
Radewa mengajak Dena ke halaman samping rumah lebih tepatnya ke kolam renang. Mereka duduk di bawah Gazebo yang berada di samping kolam renang tersebut.
"Apa yang mau kau bicarakan padaku?" ucap Dena tegas tanpa mau berbasa-basi.
"Kenapa kamu berubah Dena?" tanya Dewa balik.
"Aku tidak mau berbasa-basi lagi, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku?" ucap Dena kukuh pada pendiriannya.
"Baiklah, sepertinya kamu memang tidak mau bicara padaku soal dirimu. Aku akan mencari tahunya sendiri," pungkas Dewa memperhatikan Dena yang mengalihkan pandangannya.
"Soal Papa mu, biarkan dia. Biarkan apa yang ingin ia lakukan." ucap Dewa pada akhirnya.
Dena langsung melihat kearah Dewa tak percaya bagaimana orang di depannya ini mengatakan hal seperti itu.
"Atas dasar apa kau bicara seperti itu" ucap Dena nyalang menatap mata Dewa yang duduk di depannya.
"Aku tidak mau kau kenapa-kenapa" ucap Dewa mantap.
Dena hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Dewa barusan.
"Cihh, munafik. Kau bukan siapa-siapaku, kenapa kau tidak mau aku kenapa-kenapa tapi kau malah pergi selama ini"
"Sudah tidak ada yang perlu kau ucapkan lagi kan?Aku tidak ada waktu mengurusi kalian berdua kakak beradik penuh dusta dan sandiwara bajingan seperti kalian" ketus Dena dan langsung bangkit berdiri.
"Dena, aku serius. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, pikirkanlah lagi, jika kau kenapa-kenapa bagaimana dengan adikmu. Kau dan Daniel satu maka akan seperti apa dia tanpa mu" ucap Dewa mengingatkan Dena.
Dena yang tadi sempat berdiri kini terdiam, mencerna kembali apa yang dikatakan Dewa. Memang ada benarnya juga apa yang dikatakan pria itu. Kalau dia kenapa-kenapa lalu bagaimana dengan Daniel, adiknya itu pasti akan sangat menderita.
Dena tidak ingin bicara lagi pada Dewa, cukup baginya untuk bicara pada pria masa lalu yang telah mengingkari janjinya tersebut. Dena langsung berjalan pergi,.
"Mau kemana kamu Dena?" tanya Dewa dengan nada penuh ke khawatiran takut jika Dena akan pergi ke rumah Papa perempuan itu.
"Bukan urusanmu" ucap Dena ketus. Dia langsung pergi begitu saja.
Dewa memperhatikan kepergian Dena, dia menatap nanar perempuan tersebut.
Ternyata, dari lantai atas lebih tepatnya dari balkon kamar Dirga memperhatikan kakaknya dan istrinya itu penuh tanda tanya kira-kira apa yang mereka bicarakan di situ batinnya penuh tanya.
………………
Dirga yang sedari tadi di balkon langsung mengalihkan perhatiannya ke dalam kamar karena mendengar pintu kamar yang terbuka keras.
__ADS_1
Dirga langsung buru-buru melihat siapa yang masuk ke dalam kamar. Ternyata itu Dena, ia melihat wajah Dena yang tampak kesal dengan kedua tangan yang menggenggam erat di sisi tubuh perempuan itu.
Pandangan perempuan itu tajam menatap lantai kamarnya,
"Kau kenapa?" tanya Dirga saat menyadari itu.
Dena hanya diam saja tidak menggubris pertanyaan Dirga, dia berjalan dalam diam menuju sofa yang biasa menjadi tempat tidurnya.
Masih sama pandangannya masih sama tajam sambil kedua tangannya mengepal. Dena langsung membaringkan tubuhnya di saat Dirga berjalan mendekatinya saat ini.
Dia membelakangi Dirga yang sudah berdiri di belakangnya saat ini.
"Apa yang tadi kau bicarakan dengan Kakakku?" tanya Dirga ingin tahu.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin bicara atau berdebat denganmu" ucap Dena masih dalam posisi membelakangi Dirga yang hanya menatapnya.
Mendengar itu Dirga, entah kenapa ia menurut saja ia berlalu pergi ke tempat tidurnya duduk di ujung tempat tidur memperhatikan Dena dari sana walaupun terhalang televisi tapi ia masih bisa melihat tubuh Dena.
"Apa yang di bicarakan perempuan itu dengan kakakku tadi" ucap Dirga berbicara sendiri.
°°°°°
Dirga bangun dari tidurnya dan saat ini sudah sore hari menjelang magrib. Saat dia bangun, ia juga melihat Dena yang juga masih tidur meringkuk di sofa.
Dirga berdiri berjalan mendekati Dena yang masih tidur di sofa, dia berjongkok di depan perempuan itu.
Tiba-tiba saja Dena menggeliat dan seakan akan terjatuh dengan sigap Dirga langsung menangkap Dena dan Dirga segera membenarkan posisi Dena saat ini.
Secara refleks tangan Dirga terulur membenarkan rambut Dena yang menutupi sebagian wajah perempuan itu.
"Kau wanita dingin yang baru pertama kutemui dalam hidupku" lirih Dirga sambil menatap Dena yang terpejam di depannya saat ini.
Entah tanpa di duga Dirga mengangkat tubuh Dena dan memindahkannya ke tempat tidur. Dia menutupi tubuh Dena secara perlahan dengan selimut. Baru setelah itu dia pergi keluar kamarnya entah kemana akan perginya Dirga saat ini.
………………
Dirga ternyata pergi ke bawah, dia melihat-lihat ruang tengahnya yang sepi lalu ia beralih ke meja makan keluarganya. Ternyata di situ ramai orang, tidak terlalu ramai sih hanya ada Sisil, Doni, dan Dewa di meja makan rumahnya.
"Loh Dirga kamu sudah turun," ucap Sisil saat melihat anak kesayangannya itu berjalan mendekat.
Dirga hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Mana istrimu Dirga?" Tanya Doni saat tidak melihat Dena yang tidak ikut bersama Dirga.
"Dia sedang tidur Pa" sahut Dirga.
"Bangunkan dia, ajak makan malam bersama kita" pinta Doni lagi pada anaknya.
"Benar Dirga ajak Dena makan malam" timpal Sisil.
"Iya ma nanti, aku mau bicara dulu sama kak Dewa" ucap Dirga memperhatikan Dewa yang tadi terlihat tidak mau ikut berbicara. Kini ia langsung melihat kearah adiknya yang tiba-tiba saja ingin mengajaknya berbicara.
"Kak, aku perlu bicara sebentar denganmu" ucap Dirga pada Dewa.
Dewa memperhatikan Dirga penasaran sebenarnya apa yang ingin dibicarakan adiknya itu padanya, padahal selama ini Dirga jarang sekali mengajaknya berbicara cuma berdua. Tapi kenapa sekarang ia mengajaknya bicara, dan sepertinya itu terdengar serius.
"Ma, Pa, aku bicara dulu dengan Dirga" pamit Dewa pada orang tuanya.
Radewa segera bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti Dirga yang sudah berjalan duluan ke arah kolam renang di rumah mereka.
Dirga menghentikan langkahnya setelah dirasa mereka cukup untuk berbicara agak jauh dari kedua orang tua mereka saat ini.
"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku ga,?" tanya Dewa saat Dirga masih membelakangi dirinya.
Dirga langsung berbalik menatap kakaknya, dengan kedua lengan yang terlipat di atas dada.
"Ada hubungan apa kakak dengan istriku?" tanya Dirga menyelidik melihat kakaknya yang menatapnya.
"Hubungan?maksudmu?" tanya Dewa balik tak mengerti dengan ucapan adiknya barusan.
"Jangan pura-pura bego kak, hubungan apalagi yang kutanyakan"
"Oh, Kamu tidak perlu tahu. Itu hanya masa lalu, kamu masa depannya sekarang, ayo kita lanjutkan lagi makan malamnya. Ajak istrimu" ucap Dewa dan hendak beranjak pergi. Tapi bahunya di tahan oleh Dirga.
"Tentu aku harus tahu, dia istriku sekarang" ucap Dirga tajam menahan bahu Radewa kuat.
"Tidak perlu dibahas. Ini sudah masa lalu, kamu tenang saja aku tidak akan mengambil yang sudah menjadi milikmu" ucap Dewa enteng seakan tahu adiknya itu seperti apa. Ia melepaskan tangan adiknya dari bahunya saat ini.
Sementara Dirga seakan tidak mau diam begitu saja, tapi dia harus bagaimana kakaknya sendiri saja seperti tidak mau memberitahu dirinya hubungannya dengan Dena.
Dirga menatap kepergian Dewa menatap tajam kakaknya itu, dia lalu tersenyum sinis.
"Akan aku tagih kata-katamu itu," ucap Dirga tersenyum kecut melihat kakaknya yang sudah berjalan pergi.
__ADS_1
°°°
T.B.C