
Dena masih duduk diam di sofa ruang tengah setelah kepergian Daniel. Dia menjadi bimbang serta bingung apa yang harus ia lakukan.
Dia ingin membuka hati, tapi disisi lain dia juga takut. Bukan itu saja ia ingin bertindak tapi di sisi lain dia juga harus memikirkan Reyhan.
Walaupun pemuda itu terlihat tidak perduli dengan Mamanya. Pasti dia nanti juga merasa sedih kalau mamanya menderita.
"Hoii, kenapa melamun" ucap Dewa yang datang-datang langung mengagetkan Dena yang melamun.
Dena langsung tersadar melihat kearah Dewa,
"Kak Dewa?" ucapnya saat melihat Dewa tersenyum di depannya.
"Kenapa melamun?" tanya Dewa dan mulai duduk ditempat Daniel duduk tadi.
"Kamu habis bicara dengan Daniel ya? kalau boleh tahu apa yang Daniel bicarakan sehingga membuatmu melamun seperti ini?"
"Kok tahu?" ucap Dena terkejut karena Dewa tahu kalau dia habis bicara dengan Daniel.
"Tentu tahu, Aku baru saja berpapasan dengan Daniel di depan" jelas Dewa.
"Oh," Dena kembali terdiam menunduk.
"Senyum dong, mana adik kecilku yang suka tersenyum dulu padaku" ucap Dewa melihat Dena yang tampak murung.
"Kapan aku memiliki senyum" ucap Dena datar melihat Dewa.
"Hahaha bercanda.." tawa Dewa melihat Dena yang semakin cemberut melihatnya.
"Gak lucu kak," ucap Dena tersenyum tipis melihat Dewa yang malah tertawa.
Mereka berdua tersenyum bersama, senyum Dewa begitu lepas sementara Dena berusaha menahan senyumnya.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" ucap Dirga yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
Dewa yang tadi tertawa langsung terdiam melihat kearah Dirga yang menatapnya tajam.
Dena juga langsung terkisap, melihat kearah Dirga yang menatapnya dingin. Membuat dirinya saat ini merasa bingung harus menjelaskan pada Dirga.
"Kita tidak bicara apa-apa, kamu tidak usah berpikiran macam-macam" ucap Dewa melihat keheningan di antara mereka.
"Kenapa kau pulang ke rumah,?" tanya Dirga pada Dewa. Dia berjalan duduk ke sofa di sebelah Dena.
"Aku hanya ingin mengambil barang ku yang ada di rumah." jelas Dewa.
Dirga menatap Dewa seakan tidak percaya, lalu dia segera menatap Dena.
"Buatkan aku jus mangga" perintahnya pada Dena saat ini.
"Bukannya kau habis sarapan?Apa tidak kenyang minum jus?" heran Dena menatap Dirga.
__ADS_1
"Sudah tidak usah banyak tanya tinggal buatkan aku jus apa susahnya" ketus Dirga melihat Dena yang tidak segera bangkit dari duduknya.
"Dengar tidak apa kata suamimu, cepat buatkan" ucap Dirga sekali lagi karena Dena masih duduk menatapnya datar.
Dengan terpaksa Dena akhirnya berdiri dari duduknya. Dia berjalan pergi meninggalkan kedua adik kakak itu yang melihat kearahnya.
"Apa yang kau bicarakan dengan istriku tadi?" ucap Dirga saat Dena sudah pergi.
"Kita berdua tidak bicara apa-apa?Jangan berpikiran aneh-aneh" jawab Dewa.
"Kenapa kau selalu menuduhku bicara aneh dengan Dena?" lanjut Dewa merasa heran dengan Dirga yang selalu penasaran dengan pembicaraannya dengan Dena.
"Kau menyukai istriku kan?Jangan harap kau bisa memiliki lagi apa yang sudah ku miliki" ucap Dirga sakartis penuh emosi terpendam dalam dirinya.
"Aku tidak menyukai Dena. Jangan menuduhku dan kau jangan khawatir, aku tidak akan merebutnya darimu. Dena sudah seperti adikku sama seperti dirimu" jelas Dewa dengan tenang.
"Aku tidak percaya," ucap Dirga tidak yakin dengan ucapan Dewa.
"Aku serius, untuk apa aku menyukai orang yang ingin ku kenalkan padamu dulu agar menjadi temanmu"
"Maksudmu? jangan berbohong"
"Kau ingat bocah selalu ku ceritakan padamu dulu, yang ingin sekali ku kenalkan padamu dulu. Tapi belum juga terlaksana,"
"Ya," singkat Dirga.
Dirga mendengar hal itu hanya diam saja, masa sih bocah yang ingin dikenalkan kakaknya dulu itu Dena.
"Sudah ah, aku mau ke dapur menyusul istriku" ucap Dirga meninggalkan Dewa yang hanya menatap Dirga aneh.
………………
Daniel pergi ke rumah kakeknya kini, dia masuk kedalam rumah besar itu begitu saja tanpa memberi salam atau apapun.
Kebetulan diruang tengah ada Maryo dan juga Jason yang sedang berbincang.
"Daniel," ucap mereka serempak saat melihat Daniel yang berjalan masuk dengan tegap mata lurus memandang ke depan dengan tajam.
"Ada perlu apa Daniel kok tumben kesini?" ucap Jason melihat keponakannya yang sudah berdiri di depannya itu.
Daniel duduk memandang Omnya dan Kakeknya.
"Aku ingin mengambil hak ku yang sudah di berikan kakek untuk ku dan Dena" ucap Daniel tanpa basa-basi.
"Kau mau mengambilnya saat ini" ucap Maryo.
"Ya, itu hak ku kan" dingin Daniel.
"Kenapa kau terburu-buru untuk mengambil hak milikmu" tanya Jason heran. Karena keponakannya itu pernah bilang belum mau mengambil warisannya.
__ADS_1
"Aku berubah pikiran sebelum kakek tua itu berubah pikiran" ucap Daniel melihat kakeknya tajam sementara Maryo tampak terkejut dengan ucapan Daniel karena cucunya tampak berbeda dan tidak lembut lagi saat berbicara dengannya.
"Kenapa cara bicaramu seperti itu pada kakek sekarang?" tanya Maryo melihat cucunya yang tampak tidak perduli.
"Untuk apa aku sopan lagi pada pembunuh sepertimu" tegas Daniel.
Maryo langsung terkejut menatap nanar wajah Daniel yang menatapnya dingin.
"Tidak usah terkejut begitu, aku sudah tau siapa dirimu. Sudah aku akan pulang, aku kesini cuma ingin bicara seperti itu" Daniel langsung berdiri dari duduknya.
"Om Jason, aku pulang" ucap Daniel hanya pamit pada Jason saja ia mengacuhkan Maryo yang menatapnya sedih.
"Bagaimana yah?Sedih kan. Cucumu sekarang telah mengetahui semua kejahatan mu, pada mama mereka" ucap Jason setelah kepergian Daniel. Dia menatap Maryo yang masih menatap Daniel yang sudah tidak terlihat.
"Aku menyesal Jason, andai saja ayah bisa menebus semuanya" ucap Maryo pilu.
"Rasa menyesal ayah sudah terlambat. Kenapa kau tidak dari dulu menyesalinya, aku mau ke kamar dulu yah" pamit Jason langsung pergi meninggalkan Maryo.
………………
Dirga menikmati jus buatan Dena di kamarnya, begitu juga Dena yang duduk di sofa sebelah Dirga duduk.
Sebenarnya dia ingin keluar tadi, tapi Dirga memaksanya untuk tinggal dikamar.
"Enak ya, jus buatan mu. Besok-besok ku suruh dirimu saja yang membuatnya" ucap Dirga melihat kearah Dena yang sedari tadi diam.
"aku tidak mau membuatkan mu lagi." ucap Dena membuka suaranya.
"Kenapa tidak mau, kau harus membuatkannya. Seorang istri harus melayani suaminya" tegas Dirga memandang Dena yang melihatnya.
"Apa kau serius menganggap ku istri?"
"Kau menanyakan hal bodoh padaku. Tentu saja aku menganggap mu istri. Kau memang istriku"
Dena langsung terdiam melihat Dirga.
"Lalu dirimu, apa menganggap ku suamimu? apakah kau sudah mulai membuka hatimu untukku?" Dirga menatap Dena penuh harap dia berharap Dena memang telah membuka hati untuknya.
"Seharusnya kau sudah tahu dari aku menerima ciuman mu tadi" jelas Dena dan langsung berdiri dari duduknya.
Dirga terbelalak, dia terpaku menatap Dena yang berjalan pergi kearah balkon.
"Itu tandanya dia mencintaiku?" ucap Dirga tidak percaya.
Dirga langsung berdiri dengan cepat dia berjalan menyusul Dena ke Balkon.
°°°°°
T.B.C
__ADS_1