Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 78


__ADS_3

Dena sudah berjalan keluar dari pagar yang membatasi Vila, dia berjalan pelan melihat sekeliling yang tampak asri dengan perkebunan.


"Hei, kamu perempuan tapi jalannya cepat sekali. Tunggu suami kenapa?" ucap Dirga keras sambil berlari kecil menghampiri Dena.


Tentu saja Dena langsung melihat kebelakang, dia tampak terkejut karena Dirga ternyata mengejar dirinya. Bukannya tadi pria itu bilang tidak mau ke pasar lalu kenapa sekarang menyusulnya.


"Kenapa kamu menyusul ku,? bukannya kamu tidak mau ke pasar" ucap Dena berdiri di depan Dirga yang ngos-ngosan.


"Kamu tega meninggalkan suamimu sendiri di Vila lama itu" ucap Dirga melihat Dena yang menatapnya heran.


"Itu belum lama, lagipula di sana juga ada penjaga Vila" ucap Dena polos,


"Tetao saja, aku ikut dirimu. Nanti kamu hilang di pasar lagi" ucap Dirga langsung menggandeng tangan Dena.


Dirga berjalan menggandeng tangan Dena berjalan. Tapi Dena malah diam saja membuat Dirga langsung ikut berhenti melihat Dena yang hanya diam memperhatikan tangannya yang tergenggam oleh Dirga.


"Kenapa tidak jalan?" tanya Dirga melihat Dena yang langsung mendongak melihat Dirga.


"Nyaman" lirih Dena.


"Apa?" ucap Dirga pura-pura tidak mendengar dia melihat Dena yang langsung diam menunduk.


"Aku bercanda., kamu nyaman dengan genggaman tanganku kan?" lanjut Dirga tersenyum melihat Dena.


"Aku akan menggenggam tanganmu terus dan tidak akan melepaskannya. Tetaplah selalu di sampingku. Apapun yang terjadi" ucap Dirga dan di akhir kalimat ada penekanan.


"Jangan mengucap kata yang mungkin tidak akan ditepati di kemudian hari" ucap Dena melihat manik mata Dirga.


Membuat Dirga, melebarkan matanya dia tidak mengerti maksud ucapan dari Dena.


"Apa maksudmu?" tanyanya heran.


"Tidak, ayo kita ke pasar" ucap Dena mengabaikan, dia berjalan dengan tangan yang masih digenggam oleh Dirga. Dengan terpaksa Dirga juga ikut berjalan.


………………


Dena dan Dirga sudah sampai di pasar, Dena berjalan dengan biasa saja tapi beda dengan Dirga yang tidak biasa.


Sedari tadi dia melihat sekeliling, dan dia mencoba menghindari orang-orang yang akan berdempet-dempetan dengannya.


"Kamu serius mau terus lanjut, aku tidak tahan. Ayo kita pulang saja" ajak Dirga memeluk lengan Dena sambil berjalan hati-hati.


"Kita baru saja sampai dan belum dapat apa-apa. Masa sudah mengajak pulang" desis Dena melihat Dirga seakan meremehkan pria itu. Karena sedari tadi Dirga memeluk lengan Dena seperti orang takut. Apalagi dia tidak ingin menyentuh orang lain.

__ADS_1


"Bersikap biasa saja, kamu malah akan mempermalukan ku dan membuat orang lain benci padamu" ucap Dena lagi merasa risih dengan sikap Dirga yang seperti anak kecil mengelendoti dirinya.


"Kamu menyuruhku bersikap biasa Honey, aku tidak bisa. Aku takut mereka akan membuatku tertular sakit" ucap Dirga pelan takut didengar orang lain.


Dena menghembuskan nafasnya jengah dengan sikap Dirga. Bagaimana bisa pria itu berpikiran sempit.


"Mereka semua sehat," ucap Dena.


"Apa iya, memang kamu tahu. Lihat pasar ini kotor jelas banyak bakteri yang menempel di tubuh mereka" ucap Dirga masih kekeh.


Dena menghentikan langkahnya melihat Dirga.


"Kamu pulang saja kalau begitu, aku mau mencari sayuran." tegas Dena melepaskan tangan Dirga. Dia akan berjalan pergi tapi tangannya di tarik kembali oleh Dirga.


"Jangan tinggalkan aku honey, aku heran denganmu. Kamu anak orang kaya tapi tidak jijik atau takut dengan pasar seperti ini" ucap Dirga.


Dena hanya mendengus melihat Dirga.


"Memang kenapa kalau orang kaya, orang kaya juga banyak yang ke pasar. Mereka tidak jijik dengan pasar sepertimu" ucap Dena keras.


"Kamu marah," ucap Dirga agak luluh dia melihat Dena yang memalingkan wajahnya.


Dena diam langsung berjalan, meninggalkan Dirga.


"Aishh," kesal Dirga pada dirinya sendiri. Walaupun merasa jijik terpaksa Dirga menyusul Dena yang sudah melewati beberapa orang.


Akhirnya setelah lama berada di pasar karena ulah Dirga yang seperti anak kecil membuang-buang waktu. Kini mereka berdua sudah sampai di rumah, Dena langsung berjalan lebih dahulu meninggalkan Dirga yang berjalan di belakangnya sambil mengebas-ngebaskan baju.


"Dia aneh, Sore-sore ke pasar dan anehnya lagi kenapa di sini sore pasar masih buka" gerutu Dirga sambil berjalan menyusul Dena yang sudah masuk kedalam Vila.


"Honey, kamu tega meninggalkanku berjalan sendiri di luar" keluh Dirga. Dena hanya melihat Dirga aneh, memang Dirga menjadi aneh semenjak dirinya bilang juga mencintai pria itu. Dia menjadi aneh padanya.


Apa gara-gara kepala Dirga terluka sehingga mempengaruhi pria itu.


Dena menaruh belanjaannya di meja makan, dan dia kepikiran untuk melihat luka Dirga apakah itu yang mempengaruhi Dirga seperti ini.


Dena berjalan mendekati Dirga yang masih menggerutu sendiri sambil memegangi bajunya yang ia pakai dengan raut kesal. Dena yang datang-datang langsung menyentuh dahi Dirga membuat Dirga terdiam dan langsung mendongak melihat Dena.


"Kenapa? kau melihat lukaku" tanya Dirga bingung dengan Dena.


"Aku hanya melihat, apa otakmu bergeser" ucap Dena asal dan langsung mendapat tatapan dari Dirga.


Dena terus memegang luka Dirga melihatnya seksama.

__ADS_1


"Tidak terlalu parah, tapi kenapa kamu berbeda seperti ini" ucap Dena memperhatikan terus luka di dahi Dirga.


"Maksudnya,?" Dirga tidak mengerti.


"Tidak, sana duduklah. Aku akan memasakkan makanan untukmu" ucap Dena dan akan langsung pergi tapi Dirga menahannya.


Dia menarik Dena ke sofa, dia mendudukkan Dena pelan. Ia menatap Dena penuh makna dan begitu intens.


"Apa? aku mau memasak" ucap Dena dan akan bangkit.


Tapi Dirga langsung menjatuhkan Dena ke sofa dan menindih perempuan itu.


Membuat Dena menatap tajam Dirga.


"Apa yang akan kau lakukan, aku mau memasak" ucap Dena berusaha bangkit tapi Dirga menahan lengannya.


"Aku menginginkanmu" ucapnya dengan suara serak. Membuat Dena menelan ludahnya.


"Jangan bercanda," lagi Dena akan bangkit sedikit mendorong Dirga.


"Aku tidak bercanda aku serius. Ayo kita buat cucu untuk Mama. Mamaku sudah menginginkan cucu" ucap Dirga menatap lekat Dena yang berada di bawahnya.


Dena diam, haruskah ia menyerahkan mahkota berharganya pada Dirga. Apa sekarang waktunya.


"Kenapa diam? adikku sudah tahan ingin bertemu dengan milikmu" ucap Dirga terkesan seksi.


"Apa?adik kau tidak punya adik" jawab Dena polos.


"Kau lihat bawahku, di sana sudah mengeras karena dirimu. Jangan banyak bertanya dan bicara. Kau mau kan? membuat cucu untuk Mama" Dirga masih mengungkung Dena dibawahnya.


Dena yang melihat milik Dirga langsung memalingkan wajahnya malu,


Walaupun begitu, entah secara sadar atau tidak Dena mengangguk sehingga membuat seringai di wajah Dirga saat ini. Dia tersenyum bahagia.


Dengan cepat Dirga langsung mencium Dena, Namun ciuman itu langsung berhenti saat Dena sedikit mendorong Dirga.


"Kenapa?" heran Dirga melihat Dena yang menatapnya.


"Jangan disini, nanti ada orang yang melihatnya" lirih Dena pelan.


Dirga tersenyum dan dia langsung turun dari tubuh Dena dan mengangkatnya menuju kamar.


"Ayo kita bermain sepuasnya di dalam kamar" ucap Dirga penuh antusias.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2