
Daniel berjalan di koridor perusahaan kakeknya, dia datang kesini karena harus menemui omnya Jason setelah kemarin dia diajak paksa oleh Agam dan juga Tirta ke panti untuk merayakan ulang tahunnya dan Dena.
Karena Daniel tidak memperhatikan depan, ia sibuk menunduk melihat kearah Hp yang ada digenggaman nya. Sehingga tidak menyadari kalau ada seorang yang berjalan dari arah depannya saat ini. Seorang perempuan yang tampak sibuk menghitung jumlah map di tangannya.
Brakk..
Tabrakan keras tak terhindarkan antara dua orang itu, Hp Daniel terjatuh begitu kuat dan perempuan itu juga terjatuh dengan map yang ia pegang tadi jatuh tercecer di lantai.
Daniel begitu terkejut langsung merasa bersalah karena dia tidak fokus dengan jalan di depnnya. Ia langsung menunduk berniat membantu perempuan yang masih mengambil map yang terjatuh ke lantai.
“Maaf, saya bantu” Daniel mengulurkan tangannya berniat membantu perempuan tersebut yang belum terlihat wajahnya.
Perempuan tersebut langsung mendongak setelah selesai mengambil map dilantai, ia berniat menerima uluran tangan pemuda tersebut. Tapi seketika wajahnya mengeras saat melihat pria didepannya.
Daniel Pun juga, sama mengerasnya wajah dinginnya itu. Dia terkejut dengan perempuan yang tidak sengaja ia tabrak barusan. Tangannya langsung terkepal, wajahnya berubah semakin dingin.
Sementara perempuan tersebut dengan diam, menahan emosi berdiri menatap tidak suka kepada Daniel.
“Kau lagi??”ucap perempuan tersebut.
“Kenapa kau disini?” Tanya Daniel datar, dia emosi melihat perempuan yang membuatnya bertengkar dengan Dena sebulan lalu di showroom mobil.
Benar perempuan itu adalah perempuan yang tidak sengaja menabrak Daniel di showroom mobil waktu itu.
“Dasar pria sombong, apa kau tidak punya mata menabrak ku. Gara-gara kau berkas-berkas kerjaku terjatuh dilantai” ketus perempuan itu menatap Daniel menantang. Dia harus bersikap keras dengan pria yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan sebulan lalu..
Daniel hanya diam menatap perempuan didepannya, tangannya semakin kuat tergenggam dikedua sisinya. Menilai perempuan tersebut dari atas kebawah,
“Siapa namamu?” tanya Daniel dengan dingin.
Perempuan tersebut tertegun, dia menatap pemuda yang ekspresinya sangat dingin itu dengan tak percaya.
“Kenapa kau tanya namaku? Kau suka denganku?” ucap perempuan tersebut terlalu percaya diri, dia mendekap map-map-nya di dada saat Daniel memberikan tatapan mengerikan adanya.
“Ciih, lihat dan tunggu saja apa yang akan kau terima” setelah mengatakan itu Daniel langsung melenggang pergi meninggalkan perempuan tersebut. Untuk apa ia membuang-buang waktu dengan perempuan tidak jelas.
......................
Marco datang ke rumah Doni, dia saat ini duduk bersama Doni dan juga Sisil di ruang tengah keluarga itu.
“Lama tidak bertemu,” pungkas Doni melihat teman lamanya tersebut.
__ADS_1
“Iya, bagaimana kalian berdua” ucap Marco merespon ucapan Doni dan balik bertanya mengenai kabar temannya.
“Baik, kau tidak ada kabar sebulan lebih setelah bercerai dengan Soraya. Kau depresi? Sebegitu cintanya kau dengan dia” sinis Sisil menatap Marco tidak suka.
Doni langsung melihat kearah istrinya dan menyenggol lengan Sisil,
“Kenapa?” ucap Sisil merasa tidak salah dengan ucapannya..
Doni merasa tidak enak dengan Marco atas apa yang diucapkan Sisil tadi, sementara Marco malah tersenyum tipis melihat dua orang yang pernah berteman dekat dengannya dan Monica.
“Bukan karena aku depresi atau karena aku sangat mencintai Soraya. Itu salah besar, aku tidak mencintai Soraya sebegitu besar saat aku mencintai Monica dulu.” tukas Marco seakan membantah tuduhan yang Sisil berikan padanya.
“Aku menghilang sebulanan ini karena merasa bersalah dengan Monica, aku menyesali kebodohan ku serta merenungi diriku dulu yang begitu bodoh telah menyakiti Monica” ucap Marco dengan sangat sesak
“Terlambat..” desis Sisil yang tidak bisa mengontrol kekesalannya. Bagaimana tidak kesal sahabatnya dulu menderita karena Marco.
“Aku tahu aku terlambat, Sil. Tapi aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama kepada anak-anakku, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Daniel dan juga Dena. Selama ini aku sudah kejam sekali dengan mereka” ucap Marco meneteskan air matanya saat mengingat betapa kejamnya dia pada kedua anak kembarnya itu.
“Ya tebus saja, Marco. Kau dekati lah mereka, bicara baik-baik. Bilang kalau kau menyesal, luka seorang anak sedari kecil hingga mereka dewasa pasti susah sembuh apalagi yang jahat terhadap mereka ayah mereka sendiri pasti sulit untuk memaafkan. Meski begitu kamu harus terus berusaha meyakinkan mereka kalau kamu menyesal” pungkas Doni menasehati Marco.
“Iya don, aku sedang berusaha melakukan seperti yang kamu bilang” ucap Marco.
“Oh iya Doni, Sisil . aku minta tolong dengan kalian. Tolong berikan ini pada Dena” ucap Marco mengambil sebuah Album foto berukuran besar dari Paperbag hitam yang dia bawa, ia juga mengambil sebuah gelang silver dari saku bajunya.
“Nanti aku kasih kan ke dia,” Sisil mengambil gelang itu dari tangan Marco.
“Kau tidak ingin menemuinya, dia ada di kamarnya saat ini” ucap Doni pada Marco.
“Tidak, aku takut dia nanti malah akan emosi dan membuat kandungannya kenapa-kenapa. Aku tidak mau cucuku nanti kenapa-kenapa karena diriku” pungkas Marco.
Doni dan Sisil hanya diam, mendengar ucapan pilu dari Marco. Pria itu seakan terlihat sebagai seorang yang menyedihkan sekarang.
.................
Dirga tengah berdiri di balkon kamarnya, ia menikmati hembusan angin sore yang tengah menerpanya saat ini. Dari belakang tiba-tiba saja Dena memeluk Dirga yang tidak melihat kedatangannya.
Dirga langsung melihat sekilas kearah Dena yang tengah memeluknya saat ini, ia memegang tangan istrinya itu yang melingkar diperutnya saat ini.
“ada apa?” ucap Dirga pada Dena.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memelukmu saja” pungkas Dena masih terus memeluk Dirga.
__ADS_1
Dirga langsung membalikkan tubuhnya melihat kearah Dena,
“Anak kita ya yang ingin dipeluk” ucap Dirga memegang perut besar istrinya itu.
“Hemm,.”
“Anak-anak Papa ini manja ya,.sebentar-bentar minta dipeluk sama Papanya” ucap Dirga menekuk lututnya di lantai mensejajarkan tubuhnya dengan perut Dena. Ia berbicara dengan perut itu.
“Manja banget sih kalian sama Papa,.” Ucap Dirga lagi sambil menciumi perut Dena.
“Arkhh geli,” ucap Dena.
Dirga mendongak melihat istrinya tersebut,
“geli ya, maaf.” Dirga segera berdiri.
“Masuk yuk, nggak baik sore-sore begini diluar” ucap dirga mengajak Dena masuk kedalam kamar. Dia merengkuh sang istri menuntunnya masuk kedalam.
“Sayang,..” panggil Dena saat Dirga menuntunnya masuk kedalam kamar.
“Apa?”
“Kamu kemarin memberi Daniel apa? Dia kan ulang tahun juga”
“aku belikan dia mobil baru sebagai hadiah ulang tahunnya” pungkas Dirga mendudukkan perlahan Dena.
“Terimakasih, sudah memberikannya hadiah juga” ucap Dena dengan menangis membuat Dirga tampak terkejut dia bingung kenapa istrinya itu malah menangis.
“Kenapa kamu menangis,” ucap Dirga mengusap air mata Dena.
“Aku hanya terharu saja, kamu baik juga dengan Daniel. Aku sangat menyayangi kembaranku itu, terimakasih.” Ucap dena sambil terisak.
“Hey sayang, kenapa malah semakin deras menangisnya.” Ucap Dirga semakin terkejut melihat Dena yang menangis.
“Aku sedih saja memikirkan Daniel, aku ingat dulu saat aku melakukan apapun demi dia. Tidak terasa sekarang aku dan dia sudah dewasa, dulu dia selalu menangis saat Papa mengabaikan kita. Dan aku yang selalu menenangkan dia, bahkan dia selalu menangis ketika Papa lebih ingat ulang tahun dan sayang kepada Reyhan. Aku bersyukur juga karena Daniel memiliki dua teman yang baik padanya Agam dan Tirta, mereka berdua yang selalu merayakan ulang tahunku dan Daniel di panti mereka berdua terus memaksa kita untuk merayakannya padahal kita berdua tidak pernah ingin merayakan ulang tahun. Bagi kita ulang tahun untuk apa dirayakan kalau orang tua kita saja tidak perduli” mungkin karena Dena sedang dalam hormon kehamilan membuatnya bercerita cukup panjang dengan Dirga dia menangis terisak mengingat masa kecilnya dan Daniel dulu, kembarannya yang sekarang begitu dingin itu dulunya adalah seorang anak yang cengeng.
Makanya dulu ia berusaha untuk kuat, dan tidak goyah untuk Daniel, ia menekan segala rasa sakit yang ia alami demi Daniel. Karena Daniel hanya punya dia, ialah ibu, sekaligus ayah bagi adiknya. Papanya sungguh bukanlah Papa idaman seperti dulu.
“Ayolah sayang jangan menangis begini, nggak baik buat kandungan kamu. Kamu tidak usah sedih lagi, sekarangkan Daniel tidak hanya adik kamu dia adikku. Aku pasti menyayangi dia meskipun dia begitu, dan dia tidak hanya punya dirimu dan diriku saja, ada Mama Papaku, ada Reyhan adiknya yang sayang dengannya, terus ada Papa Marco yang mulai berubah kan” ucap Dirga membawa Dena kedalam pelukannya, ia mengusap punggung istrinya mencoba untuk menenangkannya.
°°°
__ADS_1
T.B.C