Mama,." lirih Dirga saat melihat mamanya.
"Kamu kenapa kok kayak kecewa begitu melihat Mama?" heran Sisil melihat anaknya yang tampak kecewa melihatnya.
"Kamu kira Mama istri kamu?" ucap Sisil lagi
Dirga hanya diam saja tidak menanggapi,
"Ayo kita makan malam" ajak Sisil pada putranya.
"Dena apa sudah pulang Ma?" Tanya Dirga penuh harap pada sang Mama.
"Loh, Istri kamu tidak bilang sama kamu. Dia hari ini tidak pulang ke rumah"
"Dia tidak pulang?memang dia kemana?" ucap Dirga terkejut.
"Dia katanya ada urusan di rumahnya jadi dia hari ini tidak pulang kesini"
"Apa dia tidak bilang padamu, kok kamu tampak terkejut seperti itu" lanjut Sisil semakin penasaran dengan anaknya yang hanya diam saja.
"Bilang kok" bohong Dirga.
"Ayo ma, kita makan malam." ucap Dirga lagi dan berjalan pergi keluar kamar meninggalkan Mamanya yang menatap Dirga aneh.
Dirga turun ke bawah menuju meja makan, saat berjalan kearah meja makan di sana dia sudah melihat Papa dan kakaknya yang sudah duduk di meja makan. Saling berbincang satu sama lain,
"Ayo Dirga kita makan, kemana Mama mu sekarang. Tadi katanya mau memanggil dirimu," tanya Doni melihat Dirga yang berjalan sendiri.
"Mama di sini Pa, heran deh nggak bisa lepas dari mama ya" canda Sisil yang baru saja tiba di meja makan saat ini.
"Apa sih ma, aku kira kamu dimana? Ya sudah ayo sekarang kita makan."
Mereka segera makan, Dirga dan Sisil sudah duduk di meja makan saat ini.
Tapi, tiba-tiba saja Dewa berdiri dari duduknya.
"Ma, Pa, aku ingin menelpon seseorang dulu" ucapnya. Sesekali melihat Hp miliknya.
"Ini mau makan malam Dewa, apa tidak bisa nanti" tegur Doni seakan tidak suka dengan anaknya yang tiba-tiba ingin menelpon seseorang di tengah-tengah makan mereka.
"Tidak pa, ini penting sebentar ya" ucap Dewa kekeh dengan keinginannya.
Dewa langsung pergi dari meja makan, semua menatap heran kearah Dewa karena dia seperti terburu-buru. Dirga merasa curiga dengan kakaknya itu, membuatnya semakin penasaran.
"Ma, Pa aku ke toilet sebentar" ucap Dirga dan berdiri dari duduknya.
Dirga berjalan mengikuti kakaknya, yang terburu-buru.
"Halo Dena.." ucap Dewa saat panggilan telpon sudah tersambung.
Dirga yang berjalan di belakang Dewa tampak terkejut, kenapa kakaknya itu menelpon istrinya.
°°°
T.B.C
__ADS_1