Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 56


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dena sudah sangat rapi bahkan saat ini dia sudan keluar dari kamarnya menuruni tangga di rumah besar milik keluarga Bryan.


Ruang tengah di keluarga itu sudah tampak berkumpul para penghuni rumah. Ada Reyhan juga di sana yang memang belum pergi dari rumah Dirga.


Dena berjalan mendekati empat orang yang sedang duduk tersebut. Di situ ada Dewa, ada Doni, Sisil dan juga Reyhan. Mereka berempat langsung melihat.


"Mau kemana Dena?" tanya Doni.


"Aku mau pergi sebentar Pa" jawab Dena pada mertuanya.


"Kalau boleh mama tahu, kamu mau kemana Dena?" ucap Sisil menjadi penasaran kemana perginya sang menantu.


"Maaf Ma, aku tidak bisa memberitahukan pada kalian" ucap Dena sedikit merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Dena, jika kamu tidak ingin memberitahukan padi kita" jawab Sisil.


"Aku ikut kak," Reyhan langsung berdiri disebelah Dena.


"Tidak usah, Ma Pa, aku pergi dulu" Dena langsung pergi dari hadapan mereka semua membuat mereka penasaran kemana sebenarnya perginya Dena.


"Om, Tante. Aku pergi juga" Reyhan juga ikut pergi ia ingin menyusul kakaknya itu yang saat ini entah akan pergi kemana.


Reyhan berlari keluar berniat mengejar Dena yang sudah pergi terlebih dahulu.


"Kak Dena,." panggil Reyhan saat sudah berada di luar rumah tepat di belakang kakaknya.


Dena berbalik melihat Reyhan


"Ada apa?"


"Kau mau kemana?" tanya Reyhan penasaran.


"Aku ada urusan, kau tidak usah mengikuti ku" tegas Dena dan langsung pergi dari hadapan Reyhan. Reyhan hanya diam saja menatap Dena yang mulai menjauh dari dirinya saat ini.


"Apa kau masih tidak mempercayaiku kak? karena aku anak perempuan itu" lirih Reyhan dengan pilu.


Reyhan sebenarnya merasa sedikit sedih, karena Dena masih bersikap dingin padanya. Tapi dia juga senang ternyata kakaknya itu sayang padanya walaupun tidak di tampakkan secara nyata.


………………


Ternyata Dena pergi ke puncak, ke Vila serta berkunjung ke panti Asuhan yang selama ini Mamanya menjadi donatur tetap.


Dia ke panti karena ada janji dengan anak kecil yang hari ini berumur satu tahun bernama Shela.


Dia janji pada anak itu saat masih bayi, ketika pertama kali bayi Shela di buang ke panti. Dena yang kebetulan berada di panti menatap kasihan bayi tersebut dan dia janji kalau sudah umur satu tahu. Dena akan merayakan ulang tahun bayi itu. Dan sekarang acara ulang tahunnya.


Dena datang tidak sendiri melainkan dengan Bibi Heja dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.


Bi Heja datang dengan membawa mobil yang berisikan penuh mainan untuk anak panti dan juga beberapa makanan untuk dimakan semuanya dalam merayakan ulang tahun.


"Dena maaf ya, bibi agak telat" ucap Heja saat turun dari mobil miliknya.


"Iya bi, tidak apa-apa. Aku bantu untuk menurunkan semuanya ya?" ucap Dena kepada Heja dan dia segera membantu Heja menurunkan barang-barang yang di bawa perempuan paruh Baya yang masih terlihat muda seperti Mama mertuanya.


"Kamu sudah datang dari tadi?" tanya Heja pada Dena saat mereka berdua mengangkat kardus besar bersama.


"Aku baru saja datang bi,"

__ADS_1


"Oh, aku kira kamu sudah datang sedari tadi. Bibi menjadi merasa bersalah denganmu"


"Tidak, aku barusan saja. Terus bibi datang"


"Ya sudah yo kita bawa ini masuk kedalam" ucap Heja


………………


Dirga baru saja bangun tidur dia membuka matanya dan pandangannya langsung tertuju kearah Sofa dimana tempat Dena tidur.


Tempat itu sudah rapi, kira-kira kemana perginya wanita dingin itu.


"Kemana perginya dia, jam berapa sih sekarang?" ucap Dirga mengambil Hp miliknya yang berada di nakas meja sebelah tempat tidur dirinya.


"Baru jam sembilan, tapi dia sudah tidak ada" Dirga langsung beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju Balkon. Melihat apakah Dena juga berada di situ nyatanya tidak ada.


"Apa dia di dapur?" Dirga langsung berjalan keluar menuju dapur. Entah kenapa dia ingin sekali melihat wajah Dena pagi ini, mengingat kembali ucapannya semalam soal ia mencintai perempuan itu. Membuat dirinya merasa malu sendiri, karena telah bicara cinta terlebih dahulu.


Dirga berjalan menuruni tangga menuju dapur, dia berjalan ke dapur. Namun tidak melihat siapapun di sana dapur tampak sudah sepi, dia lalu langsung berjalan ke ruang tengah. Mungkin saja Dena berada di sana bersama yang lain.


"Dimana Dena?" tanyanya langsung kepada tiga orang yang ada di ruang tengah itu.


"Kamu memang tidak tahu istrimu pergi?" ucap Doni balik bertanya.


"Tidak aku masih tidur tadi" jawab Dirga.


"Kamu ini bangun siang-siang begini." ucap Doni pada anaknya.


"Terserah diriku pa, aku tidur juga uangku sudah berjalan masuk ke rekeningku. Dan itu hasil kerja kerasku sendiri bukan karena harya Papa" ucap Dirga sambil menatap sinis Dewa yang ada di situ.


"Dirga.." tegur Mamanya.


"Dia tadi pergi, tapi Mama tidak tahu pergi kemana. Dia mama tanya tidak mau memberitahukannya" jelas Sisil.


"Kalau begitu aku naik dulu ke atas" Dirga langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.


Dirga naik kembali ke kamarnya, dia akan menelpon Dena bertanya kemana perginya dia sekarang.


………………


Selesai acara merayakan ulang tahun Shela Dena langsung segera pergi dari panti. Bi Heja menawarinya tumpangan tapi Dena menolak alasannya dia harus pergi ke tempat lain. Sehingga takut merepotkan Bi Heja.


Dena berjalan di pinggir jalan sambil menunggu taksi atau bus yang ada di sekitaran daerah dirinya sekarang.


Sedari tadi Hp miliknya berbunyi, tapi ia biarkan saja karena itu Dirga yang menelpon dirinya. Malas sekali untuk menjawab panggilan pria itu.


Dena berjalan di pinggir jalan tapi tiba-tiba saja sebuah motor menyerempet dirinya dan membuat Dena terjatuh ke trotoar dan tidak terduga kepalanya terbentur trotoar jalan membuatnya tak sadarkan diri sekarang.


Sementara motor yang menabrak Jihan itu juga terjatuh ke jalan, membuat semua orang yang melihat langsung berlarian mendekati area kecelakaan itu.


"Mbak, Mbak, bangun mbak" ucap Ibu-ibu yang mencoba membangunkan Dena yang tak sadarkan diri.


"Mbaknya kenapa?" tanya sang pengemudi motor yang berjalan tertatih mendekati Dena.


"Mbaknya tidak sadarkan diri gimana ini, pelipisnya juga berdarah" ucap salah satu diantara mereka yang mengerubuni Dena. Mereka semua mulai tampak panik, cegat mobil, cegat,. teriak mereka.


Tanpa di duga sebelum mereka menghentikan mobil yang lewat. Sebuah Mobil datang mendekati,.

__ADS_1


"Ada apa ini kok ramai-ramai" ucap Seorang Pria ber jas dokter baru saja turun dari mobil.


"Ini mas mbaknya nggak sengaja keserempet orang yang bawa motor itu. Terus kepalanya membentur trotoar."


"Mana biar saya lihat," Pria itu berjalan semakin mendekat kearah Dena. Saat sudah ada di depan Dena yang terbaring di trotoar dia tampak terkejut.


"Dena, " ucapnya terkejut.


Hanafi langsung mengangkat Dena membawanya masuk kedalam mobilnya saat ini. Dia merasa khawatir dengan perempuan yang membuat dia terpesona pada pandangan pertama sebulan lalu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Hanafi langsung melajukan mobilnya dengan cepat saat dia sudah masuk kedalam mobil.


Dia melihat Dena yang tidak sadarkan diri, ia memegang tangan Dena memeriksa nadi perempuan itu. Ternyata nadinya normal, membuat kekhawatiran dirinya sedikit berkurang.


Bisa dipastikan berarti Dena tidak sadarkan diri karena syok. Dan lukanya di pelipis juga tidak terlalu parah.


………………


Hanafi duduk di sebelah ranjang rawat Dena, melihat Dena yang masih belum sadarkan diri.


"Kita bertemu lagi," lirih Hanafi memperhatikan Dena.


Drrrttt


Hanafi mendengar telpon yang berbunyi dari dalam tas Dena dia segera mengambil Hp milik Dena.


Sebuah nomer yang tidak ada namanya.


"Halo," ucap Hanafi mengangkat telpon tersebut.


"Kau siapa? kenapa mengangkat telpon istriku" terdengar suara yang tidak bersahabat dari seberang sana.


"Maaf pak sebelumnya, saya dokter yang merawat istri anda. Istri anda baru saja mengalami kecelakaan" ucap Hanafi mengaku Dokter yang merawat Dena saat ini.


"Apa, jangan asal bicara" Dirga tampak tidak percaya.


"Saya tidak asal bicara pak, memang istri anda baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit Permata."


"Baiklah saya ke sana"


………………


Dirga berlari di lorong rumah sakit. Dia begitu terburu-buru sehingga tidak fokus membuat dirinya menabrak orang berkali-kali.


Bodo amat dia tidak perduli saat ini dia benar-benar sedang khawatir dengan kondisi Dena. Seperti apa kondisinya sekarang.


"Kau harus bertahan, kau jangan pergi" ucap Dirga di setiap dia berlari mencari ruang anggrek 01.


Dirga berhenti di saat dia menemukannya, dengan segera ia masuk kedalam. Tapi apa yang ia lihat seorang pria sedang menggenggam kuat tangan Istrinya. Membuat wajahnya mengeras sekarang.


"Lepaskan tanganmu dari istriku"


Membuat Hanafi langsung melepasnya dan berdiri, melihat Dirga yang mengepalkan tangannya kuat.


Sementara Dena masih belum sadar, masih terbaring di atas tempat tidur.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2