Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 22


__ADS_3

@Kediaman Sharman.


Rumah besar yang hening akan suara-suara, terdapat tiga orang dewasa yang sekarang sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan keheningan semata hanya dentingan sendok yang saling beradu. Daniel menyuapkan makanannya kedalam mulut sambil sesekali pandangannya tak lepas dari dua orang di depannya yang tengah menikmati makanan mereka.


Daniel seperti akan berkata tetapi, dia masih terasa ragu untuk mengungkapkannya.


"Pa,.." panggilnya pada sang Papa akhirnya.


Marco yang sedang makan langsung menatap putranya tak hanya Marco saja yang melihat kearah Daniel tetapi Soraya juga melihat kearah Daniel penasaran.


"Ada apa?" sahut Marco memperhatikan Daniel.


"Aku ingin masuk ke perusahaan Papa" Daniel mencoba memberanikan dirinya untuk mengatakan semua itu.


"APA!!?" kaget Soraya melihat Daniel dan sekilas melihat kearah suaminya berharap suaminya itu tidak mengijinkannya.


"Kamu serius dengan apa yang kamu katakan?" Marco menatap wajah Daniel menelisik apakah yang dikatakan putranya memang benar keinginannya.


"Aku serius, bukannya ini keinginanmu" ucap Daniel datar. Tidak memperdulikan tatapan Soraya yang menatap tidak suka kearahnya.


"Baiklah, jika itu mau mu. Kamu mulai lah bekerja hari ini, datang ke kantor dan aku akan mengenalkan mu kepada seluruh karyawan" ucap Marco, lalu ia melanjutkan makannya tidak perduli dengan tatapan istrinya yang menatapnya tidak terima.


"Honey,.." ucapnya kesal karena suaminya seperti tidak menghargai dirinya.


"Aku sudah selesai makan, kalian berdua berbicaralah dengan bebas. Pasti ada yang tidak terima dengan ini" Sindir Daniel, dia langsung memundurkan kursinya menatap Soraya ibu tirinya.


Benar saja saat Daniel sudah pergi Soraya melampiaskan protesnya pada sang suami.


"Honey, kamu apa-apaan sih menyetujui dia masuk ke perusahaan mu" kesal Soraya melihat Marco yang tampak biasa saja masih santai makan makanannya.


"Honey,.." sekali lagi Soraya memegang tangan suaminya.


"Apa?"


"Kenapa kamu mengijinkan Daniel masuk ke perusahaan mu?Lalu bagaimana dengan Reyhan anak kita,?"


"Daniel juga anakku Soraya dia berhak masuk ke perusahaan ku, lagi pula Mama Daniel mempunyai saham dari setengah perusahaan ku..Kalau dia tidak ku izinkan masuk bisa-bisa dia mengambil saham milik mamanya" jelas Marco tetapi membuat Soraya semakin tidak terima.

__ADS_1


"Pokoknya tidak bisa Honey, dia tidak boleh masuk ke perusahaan mu. Misalkan dia akan mengambil Saham milik Mamanya biarkan saja di ambil, kamu kan masih ada harta karun dari keluarga Suherman" ucap Soraya tersenyum penuh kemenangan.


"Tidak bisa honey, itu saja masih kurang"


"Lalu, kamu menyuruh Daniel masuk ke perusahaan. Bagaimana dengan Reyhan aku tanya?" Soraya seakan sudah kesal kehabisan cara bagaimana membujuk suaminya.


"Reyhan, dia sendiri yang tidak mau pulang ke Indonesia. Bayangkan sudah berapa tahun dia tidak mau pulang sedari umur 13 tahun dia di Jerman sampai saat ini dia tidak mau pulang. Jangan salahkan aku kalau haknya di ambil anakku yang lain" Marco membanting sendok nya di meja. Dia lelah mendengar kekesalan Soraya, membuat Marco langsung pergi dari meja makan.


"Honey, Honey,." panggil Soraya memanggil Marco yang tidak menggubris sama sekali.


Dia langsung membanting piringnya ke lantai, dengan penuh kekesalan.


Ternyata dari atas Daniel melihat itu semua, ia tersenyum miring melihat Soraya yang mengamuk seperti orang gila menurutnya.


………………


@Kediaman Suherman


Dena berjalan menginjakkan kaki nya di anak tangga menuruni tangga secara hati-hati. Melihat kebawah Dirga yang ternyata benar saja telah menunggunya, dia semakin penasaran serta heran sendiri sebenarnya pria itu akan mengajaknya kemana saat ini.


"Kau seperti gadis kampungan?Kenapa kau berpakaian seperti ini. Kau akan mempermalukan ku?" Ketus Dirga saat melihat penampilan Dena yang menggunakan celana jeans serta kaos panjang saja dan tas slempang berwarna biru. Tak lupa juga sepatu kets berwarna putih.


"Apa yang salah dengan diriku," Dena melihat dirinya yang menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilannya saat ini.


Dirga langsung berdiri menarik tangan Dena kuat, mengarahkan perempuan itu ke kaca besar yang ada diruang tengah.


"Kau lihat, kau lihat dirimu seperti gadis kampungan saja. Mengaca lah mengaca" Dirga memegang bahu Dena membentur-benturkan nya ke kaca.


"Kau gila apa yang kau lakukan, kau tidak punya otak memang tubuhku busa yang tidak sakit saat kau bentur-benturkan ke kaca" Dena menghempas tangan Dirga dari bahunya menatap Pria itu dengan tatapan menusuk.


"Kenapa kau tidak terima,?aku melakukan seperti itu padamu?Makanya jangan mencoba akan mempermalukan ku dengan tampilan mu yang seperti ini" sinis Dirga melihat Dena dan dia hendak melakukan hal yang tadi. Tapi sebelum dia sempat melakukannya Sisil terlebih dahulu sudah muncul.


"Ini ada apa ini?kok sepertinya ribut-ribut?" lembut Sisil memperhatikan dua pasang suami istri di depannya.


Dirga tersenyum dan langsung merangkul pundak Dena. Dena hendak melepaskannya tetapi langsung mendapat tatapan tajam Dirga.


"Nggak Ma, ini Dena marah aku suruh ganti baju. Padahal aku mau ngajak dia ketempat kerja aku habis itu nanti kita mai dinner. Dianya nggak mau, aku suruh ganti baju biar kelihatan lebih cantik lagi" ucap Dirga selembut mungkin didepan mamanya saat ini.

__ADS_1


Dena menatap kearah Dirga dalam hatinya ia, ingin sekali bicara yang sebenarnya pada Sisil tapi apalah daya dirinya saat ini.


"Ma coba bujuk dia siapa tahu dia mau, kalau mama yang suruh" ucap Dirga.


"Dena sayang, Mama tahu kamu nyaman pakai bajumu saat ini. Tapi, akan lebih cantik dirimu memakai sebuah gaun sayang. Yok sama mama, mama akan membuatmu sangat cantik" Sisil mengulurkan tangannya pada Dena, Dena diam sesekali ia melihat kearah Dirga yang menatapnya penuh intimidasi.


"Baiklah ma,." akhirnya Dena meraih tangan Sisil. Berjalan beriringan dengan perempuan paruh baya itu menuju kamar Sisil.


………………


Tidak butuh waktu lama bagi Sisil untuk mendandani Dena, sekarang Dena sudah terlihat sangat cantik dengan menggunakan Dress pendek di atas lutut berwarna biru dongker yang hampir senada dengan warna kemeja Dirga.


Serta sepatu high heels yang menghiasi kaki indahnya.


"Dirga bagaimana istrimu sekarang?" Tanya Sisil pada Dirga. Yang tadinya tidak memperhatikan kedatangan Dena dan Mamanya kini menatap dua orang perempuan di depannya.


Dirga merasa terpesona dengan tampilan Dena saat ini, perempuan itu terlihat semakin cantik saja sekarang kulit putih mulusnya semakin tampak dengan Dress berwarna biru dongker.


Membuatnya tak berkedip menatap Dena saat ini, hanya berdiri terpaku mengagumi kecantikan Dena.


"Dir,.Dirga?" panggil Mamanya kembali.


"Hayo, kamu terpesona sama penampilan istri kamu ya?" canda Sisil sambil merangkul bahu Dena.


Dena hanya diam saja, tak berekspresi sama sekali.


"Apa sih mah," ucap Dirga saat tersadar dari lamunannya. Dia harus bisa mengendalikan ekspresinya saat ini. Bisa-bisa perempuan matre di depannya terlalu kepedean.


"ayo kita berangkat, Ma aku berangkat dulu ya" Dirga mengulurkan lengannya ke arah Dena agar wanita itu mengaitkan tangannya di lengan tersebut.


Dena diam saja memperhatikan itu, dirinya malas untuk mengikuti sandiwara Dirga saat ini.


"Ma aku pergi dulu" ucap Dena pada Sisil lalu mencium tangan mertuanya. Dan ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Dirga yang menatapnya dingin seakan tidak terima di perlakukan seperti itu.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2