Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 41


__ADS_3

Tanpa terasa air mata Dena menetes saat ia mengingat itu. Walaupun dia masih berumur 4 tahun dulu, tapi ia begitu mengingat jelas. Dia juga heran kenapa ingatan saat usianya 4 tahun masih begitu jelas dalam memori otaknya.


Sampai kapanpun dia tidak akan memaafkan orang-orang yang membuat Mamanya pergi.


Dena langsung masuk kedalam melihat Dirga yang memperhatikan dirinya.


"Kenapa kau disitu lama sekali?" tanya Dirga mencermati wajah Dena yang tampak habis menangis. Tapi dia diam tidak ingin menanyakannya, pasti kalau dia bertanya tetap saja tidak akan mendapatkan jawaban.


"Membuang memori kelam" ucap Dena asal dan dia langsung berjalan menuju sofa yang biasa dia tiduri.


"Memori kelam?" gumam Dirga memperhatikan Dena yang duduk di sofa tapi sepertinya pikirannya melayang entah kemana.


Dena diam saja di tempat duduknya, memikirkan entah apa yang akan dia lakukan nantinya. Ketika semuanya tahu, apalagi saat Daniel tahu nanti bagaimana sebenarnya Kakek dan neneknya itu. Apa Daniel akan merasa sedih, karena kepada mereka berdua lah Daniel hanya percayanya.


Hp milik Dena bergetar di atas meja depannya saat ini. Dia langsung mengangkat panggilan itu. Karena itu dari Daniel tidak mungkin ia membiarkan saja panggilan dari Adiknya.


"Iya Daniel, ada apa?" ucap Dena saat mengangkat telpon tersebut.


"Apa yang kau sembunyikan dariku?" ucap Daniel dari seberang sana.


"Tidak ada, tidak ada yang ku sembunyikan darimu. Kenapa kau berpikir begitu?"


"Kau tidak usah membohongiku kak, kalau tidak ada yang kau sembunyikan dariku. Katakan apa maksudmu saat di rumah kakek dan Nenek tadi"


"Tidak ada maksud dibalik itu semua, sudah ya. Aku di panggil Dirga" ucap Dena beralasan pura-pura kalau dia sedang di panggil sang suami.


Dirga yang mendengar namanya disebut-sebut langsung melihat Dena tak percaya. Bisa-bisanya perempuan itu membawa-bawa namanya.


Dena langsung mematikan sambungan telponnya dan dia melihat Dirga yang tak suka menatap dirinya saat ini.


"Maaf, aku menggunakan namamu" ucap Dena datar saat dia menyadari Dirga yang melihatnya merasa tidak terima namanya dibawa-bawa.


Setelah mengatakan itu Dena langsung merebahkan dirinya di sofa. Dia akan tidur siang sebentar. Baru setelah itu dia akan turun kebawah membantu ibu mertuanya menyiapkan makan malam.


Dirga hanya diam memperhatikan Dena yang akan tidur. Perempuan itu sepertinya begitu lelah sekali, dan seperti menyimpan beban tertekan.


Hah untuk apa juga dia terlalu mencemaskan Dena. Dia juga akan tidur siang sekarang, kepalanya masih terasa pusing gara-gara naik bus tadi. Tidak akan pernah, pokoknya dia tidak akan mau untuk naik bus umum lagi. Membuatnya menderita saja.


………………

__ADS_1


Daniel sudah pulang dirumahnya kini, dia akan berjalan kearah ruang kerja ayahnya. Namun langkahnya terhenti saat Hp miliknya berbunyi.


Dengan segera ia langsung mengangkat telpon tersebut. Tapi anehnya panggilan itu berasal dari luar negeri membuat Daniel mengernyitkan dahinya heran. Kira-kira siapa yang menelpon dirinya.


"Ya Halo," ucapnya.


"Ini aku kak?" ucap seseorang dari seberang sana.


Daniel langsung kaget mendengar suara yang tidak asing baginya. Suara pria, itu suara adiknya Reyhan yang sudah lama tidak ia dengar.


"Kau?Ada meneleponku" ucap Daniel dingin pada Reyhan.


"Aku ingin mengatakan sesuatu denganmu, saat aku akan pulang ke Indonesia. Tapi, tolong jangan bilang pada Mama atau Papa kalau aku akan pulang" ucap Reyhan seperti memohon pada Daniel.


"Untuk apa juga aku mengatakan pada mereka"


"Bagus kak, kalau kau tidak akan mengatakan pada mereka. Sampai ketemu di Indonesia" Ucap Reyhan langsung mematikan sambungan telpon miliknya.


"Aneh sekali anak ini, tumben dia menghubungiku." gumam Daniel sambil melihat Hpnya yang telah putus sambungan telponnya sekarang.


Daniel kembali berjalan berniat melanjutkan langkahnya keruang kerja sang ayah. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat sudah sampai tepat di depan pintu. Dia mendengar Papa dan Mama tirinya sedang bertengkar.


"Terserah diriku mau memberikan milikku pada siapa. Aku juga sudah mendapatkan bagian ku dari Papa" bentak Marco pada Istrinya tersebut.


"Marco, tapi itu hak mu. Kenapa kau tidak masalah Papa menyerahkan aset miliknya pada yang lain sementara dirimu tidak mendapatkannya."


"Aku sudah mendapatkannya honey, kau diam lah. Aku sedang pusing sekarang. Jangan ganggu aku"


"Kau semakin menyebalkan saja ya Marco, kau selama ini hanya memanfaatkan tubuhku. Kau masih mencintai istrimu itu"


"Kenapa kau jadi membahas hal itu,"


"Habisnya kau, bersikap seperti ini padaku. Ingat Marco istrimu itu sudah tiada, kau sendiri yang membuatnya tidak ada"


"Apa yang kau bicarakan, tutup mulutmu. Aku tidak melakukan apapun padanya. Kau kenapa semakin membuatku pusing saja, sana keluar dari ruangan ku" bentak Marco pada Soraya. Dia benar-benar sedang emosi saat ini.


Dengan kesal Soraya langsung keluar dari ruang kerja Marco. Daniel langsung bersembunyi di balik tembok.


Saat mendengar perkataan dua orang itu kenapa malah membuat Daniel merasa bingung dengan teka-teki kematian Mamanya seperti bukan sebuah kecelakaan biasa tapi seperti di sengaja. Kenapa dia baru sadar saat ini.

__ADS_1


………………


Dena yang tadi tidur tiba-tiba saja terbangun saat, dia tadi memimpikan sesuatu. Mimpi tentang Mamanya yang menyuruh dirinya untuk membuka diri. Apa maksud membuka diri itu, dan tumben sekali Mamanya masuk dalam mimpinya setelah beberapa tahun lamanya dia tidak pernah memimpikan Mamanya itu.


Dena langsung duduk mengusap wajahnya yang berkeringat. Dia baru saja tidur sudah mimpi hal seperti itu.


Membuat Dena sekarang tidak bisa tidur siang, apa yang dia lakukan saat ini. Kalau mau turun kebawah dia akan melakukan pekerjaan apa. Tapi kalau dia berada di kamar dia juga bosan.


Dena memutuskan mengambil remot TV menyalakan televisi yang ada di depannya. Daripada dia tidak melakukan apapun lebih baik saat ini dia menonton televisi saja.


Dirga yang mendengar suara televisi menyala merasa terganggu dengan itu semua. Dia langsung terbangun dari tidurnya melihat Dena yang berbaring di sofa sambil menonton televisi.


"Kau bisa kecilkan televisi nya, mengganggu tidurku saja" ucap Dirga dengan suara serak.


"Ini sudah kecil," sangkal Dena merasa televisi nya sekarang sudah memiliki volume kecil.


Dirga langsung bangkit dari tidurnya, dia berdiri berjalan menghampiri Dena.


"Bangun,." suruhnya pada Dena tiba-tiba.


Dena langsung duduk melihat Dirga dengan heran.


Dirga langsung menyambar remot dari tangan Dena. Dia langsung duduk di sebelah Dena begitu saja.


Dirga mengganti saluran televisinya ke chanel lain. Membuat Dena menatap Dirga tidak terima.


"Kenapa kau melihatku, kita mending menonton berita"


"Kau tipe orang yang seenaknya saja ya," Dena langsung bangkit berdiri dari duduknya. Dia lebih baik akan pergi keluar kamar ketimbang harus menonton bersama Dirga.


Baru saja, Dena akan berjalan pergi. Dirga sudah menarik tangan Dena dengan keras dan tanpa di duga Dena terjatuh ke pangkuan Dirga saat ini.


Dena dan Dirga sama terkejutnya dan mereka sama-sama saling melihat satu sama lain. Tentu saja Dena tidak tinggal diam, ia langsung berdiri. Tapi lagi-lagi niatnya gagal, Dirga langsung memeluk pinggang Dena erat.


"Apa yang kau lakukan?" gugup Dena saat Dirga semakin mendekatkan wajahnya.


"Diam lah tak perlu bertanya" ucap Dirga


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2