
Mobil yang di kendari Daniel saat ini sudah sampai di depan rumah kakek dan Neneknya. Dirga yang baru pertama kali datang ke rumah itu merasa takjub karena rumah kakek dan Nenek Dena tidak jauh dari rumahnya yang besar.
Mereka semua turun dari mobil, termasuk Dena yang tampak ogah-ogahan untuk turun. Batin dirinya untuk apa ia datang ke rumah orang yang membenci mamanya.
"Ayo masuk,." Ajak Marco kepada semuanya.
Mereka semua langsung berjalan masuk bersamaan. Dan pintu rumah sudah terbuka otomatis,
Terlihat kakek Dena yang sedang duduk di ruang tengah dengan istrinya yang ada di kursi roda sebelahnya. Tak ketinggalan juga dengan Jason yang beserta istrinya yang ada di tempat itu.
"Kalian sudah datang" ucap Maryo Hutomo kakek Dena.
"Sudah Pa," ucap Marco dan langsung duduk di sofa di ikuti yang lainnya juga.
"Dena juga datang nak," ucap Maryo sedikit berkaca-kaca memperhatikan Dena. Dena tidak perduli, dia malah mengalihkan wajahnya kearah lain tidak menggubris kakeknya.
Dirga yang ada di situ merasa tidak beres dengan hubungan diantara keluarga Dena. Kenapa keluarga istrinya tersebut seperti tidak akur satu sama lain.
"Itu yang di sebelah Dena, apa suaminya?" ucap Nenek Dena yang melihat kearah Dirga.
Maryo langsung teralihkan juga untuk melihat Dirga.
"Benar ma, ini suami Dena" ucap Marco sambil menunjuk Dirga.
Dirga langsung berdiri menyalami, kakek dan Nenek Dena.
"Perkenalkan, Saya Dirga suami dari Dena nek, kek" ucapnya kepada kedua orang tua itu. Tak lupa juga ia memperkenalkan diri kepada Jason dan istrinya.
"Baguslah kalau kamu juga ikut Dirga" ucap Kakek dari Dena.
Dirga hanya tersenyum saja menanggapinya.
"Apa yang ingin kalian katakan?" ucap Dena to the point karena dia sudah muak untuk berada di tengah-tengah keluarga Papanya.
Semua orang langsung menatap Dena, apalagi Papanya yang seakan menyuruh Dena untuk diam terlebih dahulu.
"Begini, aku menyuruh kalian semua untuk datang kesini karena aku akan membagi semua aset milikku kepada kalian semua" jelas Kakek Dena.
Soraya langsung tersenyum senang, dan dia langsung menatap kearah suaminya.
__ADS_1
Semua yang ada di situ hanya diam, saat mendengar ucapan Maryo.
"Setengah aset dari milikku sudah, aku berikan pada Jason dan setengahnya lagi akan aku berikan kepada Dena dan Daniel" ucap Maryo.
Membuat semua yang ada di situ kaget, terutama Soraya dia tampak terkejut karena suaminya tidak mendapatkan apapun.
"Papa, ke..kenapa Marco tidak mendapatkan aset milik papa" protes Soraya merasa tidak terima.
"Tanyakan saja dengan suamimu" ucap Maryo.
"Honey,." rengeknya pada Marco seakan menyuruh Marco untuk protes.
Marco hanya diam saja, mendengar rengekan dari istrinya.
"Pa, kenapa Marco tidak mendapatkannya. Apa dia berbagi saja denganku" ucap Jason merasa dia tidak pantas menerima setengahnya sedangkan kakaknya tidak mendapatkannya.
"Sudahlah Jason, itu memang hak mu. Aku sudah mendapatkannya dari Papa," ucap Marco biasa saja.
"Honey," Soraya masih protes saja tidak terima.
"Sudahkan cuma itu yang di bicarakan, aku pergi. Dan ambil saja bagian ku, aku tidak membutuhkannya," ucap Dena berdiri begitu saja dari duduknya lalu ia menatap istri Papanya.
"Hei wanita ular, sebegitu nya kau gila harta. Ambil saja milikku, kau kan memang menginginkannya, bukan menginginkan lagi tapi sangat menginginkannya" ucap Dena sinis.
Dena menatap neneknya,
"Kenapa?" dinginnya.
"Maafkan nenek dan Kakek ya?" ucap Neneknya lagi semakin merasa sedih.
"Kenapa kau minta maaf denganku, apa dengan permintaan maaf mu mamaku bisa kembali, Minta maaflah pada mamaku. Tapi bagaimana bisa kau meminta maaf padanya, eh bisa kalau kau menyusulnya baru kau bisa minta maaf dengannya" ucap Dena dengan begitu kejamnya.
Membuat Dirga yang ada di situ merasa tidak percaya kalau Dena mengatakan hal tersebut.
"Kakak,." tegur Daniel dengan keras
"Kenapa Daniel?Bukannya apa yang ku bicarakan benar" Dena mengembuskan nafasnya berat melihat kearah kakek dan neneknya dengan tajam.
"Kalian berdua menyesalkan sekarang, Menantu pilihan kalian kesayangan kalian ini. Sekarang bagaikan ular berbisa yang siap menerkam kalian kapan saja,. Dan kau sakit seperti ini, ini karma mu atas perbuatan mu pada Mamaku" ucap Dena sambil melihat sekilas kearah Ibu tirinya.
__ADS_1
"Aku tidak butuh harta kalian, ambil saja." ucap Dena.
"Dena sudah diam," ucap Marco kepada anaknya yang berbicara cukup berani.
"Kenapa aku harus diam, aku punya mulut"
"Kak, Berhentilah menyalahkan kakek sama Nenek soal Mama" ucap Daniel berusaha menenangkan sang kakak.
"Sudahlah, aku tidak mau berada ditengah keluarga yang mengerikan ini" ucap Dena dan akan berjalan pergi.
Tapi dia langsung berbalik lagi, menatap ayahnya.
"Tuan Marco Alexander Sharman, yang terhormat. Dulu kau mati-matian mengejar cinta Mamaku. Tapi setelah kau mendapatkan hasutan kedua orang tua itu, kau malah berpaling dengan wanita ular menjijikkan ini. Sampai punya anak diluar pernikahan, menjijikkan. Dan lihatlah, kau pasti akan menyesal seperti kedua orang itu yang tampak menyedihkan" ucap Dena tanpa rasa takut di depan Papanya.
Marco merasa tidak mengerti dengan apa yang diucapkan anaknya. Dia sedikit menahan emosinya saat ini, tapi dia juga sedikit berpikir. Apa maksud ucapan anaknya soal hasutan,
"Berbingung, bingunglah Pa,." ucap Dena dan langsung pergi.
Dirga yang melihat kepergian Dena langsung bingung. Apa dia harus mengikutinya, tapi itu sangat tidak sopan kalau pergi begitu saja.
Ah sudah, lebih baik ia mengikuti Dena yang pergi saja.
"Maaf semuanya, aku permisi dulu" ucap Dirga pada yang lain dan dia langsung pergi mengejar Dena yang sudah keluar terlebih dahulu.
"Bianca antar Mama masuk ke kamar" ucap Jason pada istrinya. Karena ia melihat Mamanya itu yang tampak begitu terpukul dengan ucapan Dena tadi.
Sementara Marco duduk dengan lemah di sofanya, dia merasa penuh tanya dengan pernyataan Dena tadi.
"Huh dasar bocah itu, nggak ada sopan santunnya" ucap Soraya melihat kearah Dena pergi.
Daniel sendiri juga merasa penuh tanya di kepalanya. Dia merasa curiga dengan kakaknya yang sepertinya mengetahui sesuatu tapi apa, dan kenapa kakaknya itu tidak bicara padanya saat ia mengetahui sesuatu.
"Pa, aku minta maaf atas ucapan Dena tadi" lirih Marco pada Papanya.
"Tidak, apa" singkat Maryo seakan menerima apa yang dikatakan cucunya tadi. Karena memang benar apa yang di ucapkan Dena. Dia sendiri sekarang menyesal dengan apa yang ia lakukan dulu kepada menantunya istri pertama dari Marco.
"Daniel, kau tahu sesuatu dengan kakakmu" ucap Marco pelan dan terkesan berbisik ditelinga Daniel.
"Tidak, Kenapa Papa bertanya padaku. Seharusnya papa tahu yang dimaksud Dena tadi" ucap Daniel mengira Papanya pasti tahu.
__ADS_1
°°°
T.B.C