
Mobil Dirga melaju di jalanan ibu kota yang tumben terasa lengang sekarang. Dirga memperhatikan Dena yang sedari tadi menatap keluar jendela serasa enggan untuk satu mobil bersamanya.
Tidak perduli perempuan itu bersikap sedemikian padanya. Itu semua bukan urusannya dan tidak akan mempengaruhinya sama sekali. Dia tidak butuh perempuan matre seperti Dena. Dia pasti akan menemui perempuan lebih baik dari Clara ataupun Dena, ia mengajak Dena keluar sekarang saja karena terpaksa. Ia akan menunjukannya pada Clara bahwa ia bisa menemukan perempuan lebih cantik dan lebih baik dari seorang Clara yang telah berani menyelingkuhi nya.
Saat Dena sedang fokus memperhatikan suasana di luar mobil tiba-tiba saja Hp miliknya berbunyi. Membuat dirinya langsung beralih menatap tas kecil yang ia taruh di pangkuannya segera membuka tas itu.
Dirga yang sedang menyetir melihat Dena yang sedang mencari hp di dalam tasnya.
"Halo Daniel," ucap Dena saat mengangkat panggilannya. Yang ternya adalah saudara kembarnya yang menghubungi dirinya saat ini.
"Ada apa kamu menghubungiku?" tanya Dena
"Ada sesuatu yang ingin ku beritahukan padamu" ucap Daniel dari seberang sana.
"Apa?" Dena tampak penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Daniel saat ini.
"Aku sudah melakukan apa yang kakak minta, aku sudah masuk ke perusahaan Papa. Hari ini aku sudah mulai bekerja"
"Wah, kamu serius. Aku Senang mendengarnya" Senyum dibibir Dena merekah, membuat Dirga yang mengetahui itu merasa penasaran sebenarnya apa yang membuat seorang wanita dingin di sebelahnya tersenyum senang begitu.
Kenapa ia bisa menyebut Dena wanita dingin, karena kepadanya Dena terus-terus saja menatapnya dingin tak berekspresi sebahagia ini.
"Aku cuma ingin bicara itu, aku harus bersiap untuk ke kantor. Aku tutup dulu ya" ucap Daniel mengakhiri percakapannya dengan Dena.
Dena menaruh kembali Hpnya kedalam tas, lalu sesekali ia tersenyum menatap ke luar Jendela. Berarti dia dan Daniel bisa mempertahankan apa yang menjadi milik mamanya, rasanya bahagia sekali dirinya sekarang. Ia jadi teringat dengan anak-anak panti mereka sedang apa ya sekarang. Sudah lama dirinya tidak ke sana.
"Apa yang kau bicarakan dengan kembaran mu tadi?" Tanya Dirga ingin tahu.
Dena langsung melihat Dirga yang sedang menyetir.
"Bukan urusanmu,." ucapnya dingin dan kembali memandang kearah luar jendela mobil.
Dirga terdiam sambil memikirkannya benar juga ini bukan urusannya kenapa dia ingin tahu sekali.
Ah sudahlah, jangan dipikirkan.
………………
Mobil Dirga berhenti di sebuah parkiran Cafe elit di kota besar itu. Membuat Dena tak mengerti sebenarnya untuk apa ia diajak ketempat yang ada di depan mereka saat ini.
Bukannya tadi di depan Sisil pria itu mengatakan akan mengajaknya ke kantor tapi kenapa saat ini malah mengajaknya ke cafe.
"Ayo turun" ucap Dirga datar melepas sabuk pengamannya.
"Untuk apa kau mengajakku ke sini?" heran Dena melihat Dirga yang langsung melihatnya.
"Tidak usah banyak tanya, aku bilang turun ya turun" tegas Dirga lalu keluar dari mobilnya setelah mengatakan hal tersebut pada Dena.
Dena segera melepas sabuk pengamannya, turun mengikuti Dirga. Dirga berjalan duluan, setelah melihat Dena sudah turun.
Dena berjalan di belakang Dirga mengikuti langkah lebar pria tersebut. Tetapi langkahnya berhenti saat Pria itu berhenti di depan pintu Cafe, ia menatap Dena.
__ADS_1
"Kemari lah, " suruh nya pada Dena agar mendekatinya.
Dena hanya diam tetapi menuruti keinginan Dirga, tanpa aba-aba atau apa Dirga langsung menggandeng tangan Dena lembut mengajaknya masuk kedalam Cafe.
Dirga benar-benar bersikap lembut sekarang, membuat Dena merasa aneh dengan sikap pria itu yang menggandeng tangannya masuk kedalam Cafe.
"Hay sayang, kamu sudah datang" ucap Clara yang langsung berlari ke arah Dirga merangkul kan tangannya di leher Dirga lalu mengecup bibir Dirga.
Dena yang berada di samping Dirga tentu saja terkejut, apa ini. Apa itu pacar Dirga lalu kenapa Dirga mengajak bertemu dengan pacarnya bersama dengan dirinya saat ini. Apa Dirga sengaja melakukannya.
"Lepas Clara, kau tidak malu dilihat istriku ini" ucap Dirga sambil melirik kearah Dena yang langsung membuang muka.
"Kenapa aku harus malu, aku pacarmu" ucap Clara tak tahu malu. Dirga hanya tersenyum sinis saja.
"Ayo duduk," ucapnya pada Dena yang hanya berdiri terdiam saja. Ia menarik kan kursi untuk Dena duduk.
"Sayang, kamu tidak menarik kan kursinya untukku juga" iri Clara cemberut melihat Dirga.
"Kau bisa sendiri kan,.duduklah" balas Dirga cuek, lalu ia duduk di sebelah Dena membiarkan Clara yang tampak kesal.
"Kenapa sih, kamu malah mengajak istrimu ke sini padahal kan aku hanya menyuruhmu sendiri" ucap Clara pada Dirga.
"Dia istriku, tentu saja dia harus ikut kemana diriku pergi, benarkan sayangku" ucap Dirga lalu tersenyum kepada Dena yang hanya diam tidak menanggapi.
"Cepatlah katakan, apa yang ingin kau katakan Clara. Aku tidak punya banyak waktu sekarang" ucap Dirga.
"Kenapa kamu terdengar ketus sekali sih sayang padaku, apa aku berbuat salah"
"A..aku minta maaf sayang, aku tidak bermaksu.."
"Sudah cukup Clara, aku bukan orang bodoh yang bisa kau bohongi, Mulai saat ini kita tidak ada hubungan apa-apa. Aku rasa cukup sampai disini yang kita bicarakan, aku sedang ada urusan"
Dena memperhatikan kedua orang di depannya yang sedang ribut. Rasanya dia tidak ingin berada di tengah-tengah meraka, apa sebenarnya yang di rencanakan Dirga sampai mengajaknya seperti ini.
"Dirga kenapa kamu berubah sih sayang,?apa gara-gara istrimu ini kamu bersikap seperti ini padaku" kesal Clara tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Dirga dia juga menunjuk tepat di depan wajah Dena.
"Maaf, anda menuduh saya yang membuat Dirga seperti ini. Sory, saya tidak semurah anda yang menginginkan lelaki brengsek seperti dia. Asal kau tahu aku tidak menginginkan Pria ini jika kau mau ambil lah. Jangan bawa-bawa diriku mengerti. Kalian berdua sangat cocok murahan dan brengsek" entah kenapa Dena yang tadi diam berusaha tidak ingin ikut campur kini dirinya terpancing emosi. Dirinya sangat anti dengan orang yang menunjukkan jarinya di depan orang lain tepat di wajahnya itu sama sekali tidak sopan.
Dirga yang mendengar perkataan Dena tadi tentu saja merasa tidak terima, dia mengepalkan tangannya menatap tajam Dena yang berada di sebelahnya saat ini. Tapi ia harus menahan emosinya, di depan Clara agar sandiwaranya berjalan baik.
"Apa kau bilang,.." kekesalan Clara terhenti, saat Dena sudah berdiri dari duduknya.
"Aku tidak mau ikut campur, kalian selesaikan saja berdua" ucap Dena dingin berdiri dari duduknya hendak melangkah.
Clara merasa tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia mengambil gelas bekas minumnya hendak melemparkannya ke Dena.
Tapi sebelum gelas itu mengenai Dena, gelas itu mengenai Dirga terlebih dahulu yang saat ini melindungi Dena dengan cara memeluk perempuan itu dari belakang.
Gelas kaca itu pecah seketika saat jatuh ke lantai, setelah mengenai punggung Dirga yang memeluk Dena.
Dena merasa terkejut melihat pecahan gelas di lantai, ia semakin terkejut melihat Dirga yang melindunginya dengan punggung kokoh pria itu.
__ADS_1
Dirga langsung berdiri tegap melihat Clara dengan tajam.
"Kau gila, Kau mau aku laporkan ke polisi kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku" bentak Dirga membuat suasana kafe semakin riuh.
"Sa..Sayang, aku..aku tidak" ucap Clara glagapan, sambil mengambil lengan Dirga tetapi pria itu langsung menghempaskan nya.
"Kita mulai sekarang sudah tidak memiliki hubungan titik. Aku sudah punya istri"
"Ayo sayang," ucap Dirga kembali lalu menarik Dena keluar Cafe.
Dena masih sangat syok dengan apa yang akan terjadi padanya tadi. Apabila itu tidak mengenai tubuh Dirga bisa di pastikan itu pasti bakal mengenai kepalanya..
Dirga terus saja menarik Dena masuk ke dalam mobil. Dia memasukkan Dena dengan keras membuat Dena tersadar dari pikirannya tadi.
"Kau memang wanita tidak tahu diri, Kau tadi berani menjelekkan ku di depan Clara" ucap Dirga pada Dena yang tengah menatapnya datar.
Setelah mengatakan itu, Dirga langsung berjalan ke kursi pengemudi. Dia masuk kedalam mobil memperhatikan Dena yang melihatnya entah apa yang dipikirkan wanita itu batin Dirga.
"Akhhh," rintih Dirga langsung memegangi pundak sebelah kanannya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Dena melihat itu,
"Kau kenapa?" tanya Dena memperhatikan Dirga yang masih menyentuh pundaknya dengan tangan kiri.
"Tidak apa-apa" ketusnya lalu hendak menjalankan mobilnya.
Tapi lagi, lagi ia merintih kesakitan
"Biar aku lihat," Dena langsung melihat pundak Dirga. Dia tampak terkejut melihatnya ada luka memar disitu, bisa di pastikan itu sangat sakit sekali. Dan itu mungkin dari lemparan gelas tadi.
"Sakit?" Dena memegang memar itu.
"Arkhkk, Kau bodoh jelas sakit" bentak Dirga pada Dena. Dena tidak perduli, ia lalu menatap Dirga tidak takut.
"Biar aku saja yang menyetir." ucapnya kemudian.
"Tidak usah," tolak Dirga.
"Memang kau bisa?"
Dirga diam memikirkannya. Benar juga pundaknya terasa sakit saat digerakkan jadi mana bisa dia menyetir.
"Sini,.." Dirga langsung keluar dari mobil bertukar tempat dengan Dena.
Dena berpindah tempat duduk ke kursi pengemudi saat Dirga sudah keluar, dia yang akan mengemudikan mobilnya. Ia memang sudah bisa mengemudi sejak dua tahun lalu saat ia berumur delapan belas tahun.
Dena memperhatikan Dirga sekilas yang seperti menahan nyeri di pundaknya. Tidak lama-lama Dena langsung menyalakan mesin mobilnya.
Dirga menatap Dena yang sangat serius, entah kenapa ia tadi saat melihat Clara yang akan melempar gelas ke arah Dena refleks saja dirinya ingin melindungi perempuan dingin yang sudah menyandang status sebagai istrinya itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C