Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 89


__ADS_3

Dirga melihat Dena yang diam saja duduk di sofa. Perempuan itu dari tadi siang terus mendiaminya seperti menganggap kalau dirinya tidak ada di situ. Sungguh sudah bosan, dia hanya diam melihat istrinya yang tengah marah, Dirga memutuskan berdiri dan akan menghampiri Dena yang duduk di sofa tapi langkahnya terhenti karena Dena menyuruhnya untuk berhenti.


“Berhenti disitu, jangan mendekat padaku” ucap Dena menghentikan langkah Dirga saat dia menyadari kalau pria itu berjalan kearahnya.


“Kenapa kau menyuruhku berhenti, aku ingin mendekatimu” sahut Dirga merasa tidak terima di suruh berhenti.


“Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, menjauh lah dariku” ketus Dena mengalihkan pandangannya.


“Aku tidak perduli, kamu tidak ingin bicara padaku. Aku hanya ingin bersama istriku yang dingin” tidak menggubris perkataan Dena Dirga masih tetap melangkah mendekat.


Dia berjalan semakin mendekat kearah dena, membuat Dena langsung berdiri dari duduknya dan akan berjalan pergi namun tangan Dirga sudah terlebih dahulu menghentikannya saat ini.


“Sudah dong sayang ngambeknya, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyalahkan mu.”


“Lepas,” Dena memaksa untuk dilepaskan.


“Nggak,” Dirga malah menarik Dena kearah sofa dan dia duduk di sofa menarik Dena kuat sehingga membuat perempuan itu terduduk di pangkuannya.


Dena akan berdiri tapi Dirga memeluk pinggang Dena sehingga membuatnya tidak bisa untuk berdiri.


“Dirga, lepaskan” tegas Dena


“Sudah sini saja, temani aku menonton film ya. Dan satu maafkan aku soal tadi, jangan marah terus padaku” ucap Dirga masih memeluk Dena dalam pangkuannya.


“Percuma juga misalkan aku memaafkan mu, aku tahu dirimu sekarang. Ku maafkan satu kali, pasti akan berkali-kali lagi kau bersikap kasar.” Ketus Dena menatap dingin Dirga.


Dirga melebarkan matanya, bagaimana bisa Dena berpikir seperti itu padanya.


“Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji padamu. Aku akan mencoba mengendalikan emosiku, aku janji padamu. Ayolah sayang maafkan aku, aku ini sudah tergila-gila padamu kalau kau marah padaku aku bisa gila” Dirga memperlihatkan wajah memelas nya pada Dena berharap perempuan itu memaafkannya.


“Lepas,” bukannya memaafkan Dirga, Dena malah melepas kasar tangan Dirga yang tengah memeluknya


Dirga terkejut dengan itu semua, dia melihat Dena tak percaya ternyata istrinya itu sungguh sedang sangat marah padanya meskipun ia telah meminta maaf.

__ADS_1


Dena hanya memperhatikannya,


“Geser” Dena menggeser Dirga secara paksa dari kursi sofa dan memberi ruang untuk dia duduk. Dirga langsung tersenyum melihat itu, ternyata istrinya mau didekatnya sekarang.


“Kamu sudah memaafkan ku?” Dirga mendekatkan dirinya lebih dekat ke Dena.


“Kau mau menonton film apa, cepatlah” bukannya menjawab Dena malah meminta Dirga untuk segera memutar filmnya


“Tunggu sayang,” dia langsung berdiri dan menyalakan tv serta DVD siap untuk menonton film dan dia langsung kembali duduk setelah menghidupkan Tv dan memilih film yang akan dia tonton.


Tiba-tiba saja, Dirga menaruh kepalanya di paha dena membuat Dena langsung menatapnya


“Jangan menatapku seperti itu sayang, aku hanya ingin menidurkan kepalaku masa tidak boleh” Dirga tersenyum senang saat dena hanya diam saja dan melihat ke depan menonton Film.


.................


Daniel baru pulang, dia masuk kedalam rumahnya yang terlihat sepi


“Kemana semua orang?” batinnya, mengabaikan sepi itu dia langsung berjalan menaiki tangga rumahnya. Tapi langkahnya langsung berhenti saat melihat Papanya yang masuk ke rumah dalam kondisi mabuk lagi seperti kemarin. Dia menatap tajam Papanya itu yang berjalan sempoyongan dengan botol minum yang masih dia pegang.


Daniel diam saja, dia tidak menanggapinya. Matanya terus melihat kearah Marco yang berjalan menghampiri dirinya saat ini.


“Anakku sudah besar, mau minum dengan Papa” dalam kondisi mabuk Marco berbicara di depan Daniel yang hanya diam.


“Jangan bicara disini, bahaya” ucap Daniel melihat Papanya yang berusaha menyeimbangkan tubuhnya karena sempoyongan akibat pengaruh alkohol. Daniel langsung membantu Papanya menaiki tangga lagi menuju lantai atas.


“Kalian berdua mirip sekali dengan Papa, tapi kenapa dulu aku sempat meragukan kalian sebagai anakku” Marco mulai meracau bayang-bayang dulu dimana dia mengabaikan kedua anaknya terputar jelas dalam ingatannya saat ini. Dan itulah yang menjadi sebab Marco tidak mau mengurus anaknya setelah Monica tiada, ia membiarkan putra- putrinya sendiri di pemakaman Monica dan juga membiarkan mereka di rawat oleh Heja teman dari Monica.


Daniel hanya membuang muka sambil terus memegangi Papanya agar tidak terjatuh.


“Kau mau tidur dimana? Di kamar tamu atau kamar rahasia mu?” ucap daniel pada Papanya


“Andai Mamamu ada disini, aku akan berlutut padanya. Aku merindukannya sekarang” bukannya menjawab pertanyaan Daniel Marco malah berandai soal Monica.

__ADS_1


“Kau menyesal sekarang, makanya kau mabuk-mabukan begini. Penyesalan Mu sudah tidak ada artinya untuk Mama Pa, dan itu sangat terlambat. Sudah bertahun-tahun berlalu dan kau baru merasakan penyesalannya sekarang” Sinis Daniel, dia berjalan menuju kamarnya membantu Marco berjalan. Benar dia akan menaruh marco di kamarnya saja. Daripada Papanya nanti malah sakit seperti kemarin.


....................


Sisil dan Doni baru saja pulang dari luar kota, dia buru-buru masuk kedalam rumah sampai-sampai meninggalkan Doni yang sedang menurunkan barang-barang mereka di bantu dengan pak Gito supir mereka. Doni hanya geleng-geleng kepala sendiri melihat istrinya,


“Mama pulang..” ucapnya lantang di rumah yang begitu besar. Sisil masuk kedalam rumah sambil terus memperhatikan lantai atas melihat lihat adakah orang dirumahnya.


“Tante sudah pulang,” ucap Reyhan saat dia baru saja keluar dari kamar.


“Waah, Reyhan. Bagaimana kabar kamu nak, makin ganteng aja seminggu ini tante nggak lihat kamu” Sisil langsung memeluk Reyhan.


“Tante bisa aja,” Reyhan balas memeluk Sisil dan tersenyum melihat perempuan paruh baya itu.


“Dimana kakak-kakakmu, kok tidak kelihatan” Sisil melepaskan pelukannya pada Reyhan lalu menanyakan keberadaan Dena dan Dirga.


“Aku tidak tahu tante, mungkin mereka belum bangun” jawab Reyhan.


“Mereka belum bangun ya?giman-gimana Reyhan ada kabar bagus tidak? Apa kakakmu dena menunjukan tanda-tanda akan memberi kamu keponakan” Sisil begitu antusias dengan setengah berbisik di telinga Reyhan. Sontak Reyhan langsung memundurkan dirinya kaget dengan ucapan nyeleneh Mama dari Kakak iparnya.


“A..aku, aku tidak tahu tante. Aku jarang bertemu mereka” ucap Reyhan gelagapan.


“Kamu jarang ketemu mereka?” heran Sisil karena mereka bertiga kan di rumah kenapa jarang bertemu.


“Iya, soalnya mereka sering keluar tante dan pulangnya malam. Jadi tidak pernah mengobrol” jelas Reyhan.


Sisil mendengar itu malah menyeringai senang.


“Apa jangan-jangan Dena sudah hamil,” gumam Sisil


“Dada sayang, tante ke atas dulu ya” ucapnya lagi dan langsung melenggang pergi berjalan cepat. Semoga saja harapannya benar, karena ia sudah tidak sabar menimang cucu.


Sementara Reyhan hanya melihatnya aneh, ternyata Mama dari reyhan konyol. Reyhan langsung berjalan ke sofa ruang tengah tempat dimana dia bersantai.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2