Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 92


__ADS_3

“Lagi, kesekian kalinya aku melihat kalian berpelukan tanpa diriku” tiba-tiba saja Reyhan keluar dari kamar Daniel menangkap kedua kakaknya tengah saling berpelukan. Pelukan Dena dan daniel langsung terlepas, mereka secara bersamaan langsung melihat kearah Reyhan.


“Kenapa kau muncul tiba-tiba disini?” ketus Daniel


“Kenapa Reyhan,?” tanya Dena melihat kearah Reyhan.


“Papa bangun” ucap Reyhan pada kedua kakaknya.


Daniel langsung masuk kedalam kamarnya, begitu juga dengan Dena ia masuk kedalam kamar kembarannya.


Marco sendiri sudah duduk pinggir tempat tidur Daniel sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Pandangannya langsung melihat ke depan saat menyadari ada suara derap langkah masuk kedalam kamar.


Dia melihat ketiga anaknya yang tengah menatapnya saat ini, benar ketiga anaknya. Reyhan juga berada di depannya saat ini.


Daniel membuang mukanya saat Marco meminta penjelasan sementara Dena dan Reyhan melihat kearahnya.


“Kau mabuk lagi?” Dena bertanya dengan dinginnya.


“Bukan urusanmu Dena” jawab marco mengalihkan wajahnya.


“Aku pergi dulu,” Daniel langsung pergi dari kamarnya sendiri membiarkan mereka berbicara dengan papanya.


“Papa untuk apa kau mabuk, aku tidak pernah melihatmu mabuk” ucap Reyhan melihat kearah Papanya.


“Bagaimana kau bisa melihatnya, kau saja tidak pernah pulang” cibir Marco membuang mukanya.


“Reyhan, kau bisa keluar sebentar” pinta Dena pada Reyhan.


“Baiklah,” Reyhan langsung menuruti perkataan dena dia keluar dari kamar saat ini membiarkan Papanya bicara pada kakaknya.


“Kenapa kau mabuk? Untuk apa kau melakukannya Pa?” tanya Dena langsung pada Papanya saat Reyhan sudah keluar.


“Bukan urusanmu Dena, Papa mabuk atau tidak” Marco berdiri hendak pergi.


“Itu memang bukan urusanku Pa, tapi kau salah, kau salah melampiaskan ini semua dengan minuman. Penyesalan Mu tidak ada artinya Pa. Kau malah menyiksa dirimu sendiri jika kau seperti ini,”


“Aku dengar dari Bija, Mama tidak suka dengan orang yang mengkonsumsi minuman keras. Bagaimana jika dia melihat dirimu sperti ini. Dia pasti sedih dan kau membuat nya terluka lagi mengerti. Cukup kau membuatnya sedih saat dia masih hidup, jangan membuatnya sedih di sana dengan melihatmu yang menjijikkan seperti ini” Dengan dingin Dena mengatakan seperti itu pada Marco yang melihatnya dalam diam.


“Tidak ada yang ingin ku bicarakan padamu sekarang, aku pergi Pa” Dena langsung berbalik ingin pergi.


‘’Tunggu Dena” Ucap Marco menghentikan langkah Dena,


“Ada apa?” Dena berbalik menatap Papanya sekarang.


Marco berjalan mendekati putrinya, dan tiba-tiba saja dia menarik anaknya itu dalam pelukannya saat ini. Membuat Dena terbelalak, benarkah saat ini Papanya sedang memeluknya. Setelah sekian lama dia baru mendapat pelukan dari papanya..


“Papa minta maaf, Maafkan Papa yang selama ini jahat padamu. Papa minta maaf Dena” Marco menangis memeluk Dena. Mengusap lembut rambut putrinya penuh kasih sayang.


“Maafkan Papa, Papa menyesal telah melukaimu dan Daniel.” Dia sesegukan menangis menyesali semua perbuatannya pada kedua anaknya dulu.

__ADS_1


Dena hanya diam saja, tidak membalas pelukan Papanya. Dena mendorong Papanya pelan dia menatap Papanya itu.


“Aku pulang dulu” singkatnya dan melenggang pergi dari hadapan Papanya.


Marco menatap anaknya pilu, dia perlahan menghapus air matanya. Sungguh ini begitu terasa menyakitkan saat dia diabaikan oleh anaknya sendiri, padahal dulu dia biasa saja tapi saat rasanya sakit ketika dua anak yang dulu ia sakiti kini mengabaikan dirinya.


............................


Dirga saat ini baru saja pulang dari urusannya di luar, dia menaiki tangga rumahnya sambil melepas dasi yang ia kenakan. Rasanya baru beberapa jam dia memakai dasi sudah terasa sesak saja.


Dirga bergegas berjalan menuju kamarnya, dia membuka pintu kamar itu. Tapi ada yang berbeda didalam, kamarnya kosong kemana dena saat ini.


“Sayang,..” panggil Dirga masuk kedalam kamar sambil melihat keseluruh sudut ruangan mencari keberadaan Dena.


“Kamu sedang mandi ya sayang,” Dirga berjalan kearah kamar mandi mengetuk kamar mandi itu. Tidak ada suara, membuat dia langsung membukanya, kosong kamar mandinya kosong.


“Kemana dia?” gumamnya saat tidak mendapati istrinya di manapun.


Dirga langsung berjalan keluar kamar melemparkan dasinya keatas tempat tidur.


Dengan terburu-buru dia berjalan menuruni tangga, ia akan ke dapur siapa tahu menemukan Dena di sana.


Saat Dirga berjalan menuruni tangga, bertepatan dengan itu Dena sudah memasuki ruang tengah. Dirga melihat itu semua,


“Sayang, kamu darimana saja sih.” Ucapnya masih dari atas tangga. Dena yang mendengar suara Dirga langsung mendongak menatap suaminya yang sudah berdiri di tangga.


Dena berjalan mendekati Dirga yang berjalan mendekatinya saat ini.


“Kamu kenapa?” ucap Dirga saat menangkap ada yang berbeda dengan wajah Dena yang menurutnya lesu.


“Aku tidak apa?” Dena berhenti melangkah saat Dirga tepat berdiri di depannya.


“Kemari” Dirga menarik Dena duduk di sofa yang tidak jauh dari tangga.


“Kamu darimana? Dan kenapa wajahmu seperti ini. Kenapa kau lesu begitu?” Tanya Dirga memperhatikan Dena.


“Aku habis dari rumah Papa mengantar Reyhan ke sana” jawab Dena.


“Kamu ke rumah Papa? Kamu habis dipukul dia, dimana yang dipukul?bilang padaku” mendengar Dena habis dari rumah mertuanya membuat Dirga tampak khawatir dia melihat seluruh tubuh Dena memeriksa apakah ada luka ditubuh istrinya.


“Aku tidak dipukul atau diapa-apakan oleh”


“Lalu kenapa wajahmu terlihat sedih begini”


Bukannya menjawab Dena malah memeluk Dirga saat ini, dia memeluk suaminya. Membuat Dirga bingung dan heran tidak biasanya Dena memeluknya duluan. Dirga balas memeluk Dena,


“Ya sudah, kalau kamu tidak mau bilang padaku. Peluk saja aku seperti ini, aku menyukainya” uapnya menggoda Dena.


Walaupun di goda Dena masih tetap memeluk Dirga. Tentu saja Dirga senang dengan semua ini dia tersenyum karena Dena memeluknya.

__ADS_1


°°°°°


Saat ini sudah malam, Dena berada di balkon sehabis makan malam tadi dia berada di sana memandang bintang-bintang yang gemerlap di langit. Ada satu bintang yang cukup terang bersinar, ia terus menatap bintang itu entah tahayul atau mitos kalau ada satu bintang yang terlihat begitu terang di angkasa itu tandanya orang yang sudah tiada yang kita sayangi melihat kita di atas sana. Dan Dena percaya itu, mungkin itu Mamanya yang sedang melihat dirinya saat ini.


“Sedang apa kamu sayang,?” tanya Dirga saat menghampiri Dena yang berdiri di balkon.


Dirga sendiri saat ini baru selesai mandi, dia mandinya begitu malam. Tadi dia makan malam dulu baru mandi.


“Melihat Mamaku” ucap Dena singkat.


“Hah,” Dirga tidak mengerti dengan ucapan Dena.


“Maaf Mamamu Kan sudah tiada,” ucapnya lagi memandang Dena yang ada disampingnya sedang melihat keatas.


“Mamaku masih ada, di sana” Dena menunjuk kearah bintang yang bersinar dengan terangnya.


Dirga berjalan beralih kebelakang dena dan memeluk perempuan itu dari belakang.


“Kamu masih percaya mitos itu,” ucapnya sambil memeluk Dena.


“Ya, aku masih mempercayainya” sahut Dena.


“Bilang padaku, tadi kamu tidak mau mengatakannya kan. Kenapa kamu tampak sedih tadi?” tanya dirga pada dena.


“Papa tadi memelukku, itu pelukan yang ku terima setelah sekian lama dia bersikap kasar padaku selama ini” akhirnya Dena mau mengatakannya pada Dirga.


“Lalu kenapa kamu malah sedih, seharusnya kamu senang dong sayang”


“Aku sedih, karena kenapa itu baru sekarang. Kemana dia dulu”


“Dengarkan aku, dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang, Papa sekarang sudah menyesalinya kan. Maafkan dia, dia melakukannya dulu juga karena dia tidak tahu semuanya. Sekarang dia sudah tahu, begitu juga dengan diriku dulu aku membencimu tapi setelah aku tahu semua tentang dirimu. Aku bukannya benci tapi malah tergila-gila padamu seperti sekarang” Dirga membalikkan tubuh Dena menghadapkan kearahnya.


“Tatap mataku, lupakan masa lalu. Buka lembaran baru,” ucap Dirga memegang bahu dena. Dena menatap mata Dirga saat ini.


“Tapi aku tidak bisa melihat orang yang membuatku dulu menderita bahagia, dan aku tidak bisa melihat orang yang telah membunuh mamaku menikmati hidupnya Dirga. Aku tidak bisa”


“Aku tahu itu, tapi lupakan saja. Jangan membalas dendam pada orang-orang tersebut. Aku tidak mau dirimu yang terluka nantinya.” Ucap dirga melihat Dena.


“Aku tidak bisa melupakannya, aku akan melakukannya dan aku tidak perduli dengan diriku. Aku dan Daniel sudah sepakat untuk membuat mereka menyesalinya” kukuh Dena mulai melepas tangan Dirga dari bahunya.


“Sayang dengarkan aku, aku perduli dengan keselamatanmu. Kamu tidak perduli tapi aku perduli, aku takut terjadi apa-apa denganmu” Dirga kembali memegang bahu Dena


“Lupakan ya dendam itu, jangan membalaskan nya. Biar tuhan yang membalasnya. Oke, lupakan ya” ucap Dirga terkesan memohon.


Dena hanya diam saja tidak membalas ucapan Dirga, karena Dena diam saja membuat Dirga memeluknya.


“Aku mohon sayang,” ucapnya sambil memeluk Dena.


“Akan aku pikirkan lagi” ucap dena singkat, Dirga memeluk dena semakin erat dibawah sinar bulan dan bintang yang menerangi mereka di balkon kamar.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2