Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 96


__ADS_3

Dena membuka matanya, melihat ke samping dimana Dirga tampak kesal berbicara sendiri sambil memegangi Hp miliknya.


"Ada apa?" Tanya Dena mulai mendudukkan dirinya sambil memegangi selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Ini, kembaran mu menelpon dia marah-marah padamu. Aku tidak terima" Dirga menyerahkan Hp milik Dena pada sang empunya.


"Dia bilang apa?" Dena menerima Hpnya sambil melihat kearah Dirga.


"Tidak tahu, dia hanya marah-marah terus aku tanya seperti biasa tidak mau menjawab" Dirga merasa kesal sendiri dan malah berbaring dengan menaruh kepalanya di atas paha Dena.


"Kenapa kamu memiliki kembaran seperti dia?" ucap Dirga mendongak melihat Dena yang memperhatikannya. Saat ini Dirga hanya mengenakan celana pendek saja dan tubuh bagian atasnya terbuka.


"Dia memang begitu" singkat Dena, kemudian terdiam mengenai Daniel yang menelponnya sebenarnya ada apa Daniel menelpon.


"Sayang,.." panggil Dirga karena Dena diam saja .


"Iya,." jawab Dena.


"Kamu ngapain, diam aja"


"Dirga bisa kamu minggir sebentar, aku mau mandi" Bukannya menjawab pertanyaan Dirga, Dena malah meminta pria itu untuk minggir dari pangkuannya.


Dirga langsung bangkit dia duduk, disebelah Dena dan Dena melilitkan selimut ke tubuhnya semakin erat agar menutupi tubuh polosnya.


"Perlu bantuan" ucap Dirga.


"Nggak usah, aku bisa kok" Dena perlahan melangkah menuruni tempat tidur. Sementara Dirga hanya memperhatikan Dena yang mulai berjalan kearah kamar mandi.


………………


Tak lama kemudian Dena keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai pakaian rumahan dan pandangannya tertuju pada Dirga yang baru saja selesai menelpon seseorang.


Karena mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Dirga langsung melihat kearah Dena yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Sudah selesai mandinya sayang,?" Dirga berdiri menghampiri Dena yang menuju kearah lemari.


"Sudah,"


"Hari ini kamu ikut aku ya" Dirga memeluk Dena dari belakang menaruh kepalanya di bahu Dena.


"Kemana?" tanya Dena menghentikan pergerakannya karena Dirga memeluknya begitu erat.


"Aku mau ke Regal Departemen, mensurvei tempat itu dan juga ke Regal Hospital" pungkas Dirga.


"Kenapa harus mengajakku?" heran Dena karena tidak biasanya.


"Kan kamu istriku, bukan pertama kali juga aku mengajakmu kan?"


Memang bukan pertama, tapi biasanya setiap rapat atau bertemu klien di luar perusahaan Dirga, pria itu tidak pernah mengajaknya.


"Kamu ikut aku ya" ucap Dirga lagi.


Dena diam saja, seperti sedang berpikir.


"Ya," ucap Dena akhirnya.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu aku mandi dulu ya sayang. Kamu siap-siapa" Dengan girang Dirga melepaskan pelukannya pada Dena dan mencium pipi istrinya itu, ia langsung berjalan senang menuju kamar mandi.


Saat Dirga pergi ke kamar mandi Dena berjalan kearah tempat tidur mengambil Hpnya di sana. Dia akan menghubungi Daniel menanyakan soal kenapa pria itu tadi menelponnya.


Dena segera memencet nomor Daniel berniat menghubungi kembarannya itu kembali.


Belum juga diangkat membuat Dena, mematikannya dan mencoba menghubunginya kembali. Tapi masih sama Daniel juga tidak mengangkatnya, ada apa sebenarnya dengan dia.


"Kenapa wajahmu cemas begitu?" Tanya Dirga saat baru saja keluar dari kamar mandi.


Dena langsung melihat Dirga yang berjalan kearahnya.


"Aku mencoba menghubungi Daniel tapi dia tidak menjawabnya" jawab Dena


"Sudahlah, dia mungkin sibuk"


"Kamu mau kemana?" tanya Dirga saat Dena berdiri dari duduknya.


"Aku mau ke bawah sebentar"


"Nanti saja, tunggu aku" cegah Dirga.


"ya," Dena kembali duduk saat Dirga menyuruhnya untuk ke bawah saja nanti.


°°°°°


Jalanan terlihat lebih lengan saat ini, mobil milik Dirga melaju dengan sedang. Dia mengemudikan mobilnya dengan santai saja sambil sesekali dia mengamati Dena yang wajahnya tampak gelisah.


Perlahan tangan Dirga mengambil tangan Dena menggenggam tangan istrinya itu. Karena hal yang dilakukan Dirga membuat Dena langsung melihat kearah suaminya tersebut.


"Aku memikirkan Daniel, soal tadi kenapa dia meneleponku berkali-kali" ucap Dena terus terang.


"Sudahlah tidak usah memikirkan kembaran mu itu. Dia sudah dewasa," ucap Dirga mencoba menenangkan Dena.


"Aku tahu dia sudah dewasa. Tapi dia adikku, dia cuma punya aku tempatnya bersandar, jelas aku mengkhawatirkannya" Dena melepaskan tangan Dirga dan dia mengambil Hpnya dari dalam tas.


Dirga hanya menghembuskan nafasnya ringan dengan sesekali ia melihat Dena dan juga fokus menyetir.


Dena menghubungi Daniel kembali, tapi berkali-kali tidak ada jawaban. Seperti tadi Daniel tidak mengangkatnya membuat Dena menyerah untuk menghubungi kembali.


Dia menatap kosong ke depan sebenarnya ada apa dengan Daniel. Apa dia marah sehingga tidak mengangkat telponnya.


"Dirga,." panggil Dena.


Dirga langsung melihat kearah Dena.


"Iya ada apa?" ucapnya.


"Kita bisa ke kantor Papa"


"Bisa tapi nanti ya, aku harus ke Regal dulu baru bisa ke kantor Papa Marco. Bagaimana?"


"Ya sudah tidak apa"


"Sudah dong jangan sedih begitu, kamu membuatku khawatir sayang" ucap Dirga pada Dena.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Daniel pasti tidak apa-apa" ucap Dirga lagi.


Dena hanya tersenyum kecil menanggapinya,.


………………


Daniel saat ini sedang berada di kantor polisi, dia berjalan di lorong kantor polisi bersama dengan kakeknya. Sesekali ia memperhatikan Maryo yang berjalan menunduk.


"Kenapa seperti itu? tidak ikhlas masuk penjara?" ucap Daniel.


"Sekarang sebegitu bencinya dirimu pada kakek Daniel?" Maryo bertanya dengan semburat sedih di wajahnya.


Daniel tidak menjawab dia malah memalingkan wajahnya.


"Daniel.." panggil seseorang dari belakang Daniel.


Mendengar itu Daniel langsung melihat kearah belakang.


"Oh Arga, " sahut Daniel saat melihat siapa yang memanggilnya.


Seorang pria seumuran Daniel dengan pakaian polisi lengkap mendekati mereka berdua.


"Kamu sudah menerima dan menyerahkannya kepada yang berwenang kan" tanya Daniel pada Arga.


Arga adalah teman Daniel semasa SMA dulu, dan kini pria tersebut menjadi seorang polisi.


"Sudah, dan aku sudah memberikannya ke pihak penyidik. Ayo kita ke sana temui seniorku"


"Oke, ayo kek" ucap Daniel dan mengajak kakeknya itu mengikuti Arga.


………………


Setelah berkas-berkas penyelidikan lengkap dan semua sudah sesuai prosedur serta tersangka menyerahkan diri secara suka rela. Akhirnya Maryo saat ini sudah masuk kedalam jeruji besi.


Sebelum dia di masukkan kedalam sel, dia melihat Daniel yang hanya diam saja serta menatapnya dingin.


"Daniel, maafkan kakek ya. Maaf kakek sudah merusak kebahagian keluargamu, maaf" Maryo meneteskan air matanya sambil menunduk menangis.


"Gara-gara kakek kalian berdua menderita, maaf kan kakek dan nenek ya.." lagi Maryo seakan menyesali perbuatannya dulu.


"Bilang pada Dena kakek minta maaf," ucapnya terus-terusan.


Maryo menyentuh wajah Daniel, sebenarnya Daniel ingin menghindar tapi entah merasa iba atau apa dia membiarkan saja kakeknya mengusap wajahnya saat ini.


"Kamu mengingatkan pada Papamu dulu, kalian sangat mirip. Tapi sayang kakek membuat Papamu menjadi papa yang kejam untuk kalian. Jaga dirimu ya, dan tolong jaga kakakmu juga. Kalian berdua harus saling melindungi apapun itu. Kakek masuk kedalam dulu, sampai jumpa Daniel" Dengan masih menangis Maryo melangkah berat sambil di tuntun dua orang berseragam polisi untuk masuk kedalam sel.


Melihat itu hati Daniel menjadi terenyuh, setetes air mata keluar dari matanya saat ini. Walaupun ia benci pada kakeknya tapi kasih sayang kakeknya dulu padanya masih terasa membekas,.


Andai kakeknya itu bukan orang yang menjadi sumber hancurnya keluarganya tidak mungkin dia akan sekejam ini memasukkan orang tua kedalam penjara.


Daniel menghapus air matanya kasar dan langsung melangkah cepat meninggalkan tempat itu.


°°°


T.B.C

__ADS_1


Maaf ya kakak" kalau author jarang up soalnya author lagi sibuk banget. Dan maaf kalau ceritanya membosankan dan blibet. Tapi memang inilah ide di kepala author. Jadi terimakasih untuk yang sudah mensupport author,


__ADS_2