Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 26


__ADS_3

Dena sekarang sudah bangun, ia melihat kondisi kamarnya yang masih gelap, dia juga bisa melihat Dirga yang masih tidur lelap di atas kasur.


Daripada dia bingung di dalam kamar yang gelap, lebih baik saat ini ia pergi keluar siapa tahu mama mertuanya atau mbok Pinem ada di dapur. Dena bergegas keluar dari kamarnya menutup pelan pintu kamar itu,


Ia berjalan menuruni tangga rumah, berjalan kearah dapur benar saja Mama mertuanya dan mbok Pinem sedang sibuk memasak.


Untuk mereka sekarang sedang memasak jadi dia bisa membantu mereka berdua. Dena langsung berjalan kearah dapur, Sisil serta mbok Pinem menyadari langkah kaki Dena yang mendekat membuat mereka langsung melihat kearah Dena.


"Loh kamu sudah bangun nak?" ucap Sisil saat melihat Dena.


"Sudah Ma, boleh aku membantu kalian" ucap Dena.


"Boleh, boleh. Sini mama bersyukur deh punya mantu kamu. Nggak nyesel mama jodohin Dirga sama kamu, udah cantik, pinter masak, baik sayang adiknya" ucap Sisil memuji Dena.


Dena sendiri merasa malu dengan pujian itu, membuatnya tersipu.


"Ah Mama, jangan begitu. Aku nggak sebagus pujian mama. " ucap Dena merendah.


"Mama nggak asal memuji kamu, memang bener kan. Mana ada Heja bohong sama Mama" ucap Sisil tersenyum sambil memotong sayuran.


Dena terkejut mendengar nama Bija nya disebut. Ah iya dia baru ingat mamanya dulu tiga bersahabat termasuk mama mertuanya ini.


Dena akhirnya membantu mertuanya dan Mbok Pinem untuk memasak. Mertuanya malah sepenuhnya mempercayakan urusan memasak padanya saat ini. Sebenarnya ia menolak, tetapi mertuanya terus saja memaksa.


Alhasil mau tidak mau ia menuruti permintaan mertuanya itu. Entah kenapa ia juga merasa nyaman di dekat Sisil. Apa karena ia tidak pernah merasakan hangatnya seorang ibu yang mem berbicara serta memberi arahan.


………………


Saat ini sudah waktunya sarapan pagi dan saat ini di meja makan sudah ada Doni, Sisil dan Dena. Sementara Dirga belum bangun juga, dan kakak Dirga Dewa dia sudah seminggu ini kembali ke Apartemennya.


"Dena, Dirga belum bangun ya?kok dia tidak turun kebawah" tanya Sisil kepada menantunya tersebut.


"Tadi aku naik ke atas untuk mandi dia belum bangun ma" jawab Dena memberitahukannya pada sang mertua.


"Mama bangunkan dulu kalau begitu ya?" Sisil hendak bangkit dari kursinya tetapi perkataan Doni menghentikannya.


"Dena kamu saja yang bangunkan Dirga, dia sering susah dibangunin sama mamanya siapa tahu kalau kamu yang bangunin dia langsung bangun" Pinta Doni pada menantunya itu.

__ADS_1


Sisil duduk kembali di kursinya, melihat kearah Dena dan suaminya secara bergantian.


"Benar juga ya pa, Dirga kalau mama yang bangunin suka susah untuk bangun. Siapa tahu kalau istrinya yang bangunin dia, dia bisa langsung bangun" ucap Sisil menyetujui permintaan Doni.


"Ya sudah sana Dena, kamu bangunin Dirga" ucap Doni menyuruh Dena lagi.


Dena tidak bisa membantah ucapan mertua laki-lakinya, terpaksa ia berdiri dari duduknya untuk membangunkan Dirga.


……………………


Dena berada di depan pintu kamar Dirga saat ini berpikir kembali haruskah ia membangunkan Pria itu. Dia aslinya malas untuk membangunkannya, tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan mertuanya.


Mau bagaimana lagi, Dena membuka pintu kamar dengan berat hati berjalan masuk kedalam kamar itu yang masih gelap karena tirai jendela besar belum ia buka dari tadi serta lampu kamar yang mati.


Lebih baik ia membuka tirai dulu, baru ia akan membangunkan Dirga. Misalkan ia membangunkan Dirga lebih dulu pasti pria itu tidak akan bangun karena masih nyaman untuk tidur dalam kondisi gelap.


Perlahan Dena mendekati tirai jendela membukanya secara langsung, dengan menyibaknya kepinggir jendela. Seketika sinar matahari langsung masuk kedalam tetapi sama sekali tidak mengganggu tidur Dirga, pria itu hanya bergerak pelan menutupi dirinya dengan selimut. Dena memperhatikan pria itu, sepertinya Dirga tipe orang yang tidak terganggu ketika tidur.


Dena berjalan mendekati Dirga, berdiri di samping pria itu.


"Dirga,..Dirga bangun. Orang tuamu sudah menunggu untuk sarapan bersama" ucapnya hanya berdiri tanpa menyentuh tubuh Dirga.


Tiba-tiba saja tanpa di duga Dirga memegang tangannya kuat dan mendorongnya keras dengan masih bertutup selimut.


"Dasar wanita jalang, kenapa kau menggodaku bukannya, aku sudah bilang padamu kita tidak ada hubungan lagi" ucap Dirga lalu membuka selimutnya.


Saat matanya benar-benar terbuka, betapa kagetnya ia saat melihat siapa yang terjatuh membentur tembok tadi. Ternyata tadi ia mimpi mendorong Clara, dan yang dorong bukanlah Clara tapi Dena.


Dena punggungnya yang terasa sakit karena dia membentur tembok begitu keras. Matanya mengisyaratkan kebencian pada Dirga saat ini sementara Dirga kebalikannya ia merasa menyesal ternyata telah salah kenapa bisa ia menganggap mimpi itu nyata. Runtuk nya dalam hati.


"Ka..kamu tidak apa-apa?" tanya Dirga masih dalam posisinya duduk di atas tempat tidur tanpa membantu Dena berdiri.


Dena diam saja, menatap Dirga dengan kebencian. Dia berdiri menatap pria itu tajam,


"Orang tuamu menunggumu di bawah" ucap Dena dingin sambil berjalan pergi dari hadapan Dirga.


"Argghh, kenapa bisa aku mengira yang menyentuhku tadi Clara" kesal Dirga frustasi.

__ADS_1


………………


Meja makan saat ini sudah lengkap dan Dirga juga sudah ada di sana sedari tadi, ia melihat Dena yang makan dalam diam tanpa berkata. Dan apabila ditanya perempuan itu hanya menjawab seadanya saja.


"Dena, makan yang banyak ya" ucap Sisil pada Dena.


"Iya ma,"


"Ma, Pa..Aku nanti ijin mau ke rumah Papa Marco ya" ucap Dena meminta ijin kepada mertuanya. Dena melihat kesamping melihat Dena.


"Buat apa kamu ke sana sayang, Di Sana nanti kamu kenapa-kenapa?" celetuk Sisil dan langsung mendapat tatapan dari suaminya.


Benar dia keceplosan, bagaimana dia bisa mengatakan itu. Sisil langsung menutup mulutnya sendiri. Membuat sepasang pengantin di depannya merasa penasaran


Dena menatap kearah mertuanya, merasa curiga dengan mereka berdua. Apa kedua mertuanya itu mengetahui sesuatu dengan apa yang ia alami selama ini di rumah Papanya.


"Mama sama Papa tahu sesuatu?" tanya Dena menelisik Mama dan Papa mertuanya.


Sementara Dirga melihat kedua orang tuanya dan Dena secara bergantian. Sebenarnya apa yang Mamanya dan Papanya ketahui soal Dena.


"Ngg..nggak kok sayang, udah dilanjut saja makannya" ucap Sisil dengan gugup. Dena masih terus memperhatikan kedua orang tua Dirga. Dirga semakin penasaran saja sebenarnya apa yang kedua orang tuanya sembunyikan darinya saat ini.


"Dena, kalau kamu ingin ke rumah Papamu. Kamu ajak Dirga ya?Atau Papa suruh pengawal Papa buat ngaterin kamu ke sana" ucap Doni, merasa khawatir akan apa yang terjadi pada menantunya nanti kalau ia pergi ke rumah Papanya.


"Nggak usah Pa, aku ke sana sendiri saja" tolak Dena. Jujur ia merasa bahwa mertuanya ini tahu sesuatu dengannya. Kalau tidak mana mungkin mereka berdua merasa khawatir saat ia ijin ke rumah Papanya.


"Dirga, nanti kamu anter Dena saja ya" Doni tidak mendengarkan ucapan Dena barusan ia tetap menyuruh anaknya Dirga untuk mengantar Dena.


"Aku kerja Pa" tolak Dirga ia tidak mau untuk mengantarkan Dena.


"Nggak usah Pa, aku bisa sendiri ke rumah Papa ku dan aku tidak akan kenapa-kenapa di sana?" ucap Dena bersikeras untuk ke sana sendiri.


Doni melihat kearah Dena lalu melihat kearah Istrinya Sisil.


Dan dia sekarang melihat kearah Dirga, yang melihatnya curiga.


"Papa nggak mau tahu Dirga..Pokoknya kamu harus anterin Dena ke rumah Papanya" ucap Doni tanpa bisa di ganggu gugat.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2