Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 59


__ADS_3

Daniel duduk di tepi ranjang kakaknya melihat Dena yang seperti tidak menghiraukan dirinya.


"Kenapa kau bisa begini kak?" tanya Daniel melihat Dena yang tampak berusaha menyembunyikan sesuatu.


"Kan aku tadi sudah bilang, aku kenapa?" tegas Dena.


"Kau berbohong padaku kan? aku mengenal dirimu, kau lupa kalau kita kembar. Bilang, apa suamimu yang membuat dirimu seperti ini?" ucap Daniel menaruh curiga pada Dirga.


"Jangan menyalahkannya, dia tidak tahu apa-apa." ucap Dena sedikit membela Dirga.


"Jangan menutupinya dariku, kau sudah menutupi masalah besar dan sekarang kau ingin menutupi hal seperti ini, atau jangan-jangan dirimu ingin melakukan bunuh diri." ucap Daniel dan diakhir kalimat dia melihat Dena pilu.


"Kalau kau memang ingin melakukannya, lakukan bersama denganku. Kau jangan lupa dengan diriku, aku hanya punya kau. Kau tidak ada, aku juga tidak ada mengerti kak" lanjut Daniel menatap kakaknya serius.


Dena langsung menatap Daniel, tak percaya kalau kembarannya akan memiliki pemikiran seperti itu. Pemikiran yang menjurus pada sebuah ketergantungan padanya.


"Kau jangan bicara seperti itu," ucap Dena memegang tangan Daniel.


"Kenapa?Memang kenyataannya aku hanya punya dirimu. Dua orang yang ku percaya ternyata tak sebaik yang ku pikirkan, malah mereka yang menjadikan awal penderitaan untuk kita. Kau harus janji padaku kalau kau tidak akan menyelakai dirimu sendiri" ucap Daniel penuh kesedihan di setiap katanya.


Dena hanya diam langsung memeluk Daniel, Mereka berdua saling memeluk penuh pilu. Selama ini mereka berdua selalu menguatkan diri mencoba bertahan dalam keadaan yang mereka alami.


Dirga yang sedari tadi di luar melihat kedua adik kakak itu merasa ikut larut di dalamnya.


"Mereka berarti selama ini cukup menderita?" gumamnya sambil sesekali melihat Daniel dan Dena.


Karena hal itu, Dirga mengurungkan niatnya lagi untuk masuk kedalam kamar. Dia tidak ingin mengganggu adik kakak tersebut. Dirga kembali berjalan menuruni tangga meninggalkan kamarnya.


………………


Reyhan baru saja masuk kedalam rumah Dirga dan di saat bersamaan dia langsung melihat Dirga yang berjalan untuk duduk di ruang tengah.


Dengan cepat dia berjalan menuju Dirga, berdiri tepat di depan Dirga saat ini. Tentu saja itu membuat Dirga bingung apalagi Reyhan saat ini menatapnya dingin.


"Ada apa?" ketus Dirga mendongak menatap Reyhan.


"Kau bawa kakakku kemana saja, kau celakai dia ya?" ucap Reyhan asal tuduh dia melipat kedua tangannya di dada.


"Kalian berdua memang kakak adik kandung, bahkan tuduhan kalian yang diberikan padaku sama. Kenapa kau dan Daniel menuduh mencelakai Dena, aku tidak gila sehingga membuat diriku mencelakai istriku sendiri" Sinis Dirga menatap Reyhan tidak suka.


"Siapa tahu, kalian kan menikah tanpa cinta. Apalagi dirimu, mirip sekali dengan Papa?" ucap Reyhan mencebikkan bibirnya melihat Dirga.


"Jangan pernah samakan diriku dengan Papa kalian yang menurutku bajingan itu, aku tidak sejahat itu mengerti" Dirga mencoba untuk menahan emosinya saat ini.


"Terserahlah, yang penting kakakku tidak jatuh cinta padamu. Dimana kakakku sekarang?"


"Kata siapa kakakmu tidak jatuh cinta padaku, dia sudah jatuh cinta padaku mengerti. Bocah ingusan sepertimu jangan sok tahu, urusi saja kuliahmu atau apa yang terjadi di keluargamu"


Reyhan tidak memperdulikan ucapan Dirga, dia langsung berjalan pergi sebelum pergi ia menghentakkan kakinya di depan Dirga dan bergegas pergi dari hadapan kakak iparnya. Berjalan menaiki tangga dan ingin menemui kakaknya yang kemungkinan berada di dalam kamarnya.


"Mimpi apa diriku bisa memiliki istri dan adik-adik ipar seperti mereka" gumam Dirga saat melihat Reyhan yang sudah berjalan pergi.


………………

__ADS_1


"Kak Dena, kak Dena" ucap Reyhan heboh saat membuka pintu kamar kakaknya. Di sana dia melihat kedua kakaknya yang sedang berpelukkan langsung melihat kearah dirinya saat ini.


"Begitu, saling berpelukan tidak mengajak diriku" desis Reyhan melihat Daniel dan Dena.


"Kenapa kau tidak punya sopan santun?Oh iya aku lupa, ibumu saja tidak memilikinya. Jadi, tentu saja kau pun tidak memilikinya juga" ucap Daniel sinis, dia langsung berdiri menatap Reyhan tidak suka.


"Daniel,." tegur Dena pada kembarannya.


Reyhan hanya tersenyum sinis melihat kakaknya,


"Wow, aku melihat seorang Marco disini. Tapi, aku tidak perduli" ucap Reyhan enteng dia bukannya takut dengan tatapan Daniel. Ia malah semakin mendekat kearah Dena dan duduk di tepi ranjang kakaknya.


"Kamu kenapa kak? kenapa kamu seperti ini?" ucap Reyhan penuh khawatir pada Dena.


"Aku tidak apa-apa," ucap Dena.


"Bohong, kamu sedari kemarin tidak di rumah sekarang pulang-pulang begini. Kamu diapakan suamimu?" ucap Reyhan memperhatikan Dena yang tampak terluka di kepala dan juga kakinya.


"Aku tidak diapa-apakan dia Reyhan. Dia yang merawat ku malahan" ucap Dena.


Reyhan langsung diam, begitu juga Daniel yang langsung melihat kearah Dena. Tadi kakaknya itu tidak bilang kalau Daniel yang merawat, tapi kenapa dia malah bilang pada Reyhan.


"Baguslah kalau dia tidak membuatmu kenapa-kenapa" ucap Reyhan lega.


"Kak, besok kamu bisa datang tidak di acara konferensi pers diriku" lirih Reyhan penuh harap.


"Konferensi pers? kenapa kau melakukan konferensi pers?" heran Dena melihat Reyhan.


"Bukan diriku sih tapi, Brand permodelan yang melakukannya. Aku akan diperkenalkan sebagai model baru mereka, kamu masih ingatkan yang ku ceritakan waktu itu kalau aku bekerja menjadi model" jelas Reyhan.


"Kau tidak lihat Dena sedang cedera seperti itu" sinis Daniel melihat Reyhan.


"Aku tidak bicara padamu," sahut Reyhan.


"Gimana kak?Aku ingin orang terdekatku menontonnya" ucap Reyhan pada Dena.


"Suruh saja Mama sama Papamu itu" ketus Daniel yang menyahut.


"Ya besok aku datang melihatmu" ucap Dena pada akhirnya setelah dia sempat diam.


"Yes, kakak kesayangan gue akhirnya mau datang juga. Kak Daniel, kalau kau mau datang aku mengundangmu" ucap Reyhan memeluk Dena dan langsung beralih menatap Daniel yang berdiri menatapnya.


"Aku tidak mau, untuk apa aku datang ke sana. Membuang-buang waktuku. Aku pulang,." ucap Daniel dan langsung pergi keluar dari kamar Dena.


"Kak, kalian kan kembar. Hampir mirip juga sifatnya tapi kenapa dia lebih mengerikan ya. Dan kak, aku bisa jamin dia lebih mengerikan dari Papa. Untung kak Dena cewek ya, kalau cowok seperti kak Daniel, aku gak bakal mau bicara sama kalian berdua" ucap Reyhan hati-hati saat Daniel sudah berjalan pergi.


Dena hanya tersenyum kecil melihat Reyhan yang bicara seperti itu. Dia memang saat ini sudah sedikit dekat dengan Reyhan walaupun ia masih bersikap biasa saja dengan adik yang berbeda ibu dengannya itu. Bagaimanapun juga Reyhan adiknya, dan dia tidak bisa menghilangkan fakta itu.


"Reyhan, kamu bisa keluar sebentar. Aku saat ini sedang butuh istirahat" ucap Dena lirih.


Reyhan melihat kakaknya itu,


"Kamu lelah ya kak, kalau memang lelah baiklah aku keluar dulu. Besok kalau dirimu memang masih sakit tidak datang juga tidak apa" ucap Reyhan dan langsung berdiri.

__ADS_1


"Bakal aku usahakan" ucap Dena.


Reyhan lalu berjalan keluar sambil tersenyum kecil pada Dena, dia berharap kakaknya itu bisa hadir. Karena hanya Dena yang bisa mendukungnya. Ketika esok saat dia di umumkan menjadi model melalui televisi pasti kedua orang tuanya bakal mengetahui kalau dirinya sudah kembali ke Indonesia. Dan disitu dia butuh dukungan dari Dena.


………………


Dirga masuk kedalam kamarnya, saat ini sudah siang dan waktunya untuk makan siang. Dia datang membawakan makanan untuk Dena.


Dena sendiri saat ini sedang tidur di tempat tidur Dirga.


Dirga menaruh piring yang berisi makanan itu di nakas meja terlebih dahulu dan dia langsung duduk disebelah Dena yang tidur.


"Dena bangun," ucap Dirga lembut memegang lengan Dena.


Dena langsung terbangun, karena memang tidurnya tida terlalu nyenyak saat ini.


"Emm," ucapnya membuka mata melihat Dirga yang sudah duduk di depannya.


"Bangun dulu makan siang, kau belum makan dari pagi kan?" Dirga langsung mengambil piring yang berada di nakas.


Dena duduk melihat Dirga yang sigap akan menyuapinya.


"Aku bisa makan sendiri" tolak Dena akan mengambil piring yang di bawa Dirga.


"Sudahlah kau diam saja, cepat makan" ucap Dirga hendak menyuapi Dena.


Dena hanya menatap Dirga saja,


"Buka mulutmu," Dirga masih bersih keras akan menyuapi Dena.


Akhirnya Dena mau membuka mulutnya,


"Bagus, kau harus makan."


"Jangan besok-besok jangan bersikap baik seperti ini padaku"


"Kenapa?Kau istriku jadi aku harus bersikap baik padamu."


Dena diam saat Dirga menyebut "Istriku" kesekian kali hatinya berdegup kencang lagi karena ucapan Dirga barusan.


"Besok ikut denganku" ucap Dirga pada Dena.


"Kemana?"


"Aku akan menghadiri acara di salah satu perusahan Fashion ku"


"Kenapa harus mengajakku"


"Kau lupa, kau sudah jadi istriku dan mereka perlu tahu dirimu. Sudahlah tidak usah banyak bicara, tinggal ikut saja" ucap Dirga dan menyuapkan kembali sesendok nasi kedalam mulut Dena.


Dena menerimanya begitu saja, dia hanya diam memperhatikan Dirga yang menyuapi dirinya dengan tulus.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2