Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
105


__ADS_3

Daniel masuk kedalam ruangan rahasia Papanya yang dimana banyak foto Mamanya terpampang di situ.


Dia memperhatikan semua foto yang ada di situ. Tangannya ia lipat di belakang melihat itu semua yang seakan mengulang masa kebahagian keluarga mereka dulu.


"Ma, aku minta restu mu untuk membalaskan dendam pada perempuan itu" gumam Daniel mengusap foto Mamanya yang tersenyum manis duduk di kursi sambil menggendong mereka berdua. Itu foto terakhir Mamanya sebelum malam mengenaskan bagi Monica.


Foto mereka bertiga tanpa Marco yang sudah tidak perduli dengan keluarganya lagi. Daniel saja sempat heran bagaimana Papanya bisa memperoleh foto ini. Dan memajangnya di kamar rahasia ini.


"Kamu merindukan Mamamu?" tiba-tiba saja suara bas terdengar di belakang Daniel.


Daniel langsung melihat sekilas kebelakang, hanya sekilas saja.


"Bukan urusan Papa" Daniel akan segera melenggang pergi dari ruangan itu saat Papanya berjalan mendekati dirinya.


"Daniel.." panggil Marco saat Daniel akan menjauh darinya.


"Bantu Papa untuk menjadi Papa yang baik untuk kalian, bantu Papa juga untuk berdamai dengan kakakmu" dengan lemah Marco menatap Daniel.


Langkah Daniel langsung berhenti seketika, ia berbalik memandang Papanya.


"Aku tidak salah dengar dengan apa yang kau ucapkan barusan?" sinis nya.


"Terlambat Pa, waktu sudah berlalu bertahun-tahun dan kita berdua tidak mengharapkan lagi sosok seperti dirimu yang melindungi anaknya. Soal Kau ingin berdamai dengan Dena, berdamai lah dengan caramu sendiri. Aku tidak ingin membantumu, karena luka kakakku lebih besar dari lukaku yang kau sebabkan" setelah mengatakan panjang lebar seperti itu Daniel langsung melangkah pergi meninggalkan Papanya yang menatap ia pilu.


Sesudah Daniel tidak terlihat lagi, Marco menatap foto yang di tatap Daniel tadi foto Monica yang tersenyum manis.


"Bee, anak kita menurun diriku semua. Mereka keras kepala, dingin seperti diriku ya. Maaf aku sempat meragukan mu dulu, dan maaf aku telah bodoh. Tapi aku janji padamu, aku akan mendekatkan diri pada anak-anak kita dan aku akan menjaga mereka. Bantu aku ya, soal Soraya bantu aku juga untuk memberikan balasan yang manusiawi padanya karena bagaimanapun dia wanita sesaat yang sempat kucintai sebelum aku mengetahui kebusukannya. Dan dia juga merupakan ibu dari anakku." Jelas Marco sambil mengusap foto Monica.


………………


Matahari sudah menyingsing, memancarkan cahayanya menerangi bumi. Dirga saat ini sudah terbangun lebih awal dari Dena yang masih tidur disebelahnya dengan memeluk erat dirinya.


"Tumben kamu belum bangun sayang" gumamnya perlahan melepas tangan Dena yang memeluk dirinya saat ini.


Dirga mengambil Hpnya yang berada di balik bantal yang ia tiduri tadi.


Dia menyalakan Hp itu, saat Hp telah menyala banyak pesan masuk di dalamnya. Itu dari Juna dan Samuel yang mengirimkan pesan yang sama.


"Woy, kemana aja. Kau kita telpon tidak di jawab, apa kau lupa hari ini kita harus ke PRAHA K-PLUS. Kita ada rapat di sana dan kita bertiga harus hadir sebagai pemiliknya" begitulah isi pesan yang terpampang di situ.


"Aishh, mereka menyebalkan kenapa baru bilang" kesal Dirga menaruh Hpnya di kasur dan dia langsung bergegas menuju kamar mandi meninggalkan Dena yang masih lelap tertidur.


Beberapa menit kemudian Dirga keluar dari kamar mandi. Di segera berganti pakaian memilihnya sendiri di dalam lemari.


Dia kemudian segera berganti pakaian. Selesai berganti pakaian dia segera pergi. Tapi sebelum itu dia melihat Dena yang masih pulas tidur.


Dirga mendekati istrinya tersebut,


Dia mencium kening istrinya lembut penuh kehangatan.

__ADS_1


"Sayang aku berangkat ke kantor sebentar" ucapnya lirih takut mengganggu Dena yang sedang tidur.


Dirga langsung berjalan menuju pintu kamar, ia secara perlahan membuka pintu agar Dena tidak terbangun. Dena pasti sangat lelah karena semalam ia terbangun dan muntah-muntah seperti pagi hari. Membuat tubuh Dena lemas seketika, jujur rasanya tidak tega melihatnya seperti itu.


Makanya itu, lebih baik tidak membiarkan Dena bangun. Ia harus istirahat, agar tubuhnya lebih segar dan bayi yang di kandung Dena baik-baik saja.


°°°°°


Dua jam kemudian setelah Dirga pergi Dena baru bangun dari tidurnya. Ia meraba-raba sebelahnya yang tampak kosong. Seketika dia membuka mata karena tidak mendapati sosok suaminya di situ.


"Dirga,.Dirga Sayang...." panggil Dena sedikit berteriak mencari Dirga.


Entah kenapa rasanya ia ingin melihat Dirga saat ini. Ia ingin dipeluk serta diusap perutnya oleh Dirga tapi kemana pria itu.


"Sayang.." panggil Dena lagi mulai bangkit dari tidurannya.


Dia melangkah dari ranjang mencari Dirga,


"Dirga,." Dena berjalan kearah kamar mandi. Dia siapa tahu suaminya itu ada di situ.


Namun pintu kamar mandi sudah terbuka, tidak ada Dirga di sana.


"Kemana dia, bukannya sudah bilang mau menemaniku. Tapi apa ini dia tidak ada" ucap Dena pada dirinya sendiri.


Karena Dirga tidak ada di dalam kamar, Dena berjalan keluar kamar saat ini. Dia tidak akan berburuk sangka dulu, siapa tahukan Dirga ada di bawah.


Saat sudah ada di luar kamar saat ini, Dena tiba-tiba saja merasa pusing di kepalanya. Membuatnya terasa lemas seketika dan akan jatuh.


"Kamu tidak apa-apa Dena?" ucap Dewa yang menahan tubuh Dena yang akan limbung saat ini.


"Kak Dewa," lirihnya.


"Kamu mau kemana? Kamu pusing? Ayo masuk saja kedalam kamar lagi" ucap Dewa akan membantu Dena masuk kedalam kamar.


"Aku mau mencari Dirga, dia dimana?" tubuh Dena seakan menolak untuk masuk kembali kedalam kamar. Dia ingin bertemu Dirga sekarang.


"Dirga sedang ada di perusahaannya, mungkin sebentar lagi dia kembali. Sudah kamu masuk saja ke kamar. Nanti aku suruh Mama membawakan makanan untukmu" jelas Dewa, berusaha membuka pintu dan membantu Dena masuk kedalam.


Dena mendengar Dirga pergi ke perusahaan langsung terdiam,


"Dia bohong padaku" gumamnya saat berjalan masuk kedalam.


"Apa?Barusan kamu bilang apa Dena?" ucap Dewa yang sekilas mendengar itu.


"Tidak, aku tidak bilang apa-apa. Kak Dewa keluar saja sekarang, aku mau tidur. Kamu masuk kedalam kamar kan" ketus Dena dan mulai membaringkan tubuhnya.


Dewa hanya menatap bingung Dena, karena perubahan suasana perempuan itu.


"Ya sudah aku keluar. Kamu jangan keluar kemana-mana, nanti Dirga marah padamu" Dewa langsung berjalan keluar setelah memperhatikan Dena yang hanya diam seperti tidak mood.

__ADS_1


………………


"Sayang.." Dirga masuk kedalam kamarnya saat ini melihat Dena yang berbaring di tempat tidur dengan memakan sate di situ.


Mendengar ucapan Dirga itu Dena hanya diam saja tidak menyahuti. Dia tampak cuek saja dengan kedatangan Dirga.


"Kamu makan Sate," Dirga duduk di samping Dena mengambil satu sate yang ada di piring istrinya.


"Jangan ambil punyaku" ucap Dena dan langsung mengambil sate yang telah diambil Dirga.


"Satu saja sayang, pelit banget sih" gerutu Dirga.


"Aku tidak pelit, aku hanya tidak mau berbagi dengan pembohong sepertimu"


Dahi Dirga langsung terbentuk lipatan-lipatan menatap Dena tidak mengerti.


"Maksudnya?"


"Kamu bohong, katanya mau menemaniku tapi apa. Aku bangun kamu tidak ada kamu malah pergi" terang Dena tanpa menatap Dirga.


Dirga menghela nafas, sekarang dia tahu maksudnya.


"Aku ke perusahaan cuman sebentar sayang. Ini aku juga sudah pulangkan"


"Sayang kamu marah, kok diam aja jawab kenapa?" ucap Dirga lagi.


"Males, kasih jawaban"


"Astaga, kamu hamil seperti ini anak kita nanti mirip siapa coba. Cewek apa cowok, kayaknya kamu gampang marah sama aku"


"Ya sudah aku akui, aku telah membohongimu. Aku minta maaf ya" ucap Dirga mendekatkan diri pada Dena menatap intens mata istrinya.


Dena diam saja, tapi tangannya mengambil tangan Dirga.


"Aku mau diusap" ucapnya menaruh tangan Dirga di perutnya.


Dirga langsung tersenyum


"Oh jadi anak papa di sini mau diusap sama Papa" Dirga berbicara di depan perut Dena saat ini.


"Sini, satenya di singkirkan dulu" ucap Dirga mengambil piring sate yang ada di pangkuan Dena.


"Cepetan, diusap. Kamu tidak mau ya" tukas Dena mulai tidak sabar.


"Iya, sebentar" ucap Dirga dan kembali menaruh tangannya di perut Dena.


Dena tampak senang, dan dia mulai membaringkan tubuhnya dan menikmati usapan lembut Dirga di perutnya saat ini.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2