
Dena dan Dirga sedang tidur siang, mereka tidur dengan saling berpelukan satu sama lain. Dirga memeluk Dena begitu erat seakan tidak ingin wanita itu pergi darinya.
Mereka sudah tidur berjam-jam, tetapi keduanya juga belum bangun. Mereka tanpa lelah gara-gara kejadian tadi. Kejadian dimana Dena terpeleset di sungai.
Saat tengah nyenyak tidur, padahal jam juga sudah begitu sore saat ini mereka belum bangun tiba-tiba Hp milik Dirga yang berada di atas meja sebelah tempat tidur berbunyi.
Karena suaranya yang cukup keras membuat Dirga terbangun, dengan segera ia mengambil telponnya dengan satu tangannya yang masih menjadi tumpuan Dena tidur.
"Juna," gumam Dirga lirih. Dia melihat Dena sekilas yang masih terlelap.
"Halo Juna, ada apa?" ucap Dirga saat dia sudah mengangkat panggilan dari Juna.
"Aku sudah menemukan bukti kalau Reyhan memang anak Papa mertuamu. Aku apakan bukti ini, ku kirimkan padamu berupa file atau kita bertemu langsung" ucap Juna dari seberang sana.
"Kita bertemu langsung saja tapi tidak sekarang, aku sedang tidak ada di Jakarta. Besok atau tidak lusa temui aku di PRAHA DSJ," pungkas Dirga.
"Kenapa tidak sekarang saja, ayo kita ketemu. Sekalian pergi minum di bar"
"Aku tidak bisa, aku sedang pergi bersama istriku. Kita bertemu besok saja"
"Kemana kau?bulan madu, aku boleh ikut"
"Aku di bogor, untuk apa kau mengganggu saja. Sudah, istriku sedang tidur. Aku matikan" ucap Dirga pada Juna.
"Istrimu sedang tidur, hayo habis ngapain kalian" goda Juna.
"Sudah aku matikan" ucap Dirga dan langsung mematikan panggilannya saat ini. Tanpa menjawab ucapan Juna.
Selesai menelpon, Dirga memperhatikan Dena yang tidur dengan nyenyak. Dia tersenyum melihat istrinya tidur pulas dan dia memeluk Dena kembali dan kembali tidur.
………………
Daniel duduk di ruangan kantornya, dia terdiam dalam pikirannya saat ini. Dia seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Kenapa kau malah mengkhawatirkan dia, ingat dia bukan adikmu dan dia anak dari perempuan yang telah membunuh Mamamu" ucap Daniel duduk di meja kerjanya sambil memukul-mukul kan pulpen di meja. Benar saat ini dia mengkhawatirkan Reyhan, mungkin ini hanya perasaan karena dia merasa berhutang budi.
tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar ruangannya,
"Masuk," tegasnya begitu dingin.
Pintu terbuka, seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Daniel berpenampilan kusut dengan kacamata dan rambut yang ter kepang satu. Dia berjalan dengan gemetaran masuk keruangan Daniel sambil membawa segelas teh di tangannya.
__ADS_1
"I..ini minumnya pak" ucapnya gemetaran menaruh secangkir teh di atas meja. Tanpa di duga secangkir teh itu tumpah di meja Daniel membuat Daniel yang tadinya ia tidak memperhatikan kini dia langsung menatap kearah perempuan itu yang berseragam OG.
"Kau gila, berani sekali kau menumpahkan teh di meja ku" kesal Daniel dan langsung mengangkat tangannya yang terkena tumpahan teh. Tangan itu terasa panas.
"Ma..maaf pak, saya minta maaf" ucap OG tersebut dengan takut dia pun memperhatikan wajah Daniel yang tampak marah dengan takut-takut. Daniel begitu terlihat menakutkan saat sedang marah.
"Keluar kau dari ruangan ku, kau OG baru disini" usir Daniel.
"I..iya pak,"
"Pantas kau ceroboh, dan lihat penampilanmu sangat tidak layak bekerja disini walaupun hanya menjadi OG. Sudah sana keluar" desis Daniel dan membuat perempuan tersebut merasa tertohok hatinya karena ucapan pedas Daniel.
Dia langsung permisi keluar, dan berjalan sedikit cepat sambil memegangi hatinya yang sakit akibat perkataan anak bosnya.
"Menyebalkan" ucap Daniel sinis, sambil mengusap tangannya yang terkena air teh.
°°°°°
Dena sedang ada di dapur yang berada di Vila milik keluarganya ini. Vila berlantai satu tapi cukup begitu besar sekali. Dia sedang memasak untuk makan malamnya. Sebenarnya dia sedikit lemah untu bergerak karena kejadian tadi dimana dia hampir saja tiada. Untung ada Dirga yang menolongnya.
Dirga sendiri saat ini masih tidur nyenyak, Dena terbangun karena menurutnya dia sudah tidur terlalu lama. Dia membuka kulkas melihat adakah sayuran atau sesuatu di dalam kulkas.
Ternyata ada, ada seikat kangkung didalam kulkas, karena hanya ada itu terpaksa ia akan memasaknya. Dena mengambil seikat kangkung tersebut dan membawanya ke pantry untuk ia potongi.
"Kamu sedang apa?" Tanya Dirga yang tiba-tiba saja masuk ke dapur. Dena yang baru saja akan memotongi kangkung melihat kearah Dirga berjalan.
"Aku mau memasak, kamu sudah bangun" ucap Dena dan bertanya pada Dirga.
"Memasak?Memasak apa?" Dirga mengernyit mendengar perkataan Dena.
"Aku akan memasak sayur kangkung," jawab Dena.
"Jangan masak itu ya," ucap Dirga seperti tidak menginginkan.
"Kenapa?" tanya Dena bingung.
"Aku tidak suka, masak yang lain ya" ucap Dirga yang sudah berdiri di sebelah Dena.
"Tidak ada sayuran lain di kulkas, adanya cuman ini" ucap Dena.
Dirga diam, mendekati Dena dan memeluknya dari belakang. Tentu saja Dena terkejut atas aksi yang di lakukan Dirga saat ini.
"Ke..Kenapa memelukku?" ucap Dena grogi.
__ADS_1
"Kenapa?Tidak boleh, aku hanya ingin memeluk saja" ucap Dirga masih terus memeluk Dena.
Dena langsung diam mendengar perkataan Dirga.
"Badanmu sedikit panas, apa kamu demam?" ucap Dirga saat merasakan tubuh Dena yang sedikit panas ketika dia memeluknya.
"Tidak, aku baik-baik saja"
"Kalau kamu tidak mau aku memasak ini, lalu kita akan makan apa?" ucap Dena lagi.
"Kita pergi ke restauran saja sekalian berduan bagaimana?" ucap Dirga.
"Disini jauh, kenapa tidak memasak sendiri saja" tolak Dena.
"Katamu tidak ada sayuran,"
"Kita pergi belanja sayuran"
"Kemana?" Dirga memberi jarak pada Dena melihat perempuan itu.
"Ke pasar" sahut Dena melihat Dirga yang tampak aneh meresponnya.
"Aku tidak mau ke pasar" tolak Dirga melepaskan pelukannya.
"Aku akan pergi sendiri" ucap Dena, dia menghentikan kegiatannya memotong kangkung. Dan dia meninggalkan itu begitu saja,
Dirga hanya memperhatikan Dena yang berjalan menjauh.
Dirga diam, dia berpikir masa iya dirinya harus ke pasar memang tempat ini benar-benar jauh dari kota.
Dirga melihat lagi kearah Dena yang sudah berjalan jauh, bahkan kini tubuhnya menghilang di belokan Vila.
"Aku tidak ingin ke pasar, tapi masa iya aku membiarkan dia pergi sendiri. Kalau ada apa-apa dengan dia, aku yang bisa gila" gumam Dirga.
"Huh, mengesalkan" ucap Dirga menghentakkan kakinya ke lantai.
Dia langsung berjalan berniat menyusul Dena yang sudah tidak terlihat batang hidungnya.
"Cepat sekali perempuan itu jalannya" gerutu Dirga berlari kecil keluar Vila mengejar Dena.
°°°
T.B.C
__ADS_1