Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 52


__ADS_3

Dirga bangun dari tidurnya, karena merasa terganggu dengan sinar matahari yang mulai menerobos masuk melewati tirai kamarnya.


Entah tumben sekali seorang Dirga terganggu dalam tidurnya, karena sudah terbangun tidak mungkin dia akan tidur kembali. Karena hari ini dia akan ada pertemuan dan harus datang ke acara pernikahan rekan bisnisnya.


Dirga duduk di ranjang melihat ke depan, dia melihat Dena yang sepertinya masih tidur. Walaupun terhalang televisi tapi dia masih bisa melihat sosok Dena yang tidur.


"Apa aku harus mengajak perempuan itu, ke pernikahan rekan bisnisku" gumam Bara masih tetap dalam posisinya.


Saat ini dia bimbang, kalau dia berangkat sendiri pasti dia akan diledek oleh Samuel dan juga Juna. Tapi kalau mengajak Dena, kemungkinan nanti mereka adu argumen dulu,


"Ah bodo amat, aku ajak perempuan dingin itu saja. Bagaimanapun dia istriku, harus ikut denganku" putus Dirga. Dan dia segera beranjak dari tempat tidur turun dari kasur.


Dia berdiri bimbang, matanya masih terus melihat Dena yang tidur..


Dirga memutuskan berjalan mendekat saja kearah Dena ketimbang berjalan ke kamar mandi.


Dia berjongkok di samping Dena yang masih tidur di sofa membelakangi dirinya.


"Dena,.." panggilnya pada Dena sambil memegang bahu perempuan itu.


Dena sedikit merasa terganggu, dia menggeliatkan tubuhnya menghadap Dirga.


"Kau tidak mendengar ku, hei bangun" ucap Dirga lagi karena Dena belum bangun juga.


Dirga terus menatap wajah damai Dena yang memejamkan matanya,


"Kau kalau begini terlihat tidak menjengkelkan! secara spontan saja tangan Dirga langsung terulur memegang wajah Dena.


Sehingga langsung membuat Dena yang merasakan ada sentuhan di wajahnya langsung membuka matanya melihat Dirga yang menatap dirinya sambil memegang wajahnya.


"Kau mau apa?" ucap Dena dengan raut wajah penuh tanya sambil melepaskan tangan Dirga dari wajahnya.


"A..aku, aku tidak mau apa-apa" ucap Dirga tergagap karena tertangkap basah, dia langsung berdiri dari duduknya.


"Kau mandilah, habis itu ikut denganku" ucap Dirga langsung melenggang pergi ke kamar mandi.


"Aneh, menyuruhku mandi tapi dia yang masuk ke kamar mandi" Dena membatin karena melihat Dirga yang malah masuk ke dalam kamar mandi saat ini.


………………


Dirga duduk diruang tengah rumahnya dia menunggu Dena yang belum juga selesai mandi, akhirnya dia memutuskan untuk pergi saja bersama Dena daripada dia nantinya di ejek teman-temannya karena tidak membawa pasangan. Sedangkan memiliki istri.


Dirga duduk di sofa ruang tengah tidak sendiri, dia bersama dengan Reyhan yang sedari tadi sudah di situ sebelum dirinya datang. Sementara Daniel entah kemana kembaran istrinya, mungkin saja sudah pulang.


Dirga menatap Reyhan yang cuek saja dengannya bahkan tidak bicara malah bermain Hp.

__ADS_1


"Hei kau," panggil Dirga karena dia sudah tidak tahan ingin berbicara dengan adik Dena yang satu ini.


Reyhan mendongak melihat Dirga yang duduk, di sofa depannya.


"Kenapa?"


"Kau serius adiknya Dena dan juga Daniel, lalu kenapa kau waktu itu tidak mau mengatakannya padaku"


"Untuk apa aku mengatakannya padamu aku siapa?Aku saja tidak tahu dirimu siapa" jutek Reyhan.


"Bukannya aku waktu itu sudah bilang aku suami Dena,"


Reyhan terdiam seperti berpikir


"Oh iya, Sorry aku lupa. kok aku menjadi pelupa ya, apa karena pukulan kakakku" ucap Reyhan berbicara sendiri pada akhirnya.


"Aneh," lirih Dirga.


"Sepertinya dia tidak memiliki sifat dingin seperti Daniel dan Dena" batin Dirga menelisik wajah Reyhan.


"Kau suka tidak dengan kakakku?" ucap Reyhan tiba-tiba dan dia melirik Dirga.


Dirga hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Reyhan.


"Kalau kau tidak menyukainya lepas kan dia sekarang juga, sebelum dia menyukaimu. Aku tidak ingin kau nantinya menyakiti Kakakku," Ucap Reyhan melihat Dirga yang menatapnya.


"Maksudmu,?" apa kata Reyhan tadi, dia bukan tipe Jihan saat ini. Kenapa?Dia tampan, dia kaya?Dia terkenal, dia pebisnis sukses. Apa yang tidak di sukai perempuan itu pada dirinya. Lalu tipe Dena seperti apa.


"Yaelah, kau tidak tahu. Capek deh" ucap Reyhan.


"Tipe kakakku orang yang hangat bukan kasar seperti dirimu yang menyerupai papa kita"


"Kau, anak kecil tahu apa?"


"Siapa bilang aku anak kecil, umur ku sudah 18 tahun" sewot Reyhan yang di katai anak kecil.


"Memang kau anak kecilkan, jarak umurmu denganku saja jauh"


"Bukan aku nya yang anak kecil tapi dirimu yang memang sudah tua"


"Kau kalau bicara pedas juga ya" sinis Dirga pada Reyhan.


"Memang ke..."


"Lo kenapa kau disini?" ucap Reyhan yang tadinya berhenti kini menunjuk kearah seorang yang baru saja masuk ke ruang tengah.

__ADS_1


Dirga langsung melihat siapa yang di tunjuk Reyhan. Dan ternyata itu Radewa yang berhenti berjalan merasa kaget karena ada seorang yang menunjuk dirinya.


Reyhan langsung berdiri, dia tahu betul siapa orang di depannya. Ini Pria yang selalu ada untuk kakaknya dulu, mereka sering kali bertemu jadi membuat Reyhan hapal betul wajah Pria didepannya.


Dirga juga ikut Berdiri melihat kakaknya, dia heran kenapa Reyhan bisa mengenal kakaknya. Padahal kakaknya belum lama di Indonesia.


Radewa bingung melihat pemuda di depannya yang seakan kenal dirinya. Tapi dia tidak mengenal pria yang ada dirumahnya saat ini.


"Siapa?" tanya Dewa pada Dirga yang melihatnya.


"Kau lupa denganku, kau dulu yang selalu ku musuhi saat bersama kakakku. Dan kau selalu mengacak rambutku" ucap Reyhan menatap Dewa.


Dewa masih tidak ingat siapa orang didepannya, jujur dia tidak pernah bertemu dengan pria itu.


"Siapa dia Dirga?" tanya Dewa lagi.


"Dia a.." belum juga Dirga bicara Dena sudah turun dengan dress berwana pink muda membuat Dena terlihat cantik sekali.


"Reyhan, kenapa kau di sini. Kau istirahat sana" ucap Dena menatap Reyhan.


"Kak, kak, itu kenapa orang yang selalu bersamamu dulu menemanimu ada di rumah ini juga?" Reyhan menatap Dena meminta penjelasan.


Dena melihat Dewa yang ada di depannya,.


Setelah lama melihat interaksi Dena dan Reyhan Dewa langsung sadar. Bahwa orang di depannya merupakan adik Dena yang paling kecil apalagi tadi Dena memanggilnya Reyhan. Benar adik Dena yang paling kecil bernama Reyhan yang selalu membuatnya merasa gemas karena bocah itu selalu cemburu dengan dirinya saat Dena dekat-dekat dengannya.


"Oh, kau bocah itu. Kau sudah besar ternyata" Dewa berjalan mendekat kearah Reyhan tetapi Reyhan malah mundur.


"Kau, berjalan mendekatiku karena mau mengacak-acak rambutku seperti dulu kan" ucap Reyhan.


Dewa hanya tersenyum mendengar ucapan Reyhan.


"Kak, tipe idealmu ada disini kenapa?" tanya Reyhan sedikit pelan.


"Dia kakak suamiku" singkat Dena berbisik di telinga Reyhan.


Dirga, merasa tidak suka dengan apa yang ada saat ini. Apa sebegitu dekatnya kakaknya dulu dengan Dena sampai-sampai Dewa mengenal saudara dari Dena.


"Wow, takdir yang membingungkan. Judulnya seperti sinetron ini. Suamiku adik dari tipe idealku" ucap Reyhan heboh membuat Dewa dan Dirga terkejut.


Dena langsung menatap Reyhan hendak memakan seorang Reyhan.


Wajah Dirga langsung mengeras, dia tidak suka mendengar itu. Dia berjalan mendekat kearah Dena menggenggam tangan Dena kuat


"Ayo," ucapnya dingin sambil menarik Dena pergi meninggalkan Dewa dan Reyhan yang menatap mereka.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2