
Saat ini semua orang itu berkumpul diruang tengah yang cukup besar. Di Sana juga sudah ada Opa dan Oma Dena. Bukan hanya ada orang tua itu saja tapi juga ada Kakak dan adik dari Monica. Justin adik Monica menatap nyalang Marco yang duduk didepannya tangannya mengepal kuat di atas sofa yang dia duduki saat ini.
“Lama sekali tidak bertemu denganmu marco, semakin bertambah umur semakin muda saja kamu” ucap opa dari Dena, dia melihat santai pria yang pernah menjadi menantunya tersebut.
Marco hanya diam menatap mantan mertuanya,
“Kalian semua bisa tinggalkan kita bertiga disini” ucap Opa Dena lagi.
“Daddy, untuk apa kau menyuruh kita pergi. Aku ingin sekali menghajar pria yang telah membuat kakakku menderita” tukas Justin masih memberikan pandangan tajamnya untuk Marco.
Michel melihat adiknya yang duduk disebelahnya saat ini, Justin tipe orang yang labil dan emosional. Jadi dia yang harus menghalau ini semua.
“Justin ikuti apa kata Daddy, kita pergi” ucap Michel.
“Semuanya, ayo kita pergi dulu. Daniel dan Dena ajak adik serta suamimu Dena” ucap Michel meminta kedua ponakannya itu untuk pergi.
Dirga hanya diam saja sambil memperhatikan keluarga dari mama Dena ternyata mereka bukan keluarga sembarangan. Nenek Dena orang Indonesia dan Kakeknya orang Australia. Pantas perpaduan sempurna.
“Ayo sayang, ayo Reyhan” ucap Dena pada kedua orang pria yang duduk disebelahnya.
“Papa kak,” lirih Reyhan melihat Papanya yang diam, tapi Marco mengisyaratkan padanya untuk pergi.
Biarkan saja,” ucap Daniel. Mereka berempat langsung pergi mengikuti Michel dan juga Justin.
………………
Saat ini hanya tinggal tiga orang yang berada di ruang tengah tersebut. Marco menatap kedua orang tua Monica, dia langsung berdiri dan melipat kedua kakinya didepan dua orang tua tersebut.
“Daddy, Mommy, aku..aku minta maaf atas apa yang kulakukan pada Monica dulu. aku tahu pasti kalian sulit untuk memaafkan ku atas apa yang ku lakukan pada anak kalian” ucap Marco dengan menangis.
Dua orang tua didepannya hanya melihat itu, mereka saling melihat satu sama lain.
“Marco, berdirilah” ucap Mama dari Monica.
“Mommy, aku, aku benar-benar minta maaf” ucapnya saat Mama Monica menyuruhnya untuk berdiri.
“Maaf mu sudah terlambat Marco, anakku sudah tiada.” Ucap Papa dari Monica.
“Aku tahu Daddy, tapi aku menyesal. Karena kebodohan ku itu, aku menyesal” Marco menangis seseguk kan sambil bersimpuh di kaki Papa Monica.
“Berdirilah,” Papa dari Monica memegang bahu Marco, dia menatap pria yang dulu sangat dicintai anak perempuannya.
Rasanya sesak sekali melihat pria yang dicintai anaknya sekaligus yang telah menyakiti anaknya itu. Matanya sekarang berkaca-kaca melihat Marco yang menangis memohon padanya.
“Boleh aku menampar wajahmu,” ucap Papa dari Monica menatap Marco serius.
“Daddy,.” Ucap Mama Monica melihat suaminya.
“Aku bercanda,.” Lirih Papa dari Monica.
__ADS_1
“Aku siapa menerima tamparan dari Daddy, tampar saja aku. Aku pantas mendapatkannya” ucap Marco memegang tangan bekas mertuanya tersebut mengarahkan ke wajahnya.
“Tampar dad,” ucapnya.
Papa Monica malah memegang lembut wajah Marco,
“Jujur Daddy memang membencimu, bahkan ingin menghabisi mu waktu itu saat mendengar bagaimana perlakuan mu pada putriku. Ditambah dirimu telah memisahkan kedua anakmu dengan keluarga kita. Daddy ingin, ingin sekali membunuhmu saat itu. Tapi Daddy berpikir lagi tidak ada gunanya Daddy seperti itu. Itu juga tidak akan membuat Monica kembali, bagaimanapun kau pria yang disukai anakku dan ayah dari cucu-cucuku. Aku tidak bisa membunuhmu begitu saja”
“Daddy telah memaafkan mu Marco, Daddy maafkan karena Monica begitu mencintaimu dan aku tidak ingin membuat dia sedih di sana dengan menghukum mu. Daddy maafkan, bagaimanapun statusmu dulu hingga kini masih suami Monica. Berarti kau juga ank Daddy, orang tua pasti memaafkan kesalahan anaknya” ucap Papa dari Monica berusaha lapang.
Marco mendongak melihat kearah wajah kedua orang tua Monica, Ayah mertua dan juga ibu mertuanya saling menggenggam tangan. Dia yakin kedua orang tua itu pasti berat memaafkannya. Tapi mereka terpaksa melakukannya dia sadar diri.
Marco menangis memeluk mereka berdua yang berdiri bersebelahan.
“Mommy, Daddy..”ucapnya memeluk kedua orang tua itu.
“Maaf, Maaf, Maaf” ucapnya terus terusan.
“Sudahlah, Marco. Dengan ikhlas aku memaafkan mu, kau sekarang juga anak kita. Kau ayah dari cucu-cucuku” ucap Mama dari Monica mengusap lembut kepala Marco.
Walau di maafkan oleh kedua orang itu, membuat Marco menangis kuat. Rasanya begitu sesak saat ini. Betapa baiknya hati kedua mertuanya.
.....................
Michel, Justin, Daniel, Dena, Dirga, dan juga Reyhan duduk di balkon atas rumah, mereka berenam hanya saling diam. Tapi sedari tadi Justin melipatkan tangannya di dada menatap sinis kearah Reyhan. Dia tidak suka dengan pemuda yang dimana ibunya pembunuh kakaknya.
Dirga dan juga Dena mengetahui itu, ia tahu kalau Justin menatap tidak suka pada Reyhan.
“Mereka sedang tidak disini, mereka berdua sedang berlibur ke rumah mertuaku” pungkas Michel.
“Dirga, maaf aku sedari tadi lupa untuk sekedar menyapamu. Kamu baru pertama kali ini kan bertemu dengan keluarga Dena dari pihak Mamanya” ucap Michel pada Dirga.
“Iya Om,”
“Kalau gitu kenalkan, bocah ini yang masih muda tapi ingin terlihat dewasa. Dia Justin adik ku dan juga adik Monica. Dia baru 26 tahun, tapi seakan dia sudah sangat dewasa melebihi kakak nya” pungkas Michel sedikit bergurau.
“Salam kenal Om, aku Dirga suami Dena” ucap Dirga mengulurkan tangannya pada Justin.
“Ya,” Justin membalas uluran tangan dari Dirga.
“Reyhan, jangan diam saja. Anggap ini sebagai rumah mu juga” ucap Michel pada Reyhan yang hanya diam saja terlihat tidak nyaman.
Sontak semua langsung menatap Reyhan yang diam,
“Iya Om,” Jawab Reyhan dengan suara berat.
“Dia adikmu, anak Papamu dengan selingkuhannya itu” ucap Justin melihat kearah Daniel dan juga Dena.
“Justin..” tegur Michel.
__ADS_1
Daniel hanya diam saja, memang dia tidak terlalu suka menanggapi perkataan Omnya yang hanya berjarak enam tahun darinya.
“Reyhan, kau ikut saja denganku sekarang” ucap daniel langsung berdiri dari duduknya mengajak Reyhan untuk pergi.
“Kemana kak?” Reyhan mendongak melihat kearah Daniel.
“Daniel kamu akan mengajak Reyhan kemana?” tanya Dena.
Justin melihat keponakannya itu dengan tersenyum miring, dia tahu kenapa Daniel mengajak Reyhan pergi. Karena pria itu tidak ingin dia menjatuhkan Reyhan begitu saja dengan pertanyaan-pertanyaan menyakitkan darinya.
Daniel diam saja tidak menjawab, dia hanya menatap Justin yang tersenyum sinis padanya.
“Daniel, jawab pertanyaan kakakmu?” ucap Dirga dan juga Michel.
“Kau mau ikut tidak, cepat berdiri” tukas Daniel menatap Reyhan mengabaikan pertanyaan Dirga dan juga Omnya.
“Iya ikut,” balas Reyhan dan akhirnya ikut berdiri juga disebelah Daniel.
“Kak, aku ikut kak Daniel dulu” pungkas Reyhan menatap Dirga dan juga Dena.
“Om, aku pergi dulu” ucapnya kembali menatap Michel.
“Iya,.” Sahut Michel.
“Kau ikuti terus Daniel, jangan sampai kamu hilang.” Ucap Dena terkesan khawatir.
“Jangan banyak bicara dengan Daniel, bisa-bisa kam didepak” ucap Dirga
“Asli deh, kalian berdua kayaknya nganggap aku masih anak kecil. Aku sudah berpengalaman di luar negri tahu” ucap Reyhan kepada dua orang didepannya.
“Ayok, tidak usah banyak bicara” ucap daniel dan melenggang pergi terlebih dahulu.
Justin menatap itu hanya tersenyum sinis saja.
“Kalian berdua menganggapnya adik, kau begitu khawatir dengannya Dena. Kamu lupa dia anak dari perempuan yang telah membunuh Mamamu, membuat dirimu kehilangan kasih sayang ibu” pungkas Justin setelah Daniel pergi bersama Reyhan.
“Dia adikku Om” singkat Dena.
“Adik,..bisa ya kamu menganggap dia adik. Dia membuatmu kehilangan Mamamu, dan membuatku kehilangan kakakku. Bahkan aku belum terlalu hapal dengan wajah Mamamu, tapi gara-gara Mama dari bocah itu kakakku tiada” ucap Justin.
“Justin, jangan seperti itu. Itu sudah masa lalu” tegur Michel kesekian kalinya pada adiknya tersebut.
Justin hanya berdecih, seakan tidak terima
“Reyhan tidak bersalah Om, itu ulah Mamanya bukan dia. Dia berbeda dengan Mamanya, bagaimanapun dia adikku memiliki darah yang sama denganku dan juga Daniel. Kita bertiga saudara Om,.” Ucap Dena.
Mereka semua langsung terdiam tidak ada yang berbicara lagi, Justin sendiri langsung diam. Mendengar keponakannya yang hanya terpaut enam tahun darinya itu. Ini kedua kalinya bertemu Dena dan juga Daniel, pertama dia ketemu dulu saat ia ada di Jakarta di rumah Michel di sana dia bertemu dengan dua keponakannya yang masih SMA. Setelah itu dia tidak pernah ketemu lagi karena ia kembali ke Australia dan si kembar tidak diijinkan bertemu dengan keluarganya.
°°°
__ADS_1
T.B.C