
@Rumah Sakit Sevil
"Dena.." Panggil Dewa
Panggilan itu membuat Dena melihat sekilas orang tersebut. Menatapnya tidak senang.
Sebenarnya ia sudah tahu pria itu saat Pria itu sedang berlarian di koridor mendekati Papanya. Dena hanya diam saja melihatnya lalu ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Dirga yang duduk di sebelah Dena melihat sekilas perempuan itu yang memalingkan wajah dari kakaknya, lalu ia melihat Dewa yang tampak berkaca-kaca melihat Dena.
"Sebenarnya ada hubungan apa kakak ku dengan perempuan ini" batin Dirga bertanya.
"Mama kenapa Pa?bagaimana kata dokter?" Dewa lalu menatap papanya bertanya mengenai kondisi mamanya.
"Hipertensi mama naik, jadi itu yang membuatnya tidak sadarkan diri" jelas Doni berusaha tegar ia perlahan mundur duduk di kursi kosong. Dewa mendekati Papanya tetapi pandangannya sesekali melihat kearah Dena yang hanya datar saja tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Dewa sendiri baru sadar kenapa seluruh keluarga Sharman ada di rumah sakit bersama Papanya dan juga Dirga.
Dena yang menyadari kalau sedari tadi Radewa terus melihat kearahnya membuat dirinya langsung berdiri. Membuat Dirga di sebelahnya langsung memperhatikan Dena.
"Aku pulang dulu" ucap Dena didepan Daniel dan Soraya yang duduk tidak jauh dari dia duduk tadi.
Marco yang tadi berada di dekat Doni melihat anaknya yang akan pergi langsung berjalan cepat mencekal tangan Dena agar tidak pergi.
"Mau kemana kamu?" tajam Marco
"Mau pulang" singkat Dena.
"Tetap disini, kamu tidak boleh pulang. Calon mertuamu sedang sakit bisa-bisanya kamu pulang" bisik Marco di telinga Dena.
"Siapa mertuaku?"
"Papa bilang tetap disini ya tetap disini, kamu mau apa yang papa bilang kemarin langsung papa lakukan sekarang juga" Marco terus mencengkram lengan Dena kuat. Daniel dan Radewa melihat itu semua ada sorot mata tidak suka pada kedua orang itu saat Marco mencengkram kuat lengan Dena.
Dena hanya diam saja di tempatnya,
"Kembali ketempat duduk mu tadi" pinta Marco dengan paksaan.
Dena hanya diam saja lalu berbalik arah, Marco segera melepaskan cekalan nya saat anaknya itu berjalan kembali duduk di sebelah Dirga.
Dirga yang melihat itu di buat heran sekaligus, penasaran. Apalagi saat melihat Dena yang hanya diam sambil giginya bergeletak seakan menahan emosi serta pandangannya kosong menatap ke depan.
__ADS_1
"Pasien sudah bisa dikunjungi," ucap Suster yang baru saja keluar dari ruangan Sisil.
Doni, Radewa, dan Dirga langsung berdiri mereka mendekat kearah suster.
"Silahkan masuk pak" ucap Suster tersebut, lalu Doni beserta kedua anaknya segera masuk kedalam ruang rawat Sisil.
Didalam ruangan itu Dirga terlebih dulu mendekat keranjang tempat dimana Sisil yang terbaring tampak lemah.
Dirga mengambil tangan Sisil menciumi berkali-kali tangan sang Mama.
"Ma..Mama aku..aku minta maaf" isak Dirga yang mulai meneteskan air matanya. Ia begitu menyayangi mamanya melebihi apapun. Karena selama ini Mamanya yang selalu mengerti dirinya.
Sisil yang masih lemah perlahan mengusap lembut rambut putranya.
"Mama, aku mohon mama cepat sembuh. A..aku akan menuruti apa yang mama pinta. Aku tidak akan membuat mama terlalu banyak pikiran lagi" ucap Dirga dengan ragu masih menggenggam tangan Mamanya erat.
Doni dan Dewa yang berdiri di belakang Dirga hanya melihatnya saja dengan haru.
"Mama tidak apa-apa ma?Syukurlah Mama sudah sadar" ucap Dewa mengalihkan pandangannya kearah Dewa yang berdiri di samping suaminya.
"Dewa..kamu disini nak" pelan Sisil melihat putra sulungnya sendu.
"Iya Ma" singkat Dewa lalu mendekat mencium kening mamanya
Sisil hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, lalu ia kembali melihat Dirga yang masih menciumi tangannya. Dia menatap sedih anaknya itu,
"Dirga.." panggil Sisil
Membuat Dirga langsung mendongak melihat kearah Mamanya.
"Kamu mau menikah dengan Dena besok?" Dirga dan Dewa yang mendengar itu tampak terkejut.
"Be..besok, " gagap Dirga.
"Iya besok, kamu mau kan?kamu tadi bilang sama Mama kalau kamu akan menuruti apa yang mama perintahkan" Dirga terdiam di tempatnya ia seperti kemakan omongannya sendiri.
"Dirga.." lirih Sisil karena Dirga hanya diam saja tidak menjawabnya.
"I..Iya ma. Aku akan menikah dengan anak om Marco besok" Doni yang berada di belakang Dirga langsung tersenyum dan ia juga melihat kearah istrinya yang tersenyum kecil melihatnya. Sementara Dewa merasa tidak mengerti sebenarnya ada apa dengan keluarganya saat dia tidak di rumah, kenapa tiba-tiba adiknya akan menikah dengan Dena.
°°°°°
__ADS_1
Saat ini Dirga dan Dena sedang berada di toko perhiasan mereka sedang membeli cincin pernikahan untuk mereka berdua.
Ada rasa terpaksa di wajah mereka berdua, setelah tadi Dirga menyanggupi perkataan Mamanya dan setelah Doni bilang kepada Marco kalau pernikahan kedua anak mereka akan diadakan besok membuat Doni menyuruh Dirga dan Dena membeli sebuah cincin untuk acara besok.
Dena semula bersikukuh tidak mau tetapi saat ia di seret papanya dan diancam lagi membuatnya terpaksa mau. Padahal Dirga sangat berharap Dena bisa bersikeras menolak perjodohan mereka tetapi tiba-tiba saja dia menerimanya begitu saja membuat Dirga menatap tak percaya sehingga membuatnya mengepalkan kedua tangannya menatap perempuan itu tajam.
"Kau pilih sesukamu saja" ketus Dirga melihat Dena yang hanya diam memandangi cincin-cincin di etalase toko.
"Saya minta yang itu mbak" ucap Dena pada karyawan toko tersebut tidak membalas perkataan Dirga karena saat ini dia sudah tidak memiliki tenaga sama sekali pikirannya begitu berkecamuk.
Apa yang ingin ia raih dan apa yang ingin ia gapai dengan berkuliah kini sia-sia bahkan kuliahnya terpaksa berhenti gara-gara Papanya itu. Yang menyuruhnya untuk langsung bekerja di perusahaan. Katanya ia tidak pantas berleha-leha dia harus bekerja untu bisa tinggal di rumahnya sendiri. Papanya selalu saja melakukan apapun yang dia inginkan,..
"Sudah ayo pulang" ajak Dirga saat cincin itu sudah di masukkan kedalam kotak.
Dena lagi-lagi hanya diam, mengambil cincin itu dari karyawan toko lalu berjalan mendahului Dirga.
"Lo gila harta juga ya ternyata" ketus Dirga saat dia sudah berada di samping Dena yang sedang berjalan.
Dena langsung menghentikan langkahnya menatap Dirga tajam.
"Kenapa?tidak terima dengan apa yang aku katakan" ucap Dirga menantang melihat Dena yang menatapnya tajam.
"Jaga omongan anda"
"Kenapa?yang aku bicarakan memang benar. Kamu gila harta seperti Papamu"
"Kalau kamu tidak gila harta seperti dia pasti kamu akan berusaha keras untuk menolak perjodohan ini" lanjut Dirga.
"Lalu anda sendiri kenapa tiba-tiba menerima perjodohan ini? Kenapa anda menyalahkan diriku sekarang"
"Aku punya alasan. Alasanku yaitu Mama ku."
"Aku juga punya alasan dengan ini semua"
"Bohong, alasanmu tentu saja karena hartaku. Kamu ingin keluargamu lebih Jaya lagi kan dari sekarang"
Habis sudah kesabaran Dena dia tidak mau mendengar lagi apa yang dikatakan Dirga.
Ia memberikan Paksa Paper Bag itu pada Dirga lalu ia segera pergi dari hadapan Dirga yang hanya melihat kepergian Dena dengan wajah datarnya.
°°°
__ADS_1
T.B.C