
Marco berjalan menghampiri adiknya Jason, saat keadaan diruang tengah sekarang sepi, hanya ada dirinya, Daniel dan jason. Sementara Soraya sudah pergi terlebih dahulu menuju kamar tamu di rumah keluarga Marco.
“Jason,” panggilnya pada sang adik yang tengah berbicara dengan Daniel.
“Iya ada apa kak?” Jason langsung menatap Marco yang duduk di sebelahnya kini menjadikan dirinya duduk ditengah-tengah antara Marco dan juga Daniel.
Marco melihat kearah Daniel sekilas, yang memperhatikan dirinya.
“Daniel, bisa kamu pergi sebentar. Papa perlu bicara dengan om mu” ucap Marco meminta anaknya untuk pergi sebentar.
“Kenapa aku harus pergi, apa yang akan kau bicarakan dengan Om Jason?” ucap Daniel merasa curiga dengan sikap sang Papa.
“Kau tidak perlu tahu, ini urusan orang dewasa” balas Marco lagi.
“Papa lupa, aku sudah dewasa umurku sudah 2o tahun” tegas Daniel melihat kearah Papanya.
“Sudahlah kak, bicara saja sekarang. Memang kenapa kalau ada Daniel” ucap Jason menengahi kedua orang tersebut.
Marco diam sebentar mempertimbangkannya lagi, harus kah dia bicara di saat sedang ada anaknya di depannya saat ini.
“Baiklah, Aku ingin bertanya padamu. Kamu tahu maksud Dena tadi? Apa yang dia maksud dengan hasutan, kenapa aku terkena hasutan dari Mama dan papa?” ucap Marco melihat wajah Jason seksama, melihat kebenaran yang akan diucapkan Jason.
Mendengar tersebut tentu saja Daniel ikut penasaran, sebenarnya dia ingin tahu maksud semua itu. Dan juga ia ingin mengetahui apa benar Papanya itu tidak tahu maksud kakaknya.
“Kenapa kakak tanya padaku?” ucap Jason dan ekspresi wajahnya berubah dingin saat kakaknya bertanya seperti itu.
“Karena setahuku kamu dekat dengan Dena, siapa tahu kamu tahu sesuatu soal ini” pungkas marco menelisik wajah Jason dia yakin pasti Jason mengetahui sesuatu.
“Aku tidak akan mengatakannya pada Kakak, karena percuma aku mengatakannya. Kemungkinan kaka tidak akan mempercayainya. Kalau sudah tidak ada ditanyakan lagi aku pergi ya kak” Jason sepertinya malas untuk membahas hal tersebut dia langsung berdiri dari duduknya.
“Kalau Om Jason tidak mau mengatakannya pada Papa tolong katakan padaku, apa sebenarnya yang dikatakan kakakku tadi?” ucap Daniel ikut berdiri dan menatap Jason seakan memohon untuk memberitahukannya.
“Kamu lebih baik tanyakan sendiri pada kakakmu Daniel, om tidak bisa menceritakannya padamu tanpa seijin dia” jelas Jason dan langsung melangkah pergi. Namun dia langsung menghentikan langkahnya melihat Marco yang hanya diam menunduk seakan memikirkan sesuatu.
“Untuk dirimu kak, Kamu cari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.” Saran Jason memperhatikan sang kakak yang langsung mendongak melihat dirinya. Setelah itu Jason langsung pergi meninggalkan rasa ingin tahu didalam hati kedua pria yang berbeda usia tersebut.
………………
Dena berjalan dipinggiran jalan, tentu saja dia berjalan karena tadi dia tidak membawa mobil sendiri melainkan mobil milik Papanya mereka pergi bersama-sama.
Dia sudah muak berada ditengah-tengah keluarga Papanya tadi. Untuk apa dia di sana, menunggu warisan. Tidak butuh warisan dari orang-orang licik seperti kakek dan Neneknya. Se menyesal apapun mereka saat ini ia tetap tidak akan memaafkan mereka berdua, gara-gara mereka Mamanya kini tidak bisa bersama dirinya dengan Daniel.
“Dena,..” ucap Dirga yang berlari-lari kecil memanggil-manggil dena yang berjalan di depannya.
Dena sama sekali tidak menanggapi atau merespon panggilan dari Dirga, dia memang mendengar panggilan itu tapi ia hanya mengabaikannya saja.
__ADS_1
Dirga langsung berjalan cepat meraih tangan Dena yang terus berjalan tidak menggubris dirinya yang terus saja memanggil.
“Kau selalu saja pura-pura tidak mendengar diriku,” kesal Dirga membalikkan tubuh Dena paksa.
Dena hanya menatap dingin wajah Dirga yang tampak kesal dengan dirinya.
“Ada apa?” ucap Dena datar merasa tidak ada yang penting untuk dibicarakan.
Dirga menghembuskan nafasnya ke udara.
“Hah, kenapa perempuan seperti dirimu harus masuk kedalam hidupku” ucap Dirga seperti jengah menghadapi Dena saat ini.
“Kau mau kemana?Mau pulang?naik apa? Kita tidak membawa mobil” Tanya Dirga terus-terusan berusaha menahan emosinya. Entah kenapa dia seakan sekarang memahami Dena yang sepertinya sedang malas untuk berdebat dan membahas sesuatu dengannya.
“Naik apa saja” ucap Dena enteng dan kembali berjalan pergi dari hadapan Dirga.
Baru saja dia berjalan kearah halte yang memang kebetulan tidak jauh dari tempatnya saat ini, sudah ada bus yang berhenti didepan dirinya. Dena langsung berjalan masuk kedalam bus itu, Dirga yang melihatnya merasa tidak percaya kalau Dena masuk kedalam bus kumuh menurut dirinya saat ini.
“Mas, Masnya mau masuk tidak?kalau tidak busnya akan berangkat” ucap sang kernet bus melihat Dirga yang masih melongo melihat Dena yang sudah masuk kedalam bus.
“Masuk nggak ya, tapi perempuan itu ada didalam bus. Kalau nggak masuk terus aku pulang dengan apa?” ucap Dirga bimbang.
“Aku masuk saja” final Dirga dan langsung masuk kedalam bus yang ternyata sangat penuh bahkan ada orang yang berdiri juga. Dirga merasa perasaanya menjadi tidak enak sekarang, dia melihat kedalam bus mencari keberadaan Dena. Dan dia langsung menemukan Dena yang duduk di kursi tengah. Dirga langsung menghampiri tempat dimana Dena duduk.
Sementara Dena memperhatikan Dirga yang sepertinya tampak gelisah. Dena melihat itu semua, dimana Dirga yang sedang melihat sekelilingnya dengan was-was.
Mobil bus akhirnya berjalan, membuat Dirga terhuyung karena dia tidak berpegangan. Membuat dirinya terpaksa menabrak seseorang yang berdiri disebelahnya saat ini.
“Maaf-maaf” ucapnya pada orang itu. Dan Dirga memposisikan dirinya normal kembali, tapi tiba-tiba ia langsung memegang mulutnya. Dia merasa mual seketika, entah kenapa ia merasa mual apa mungkin gara-gara naik bus ini.
Dena memperhatikan sikap aneh Dirga yang teru-terusan menutup mulutnya. Dan terpaksa membuat Dena berdiri didepan Dirga.
Saat Dena berdiri tiba-tiba bus mengerem mendadak sehingga membuat Dirga menabrak Dena seketika juga dia langsung memeluk dena agar tidak terjatuh kebelakang menimpa ibu-ibu yang duduk di belakang Dena.
“A..aku tidak kuat, ayo kita turun” ucap Dirga dengan lemah di telinga Dena masih dalam posisi memeluk Dena saat ini.
Dena diam memperhatikan wajah Dirga yang tampak pucat, itu terlihat jelas karena wajah Dirga dan Dena begitu dekat sekali sekarang.
“Salahmu sendiri kenapa kau tadi masuk” ketus Dena dingin melihat Dirga.Dan dia merasa tidak nyaman dengan pelukan mereka saat ini.
Dirga sudah tidak kuat lagi, dia diam saja tidak menjawab atau tidak berdebat dengan Dena, bahkan ia melepaskan pelukannya pada Dena membungkam mulutnya rapat-rapat. Dirinya saat ini ingin muntah,
“ayok, ayok lah kita turun” ucapnya membuka mulut kecil untuk bicara pada Dena.
“Berhenti, berhenti, saya turun disini” ucap Dena lantang agar di dengar oleh supir bus.
__ADS_1
Seketika busnya berhenti, Dan Dena langsung berjalan keluar menyerahkan uangnya terlebih dahulu pada sang kernet bus.
Dirga langsung berlari keluar dari dalam bus menyerobot Dena. Dan diluar dia langsung memuntahkan semua apa yang dia tahan tadi.
Dena yang sudah di luar melihat kearah Dirga yang terus saja muntah.
“Kenapa kau tadi malah naik bus butut itu” ucap Dirga yang selesai muntah langsung berbicara ngegas dengan Dena yang berdiri di belakangnya hanya melihat saja tanpa membantu dirinya yang muntah.
“Itu keinginanku, lantas kenapa?” ucap Dena santai melihat Dirga yang tampak pucat karena muntah barusan.
“Kau memang perempuan menyebalkan” ucap Dirga sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Percuma saja ia berbicara pada Dena pasti jawaban perempuan tersebut akan tetap dingin dan datar sesuai keinginannya.
“Kau sudah tidak apa?” tanya Dena merasa kasihan kalau dipikir-pikir melihat Dirga yang pucat sekarang.
“Apa kau tidak lihat” ucap Dirga dan langsung membalikkan arah lagi karena ia ingin muntah perutnya terasa tidak enak.
Tanpa di duga Dena memegang leher bagian belakang Dirga, ia mengurut leher itu agar Dirga merasa enakkan. Dirga tampak terheran Dena mau melakukan hal tersebut padanya.
“Bagaimana sudah enakan” tanya Dena dengan dingin seperti biasa.
“Hemm”
“Kita disini saja, menunggu temanku yang aku suruh untuk menjemput” ucap Dirga lagi kepada Dena.
“Terserah dirimu,” Dena langsung berjalan kearah trotoar dan duduk disitu. Dirga melihat Dena yang duduk dengan santainya tanpa memperhatikan sekita. Apa perempuan itu tidak malu duduk di pinggir jalan.
“Kenapa kau menatapku” ucap Dena saat melihat Dirga yang hanya menatapnya yang tengah duduk.
“Kau tidak malu dilihat orang duduk di situ” ucap Dirga yang memperhatikan Dena.
“Kenapa harus malu, aku memakai baju” ucap Dena santai dan terkesan cuek.
“Kau juga duduklah, istirahat perutmu pasti terasa tidak enakkan sekarang” Ucap dena lagi kepada Dirga.
“Kau tidak perlu malu duduk di tempat seperti ini. Kita sama saja dengan orang-orang.
Hanya orang yang merasa tinggi saja yang malu duduk di tepi jalan seperti ini. Justru merekalah yang beranggapan seperti itu adalah orang yang rendah” pungkas Dena tanpa ekspresi lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Dirga hanya diam, tapi dia berjalan mendekat kearah Dena dan duduk disebelahnya. Sambil menunggu Samuel yang akan menjemput mereka.
°°°
T.B.C
__ADS_1