Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 35


__ADS_3

Seperti biasa Dirga selalu bangun terlambat, saat ini dia belum bangun padahal matahari sudah naik. Mungkin karena kamarnya yang gelap dan terlalu nyaman untuk di buat tidur.


Untung saja Dirga seorang pengusaha kalau tidak, sudah jadi apa perusahaan yang ia pimpin. Dirga memiliki prinsip, jika kau sudah memiliki semuanya jadikan uang yang bekerja untukmu dan bukan dirimu yang bekerja untuk uang. Tapi, Jika kau belum memilikinya makan bekerja keraslah untuk mendapatkannya. Dan Dirga sudah mendapatkan itu jadi sekarang dia tidak masalah untuk berleha-leha saja toh uangnya sudah mengalir masuk ke kantongnya.


Bahkan kini kedua orang tuanya, terutama Papanya tidak berani lagi memarahi dirinya soal bangun siang atau soal apapun itu. Karena ia sudah membuktikannya kalau sekarang ia sudah sukses di usia mudanya.


Pintu kamar Dirga terbuka saat pria itu masih lelap dalam tidur. Siapa lagi yang membukanya kalau bukan Dena. Dena berjalan masuk kedalam kamar Dirga yang masih gelap tidak di terangi oleh cahaya matahari.


Dena memperhatikan Dirga yang masih tidur, dia menatap pria itu tak berekspresi. Dia langsung berjalan menuju tirai jendela yang mengarah ke balkon. Ia membuka tirai itu lebar-lebar sehingga membuat sinar mentari langsung menembus masuk kedalam kamar.


Sinar yang begitu terang itu langsung mengganggu tidur nyenyak Dirga. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya remang-remang melihat kearah Balkon di sana, ia melihat sesosok bayangan yang berjalan kearah balkon.


"Siapa itu," ucap Dirga yang masih belum terlalu sadar.


Dena hanya diam saja tidak menanggapi pertanyaan aneh dari Dirga. Dena melihat sekilas kesekeliling balkon dan kembali berjalan masuk kedalam kamar.


Baru setelah itu Dirga menyadari kalau itu Dena, ia langsung terduduk melihat Dena yang menatapnya acuh.


"Kau ternyata ingat pulang juga?Darimana kau sedari kemarin?" tanya Dirga terus-terusan.


Dena tidak menanggapi pertanyaan itu, ia malah berjalan ke luar dari kamar saat ini. Dirga merasa tidak terima karena di cueki dengan cepat dia langsung berdiri dari tempat tidur mengejar Dena yang keluar begitu saja.


"Hei, kau bisu atau tuli?Kenapa aku bertanya padamu kau tidak menjawabnya" tukas Dirga saat berjalan keluar menyusul Dena yang langsung berbalik menatap Dirga yang berbicara keras padanya.


"Apa perlu aku menjawab pertanyaan mu? sepertinya ini bukan urusanmu?" ucap Dena dingin.


"Kau lupa, kau sudah menjadi istriku. Tentu saja ini urusanku"


"Bukannya pernikahan kita bukanlah pernikahan antara suami istri. Jadi untuk apa aku memberitahumu apa yang menjadi urusanku" Dena menatap Dirga tidak suka,


Wajah Dirga mengeras menatap Dena,


"Lalu kenapa kau memberitahu Dewa tentang urusanmu. Hubungan apa yang kau jalin dengannya" ucap Dirga menuntut penjelasan dari Dena.


"Kau tanya saja sendiri pada kakakmu itu," Setalah mengatakan itu Dena langsung melangkah pergi.


"Apa yang kau pikirkan tentang diriku yang mencium perempuan kemarin?" Tiba-tiba saja Dirga bertanya seperti itu, ia merasa penasaran apa yang sebenarnya Dena pikirkan tentang dirinya saat ini.


Dena diam saja, malas untuk menanggapinya. Kalau ditanya perasaan apa yang dia rasakan kemarin, tentu tidak ada rasa apa-apa. Tapi hati kecilnya mengatakan dia merasa kecewa dengan apa yang di lakukan Dirga kemarin.


"Apa yang harus aku rasakan, aku tidak masalah kau mencium perempuan lain." Dena langsung berjalan pergi meninggalkan Dirga yang mengepalkan tangannya menatap Dena yang sepertinya tidak masalah atau tidak terpengaruh sama sekali dengan hal kemarin.

__ADS_1


Sungguh itu membuat Dirga merasa bodoh sendiri, kenapa kemarin dia mati-matian mengejar serta mencari Dena untuk menjelaskan semuanya. Nyatanya perempuan itu biasa saja,.


"Ah, dasar bodoh kau Dirga. Kenapa kau bisa mengkhawatirkan perempuan seperti dia" geram Dirga mengepalkan tangannya kuat.


………………


Dena berjalan kearah kolam renang, sebenarnya dia tidak ingin ke situ. Tapi karena rumah Dirga sepi tidak ada orang, di dapur pun juga tidak ada orang sehingga Dena memutuskan untuk pergi saja ke kolam renang. Melihat pemandangan yang sekeliling taman keluarga Suherman.


Sudah hampir sebulan ia disini tapi belum pernah melihat keseluruhan yang ada di rumah mertuanya tersebut.


Ternyata saat dia baru memasuki area kolam renang. Ada Dewa di situ, dia baru saja keluar dari kolam renang. Dena sendiri heran kenapa semenjak dia ada di rumah ini, Dewa yang notabennya sudah memiliki Apartemen sendiri terus-terusan tidur di rumah orang tuanya.


Dena malas bertemu dengan Dewa, sehingga ia memutuskan untuk berbalik lagi berjalan meninggalkan area kolam renang.


"Dena.." panggil Dewa sehingga mau tidak mau menghentikan langkah Dena.


"Ada apa?" Dena berbalik melihat Dewa yang mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk sambil berjalan mendekati Dena.


"Aku ingin menawarkan pertemanan seperti dulu lagi, Sampai kapan hubungan kita akan dingin seperti ini."


"Aku tidak butuh teman seperti dirimu yang mengingkari janji" ketus Dena tersenyum sinis melihat Radewa.


"Ciih, Kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya kak. Kau tahu tidak, saat dirimu pergi dulu seberapa menderita dan sendirinya diriku. Orang yang menjadi penopang ku disaat aku putus asa malah pergi mengejar kekuasaannya"


"Den, aku benar-benar minta maaf. Aku terpaksa melakukan itu karena Dirga tidak bisa di harapkan meneruskan bisnis Papa jadi terpak.." ucapan Dewa terhenti karena Dena mengangkat kedua tangannya agar Dewa berhenti bicara.


"Tidak perlu kau jelaskan kak, aku tidak butuh penjelasan yang sudah lalu"


Dena menatap datar Dewa, dia seakan merasa malas untuk sekedar bicara lagi. Dia langsung pergi begitu saja dari hadapan Dewa.


Dewa hanya menatap kepergian Dena, memang dia salah dulu sudah janji akan selalu ada untuk Dena dan melindungi Dena tapi ia malah mengingkarinya dan malah memilih kekuasaan yang ia dapatkan sekarang.


………………


Flashback ON


8 tahun lalu lebih tepatnya saat Dena masih kelas 1 SMP,


Dena remaja berdiri di jembatan menatap sungai yang mengalir di bawah jembatan tersebut. Air matanya menetes, dan pipinya terasa panas akibat tamparan dari ibu tirinya dan hatinya sangat sakit saat mengingat kembali Papanya yang tidak percaya apa yang ia ceritakan saat itu. Rasanya hidupnya bagaikan sebuah kertas yang melayang saja, kosong tak terisi.


Untuk apa ia hidup, kalau Keluarganya jahat terhadapnya ayahnya sendiri saja tidak mempercayai dirinya malah mempercayai wanita ular itu. Dan Kembarannya malah memilih ikut dengan kakek dan Nenek mereka.

__ADS_1


Padahal dua orang tua itu, sangat tidak menghormati atau menghargai Mamanya dulu. Tapi kenapa Daniel malah memilih dua orang itu ketimbang dirinya, Memang Daniel mengajaknya untuk tinggal bersama kakek nenek mereka. Tapi Dena menolak, dia tidak mau bersama mereka yang telah jahat pada mamanya.


Begitu jelas terngiang di kepalanya bagaimana sikap kakek dan neneknya itu. Bahkan di saat mama nya meninggal keluarga dari Papanya tidak ada yang datang. Hanya Om Jason nya saja yang datang. Bagaimana dia tidak membenci keluarga Papanya, perlakuan mereka saja seperti itu.


Sungguh Dena sudah tidak kuat untuk hidup lagi, lebih baik ia mengakhiri hidupnya disini batinya. Terus saja melihat kearah sungai di bawah jembatan.


Dena mulai menaiki penghalang jembatan itu, siap untuk terjun ke bawah. Tapi disaat dia sudah akan terjun tiba-tiba saja ada seseorang yang menariknya kuat hingga terbanting dari pembatas jembatan.


Mereka berdua terjatuh ke jalan bersama,


"Hei, adik kecil kau gila?Kau ingin mati?" ucap Seorang Pria berseragam SMA.


Dena diam menatap orang yang terjatuh kejalan bersamanya itu. Dena berdiri masih terus menatap pemuda itu heran, darimana ia datang. Kenapa bisa menghalangi dirinya, batin Dena terus bertanya.


"Helo, kau melamun" ucap Dewa yang juga ikut berdiri mengibaskan tangannya di depan Dena yang menatapnya.


Masih saja Dena hanya terdiam saja, dia berlalu pergi meninggalkan Dewa. Tanpa di duga Dewa berjalan di belakang mengikuti Dena.


"Mau apa kau mengikuti ku,?" tanya Dena yang menyadari dia di ikuti oleh pemuda yang belum ia kenal tersebut.


"Tentu aku mengikuti mu, kalau kau ku tinggal nanti bunuh diri lagi" celetuk Dewa.


Dena tidak perduli, ia mengabaikan Dewa begitu saja.


"Kau Dena Nindia Sharman kan? Mau berteman denganku?" ucap Dewa berjalan mendahului Dena dan berhenti tepat di depan wanita itu. Sambil mengulurkan tangannya.


Dena merasa heran dengan pemuda di depannya, bagaimana bisa pemuda itu mengenal dirinya.


"Jangan terkejut, tentu saja aku mengenalmu. Kita satu yayasan sekolah" ucap Dewa menangkap keheranan di wajah Dena.


"Kau butuh teman kan?aku siap jadi temanmu" ucap Dewa menawarkan sebuah pertemanan pada Dena. Ia mengulurkan tangannya kembali.


Lagi-lagi Dena mengabaikannya dan langsung berjalan pergi meninggalkan Dewa.


"Dena, aku tahu dirimu sangat menderita aku siap menjadi temanmu. Kau anak sahabat mamaku, aku akan menjaga dirimu, seperti adikku sendiri" lirih Dewa saat Dena sudah pergi begitu saja.


Flashback OFF


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2