Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 143


__ADS_3

Dirga menciumi serta bermain terus dengan perut Dena saat ini, dia tidak berhenti sama sekali memegangi perut istrinya yang terasa pergerakan anak-anaknya didalam situ.


“Kamu bisa tidak berhenti bermain diperut ku,?” ucap Dena memperhatikan Dirga yang malah membaringkan diri di pangkuannya.


“Nggak, ini hukumanmu. Karena pergi tanpa ku tadi” ucap Dirga kembali mencium perut Dena.


“Berhentilah, aku geli dengan apa yang kamu lakukan ini” tukas Dena memaksa Dirga untuk menghentikannya.


“Tadi aku pergi tanpamu juga karena salahmu sendiri,” Dena memegangi kepala Dirga yang langsung mendongak padanya.


“Lah kok jadi salahku,”


“Iyalah, salahmu sendiri masih tidur” ucap Dena.


“Bisa minggir, aku mau tiduran. Pinggangku sakit” ucap Dena lagi meminta Dirga untuk minggir karena dia ingin berbaring.


“Sakit Kan pinggang mu, sudah tahu hamil besar pakai jalan jauh segala” ucap Dirga sambil menggerutu melihat Dena yang berbaring sambil memiringkan tubuhnya.


“Mau aku usap perutnya,” ucap Dirga yang ikut membaringkan tubuhnya menghadap Dena.


“Kau usap juga boleh,” jawab Dena menatap Dirga. Ini pengalaman hamil pertamanya badannya serasa sakit sekarang padahal dia tadi hanya berjalan sebentar dan banyak istirahatnya tapi badannya terasa sakit saat ini. Terutama kakinya yang sepeti agak bengkak.


Capek Kan sekarang, makanya jangan keluar rumah. Ngapain juga pakai ke Mall cuman untuk beli eskrim” Dirga mengusap-usap perut Dena dengan masih menggerutu, mengomeli istrinya tersebut.


Dena hanya diam saja malas untuk sekedar menanggapi Dirga yang menurutnya terlalu cerewet menggerutu terus. Padahal yang hamil dirinya bukan Dirga.


..............


Dirga saat berada di bawah dengan Dena yang juga sudah berpakaian rapi bukan hanya mereka berdua saja tetapi juga ada Doni dan Sisil yang ada disitu. mereka saat ini sedang menunggu tamu mereka yakni rekan bisnis Doni yang baru saja datang dari Jerman.


Rekan bisnis Doni masih dalam perjalanan ke rumah mereka, membuat kempat orang itu terpaksa harus menunggu kedatangannya di ruang tengah.


“kenapa mereka lama sekali sih datangnya Pa, ini sudah habis magrib masih belum datang juga?” ucap Dirga mulai mengomel seperti biasanya.


“Ya sebentar lagi mungkin mereka datang. Sabar sedikit kenapa” ucap Doni pada anaknya itu.


“Pengusaha kok telat untuk datang. Aku saja kalau menyuruh rekan bisnis atau staff ku jam segini datang ya mereka datang tidak lama begini” ucap Dirga pada Papanya.


“Kamu ini ngomel terus Dirga,lihat istri kamu. Dia aja ya perempuan diem kamu ngomong terus” ucap Sisil sinis pada anaknya tersebut.


“Ya aku bukannya ngomel ma. Ini namanya nggak disiplin bilang mau bertamu ke rumah orang habis magrib ini malah mau isak” kesal Dirga.

__ADS_1


Baru saja mereka berdebat terdengar mobil yang berhenti tepat di depan rumah mereka sekarang.


“Itu mungkin mereka yang datang,” ucap Doni dan langsung berdiri.


“Ayok ma,” ucap Doni lagi dan langsung mengulurkan tangannya pada Sisil.


“Kalian berdua juga ayo ke depan” pungkas doni pada Dirga dan juga Dena.


“Ya, nggak bakal papa suruh aku sama Dena juga bakal ke depan. Ayo sayang” ucap Dirga memegang tangan Dena.


“Kamu, kalau tidak berisik tidak bisa ya” ucap Dena melihat suaminya yang menggandeng tangannya saat ini.


“Aku bukannya berisik tapi kesal. Sudahlah kamu tidak usah memprotesku sama seperti Papa” ucap dirga pada istrinya tersebut.


Dena hanya diam saja mengikuti Dirga yang berjalan sambil menggandeng tangannya kini.


Mereka semua sudah sampai didepan rumah, dua orang pria yang berbeda umur turun dari mobil saat ini. Pria yang lebih dewasa lebih tepatnya paruh baya tersenyum pada keluarga Doni saat keluarga tersebut menyambut dirinya.


“Hai Doni, apa kabar?” ucapnya antusias sambil melambaikan tangan mendekati Doni dan keluarganya.


“Hai Pram, kabarku baik. Bagaimana denganmu” jawab Doni dan berjalan mendekati pria paruh baya yang bernama pram tersebut. Ia memeluk pria itu dengan hangat.


“Aku baik juga, sudah lama sekali kita tidak bertemu” ucap Pram pada rekan bisnisnya yang lama ia tidak temui.


“Kelvin, anak bungsu mu itu yang masih kecil dulu” ucap Doni saat memeluk kelvin yang menjabat tangannya.


“Iya, ini anakku yang kecil itu”


“Pram kenalkan, ini istriku. Itu anakku Dirga dan disebelahnya istri dari Dirga” ucap Doni memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya.


“Hai salam kenal semu” ucap Pram.


Wah sebentar lagi punya cucu nih kamu” ucap Pram memperhatikan Dena yang sedang hamil.


“Wow, dunia sempit ya kak Dena. Ternyata kamu istri dari anak rekan bisnis Papaku” ucap kelvin saat melihat Dena dia berjalan mendekati Dena dan Dirga saat ini.


Dirga yang ada disebelah Dena, langsung melihat itu dengan tidak suka darimana pria yang baru ia lihat ini mengenal istrinya.


“Benar, sesempit ini dunia sampai aku bertemu pria yang penuh gombalan sepertimu” ketus Dena.


Kelvin hanya tersenyum saja, dia sudah tahu sifat Dena bagaimana. Reyhan dulu sering sekali menceritakan kakaknya ini.

__ADS_1


“Untung aku sudah tahu cari bicaramu ya kak. Kalau tidak pasti aku sudah tersinggung” ucap Kelvin melemparkan kedipan mata pada Dena.


Tangan Dirga yang melihat itu langsung mengepal, berani sekali pria ini mengedipkan mata pada istrinya batin Dirga menatap tajam Kelvin.


“Hai kak Dirga, salam kenal. Aku Kelvin” ucapnya mengulurkan tangan pada Dirga.


Dirga melihatnya saja , tapi tangannya langsung membalas uluran itu.


“Dirga, suami darinya” ucap Dirga menekankan kata Suami.


“Iya, aku sudah tahu” ucap Kelvin.


“Kak Dena, aku harap kita bisa mengobrol lebih lama lagi ya. Da aku ke Papaku dulu” ucap kelvin pada Dena dan langsung berjalan menuju papanya yang sedang mengobrol dengan Doni dan juga istrinya.


“Menyebalkan pria itu desis Dena” menatap sinis Kelvin yang sudah berlalu.


Dirga semakin dibuat curiga,


“Kau mengenalnya?” Tanya Dirga tajam.


Dena langsung melihat kearah suaminya saat ini.


“Kenapa hanya menatapku saja, jawab sayang?” ucap Dirga semakin ketus.


“Tidak, aku tidak mengenalnya hanya pernah bertemu satu kali saja” pungkas Dena.


“Satu kali, Kapan?”


“Waktu itu, saat aku pergi bersama Reyhan. Dia teman Reyhan”


“Ayo masuk,” ucap Dirga menarik Dena pelan untuk masuk kedalam rumah.


“Papa belum menyuruh kita masuk” ucap dena.


“aku tidak perduli, aku tidak suka pria itu bicara denganmu lagi. Kamu dikamar saja tidur.” Ucap Dirga menarik dena.


“Kamu sama menyebalkan nya seperti dia. Kamu cemburu, dasar seperti anak kecil saja. Aku tidak melakukan apapun tapi kau cemburu” sinis Dena menatap Dirga yang diam menggandeng tangannya masuk.


“Terserah kau mau bilang apa? Aku bukannya seperti anak kecil kau tidak lihat tatapannya padamu seperti apa? Seperti seseorang yang memuja. Mengerti” ucap Dirga tidak perduli Dena mengatainya apa.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2