Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 15


__ADS_3

Dinginnya pagi ini, membuat Dena terbangun dari tidurnya karena ia merasa kedinginan karena Ac kamar yang begitu dingin. Saat ia membuka matanya ia merasa aneh dengan posisinya saat ini dimana dia sekarang sedang tidur di atas kasur bukannya kemarin malam ia tidur di sofa.


Dena melihat kearah Sofa di sana Dirga sedang tertidur, Dena sendiri merasa bingung kenapa justru Dirga yang tidur di sana bukan dirinya.


Sudahlah untuk apa memperdulikan itu, ia sekarang harus mematikan AC nya agar ia tidak mati kedinginan.


Dena melihat sekitar kamar mencari remot AC dan dia melihatnya benda tersebut berada di atas Tv lalu ia segera mengambil remot itu dan mematikan AC nya. Lalu Dena kembali ke kasur hendak tidur kembali tetapi sekilas matanya melihat ke arah jam dinding di ruangan tersebut. Sudah jam setengah enam pagi ternyata, ia kira sekarang masih malam. Karena kamarnya gelap sekali,.Dena berjalan menuju jendela besar kamar itu membuka tirai yang menutupinya dan benar saja matahari sudah mulai terbit sekarang.


Itu semua terlihat jelas dari kamar Dirga yang berada di lantai dua ini, lalu Dena membuka tirai itu sedikit dan dia melangkah menuju balkon kamar tersebut. Dena duduk di balkon kamar Dirga melihat indahnya sunrise di pagi hari, ia merasa sekarang badannya juga sudah mendingan dari pada kemarin. Apa karena obat yang diberikan dokter semalam, benar semalam sempat ada dokter yang memeriksanya samar-samar ia ingat itu, dan dia juga mengingat Dirga lah yang membantunya untuk minum obat. Tapi setelah itu ia tidak ingat lagi.


Cukup lama Dena duduk situ hingga matahari benar-benar sudah naik. Lalu ia segera masuk kedalam kamar kembali.


"Sedang apa kau di situ?Nanti kau sakit lagi aku yang repot" ketus Dirga dengan suara serak khas bangun tidur saat Dena hendak masuk kedalam kamarnya.


Dena tidak perduli dengan perkataan Dirga dia langsung melenggang pergi hendak keluar kamar. Tapi Dirga mencekal tangannya.


"Kenapa?" ucap Dena datar.


"Aku mau tanya padamu, kemarin kau darimana?dan bagaimana kau memberikan alasan untuk mama kemarin"


"Bukan urusanmu aku kemana," Dena melepaskan tangan Dirga.


"Ya aku tahu ini bukan urusanku, aku juga tidak sudi mengetahui urusanmu. Aku hanya ingin tahu saja apa alasan yang kau berikan pada Mama kemarin,"


"Kau tidak perlu tahu, dan kau tidak usah tahu urusanku" Dena masih terus bicara ketus terhadap Dirga. Membuat Dirga emosi.


"Ya ya ya, Jangan terlalu percaya diri hei perempuan matre aku bertanya begitu karena aku berharap alasan yang kau berikan pada mama sama dengan apa yang aku berikan, agar mama tidak curiga"


"Aku tidak perduli dengan urusanmu, Aku pun ingin kita mengurusi urusan masing-masing tidak saling perduli masing-masing oke" lanjut Dirga menatap tidak suka kearah Dena.


Dena tidak menjawab semua itu, ia merasa tidak perduli dengan apa yang di katakan Dirga. Ia langsung pergi saja keluar kamar, malas untuk berbicara dengan Pria yang menurutnya begitu arogan.


………………


Dena turun kebawah lebih tepatnya ia ke dapur untuk membantu siapapun yang ada di sana. Walaupun ia tidak menginginkan pernikahan ini, tetapi di sini dia adalah sebagai menantu di rumah ini jadi dia tidak patut untuk berdiam diri saja.


Saat ini dia juga tidak ada kegiatan jadi daripada tidak melakukan apapun lebih baik ia pergi ke dapur membantu memasak atau apa.


"Eh Dena kok sudah bangun nak" ucap Sisil saat Dena berjalan kearahnya yang sedang mengiris bawang.


"Sudah Ma" ucap Dena


"Kamu tidur lagi saja sayang, kamu kan sedang sakit" ucap Sisil lembut penuh kasih sayang.


"Tidak ma, aku sudah enak badan kok. Aku ingin membantu mama dan..." ucap Dena terhenti karena dia bingung harus memanggil perempuan paruh baya yang berada di sebelah Sisil.

__ADS_1


"Panggil aku mbok pinem non, atau mbok nem" ucap perempuan paruh baya itu yang lebih tua dari Sisil.


"Dia Mbok pinem Dena, dia dulu yang ngerawat Dewa sama Dirga waktu mama sama Papa sibuk" ucap Sisil menjelaskan siapa Mbok Pinem kepada Dena.


"Oh gitu ya ma, salam kenal ya mbok, aku Dena" ucap Dena sopa sambil mengambil tangan mbok pinem mencium tangan itu.


"Eh, eh non Dena. tangan simbok kotor loh"


"Nggak pa-pa mbok"


"Aku bantu ya Ma, Mbok" tambah Dena lagi, lalu mengambil alih pisau yang ada di tangan Sisil.


"Ya sudah, kalau kamu mau bantu. Mama bisa apalagi kalau kamu nya bersikeras" ucap Sisil menyerahkan pisau itu pada Dena.


"Kamu mirip mama kamu ya, Dulu mama pernah ngekos sama Mama kamu terus mama kamu bersikeras mau masak begini gantiin Mama" ucap Sisil dengan raut sedih saat mengingat Monica sahabatnya dulu.


"Masa Ma, Memang Mama ku tuh seperti apa?" ucap Dena penasaran. Karena dia sedikit tidak ingat wajah ibunya karena ibunya meninggal saat dia masih kecil dan seterusnya ia di urus Bijah beberapa tahun lalu di ambil Paksa oleh Papanya yang katanya mau mengurusnya dan Daniel nyatanya ia hanya memanfaatkannya saja.


"Mama kamu ya," ucap Sisil sambil mengingat sosok Monica dulu.


"Ma..Mama Dasi ku dimana?" teriak Dirga dari ruang tengah.


"Apa sih Dirga, apa? kok teriak-teriak begitu" ucap Sisil menghampiri putranya.


"Mama taru di laci dalam lemari, mama lipat taruh situ" ucap Sisil.


"Nggak ada ma,"


"Ada, lah mama sendiri yang naruh"


"Ish nggak ada loh mah" Dirga merasa sudah mencarinya tapi tidak ada juga.


"Den, Dena sini nak" panggil Sisil pada Dena yang sedang ada di dapur.


"Iya ma, kenapa?" tanya Dena melihat mertuanya. Disitu ternyata juga ada Dirga yang berdiri di depan mertuanya. Dena melihat Dirga yang sudah rapi menggunakan kemeja putih serta celana bahan hitam tak lupa juga vest berwarna abu-abu yang sudah ia kenakan. Hanya saja satu yang kurang yaitu dasi. Itulah yang sedari tadi pria itu cari.


"Dena tolong kamu bantu Dirga mencari dasi di lemarinya ya, Mama soalnya harus buatin sarapan buat Papa sama Dewa yang mau berangkat ke kantor." pinta Sisil menantunya itu.


"Ma kenapa jadi dia, aku kan tanya mama. Seharusnya Mama yang cariin aku dasinya dong" protes Dirga.


"Kamu tidak dengar mama tadi bilang apa, biar Dena saja yang membantumu mencarinya"


"Dena, kamu bantu Dirga ya, mama ke dapur dulu" ucap Sisil menepuk bahu Dena pelan lalu ia pergi meninggalkan dua orang itu yang saling diam.


"Ayok buruan" ucap Dirga terpaksa, dia langsung pergi berjalan mendahului Dena yang mengikuti di belakangnya saat ini.

__ADS_1


………………


"Dasi yang seperti apa yang kau cari?" tanya Dena datar.


"Ya dasi, cari aja. Dan cari yang cocok"


"Aneh" gumam Dena.


"Kau bilang apa?" kesal Dirga karena dia mendengar apa yang Dena dengar.


Dena hanya diam, membuka lemari pakaian Dirga mencari dasi yang sesuai.


Setelah mencari beberapa menit ia menemukan dasi yang menurutnya pas kalau di perpadukan dengan penampilan Dirga saat ini.


Dena mengambil dasi hitam dengan corak bintik-bintik putih kecil di dasi itu.


"Ini.." ucap Dena menyerahkan dasi itu kepada Dirga.


"Mau kemana?" tanya Dirga pada Dena yang akan berjalan pergi.


"Mau kembali ke dapur, kenapa?"


"Pasangkan dasinya untukku" suruh Dirga. Bukan karena Dirga ingin modus atau apa tetapi karena dia tidak bisa memasang Dasi karena selama ini kalau ia berpakaian seperti ini menggunakan Vest ia selalu memakai dasi dan yang memasangkannya yaitu Mamanya. Bisa di bilang Dirga adalah anak Mama.


"Kau bercanda?" ucap Dena.


"Jangan sok jual mahal, cepat pasangkan. Aku terpaksa menyuruhmu yang memasangkannya, biasanya mama yang akan memasangkannya untukku"


Dena menatap heran Dirga, seorang pengusaha ulung tidak bisa memasang dasi.


"Sini.." Dena mengambil paksa dasi yang ada di tangan Dirga lalu ia mendekati pria itu yang hanya berdiri saja.


Dena memasangkan dasi untuk Dirga saat dia tidak sengaja menarik dasi itu sedikit keras sehingga membuat wajah Dirga begitu dekat dengan wajahnya.


Untuk pertama kalinya Dirga melihat seksama wajah dena seperti ini, perempuan itu ternyata begitu cantik sekali membuat hatinya tanpa sadar berdebar saat melihat manik mata indah di depannya dengan bulu mata yang lentik. Ia tidak menampik kecantikan Dena,


"Dirga sadarlah" batin Dirga menepis apa yang ia pikirkan. Lalu ia mengalihkan wajahnya kearah lain.


Dena sendiri merasa canggung karena wajah mereka tadi yang begitu dekat membuat dirinya dengan cepat-cepat memasangkan dasi Dirga. Setelah selesai, dan memasang penjepit dasi di dasi tersebut Dena segera pergi.


"Sudah, " ucapnya lalu pergi dari kamar Dirga membiarkan pria itu yang menatapnya.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2