Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 45


__ADS_3

Dena masuk kedalam kamarnya dia melihat Dirga yang duduk terdiam di tepian tempat tidurnya.


Dirga yang menyadari kedatangan Dena melihat perempuan itu tajam. Dena hanya diam saja di perhatikan Dirga seperti itu, karena dia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya.


Tapi saat dia melihat Dirga, penglihatan Dena tertuju pada tangan Dirga yang terluka membuat Dena bertanya dalam diamnya.


Entah kenapa kini hatinya tergerak mendekati Dirga,


"Tanganmu kenapa?" tanya Dena memperhatikan tangan Dirga.


Dirga masih diam saja menatap Dena, Karena Dirga yang hanya diam sambil terus menatap dirinya dengan sorot mata tajam membuat Dena malah semakin mendekatkan diri kearah Dirga.


Dia duduk disebelah Dirga, mengambil tangan Dirga melihat tangan yang terluka itu.


"Tanganmu kenapa?" tanya Dena tidak terlihat ekspresi khawatir di sana.


Dirga segera menarik tangannya dari Dena.


"Bukan urusanmu," dingin Dirga.


"Bukannya kau bilang ingin berteman denganku? kenapa kau mengatakan ini bukan urusanku, bukannya teman harus terbuka" ucap Dena.


"Huh, kau tidak sadar dengan ucapan mu. Kau menyuruhku untuk terbuka, kau sendiri tidak pernah bilang atau terbuka padaku. Tapi apa tadi kau terbuka dengan Dewa," kesal Dirga dan berjalan pergi.


"Kalian pacaran kan? Tapi sayang kau tidak akan pernah bisa bersama dengannya. Karena kau sudah menjadi milikku" Dirga mendekat kearah Dena mencengkram kuat tangan Dena menarik perempuan itu lebih dekat padanya.


"Aku tidak akan membiarkan dirimu menjadi miliknya," sinis Dirga menatap manik mata Dena.


"Dirga sakit, lepaskan" Dengan kuat Dena melepaskan tangan dirinya dari Dirga. Dan tangannya terlepas.


"Siapa juga yang pacaran dengan Kak Dewa. Jangan asal menuduh" ucap Dena tidak terima dituduh seperti itu oleh Dirga.


"Ciih," Dirga seperti tidak percaya.


Dena langsung berjalan pergi saja meninggalkan Dirga menuju laci yang berada di dekat meja televisi.


Dia mengambil kotak p3k, lalu berjalan kearah Dirga yang berdiri membelakangi dirinya.


Dengan kuat dia menarik lengan Dirga membuat pria itu tertarik dan duduk di ranjang.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Dirga karena dia mendapat perlakuan seperti itu.


Dena hanya diam, membuka kota p3k, mengambil perban. Itu akan ia gunakan untuk membalut tangan Dirga yang terluka.


Dena langsung membalut tangan Dirga, Dirga melihat Dena begitu intens perempuan dingin itu membalut lukanya.


"Kau bilang kita berteman kan untuk menjalani pernikahan ini. Aku akan berusaha membuka dirimu padaku. Dan aku harap kau tidak akan membiarkan kepercayaan yang telah ku berikan padamu nantinya tergores oleh rasa kecewa" ucap Dena sambil membalut luka Dirga.


Dirga diam melihat Dena,


Dena langsung berdiri setelah membalut luka Dirga, dia akan berjalan pergi.


"Katakan soal hubunganmu dengan Dewa dan kenapa kau terlihat membenci Papamu?" ucap Dirga ingin tahu dan tentu saja langsung menghentikan langkah Dena.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Kak Dewa. Hubungan kita hanya sebatas adik kakak saja, kalau soal Papaku aku belum ingin menceritakannya padamu"

__ADS_1


Dena langsung berjalan pergi kearah Sofa tempat di mana dia biasanya duduk dan tidur.


Jawaban Dena tadi seakan sekarang membuat Dirga sedikit tenang, kalau perempuan itu mengatakan tidak ada hubungan dengan Dewa.


Ponsel Dena berdering, Dirga mendengar itu dan dia diam-diam melihat Dena dari tempat tidur saat ini.


"Halo Daniel ada apa?" tanya Dena saat mengangkat panggilan itu.


"Daniel?" gumam Dirga saat dia mendengar Dena yang sedang mengangkat panggilan.


"Kak, nenek kritis. Kau harus segera datang ke rumah sakit"


"Untuk apa aku datang ke sana?Aku tidak mau" tolak Dena pada permintaan Daniel


"Dia menanyakan dirimu sebelum kritis, dia ingin bertemu denganmu"


"Aku tidak mau Daniel, kenapa kau terkesan memaksa diriku"


"Dia nenekmu juga kak, jenguk dia sebelum kau terlambat dan menyesal" terdengar Bentakan Daniel yang membentak Dena.


"Aku tidak perduli, dan aku tidak akan menyesal. Bahkan aku malah senang kalau nenek tua itu tiada, agar dia bisa menebus dosanya pada Mama" sengit Dena tajam.


"Kau memang keterlaluan kan, kau akan menyesal" ucap Daniel dan langsung mematikan panggilannya.


Saat panggilan sudah dimatikan begitu saja oleh Daniel. Dena menggenggam erat ponselnya dan langsung membantingnya ke meja begitu saja.


"Aku tidak akan menyesal, memang itu yang harus didapat nenek tua itu" ucap Dena dengan dingin dan terkesan menakutkan.


Dirga yang mendengar itu, menatap Dena tak percaya. Sebenarnya apa yang habis di bicarakan kedua saudara kembar itu sehingga membuat Dena merasa kesal penuh amarah.


………………


Pintu terbuka, saat dimana pelayan sudah membuka kan pintunya Daniel langsung masuk begitu saja kedalam rumah.


Didalam dia bertemu dengan Doni dan Sisil, yang sedang ada diruang tengah menikmati segelas teh mereka.


"Daniel," mereka tampak terkejut dengan kedatangan Daniel.


"Dimana Dena?" tanya nya langsung.


"Kakakmu?" ucap Doni sedikit aneh, karena melihat Daniel yang sepertinya terkesan marah.


Kebetulan juga Dena baru saja turun dari lantai atas, dibelakangnya juga ada Dirga.


Daniel langsung berjalan kearah Dena,


"Ayok ikut aku" ucapnya menarik tangan Dena kuat.


"Kau kenapa sih Daniel" sentak Dena melepaskan tangan Daniel kuat.


"Kau yang apa-apaan kak" bentak Daniel emosi.


Membuat Sisil dan Doni terkejut, mereka langsung berdiri dari duduk mereka mendekati kedua bersaudara itu. Begitu juga dengan Dirga yang berjalan mendekat, karena sepertinya ini masalah serius sampai-sampai Daniel membentak Dena.


"Daniel tenanglah," ucap Sisil mencoba menenangkan Daniel.

__ADS_1


"Ada apa kau marah-marah masuk rumah orang?" ucap Dirga merasa harus ikut campur.


Daniel hanya diam tidak menjawab mereka berdua, dia hanya menatap kakaknya.


"Aku bilang, ayo ikut denganku kak. Kau akan menyesal nanti karena tidak sempat melihat nenek" Daniel kembali memegang tangan kakaknya hendak menariknya pergi.


"Aku bilang tidak mau, aku tidak akan menyesali pembunuh yang mati" ketus Dena begitu menusuk melepaskan kuat tangan Daniel.


Daniel terdiam, melihat kakaknya. Siapa yang dimaksud pembunuh tadi oleh kakaknya itu.


"Apa yang kamu maksud dengan pembunuh?" tanya Daniel tak mengerti.


"Tidak, aku salah bicara, kau pergilah sekarang sebelum nenek kesayanganmu tidak ada" ucap Dena.


"Dia nenekmu juga. Kau tidak ingin melihatnya?"


"Tidak, aku tidak mau"


"Terserah dirimu, lihat saja kau pasti menyesal" ucap Daniel begitu tajam terkesan mengancam.


"Aku tidak akan menyesal" tegas Dena dan langsung pergi begitu juga Daniel yang langsung pergi keluar dari rumah Suherman. Tanpa mengatakan apapun pada sang pemilik rumah yang padahal berada di dekat mereka.


Dena naik lagi ke kamarnya, dia tidak menggubris tatapan semuanya. Untuk apa juga dia menjelaskannya, toh ini juga bukan urusan keluarga ini.


"Sebenarnya ada apa dengan Dena dan Daniel ya pa?Kenapa Daniel tadi datang marah-marah begitu pada Dena. Dan menyebut-nyebut nenek mereka" tanya Sisil pada suaminya.


"Papa juga tidak tahu ma, nanti coba Papa akan tanya pada Jason" jawab Doni.


Dirga mendekati kedua orang tuanya, sepertinya mereka mengetahui permasalahan di keluarga Dena. Dia tidak bisa tinggal diam saja seperti ini, dia terlihat bodoh jika tidak mengetahui apapun.


………………


Dena saat ini siap dengan baju rapinya, dia memakai celana jeans kaos putih serta tas kecil yang terselempang di bahunya. Tak ketinggalan topi hitam yang akan ia kenakan.


Dirga yang baru saja masuk ke kamar melihat aneh pada Dena yang berpenampilan seperti itu.


"Mau kemana kau?" tanya Dirga penasaran.


"Aku ingin keluar, menghirup udara segar" jawab Dena datar.


"Aku ikut" ucap Dirga begitu saja. Dan membuat Dena melihat Dirga apakah pria itu serius akan ikut dengannya.


"Kenapa kau harus ikut, aku tidak mengajakmu" ucap Dena merasa tidak ingin Dirga ikut dengannya.


"aku tidak perlu ajakan mu, intinya aku akan ikut denganmu sekarang. Tunggu sebentar" ucap Dirga langsung menuju ke lemari dirinya mengambil jaket jeans yang hampir senada dengan celana Dena.


"Ayok, topi mu untukku saja" Dirga langsung mengambil topi polos berwarna hitam milik Dena dan memakainya.


"Kau apaan sih" Dena merasa tidak terima.


"Sudahlah" Dirga mendorong pelan pundak Dena untuk berjalan.


keluar dari kamar.


Entah akan kemana mereka berdua, bukan berdua lebih tepatnya akan kemana Dena. Karena yang ingin pergi tadi dirinya bukan Dirga.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2