
Dena mendorong troli belanjaan dengan ditemani Dena. Saat ini mereka sedang membeli kebutuhan bayi mereka nanti. Karena kemarin waktu di Australia mereka tidak jadi membeli perlengkapan bayi. Alhasil saat inilah mereka membeli semua perlengkapan bayi.
“Apalagi sayang yang harus dibeli?” tanya Dirga pada Dena yang berdiri di sampingnya.
Dena melihat troli belanjaan saat ini yang penuh dengan baju-baju bayi dan perlengkapan lainnya.
“Sepertinya tidak ada lagi, kita tinggal beli perlengkapan yang lain nanti kalau sudah lahir” ucapnya.
“Ya sudah kalau memang tidak ada yang dibeli lagi, kita mau pulang atau jalan-jalan dulu?” Dirga memperhatikan istrinya tersebut.
“Aku pengen makan eskrim sama makan Wafle.” Ucap Dena.
“Kamu pengen makan itu, oke ayo kita cus buat beli. Tapi bayar ini dulu” ucap Dirga mengambil alih troli belanjaan dari Dena.
“Biar aku saja yang mendorongnya, Gibran dan Gian pasti marah denganku karena membiarkan Mamanya mendorong troli” ucap Dirga sambil tersenyum.
“Hemm, kamu bisa saja” ucap Dena.
“Ayo,” Dirga memegang tangan Dena, menggandengnya dan satu tangannya ia gunakan untuk mendorong troli.
“Aku tidak sabar menunggu mereka lahir tahu sayang, bagaimana menggemaskannya nanti keluarga kecil kita dengan anak kembar” ucap Dirga lagi sambil tersenyum berjalan membayangkan dua anaknya yang menggemaskan.
“Sabar, masih dua bulan lagi mereka keluar. Arkkh” ucap Dena dan diakhiri rintihan.
Mendengar itu membuat langkah Dirga berhenti, dia langsung menatap istrinya khawatir.
“Ada apa? Apa perutmu sakit?” ucap Dirga terdengar khawatir.
“Sedikit tendangan diperut ku, tapi tidak apa?” pungkas Dena memegangi perutnya yang kini sedikit bergerak. Mungkin anak anaknya sedang mengobrol didalam perutnya atau apa.
“Kita tidak jadi ke Cafe untuk beli eskrim ya. Kita pulang saja” pungkas Dirga.
“Kok gitu, aku ingin eskrim”
“Tidak, perutmu sakit begitu, kita pulang kamu istirahat”
“Aku kan sudah bilang, aku tidak apa-apa” pungkas Dena.
“Nggak sayang, kamu harus pulang istirahat” Dirga masih kukuh
Dena langsung terdiam,
“Terserah dirimu saja,” Dena melepaskan tangan Dirga yang menggenggam tangannya berjalan duluan meninggalkan Dirga dan juga belanjaannya.
“Marah sana, aku tidak perduli. Kamu kalau tidak di tegasi tetap saja” pungkas Dirga dengan meninggikan suaranya. Dia langsung mendorong troli itu sendiri mengikuti istrinya yang jalan lebih dulu.
................
__ADS_1
“Kak, tidak seharusnya tadi kamu asal pecat orang,” ucap Reyhan pada Dirga yang duduk di sampingnya saat ini. Mereka berdua sedang ada didalam mobil entah mereka akan menuju ke mana.
Daniel langsung melihat kearah reyhan,
“Kamu mau menentang ku?” ucap daniel tajam.
“Bukan begitu,.kasihan saja dengannya kak. Dia juga tidak ada salah denganmu?” ucap reyhan sesekali menatap kakaknya.
“Kata siapa dia tidak ada salah denganku, dua kali eh bukan tiga kali dia menabrak ku. Dan waktu pertama dulu ia menabrak ku gara-gara dia Dena marah denganku mengerti bukan itu saja. Gara-gara dia Dena hampir celaka, aku tidak bisa bayangkan kalau Dena dan anaknya waktu itu tertabrak oleh ku gara-gara perempuan tidak ada sopan satun. Habis menabrak orang tidak ada rasa menyesal atau minta maaf” jelas Daniel menatap Reyhan.
Reyhan langsung terdiam, percuma saja dia berdebat dengan Daniel pasti tidak akan ada ujungnya saat i.
“Tidak usah dibahas lagi, aku bakal kalah denganmu. Sekarang kita mau kemana?” ucapnya melihat sang kakak.
“Antar kan aku ke rumahku dulu” ucap Daniel pada reyhan.
“Kau tidak ada niatan menemui kak Dena, apa kau akan kembali ke Australia sekarang”
“Bisa tidak kau tidak usah banyak bicara, kau persis sekali dengan mamamu yang perempuan ular itu terlalu banyak bicara” kesal Daniel berbicara dengan tajamnya.
Sekali lagi Reyhan hanya bisa terdiam mendengar perkataan Daniel barusan,
Daniel melihat sekilas kearah Reyhan yang sedang fokus menyetir, setelah ucapannya tadi pria itu langsung diam saja. Ada rasa bersalah dalam hatinya saat ini tidak seharusnya dia berkata begitu dengan Reyhan.
“aku minta maaf,” ucapnya dengan ragu.
Reyhan melihat kakaknya itu sekilas,
“aku minta maaf karena telah menyinggung Mamamu” pungkas Daniel.
“Aku tidak apa, kau tidak perlu merasa bersalah” pungkas Reyhan.
“Ini kita mau ke rumahmu yang dulu, atau langsung ke bandara” ucap Reyhan lagi melihat kakaknya itu.
“Ke bandara saja, aku akan langsung ke Australia” ucap Daniel meminta Reyhan untuk langsung ke bandara.
“Baiklah, jika itu keinginanmu” Reyhan menuruti saja apa kata kakaknya itu.
Suasana didalam mobil saat ini kembali sunyi seperti tadi tidak ada pembicaraan sama sekali diantara kedua orang itu saat ini.
.....................
Dena duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya, dia memegangi perutnya saat ini yang terasa sakit. Tendangan-tendangan terasa diperutnya sebenarnya ada apa dengan bayi-bayinya saat ini kenapa terus menendang didalam perut.
Dena menahan rintihan itu agar tidak terdengar oleh Dirga yang duduk di sofa menonton tv. Mereka sedari pulang dari mal tadi hanya saling diam tidak berbicara satu sama lain.
Walaupun Dirga sibuk menonton tv, tapi pandangannya beberapa kali tidak pernah lepas dari istrinya itu dia merasa heran sepertinya kondisi Dena saat ini terasa tidak nyaman. Daripada dia terus bertanya-tanya di sofa saat ini lebih baik ia bertanya langsung dengan istrinya itu. Ia mengalah saja dulu untuk bertanya, istrinya lebih penting dari egonya saat ini.
__ADS_1
“Kamu kenapa?” ucap Dirga berjalan mendekat kearah Dena.
“Aku tidak apa-apa” ucap dena berbohong
“Jangan bohong, kamu kenapa?”
“ ak..” Dena langsung menggigit bibirnya menahan sakit.
“kamu sakit, perut kamu sakit?” Dirga langsung duduk di sebelah Dena saat ini.
“Iya, perutku sakit” ucap Dena akhirnya, ia tidak bisa berbohong lagi memang kenyataan perutnya sakit saat ini.
“Anak-anak Papa kenapa sih, kok buat perut Mama sakit” ucap Dirga mengusap perut Dena lembut.
Dena langsung terdiam, rasa sakit diperutnya saat ini sudah tidak terasa lagi. Sungguh aneh, kenapa dia merasa sakit lagi diperutnya. Apa karena anaknya ingin di usap oleh Papanya. Tapi kenapa begini, padahal biasanya melalui dirinya yang menginginkan diusap. Kok sekarang anak-anaknya meminta langsung dengan menendang perutnya.
“Perutmu masih sakit?” tanya Dirga memperhatikan dena yang diam.
“Tidak,” jawab Dena singkat.
Dirga langsung tersenyum dia masih mengusap perut istrinya itu.
“Ini tandanya kamu disuruh nurut sama aku. Anak kita tidak mau kamu berdebat denganku terus” ucap dirga menatap dena yang menatapnya.
“Konyol” sinis dena.
“Kamu tidak percaya dengan ucapan ku?”
“Tidak, untuk apa percaya denganmu. Kamu bukan tuhan”
“Ya memang aku bukan tuhan, aku manusia biasa”
“Lalu kenapa aku harus percaya padamu,” ucap dena tidak mau berhenti berdebat.
“Arkkh,.” Lagi Dena mengerang sakit lagi pada perutnya.
“Kenapa? Sakit lagi?”
“Ya,.”
Senyum di bibir Bara semakin lebar, benarkan kata-katanya. Anaknya ini tidak mau melihat kedua orang tuanya berdebat.
“Lihat, anak-anak kita tidak mau kamu mendebat ku atau kita berdebat” ucap Dirga.
Dena hanya diam saja tidak menjawabnya, sepertinya memang benar perutnya saat ini tidak sakit lagi seperti tadi.
“Sudah kamu istirahat, habis ini mandi” ucap Dirga tidak berhenti mengusap perut Dena.
__ADS_1
°°°
T.B.C