
Dirga dan Dena sudah sampai di tempat pertemuan dengan beberapa rekan bisnis Dirga. Pertemuan itu di adakan di Cafe milik Dirga. Pertemuan semi formal untuk membahas masalah soal properti yang akan Dirga lakukan di wilayah bagian timur Indonesia.
Dirga memang saat ini sedang merambah ke dunia Properti dan dia sedang berdiskusi dengan seseorang yang berasal dari Papua. Karena ia akan membangun sebuah tempat wisata di sekitaran daerah Raja ampat.
Dena duduk juga di situ, dia duduk di sebelah Dirga. Karena pria tersebut yang memaksanya untuk duduk di situ. Sehingga mau tidak mau ia menurutinya.
"Bagaimana Pak Dirga, apa bapak setuju kalau kita membuka tempat Diving juga di sana?" ucap salah seorang perwakilan tersebut.
Mereka tidak hanya tiga orang di sana tetapi 4 orang.
Perwakilan tersebut yang diketahui bernama pak Hans hanya datang sendiri, sementara satunya itu Samuel sebagai tim dari Dirga.
Samuel merupakan sahabat sekaligus orang kepercayaan bagi Dirga dan dia banyak sekali mempercayakan semuanya pada temannya itu. Karena semua bisnisnya kini berasal dari Samuel yang mengajarinya beberapa hal. Dan membantunya merintis bisnis bersama.
Dirga melihat kearah Samuel dulu meminta persetujuan dari pria tersebut.
"Iya in aja" ucap Samuel pada Dirga.
Dirga lalu menatap pak Hans
"Baiklah, saya setuju buat juga sarana lain selain Diving," Dirga menyetujui itu pada akhirnya.
Dena yang duduk disebelah Dirga, yang hanya diam saja sedari tadi mulai merasa bosan. Kenapa juga dia harus menuruti ajakan Dirga, tadi saja dia tidak ada perlawanan. Apa karena dia sudah mulai terbuka dengan Dirga makanya dia mau di ajak.
"Kalau begitu kita sudah sepakat ya pak?" ucap Hans
"Iya sudah, " jawab Dirga dan Samuel secara bersamaan.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya pak," ucap Hans pamit untuk pergi karena mereka sudah mendapat kesepakatan bersama.
"Iya silahkan" ucap Dirga mempersilahkan.
"Dirga, kamu jadikan datang ke pernikahan Rafael?" tanya Samuel saat Hans sudah pergi.
"Jadilah, kalau kamu jadi atau tidak" Dirga balik bertanya.
"Jadilah, tapi aku jemput pacarku dulu. Kamu sama istrimu berangkat duluan saja. Kalau begitu aku juga pergi ya, harus jemput Dita" ucap Samuel dan langsung berdiri dari duduknya saat ini.
"Ya sana.."
"Sampai ketemu di sana oke. Da nyonya dingin" ucap Samuel dan melihat kearah Dena yang tampak cuek saja tidak bicara sama sekali.
Dena tidak menggubris sapaan Samuel dirinya benar-benar suntuk sekarang. Rasanya sudah malas sekali untuk kemana-mana. Dia sedari tadi hanya dicueki saja.
"Ayo,." ucap Dirga berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Aku tidak jadi ikut, aku di sini saja" ucap Dena malas.
Dirga yang tadi sudah berdiri, langsung melihat kearah Dena yang sedang duduk.
"Kau apa-apaan, katanya kau akan ikut sekarang malah mengatakan tidak ikut. Ayok" kesal Dirga menarik tangan Dena agar berdiri.
"Aku sudah tidak mood, kenapa kau selalu memaksa" ketus Dena.
Dirga diam saja, dia menarik Dena berjalan keluar dari Cafe. Mengajak perempuan itu masuk kedalam mobil secara paksa.
"sakit lepas," ucap Dena saat berada di dalam mobil.
"Makanya menurut dengan apa yang ku katakan"
"Sebelum kita berangkat ke acara temanku, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Aku harap kau jawab jujur" Dirga menatap Mata Dena meminta jawaban sejujur-jujurnya.
"Apa?"
"Kau menyukai kakakku? Apa benar yang di katakan Reyhan tadi kalau Dewa tipe idealmu?"
"Kenapa kau bertanya itu padaku, jika iya itu bukan urusanmu"
"Kau lupa tentu urusanku aku suamimu, kau tidak berhak menyukai orang lain selain suamimu sendiri"
"Kau juga lupa kita tidak saling mencintai,."
"Bukannya kita akan berteman, aku harap dengan pertemanan kita bisa menjadi seorang yang saling suka. Karena kita tidak bisa berpisah mengerti"
"Lupakan sukamu pada Dewa, sebelum kau ku buat menyesal menyukai dia" lanjut Dirga.
Dirga langsung menjalankan mobilnya pergi dari depan Cafe. Kini ia akan menuju ke acara pernikahan temannya.
………………
"Ayo turun" ucap Dirga saat mobilnya sudah sampai di sebuah gedung pernikahan.
Dirga turun terlebih dahulu dari dalam mobil, dia menunggu Dena untuk keluar. Namun tiba-tiba dia melihat Samuel dan Juna serta gandengan kedua orang itu.
Dengan cepat dia langsung berjalan cepat untuk membukakan pintu mobil Dena.
"Perempuan itu lama sekali keluarnya" gumam Dirga sambil berjalan.
Dirga membuka pintu mobil,
"Ayo keluar" dia mengulurkan tangannya membantu Dena untuk turun.
__ADS_1
"Jangan menolak saat ku apa-apakan nanti didepan temanku" bisik Dirga ditelinga Dena saat Dena sudah turun dari mobil dan berdiri di sebelahnya.
"Maksudmu?" Dena tidak mengerti apa yang di maksud Dirga barusan.
"Sudah, nanti kau tahu sendiri ayo masuk" Diega langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Dena.
Membuat Dena sedikit tersentak, karena rengkuhan Dirga yang kuat membuat tubuhnya meremang dan ia merasakan sesuatu yang membuatnya berdebar. Benar hatinya saat ini berdebar, membuat Dena melihat ke arah Dirga.
"Kenapa?" tanya Dirga saat Dena melihatnya.
"Tidak" ucap Dena saat tersadar dari sesuatu yang menurutnya salah.
"Ayo masuk" ini sudah kesekian kalinya Dirga mengatakan ayo masuk tapi tidak kunjung masuk juga.
Mereka berdua langsung berjalan masuk menghampiri Samuel dan Juna.
°°°°°
Daniel baru saja turun dari lantai dua rumah Doni, dia melihat Reyhan yang tengah duduk di ruang tengah. Membuat Daniel menahan emosinya, dia harus bisa menahan emosi.
Bisa-bisa dia menghajar bocah itu lagi, kini dia harus bersikap biasa saja. Dan menyelidiki apa benar Reyhan benar anak Papanya. Entah kenapa dia merasa memikirkan ucapan Dirga kemarin soal wajah Reyhan yang sekilas mirip dengannya.
Ternyata Reyhan tidak sendiri dia sedang bersama dengan Dewa yang duduk di disitu mengobrol bersama.
Reyhan melihat Daniel yang juga melihatnya
"Kenapa melihatku, mau memukulku lagi. Pukul lah jika kau memang puas memukuliku" ucap Reyhan pada Daniel.
Daniel hanya melihat Reyhan dingin,
"Daniel ternyata adikmu sudah besar ya?" ucap Dewa pada Daniel.
"Siapa yang kau bilang adik, bocah ini?" ucap Daniel menunjuk Reyhan yang duduk sambil melihatnya.
"Dia bukan adikku, dan kau jangan sok kenal denganku." ucap Daniel dan langsung pergi dari hadapan mereka berdua.
"Kenapa dengan Daniel tidak biasanya dia seperti itu?" tanya Dewa bingung melihat Daniel yang sepertinya sedang emosi.
"Dia memang selalu seperti itu. Wajar dia kembar sama kak Dena mereka aja sifatnya sama" ucap Reyhan.
"Iya aku tahu. Tapi dia biasanya bersikap biasa padaku. tadi dia tidak seperti itu terdengar dingin"
"Sudah tidak usah memikirkan dia kak, Kak Daniel memang menyebalkan dan mengerikan" tukas Reyhan.
°°°
__ADS_1
T.B.C
Maaf banget buat kakak" hari ini gak dapet feel lagi jadi mungkin ceritanya kurang seru. Sekali lagi maaf ya🙏