
Ternyata orang yang ditemui Reyhan adalah Daniel yang sudah duduk menunggu kedatangan adiknya itu.
Mereka berdua duduk diam di PRAHA Caffe, tidak saling bicara satu sama lain. Tapi saling berkutat dengan pikirannya masing-masing. Daniel sesekali memperhatikan Reyhan yang menatap jalanan dari balik kaca Cafe.
“Kau mau pesan apa?” akhirnya Daniel memilih untuk mengalah, berbicara lebih dulu pada adiknya.
Reyhan langsung melihat kearah Daniel yang bicara padanya,
“Kak Daniel Kan tahu apa kesukaanku?” sungut Reyhan pada Kakaknya itu.
“Mana aku tahu kesukaanmu apa, aku saja tidak pernah makan denganmu” ketus Daniel melipat kedua tangannya di dada.
“Dasar, aku Cuma mengetes mu. Siapa tahu kau mengetahui apa kesukaanku” kesal Reyhan dengan kakaknya yang dingin itu. Daniel lebih dingin dari Dena tidak peka sama sekali.
“Masa kalah sama kak Dena, dia saja tahu makanan kesukaanku” cibir Reyhan menatap Daniel.
“Kau mau pesan atau tidak, kalau tidak tidak usah” ucap Daniel pada Reyhan.
“Pesan, rugi aku kalau tidak pesan. Mumpung dibayarkan olehmu” ucap Reyhan.
“Aku mau jus strawbery dengan susu dan Waffle” ucap Reyhan memilih pesanannya. Dan pelayan Cafe yang ada disitu langsung mencatatnya.
“Aku Ice Latte saja” pungkas Daniel menyebutkan apa yang dia pesan.
“Tunggu sebentar ya mas, masnya” ucap pelayan itu dan segera pergi dari meja kedua saudara itu duduk.
“Kenapa kau ingin bertemu denganku disini kak, padahal kan bisa di rumah” ucap Reyhan memperhatikan kakaknya yang menelisik wajahnya seakan mengamati.
“Kau sedih sekarang?” bukannya menjawab Daniel malah memberikan pertanyaan pada Reyhan.
“Sedih? Kenapa aku harus sedih?” ucap Reyhan pada kakaknya pura-pura tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan Daniel padanya.
“Siapa tahu kau sedih dengan Mama mu yang masuk penjarakan dan dengan perceraiannya dengan Papa” pungkas Daniel memperhatikan Reyhan yang langsung menunduk.
“Aku tidak sedih, kenapa aku harus sedih. Itu konsekuensi yang harus didapat Mamaku. Dia sudah berbuat jahat” Reyhan langsung mendongak setelah menunduk mencoba menguatkan dirinya.
Meskipun Reyhan tidak memperlihatkannya. Tapi Daniel mampu menangkap kesedihan itu dimata Reyhan.
__ADS_1
“Habis ini kau mau apa lagi?” ucap Daniel setelah memperhatikan Reyhan cukup lama.
Reyhan langsung menatap tak percaya kearah Daniel, serius itu kakaknya yang bicara.
“Kau kak Daniel kakakku yang dingin kembarannya Kak Dena ku yang cantik kan?” Reyhan menatap penuh keheranan pada Daniel. Tidak biasanya Daniel menanyakan dirinya mau apa lagi biasanya saja pria itu selalu ketus dan dingin Padanya.
“Jangan becanda dan membuang kesempatan. Selagi aku masih baik dengan mu” ucap Daniel.
“Aku mau mobilmu kak,” senyum manis terpapar di wajah Reyhan.
“Apa?”
“Aku mau mobilmu, katanya aku mau apa?tidak ada yang ku mau selain mobil Baru dan mobilmu begitu bagus kak”
“Kenapa kau mau mobilku, mobilmu saja bagus.”
“Mobilmu lebih berkelas dariku kak, harganya saja dua kali lipat dari mobilku”
Daniel diam saja, dia memikirkan mobilnya yang ia beli baru-baru ini. Tapi sekarang malah diinginkan Reyhan. Mobil dengan merek Aston Martine Rapide, mobil yang ia idam-idamkan harus menjadi milik Reyhan. Tapi, pemuda itu sekarang sedang sedih, apa dengan memberinya mobil ini bocah tengik itu bisa gembira.
“Waah, Serius kak..Kak Daniel memang keren sekarang lebih ganteng deh” Reyhan tampak senang dengan itu. Akhirnya dia memiliki mobil Baru yang ia idamkan.
Daniel diam saja memperhatikan Reyhan yang menciumi kunci mobil yang barusan ia sodorkan. Entah melihat itu senyum kecil muncul di bibirnya.
...............
Keluarga Suherman berkumpul di Gazebo bersama dengan jagung bakar dan kentang goreng serta kacang rebus di tengah-tengah mereka. Dirga duduk disebelah Dena memperhatikan Dena yang makan jagung bakar dengan begitu lahapnya.
“Enak,..” ucap Dirga pada Dena yang begitu lahap makan jagung bakar.
“Iya enak, kamu hebat” Dena merasa senang dengan keinginannya yang dipenuhi.
“Tuh balasan kamu nurutin istri. Di puji kan” pungkas Sisil pada anaknya.
“Aku mau ah,” Dewa yang ada disitu akan mengambil jagung bakar yang ada didepannya. Tapi tangan Dirga sudah menahannya terlebih dahulu,
Tangan Dewa ditahan oleh Dirga agar tidak mengambil tapi ada satu tangan lagi yang mengambilnya. Doni mengambil jagung bakar itu dari atas piring.
__ADS_1
“Papa sama Kak Dewa, apa-apaan sih main ambil aja. Ini buat Dena bukan buat kalian” kesal Dirga menatap Papa dan Kakaknya yang mengambil jagung bakar yang ia buatkan untuk Dena.
“Itu masih banyak kali Dirga, pelit banget. Dena saja tidak masalah” pungkas dewa menatap adiknya yang merasa tidak terima dia mengambil jagung bakarnya.
“Kamu kenapa sih ikut kumpul di rumah dan kenapa Kamu sering ke rumah. Kamu kan ada apartemen sendiri” kesal Dirga menatap kakaknya.
“Ini rumahku, jadi terserah diriku dong” tukas Dewa merasa bodo amat dan memakan-makan jagungnya.
Kedua orang tua mereka hanya diam saja melihat perdebatan kedua anaknya yang selalu saja terjadi saat berkumpul bersama.
“Sudahlah Dirga, ini masih banyak. Aku juga tidak habis memakannya, biarkan saja Papa dan kak Dewa yang memakannya” ucap Dena mencoba menenangkan suaminya itu.
“Tapi ini kan, aku buatkan untuk dirimu bukan mereka berdua. Kamu tahu nggak susah payahnya aku akar jagung ini kenap asep baunya begitu, dan nih cium masih bau asap kan” Dirga kesal sendiri dengan ucapan istrinya itu, ia mendekatkan bajunya pada Dena agar dia bisa mencium dan merasakan kerja keras yang ia lakukan.
“Kamu berisik sekali sih Dirga, tinggal makan saja. Benar kata istrimu, tidak mungkin dia bisa menghabiskan semua. Lebih baik berbagi” Sisil menasehati putra bungsunya itu.
“Usahaku seperti tidak dihargai,” gumamnya kesal.
“Dasar masih seperti anak kecil saja, sebentar-sebentar kesal sendiri. Sebentar lagi jadi seorang ayah, kelakuan kok masih begitu” cibir Doni pada anaknya saat mendengar gumaman barusan.
Dirga yang mendengar itu hanya mendengus saja, begitulah papanya yang selalu mencibir dirinya dari dulu.
Mereka bertiga selain Dirga yang berada disitu tampak tersenyum senang melihat kekesalan Dirga yang seperti tidak ada yang membelanya sama sekali.
“Kamu mau?” ucap Dena menyodorkan jagung bakar didepan Dirga saat ini.
Dirga yang tadi membuang muka, langsung melihat istrinya yang memberikan jagung bakar untuknya.
Pria itu langsung membuka mulutnya saat disuapi jagung bakar oleh istrinya itu,
“Nah gitu dong, daripada kamu ngomel. Mending aku suapi jagung begini” pungkas Dena tampak senang dia tersenyum melihat Dirga yang menggigit jagung bakar itu. Dirga sesekali melihat Dena yang tersenyum sambil menyuapinya.
Dia ikut tersenyum sekarang karena melihat Dena yang barusan tersenyum, perempuan itu sekarang tidak seperti dulu. Kini ia sudah lebih bahagia dan bisa tersenyum. Dirga senang dengan itu, ia bisa membuat istrinya bahagia dalam pernikahan mereka meskipun awalnya dulu ia pernah menyakitinya.
°°°
T.B.C
__ADS_1