
"Kakek sudah aku masukkan ke penjara" Daniel dengan santai berjalan mendekati ketiga orang yang langsung menatapnya tak percaya.
Dia langsung duduk di sofa yang bersebrangan dengan Dirga dan Dena duduk.
"Apa maksudmu Daniel?" Marco menatap anaknya serius.
"Orang tuamu itu sudah aku jebloskan ke penjara, dan itu bukan sepenuhnya diriku yang memasukkannya. Tapi dia sendiri yang menyerahkan diri" pungkas Daniel enteng, dia menyilang kan kakinya.
"Maksudmu, kakek masuk penjara?" tanya Dirga dan Dena bersamaan.
"Ya," jawabnya singkat.
"Daniel, kau tidak bisa begitu dengan orang tua. Kakek mu itu sudah tua, kau tidak kasihan dengannya" Tegas Marco tak percaya dengan putranya tersebut.
"Kenapa Daniel tidak bisa begitu, biarkan saja itu balasan yang pas untuk orang tua seperti dia. Bahkan itu belum seberapa atas penderitaan kita selama ini yang disebabkan olehnya" dingin Dena membela adiknya tak lepas juga sorot mata tajam dia berikan pada sang Papa.
"Aku tidak perlu menjawab, sudah di jawab oleh kembaran ku" Daniel mengangkat tangannya mengarah ke Dena.
Dirga yang berada di situ melihat kedua bersaudara itu secara bergantian.
"Tunggu-tunggu, ini keinginan kalian" ucap Dirga melihat keduanya secara bergantian.
"Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan keluargaku" tegas Daniel tidak suka saat Dirga berkata begitu.
"Ingat, aku kakak ipar mu dan aku sudah menjadi anggota keluarga mu mengerti. Jadi, aku berhak ikut campur" ucap Dirga tak kalah dingin.
"Berhentilah," lirih Dena.
Dirga langsung melihat kearah Dena yang berbicara padanya.
"Baiklah," Dirga menuruti permintaan Dena untuk berhenti bicara. Dia langsung membuang mukanya.
"Kalian berdua menginginkan ini" ucap Marco menegaskan sambil melihat kedua anaknya secara bergantian.
"Ya.." Sahut Dena dan Daniel secara bersamaan.
Marco hanya membuang nafasnya, seakan pasrah dengan keputusan mereka.
"Dan Pa, kau juga harus waspada dan bersiap menerima semua. Aku juga akan menjebloskan istri tersayang mu itu kedalam penjara" sinis Daniel menatap Marco.
"Apa?" ucap Marco terkejut.
"Kau terkejut dengan ucapan Daniel? kau tidak terima pa istrimu itu masuk kedalam sel besi?" Dena menatap Papanya datar.
"Aku rasa kau begitu cinta dengan istrimu itu. Dan penyesalan mu beberapa hari ini sepertinya hanya rekayasa palsu" ucap Daniel pada papanya.
Dena langsung melihat kearah Marco yang menatap Daniel
__ADS_1
"Daniel jaga ucapan mu" Marco seperti tidak terima.
"Aku benarkan" ucap Daniel.
"Kau salah, Papa benar-benar menyesal dengan semua perbuatan Papa pada kalian" terang Marco.
"Kalau memang menyesal, kenapa Papa terkejut dengan ucapan Daniel. Dan kenapa Papa tidak memberikan pelajaran untuk perempuan itu. Dia telah menghancurkan keluarga kita" ucap Dena menatap Papanya dengan penuh rasa penasaran.
Marco hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan dari Dena, dia sendiri bingung harus menjawab apa dari pertanyaan putrinya. Untuk memberi pelajaran pada Soraya jujur dia belum memikirkannya, dia harus bijak dalam bersikap bagaimanapun perempuan itu adalah istrinya dan ibu dari salah satu anaknya.
"Sepertinya tidak akan ada jawaban, Ayo kita pulang saja sayang" sinis Dena langsung berdiri dan mengajak Dirga pergi.
Dirga langsung menatap kearah Dena yang berada di sebelahnya, istrinya itu baru saja memanggilnya sayang. Dengan semangat Dirga juga langsung berdiri dan menggenggam tangan Dena.
"Ayo sayang"
"Adik ipar, Papa, kita pergi dulu ya" seringai bahagia tampak di wajah Dirga.
"Ya silahkan," ucap Marco.
Tanpa bicara lagi Dena langsung pergi dengan tangannya yang tergenggam di tangan Dirga. Dia mengacuhkan Marco begitu saja.
°°°°°
Dena duduk dalam diam di dalam mobil Dirga bersama suaminya itu. Mobil saat ini tengah berhenti di pinggir jalan.
"Sayang turun yok," ajak Dirga pada Dena yang duduk di sebelahnya.
Dena langsung melihat kearah Dirga saat ini.
"Kenapa turun?" ucap Dena seakan enggan untuk sekedar turun dari mobil.
"Nggak Pa-pa, turun aja. Daripada kita di mobil, ngapain coba"
"Kita pulang saja ya, kenapa harus turun di taman ini. Sementara rumah kita ada di depan" ucap Dena melihat Dirga.
"Makanya tadi kamu aku tanyain jangan diam aja, ya udah kita pulang" Dirga kembali menyalakan mesin mobil miliknya.
"Terimakasih" Dena tersenyum melihat Dirga yang mau menurutinya.
Dirga sendiri merasa speechless dengan Dena, karena baru kali ini Dena tersenyum mengatakan terimakasih.
Tiba-tiba saja, Dena menggenggam tangan Dirga. Membuat Dirga semakin terkejut.
"Tumben sayang, kamu genggam tanganku duluan" ucap Dirga memperhatikan Dena.
"Aku hanya ingin saja" sahut Dena memalingkan wajahnya tapi tangannya masih menggenggam tangan Dirga.
__ADS_1
Dirga tersenyum simpul melihat Dena yang bersikap seperti ini padanya.
………………
Setelah mengemudi kurang lebih 10 menit, mobil Dirga berhenti di depan rumahnya.
"Ayo sayang turun" Ajak Dena terlebih dahulu, dia langsung membuka pintu mobil membuat Dirga semakin keheranan saja.
Dirga langsung bergegas turun menyusul Dena yang sudah berada di luar mobil.
Lagi Dena tiba-tiba saja menggelendot di lengan Dirga dengan begitu manjanya.
"Ayo kita masuk," Dirga melihat kearah Dena aneh dengan perubahan sikap Dena yang tadi masih agak dingin dan terlihat menahan kekesalan pada Papanya kenapa sekarang terlihat berbeda.
"Sayang, ayo masuk" Ucap Dena saat Dirga hanya diam melihatnya tanpa menanggapi.
"Aku nggak salah dengarkan ini sayang. Kamu manggil aku sayang dengan sikap manja begini" Dirga mengkerut kan dahinya melihat Dena.
"Nggak" jawab Dena singkat.
Dirga langsung menggandeng tangan Dena, mengajak istrinya itu untuk masuk kedalam rumah. Sambil memikirkan tentang perubahan sikap Dena yang menurutnya sangat aneh hari ini.
"Nanti kita duduk di gazebo ya?" ucap Dena saat dia sambil berjalan masuk kedalam rumah.
"Kenapa ke Gazebo, siang-siang begini" pungkas Dirga.
"Tidak apa, hanya ingin saja, kalau kamu tidak mau ya sudah aku sendiri" ucap Dena dan langsung melepas tangannya dari tangan Dirga. Meninggalkan pria itu sendiri di depan rumah.
"Sayang, kok gitu sih. Kamu marah?" ucap Dirga mengejar Dena yang masuk lebih dulu.
Dirga berlari kecil masuk kedalam rumahnya, dia melewati ruang tamu dan ruang tengah besar tersebut.
Dia berjalan menuju kolam renang menyusul Dena yang sudah berbaring di Gazebo. Dirga yang melihat itu merasa terkejut dengan Dena yang berbaring.
"Sayang, kenapa kamu berbaring di situ?Kamu ngantuk ayo ke kamar" ucap Dirga menarik pelan tangan Dena.
"Kamu kenapa sih, aku ingin disini" ketus Dena melepas kasar tangan Dirga.
Dirga perlahan duduk di samping Dena berbaring.
"Kamu kenapa disini? ini kotor bangun" lagi Dirga menyuruh Dena untuk bangun.
"Aku nggak mau, aku mau tidur disini."Sahut Dena membelakangi Dirga yang duduk di sebelahnya.
"Ya sudah terserah kalau kamu mau disini" Dirga berdiri dan meninggalkan Dena yang tidur di situ.
°°°
__ADS_1
T.B.C