
Dirga baru saja selesai mandi, dia melihat kearah tempat tidur tidak mendapati Dena di sana.
“Kemana Dena,?” herannya saat tidak melihat sosok istrinya di dalam kamar. Dirga segera berjalan ke arah lemari dia akan berganti pakaian terlebih dahulu baru setelah itu ia akan keluar kamar mencari Dena. Dia juga akan mengajak dena ke perusahaannya, karena dia harus bertemu dengan Juna setelah kemarin ia menundanya.
Juna mengajak bertemu karena dia akan memberikan bukti padanya tentang Reyhan yang anak Papa mertuanya. Bukti itu akan ia berikan pada Daniel nanti.
Dirga selesai berganti baju, dia menatap dirinya yang sudah rapi dengan celana chino panjang dan kaos pendek polos berwarna cokelat. Setelah melihat dirinya sudah rapi Dirga langsung berjalan keluar kamar mencari Dena.
“honey,.” Panggil Dirga keras.
Tidak ada sahutan dari Dena, Dirga berjalan kearah dapur di sana Dena sedang mencicipi masakannya.
“Masak apa?” tanya Dirga saat sudah ada di depan Dena, jarak mereka terpisahkan oleh pantri.
“Sup Jamur” sahut Dena singkat. Dirga berjalan mendekati Dena berdiri dibelakang perempuan itu memeluk dari belakang. Membuat Dena langsung kaku di tempat dengan pelukan tiba-tiba Dirga.
“Kenapa memelukku,” ucap Dena merasa grogi dengan pelukan erat suaminya.
“Aku hanya ingin saja memelukmu”
“Aku sedang memasak, jangan menggangguku”
“Aku tidak mengganggumu, aku memberikan semangat padamu”
“Dirga..” keluh Dena berusaha melepaskan pelukan Dirga.
“Baiklah, aku lepas.” Ucap Dirga terpaksa melepas pelukannya pada Dena.
Dena memperhatikan Dirga yang tampak kecewa dengannya. Tapi, ia bisa apa itu sungguh mengganggunya saat memasak detak jantungan menjadi tidak normal dan fokusnya hilang karena pelukan Dirga memberi efek untuknya.
Dena menaruh sop jamur kedalam dua mangkuk, untuknya dan untuk Dirga.
“Ayo makan” Dena menaruh dua mangkuk itu di atas nampan, dan berjalan kearah meja makan.
Dirga berjalan dengan lesu serta mulut yang terdiam mengikuti Dena yang berjalan di depannya.
Dena menaruhnya di meja, dan dia menarik kursi untuk dia duduk. Dirga juga mengikutinya, dia duduk tepat di samping Dena melihat sekilas perempuan yang seperti santai saja makan sup jamur.
“Kamu tidak berubah ya, tampak biasa saja padaku. Padahal semalam kita telah melakukan hal yang membahagiakan. Huh, sepertinya kamu tidak mencintaiku” Sindir Dirga sambil mengambil sendok yang berada di depannya.
Perkataan Dirga itu membuat Dena langsung melihat kearah Dirga,
“Apa maksudmu, bukannya aku sudah menjawab cintamu. Kenapa kamu bilang begitu” protes Dena merasa tidak terima dengan ucapan Dirga.
“Ya kalau kamu memang membalas cintaku, sama suami yang manis jangan dingin begini” tukas Dirga cemberut melihat Dena.
“Aku rasa kepalamu memang tidak beres, apa karena menolongku waktu itu. Nanti kita ke rumah sakit” ucap Dena.
__ADS_1
“Aku sehat, aku tidak sakit”
“Kalau kamu tidak sakit, lalu kenapa kamu menjadi aneh seperti ini denganku. Kenapa terlihat manis”
“Ya karena aku mencintaimu, tidak seperti dirimu yang bilang cinta padaku. Tapi nyatanya sikapnya masih sama” cibir Dirga.
“Terus aku harus bersikap bagaimana?” ucap Dena polos dan bingung.
“Ya kamu harus selalu memberiku ciuman, pelukan dan pelayan” ucap Dirga menahan senyum.
Dena melebarkan matanya tidak percaya, apakah ia harus melakukan semua itu.
“Masa begitu” protes Dena.
“Memang begitu, contohnya diriku yang sudah mencintaimu. Aku selalu bersikap manis dan lembut denganmu kan. Bahkan saat aku membobol gawang milikmu aku dengan lembut kan melakukannya. Tidak membuatmu kesakitan” ucap Dirga begitu saja tanpa memikirkan lawan bicaranya yang langsung memerah wajahnya tersipu malu mengingat apa yang mereka lakukan semalaman.
“Aku mau makan jangan ganggu aku,” ucap Dena mengalihkan topik, karena dia malu saat ini.
Dirga tersenyum
“Kamu malu ya, menggemaskan wajahmu ini” ucap Dirga dan langsung mencium pipi kanan Dena.
“Makanlah yang banyak, habis ini kita pulang dan bertemu Juna. Dia sudah menemukan bukti kalau Reyhan memang anak Papa Marco” Ucap Dirga pada Dena sambil melahap soup Jamur.
“Kamu serius?” ucap Dena berbinar.
...........................
Reyhan masih belum bisa bekerja menjadi model, karena kakinya masih sakit dan sekarang dia juga masih tinggal di rumah orang tua Dirga. Dirinya saat ini sedang duduk di ruang tengah sendirian, karena sedari kemarin dia memang di tinggal sendiri oleh sang pemilik rumah. Orang tua Dirga pergi ke luar kota, sementara kakaknya dan juga Dirga tidak ada di rumah sejak kemarin entah kemana dua orang itu dan Dewa dia memang sudah tidak tinggal di rumah ini.
Reyhan hanya bersama pembantu Dirga di rumah, saat ini Reyhan sedang bersantai di ruang tengah sambil bermain Hp. Tiba-tiba saja ada yang masuk kedalam, rumah saat ini.
“Sedang apa kau?” ucap Daniel yang tiba-tiba masuk ke ruang rumah Dirga.
Reyhan melihat kebelakang dan ke kanan serta ke kiri seperti mencari sesuatu.
“Kau bertanya padaku kak?” tanya Reyhan menunjuk dirinya sendiri.
“Tidak, aku bertanya pada hantu” ketus Daniel
“Tumben sekali kau menegur ku lebih dulu” sahut Reyhan menatap kakaknya.
“Dimana Dena?” tanya Daniel tidak menanggapi lagi perkataan Reyhan.
“Dia bulan madu dengan suaminya,”
“APA?” Daniel terkejut mendengar itu.
__ADS_1
“Kenapa kau terkejut kak? Biasa saja dia pergi dengan suaminya”
“Diam lah bocah,” Daniel berjalan duduk di sofa.
“Bagaimana bisa dia mau bulan madu, apa dia sudah mencintai pria itu?” gumam Daniel
Reyhan mendengarnya, dia melihat sang kakak yang duduk sambil berbicara sendiri.
“Tentu saja kak Dena mencintai kak Dirga. Mereka suami istri dan Kak Dena sudah mencintainya”
“Aku bilang diam, aku tidak bicara padamu” ucap Daniel menatap Reyhan tajam.
“tenanglah kembaran mu itu tidak akan diapa-apakan oleh kak Dirga. Dia baik tidak sepertimu kembaran yang jahat melarang kembarannya sendiri untuk tidak jatuh cinta dengan suaminya sendiri” cibir reyhan
Daniel yang mendengar perkataan Reyhan barusan langsung memberikan tatapan mematikan untuk adiknya.
Reyhan langsung diam melihat tatapan menakutkan kakaknya, Daniel ternyata bisa menyeramkan juga kalau sedang marah. Batin reyhan.
Mereka berdua kemudian saling diam satu sama lain, Reyhan kembali sibuk pada Hpnya dan Daniel entah terdiam dalam kebisuan.
“Apa dia benar adikku?” gumamnya melihat Reyhan yang fokus bermain Hp.
“Dan Dena kenapa tidak memberitahuku kalau dia sudah mencintai pria kasar seperti Dirga” Daniel menghembuskan nafasnya Berat sambil tangannya memegang dahinya.
“Kenapa?kau sakit?” tanya Reyhan saat melihat Daniel yang memijat dahinya.
“Tidak, tidak usah perduli padaku”
“Ya sudah”
Daniel kembali melihat Reyhan yang sudah kembali sibuk lagi dengan Hpnya.
“Bagaimana kakimu?’ tanya Daniel pada adiknya dengan nada bicara datar.
“Baik, tapi masih sedikit sakit” sahut Reyhan, sementara Reyhan dalam hatinya dia bahagia ternyata kakaknya Daniel perhatian juga padanya.
“Baguslah,” ucap Dirga lagi dan kembali diam.
Kini mereka berdua benar-benar diam, sibuk dengan dunianya masing masing di rumah yang tampak sepi.
°°°
T.B.C
Kakak semua, maaf ya kalau episode ini muncul duluan. Soalnya yang episode 109 dari kemarin masih review terus.
Maaf juga kalau jarang up, karena kondisi tidak memungkinkan.
__ADS_1
Terimakasih