
Dirga bangun lebih dulu, dia dengan perlahan turun dari tempat tidur. Ini sudah sore waktu Australia, dia juga perlahan membuka pintu kamar yang ia dan Dena tiduri saat ini. Dia akan membiarkan istrinya itu tidur kasihan karena perjalanan jauh pertama bagi Dena saat hamil ini.
Dirga berjalan menuju belakang rumah, karena ia seperti mendengar suara beberapa orang yang sedang berbicara. Dia perlahan mendekat ke pintu besar pandangannya langsung melebar dan berbinar karena takjub melihat belakang rumah yang terdapat Danau yang begitu indah serta terlihat begitu jernih airnya.
Wow, ini rumah memang seperti Vila tapi ini bukan Vila tapi rumah. Menakjubkan, sekali lagi dia dibuat takjub dengan keluarga Dena yang berasal dari Mama perempuan itu. Ternyata bukan keluarga sembarangan, sekaya nya dia, ia saja masih takjub dengan rumah besar ini.
“Dirga kenapa kau berdiri disitu, kemari” panggil Opa dari Dena.
Ada lima orang yang duduk di kursi yang berada dibawah pohon tidak jauh dari danau. Di menatap kelima orang itu sedikit senang karena mereka berbaur. Papa mertuanya juga ada disitu, berarti permasalahan keluarga sudah selesai. Batin Dirga. Ia merasa lega jika memang benar begitu.
“Iya Opa,.” Sahut Dirga dan berjalan mendekat kearah mereka.
“Dena dimana? Apa dia sedang tidur?” ucap Oma menanyakan Dena saat Dirga sudah duduk disebelah Daniel saat ini.
“Iya, Dena sedang tidur. Dia sepertinya kelelahan” ucap Dirga.
Mereka semua hanya mengangguk saja, dirga menatap satu persatu orang disitu. dia menatap papa mertuanya yang tampak asik mengobrol dengan Opa dari Dena.
“Papa sudah baikan dengan Opa dan Oma?” ucap Dirga begitu saja langsung terucap.
Mereka semua langsung menatap Dirga, yang malah membahas masalah itu.
“Kenapa kau bahas lagi?” ucap Dirga seakan jengah.
“Kita memang dari dulu sudah baikan Dirga, tapi karena kondisi dan rasa bersalah saja yang membuat kita renggang. Sesama manusia harus saling akur dan memaafkan satu sama lain kalau ingin hidupnya damai” ucap Opa dengan bijak seraya tersenyum.
“Iya memang benar begitu” sahut Dirga.
................
Dirga duduk bertiga bersama dengan Daniel serta Reyhan. Marco sudah pergi ke kamar untuk beristirahat begitu juga dengan Opa dan Oma kini hanya mereka bertiga saja disitu.
“Begitu jadi kakak, harus melindungi adiknya” ucap Dirga membuka pembicaraan, dia menatap Daniel yang duduk diam disebelahnya.
Daniel langsung menatap Dirga, ia tidak mengerti maksud kakak iparnya tersebut.
“Apa maksudmu?” ucapnya pada Dirga.
__ADS_1
“Maksudku, sikapmu tadi siang saat kau mengajak Reyhan pergi dari hadapan Om Justin sangat bagus. Itulah tugas seorang kakak pada adiknya” jelas Dirga.
Daniel terdiam, sementara Reyhan menatap daniel.
“Kak Dirga, kak Daniel tuh cuek-cuek tapi perhatian. Tapi dia selalu menyangkalnya, gengsian kak” ucap Reyhan pada Dirga.
Dirga tersenyum kecil mendengarnya, Daniel yang dibicarakan diam saja. Menurutnya itu hal kecil nan tidak penting baginya saat ini.
“Terus bersikap perhatian begitu dengan saudaramu, entah itu dengan kakak atau adikmu. Begitu juga diriku, akan memperlakukan dirimu seperti adikku sendiri, jadi tidak perlu gengsi atau sungkan saat meminta bantuan ku” cap Dirga lagi pada Daniel.
“Tuh kak denger apa kata kak Dirga. Kamu tidak sendiri. Jadi jangan bersikap seolah-olah kamu sedang sendirian” pungkas Reyhan pada Daniel yang tidak menatapnya ataupun Dirga.
“Kau bisa diam tidak, mengganggu orang bersantai” ketus Daniel menatap Reyhan yang ada disebelah Dirga.
“Mulai..” sahut Reyhan tidak takut,
“Pergi sana” usir Daniel pada Reyhan.
“Ya memang aku mau pergi” ucap Reyhan dan langsung melenggang pergi meninggalkan dua orang pria disitu.
“Terimakasih,” ucap daniel tiba-tiba saat Reyhan sudah pergi.
“Kenapa kau mengucapkan terimakasih padaku” ucap Dirga tidak mengerti.
“Terimakasih karena sudah mencintai kakakku, berkat dirimu dia mendapatkan kebahagian dan kelapangan dihatinya” ucap Daniel.
Dirga diam terus memperhatikan Daniel, yang tidak menatapnya.
“Dia istriku tentu saja aku memberikan cinta untuknya” pungkas Dirga.
“Kamu jangan terlalu menutup diri Daniel, buka hatimu seperti kakakmu. Ceritakan padaku apapun masalahmu, anggap aku seperti kakakmu sendiri. Jangan sungkan denganku, dan aku harap kamu selalu percaya denganku, aku akui aku orangnya keras sama kerasnya dengan kakakmu kadang kita berdua sering berdebat dan bertengkar selama pernikahanku dan kakakmu aku sering bertengkar dengannya karena sifat kami yang sama-sama keras. Tapi itu semua mudah kami atasi satu sama lain” ucap Dirga mengutarakan semuanya pada Daniel.
Daniel yang mendengar itu langsung melihat Dirga, menatap tak percaya
“Kau sering bertengkar dengan Dena, kau menyakitinya?” ucap Daniel langsung bersikap dingin menatap tajam Dirga.
“Tunggu, jangan asal menuduh begitu. Aku tidak pernah menyakiti kembaran mu. Eh pernah, aku tidak bohong. Dulu aku pernah menyakitinya saat awal-awal kita menikah, kau tahu sendiri pernikahan ku dan kakakmu awalnya dimulai karena apa. Karena perjodohan kan, kamu pasti bisa menebaknya seperti apa awal pernikahan ku dengannya. Tapi sekarang aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah menyakiti kakakmu saat ini” jelas Dirga menatap serius Daniel yang menatapnya tajam.
__ADS_1
“aku percaya denganmu? Tapi kau harus janji denganku mengerti?” ucap Daniel menatap serius Dirga.
“Janji apa?”
“Janji, kalau kau tidak akan menyakiti kakakku lagi. Dan kau juga harus janji jangan pernah menjadi orang bodoh seperti Papaku?” ucap daniel pada Dirga.
“Iya aku janji, kau juga harus janji Daniel”
Daniel menatap Dirga tak mengerti,
“Janji? Aku janji apa?” ucapnya.
“Janji untuk bisa membuka dirimu, kalau kamu masih seperti ini terus membuat Dena sedih denganmu. Buka hatimu dan biarkan orang lain untuk masuk mengisinya. Dan rubah sikapmu” ucap Dirga menatap manik mata Daniel.
Daniel terdiam mendengarnya, bagaimana dia bisa merubah dirinya. Hatinya seakan menolak untuk berubah. Sikap dinginnya susah untuk ia hilangkan saat ini.
“Aku tidak bisa berjanji atau mengatakannya, jangan bahas tentang diriku lagi” singkat daniel kembali memalingkan wajahnya.
“Terimakasih soal dirimu yang menganggap ku adik sendiri” ucap Daniel masih tidak menatap Dirga.
“Ya sudah kalau memang itu keinginanmu. Tapi selalu ingat apa yang aku bilang,” pungkas Dirga.
“Kapan kau dan Dena pulang ke Indonesia?” ucap Daniel masih tidak menatap adik iparnya tersebut.
“Aku dan Dena baru sampai disini tai pagi, kau sudah menanamnya kan kapan kita pulang?”
“Bukan itu maksudku,”
“Kau sendiri kapan pulang?”
“Aku mungkin disini lebih lama, aku ingin berlibur” ucap Daniel.
“Kau gila, kalau kau disini lebih lama. Bagaimana dengan kakakmu, dia tidak akan mau pulang jika kau tidak pulang. Dia sebentar lagi melahirkan mengerti” ucap Dirga.
“Aku tahu dia akan melahirkan, tidak perlu khawatir. Nanti aku pulang kalau dia melahirkan”
"Ahh, keras kepala. Kau bilang sendiri saja dengannya. Kalau aku yang bilang dia tidak percaya nantinya” ucap Dirga merasa pusing meladeni Daniel, bagaimana Dena nanti.
__ADS_1
°°°
T.B.C