
Dena diam saja didalam mobil, dia sudah satu hari ini mendiami Dirga. Dirga sendiri juga diam, dia selama satu hari juga mendiami Dena. Ia memilih melakukan itu karena agar istrinya lebih tenang saja bukan karena dia marah atau apa. Dia tidak ingin membuat istrinya emosi.
Mereka berdua baru pulang dari resort milik Marco, setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya mobil sampai di rumah Dirga. Dengan segera Dena keluar dari dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Dirga yang hanya melihatnya saja.
Dirga hanya menghela nafasnya pelan, dia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
“Apa aku terlalu memaksakan dia,?” ucap Dirga melihat keluar mobil dimana Dena berjalan masuk kedalam rumahnya.
“Aku hanya ingin keluarganya tampak utuh tapi kenapa sulit sekali. Apa semenyakitkan itu perlakuan Papa Marco dulu pada mereka” Dirga rasanya lemah sendiri saat ini tanpa bicara dengan Dena. Dia dia juga berusaha memposisikan diri sebagai dena tapi kenapa tetap saja dia tidak bisa merasakan serta percaya setega itu Papa Marco pada kedua anaknya.
“Aku harus apa sekarang? Dena marah padaku sedari kemarin” ucap Dirga lagi berbicara sendiri.
Dengan berat hati Dirga melangkah turun dari mobil, dia mencoba menguatkan diri. Solusi terbaik yang bisa membuat dirinya dan Dena saling tegur hanya Mamanya sekarang. Pasti Mamanya bisa membantu dirinya berdamai dengan kemarahan Dena.
.............
Daniel menarik koper keluar dari rumah papanya saat i dan kebetulan Mobil Marco baru saja tiba di rumah setelah dari resort. Daniel berhenti sebentar menunggu Papanya dan juga Reyhan yang turun dari mobil.
“Daniel kamu mau kemana?” tanya Marco saat melihat anaknya yang telah membawa koper.
“Kak, kamu mau kemana? Kenapa membawa koper mu?” tanya Reyhan melihat kakaknya.
“Aku mau ke Australia,” pungkas Daniel.
Marco tampak terkejut mendengar itu.
“Kenapa kamu ingin ke sana?” tanyanya.
“Terserah diriku Pa aku mau kemana. Australia juga negaraku, aku punya keluarga di sana” ketus Daniel.
“Papa tahu, tapi kenapa kamu ke sana tiba-tiba begini. kamu tidak bilang sebelumnya pada kita”
“Untuk apa aku bilang pada kalian, kalian sibuk sendiri dengan hidup kalian. Sudah aku pergi dulu,” Daniel langsung melangkah pergi melewati Papa dan juga adiknya.
“Kak Daniel, kau sudah bilang dengan kak Dena kalau kau akan ke Australia” ucap reyhan dan mampu menghentikan langkah Daniel.
__ADS_1
“Belum, kau saja yang bilang. Aku tidak berani bilang padanya” Setelah mengatakan begitu Daniel langsung pergi.
“Daniel jangan begini, kenapa kamu harus ke Australia” teriak Marco pada anaknya yang melangkah masuk kedalam mobilnya.
“Daniel,.” Marco berjalan cepat menghampiri mobil Daniel. Tapi terlambat mobil itu sudah pergi.
Reyhan hanya melihatnya saja, dia sekarang merasa bingung sendiri kenapa kakaknya itu malah pergi ke Australia. Bukannya selama ini Daniel bertahan untuk tidak pergi ke sana. Tapi kenapa justru sekarang dia memutuskan untuk pergi ke Australia, bahkan tidak berbicara terlebih dahulu dengan keluarganya. Sebenarnya ada apa dengan kakaknya itu. Dan bagaimana dia bilang ke Dena nanti soal Daniel yang pergi ke Australia.
Marco menatap kosong gerbang rumahnya yang sudah ditutup kembali oleh satpam rumahnya. Sebenarnya apa yang dipikirkan Daniel, apa dia belum bisa menerimanya. Tapi bukannya selama ini Daniel baik-baik saja malah lebih menerima dirinya sehingga tetap tinggal dirumahnya kini. Dan sekarang kenapa malah pergi dari rumah.
.......................
Dirga berada di kamarnya dan Dena sedang tidur membelakangi dirinya saat ini.
“Sayang, sampai kapan kamu marah begini sama aku” ucap Dirga pada Dena yang membelakanginya saat ini.
“Sudah hampir tiga hari ini loh kamu diemin aku. “ ucap Dirga pada Dena. Benar sudah tiga hari Dena mendiaminya. Dan dia sudah tidak tahan sang istri mendiaminya begini,
Dena langsung mendudukkan tubuhnya dengan lemah menatap Dirga yang melihatnya. Ekspresi wajah Dirga langsung berubah menjadi khawatir karena melihat wajah Dena yang tampak pucat.
Suhu tubuh Dena panas sekali dan wajahnya tampak pucat.
“Ayo kita ke dokter, kamu sakit” Dirga segera saja turun dari tempat tidur hendak memopong Dena.
“Aku baik-baik saja, aku tidak mau pergi denganmu” ucapnya dengan lemah melepas tangan Dirga yang akan menggendongnya.
“Jangan keras kepala sayang, kamu sakit. Ayok” Dirga menggendong paksa Dena. Dena sendiri karena badannya begitu lemah tidak bisa melawannya. Tenaganya habis untuk sekedar memberontak saja.
................
Dirga sudah membawa Dena ke rumah sakit, dan Dena terpaksa harus dirawat sekarang karena kondisi tubuhnya yang lemah. Dena sendiri saat ini sedang tidur karena diberi obat untuk tidur supaya bisa istirahat.
Didalam kamarnya sendiri ada Dirga dan juga kedua orang tuanya, Dirga sedari tadi memukul-mukul tembok didalam ruang rawat Dena. Ia menyalahkan dirinya sendiri arena terus memaksa Dena agar menerima Marco.
Gara-gara dirinya itu membuat Dena mungkin merasa terbebani, dan mengakibatkan perempuan itu sekarang sakit. Dokter tadi bilang padanya kalau Dena sedang dalam kondisi tertekan banyak hal yang dia pikirkan sehingga membuatnya seperti ini.
__ADS_1
Dena seperti itu karena apalagi kalau buka karena dirinya yang terus memaksa Dena,
“Kau bodoh Dirga, kau bodoh, kenapa kau tidak memahami istrimu” ucap Dirga terus memukuli tembok ruang rawat itu.
Kedua orang tua Dirga berusaha menenangkan anaknya itu yang melampiaskan semuanya pada tembok yang tak bersalah.
“Dirga, Dirga sudahlah. Ini bukan salahmu” ucap Sisil menenangkan anaknya.
“Iya Dirga ini bukan salahmu,” ucap Doni
“Nggak Pa Ma, ini salahku. Dena begitu ini salahku. Ini salahku karena terus memaksa dirinya menerima Papa Marco, aku tidak memahaminya” ucap Dirga menjatuhkan dirinya dilantai.
“Hei, tenanglah. Ini bukan salahmu, Dena juga tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan dan banyak berpikir” pungkas Dewa yang baru saja masuk kedalam ruang rawat Dena.
“Walaupun begitu, itu bahaya untuknya. Apalagi untuk bayinya kak” ucap Dirga meneteskan air matanya dan dia juga memukuli kepalanya sendiri.
“Dirga stop, kamu begini juga gak bakal buat keadaan Dena membaik. Sudahlah kau tenang, hentikan sikap bodoh mu ini. Kalau dia bangun dan melihatmu begini nanti kau malah membuatnya semakin banyak pikiran” ucap Doni memegang tangan anaknya.
“Benar kata Papa, kamu jangan begini” ucap Sisil.
“Kak, ak..aku minta maaf. Aku membuat Dena begitu, aku malah membuatnya banyak pikiran. Kamu pasti kecewa dengan adikmu ini kan” ucap Dirga pada Dewa, benar entah kenapa dia merasa dia harus minta maaf pada kakaknya. karena kakaknya itu orang yang selalu melindungi Dena dulu.
“Hei, kenapa kamu minta maaf padaku. Kamu adikku, kenapa harus minta maaf padaku dan Dena istrimu minta maaflah dengannya.”
“Aku minta maaf denganmu karena kamu dulu pernah bilang kan di hatimu, kau janji dengan Mama Monica akan membuat Dena terlindungi olehku. Tapi apa kini,.” Ucap Dirga menangis. Dewa langsung memeluknya menepuk bahu adiknya itu.
“Tante Monica pasti tahu, niat mu itu baik Dirga. Ingin menyatukan Dena, dan Daniel dengan Om Marco.” Ucap Dewa
“Sudah, dena sedang tidur. Kamu malah membuatnya bangun nanti” pungkas Dewa.
Dirga langsung menghapus air matanya dan Sisil segera mendekati Dirga. Menepuk pundak anaknya itu.
°°°
T.B.C
__ADS_1