Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 27


__ADS_3

Kedua pasangan itu kini sedang berada di dalam mobil Dirga. Seperti biasa juga Dena selalu mengalihkan pandangannya ke lain arah. Menatap keluar Jendela tanpa berniat untuk sekedar menatap Dirga ataupun jalanan di depannya.


"Kau kenapa sih, harus ke rumah orang tuamu pakai bilang ke Mama sama Papa. Jadinya, aku yang disuruh mengantarkan mu sekarang" dumel Dirga sesekali melihat Dena yang melihat keluar mobil.


"Kalau kau tidak ikhlas mengantarku, lebih baik hentikan mobilnya sekarang. Aku bisa ke sana sendiri" ucap Dena menatap Dirga yang juga melihatnya saat ini


"Sudah terlanjur, tidak mungkin aku menurunkan mu disini. Nanti kau mengadu ke Mama sama Papa" jelas Dirga.


Dena diam, malas meladeni ucapan Dirga,


Dirga melihat kearah Dena sebenarnya ia penasaran ada apa di keluarga Dena sebenarnya kenapa saat mereka sarapan bersama tadi. Kedua orang tuanya tampak khawatir pada Dena yang akan ke rumah orang tuanya sendiri, sebenarnya apa yang mereka ketahui tentang ini semua. Kenapa dia menjadi penasaran sekali dengan hidup perempuan matre di depannya otaknya memang akhir-akhir ini tidak beres kenapa ia bisa mengkhawatirkan perempuan yang telah membuatnya hancur. Hancur dalam hubungan percintaannya.


Bahkan sekarang dia menyandang status jomblo, eh bukan jomblo statusnya sebagai suami sekarang. Tetapi, ia tidak mengakuinya jadi anggap sajalah dia jomblo sekarang, harus mencari wanita lain selain Clara.


………………


Mobil Daniel sudah sampai didepan rumah Dena saat ini, Dena langsung turun dari mobil berjalan kearah pengemudi.


"Kau kalau mau pulanglah, aku nanti bisa pulang sendiri" ucap Dena menyuruh Dirga untuk pulang saja.


Setelah mengatakan itu, Dena langsung berjalan menuju pintu rumahnya. Tanpa di duga Dirga turun dari mobil menyusul Dena.


"Kenapa kau juga turun?" tanya Dena saat mengetahui Dirga berjalan dibelakangnya saat ini.


"Terserah diriku," ketus Dirga dia malah lebih dulu membunyikan bel rumah Dena.


Dena melihat Dirga penuh keheranan, padahal pria itu sedari tadi kesal tapi kenapa ia malah ikut masuk kedalam rumah orang tuanya.


Pintu rumah terbuka seorang pelayan berseragam membukakan pintu rumahnya tersebut.


"Oh non Dena, masuk non masuk den" ucap pelayan tersebut mempersilahkan majikannya untuk masuk kedalam.


Dena dan Dirga berjalan masuk kedalam rumah Marco.


"Kau duduk disini saja aku mau ke kamarku sebentar" ucap Dena menyuruh Dirga untuk duduk saja di kursi ruang tamu karena ia harus ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.


"Berani sekali kau memerintah ku," ketus Dirga tidak terima, dia menatap tajam Dena.


"Kamarmu dimana?Aku ingin tahu" tambahnya lagi, sambil menarik kecil tangan Dena memaksa perempuan itu berjalan memberitahukan kamarnya.

__ADS_1


"Lepaskan" tajam Dena menghempas tangan Dirga.


"Jangan pernah kau, pergi ke kamarku" ketus Dena lalu berjalan pergi meninggalkan Dirga di tempatnya.


"Kau kira, kau bisa memerintah ku sesuka hati" Desis Dirga berjalan menyusul Dena yang sudah menaiki tangga untuk ke lantai dua.


Dena sebenarnya menyadari itu, tetapi ia hanya diam saja membiarkan Dirga mengikutinya. Karena pria itu tipe pria yang tidak bisa di tentang.


………………


Dena sampai di depan kamarnya ia berdiri ditempatnya saat ini. Melihat sekilas ke belakang dimana ada Dirga yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ternyata ini kamarmu, ah kenapa aku bisa lupa padahal dulu aku sempat menguping dirimu disini" ucap Dirga berjalan mendekat hendak membuka pintu kamar yang bertuliskan nama Dena disitu.


"Jangan pernah membuka kamarku" baru saja Dena mengatakan itu dengan lancangnya Dirga langsung membuka pintu kamar Dena yang luas tetapi jauh lebih luas kamarnya.


Dena kesal dengan Dirga yang langsung masuk saja kedalam kamarnya saat ini. Membuat dirinya langsung ikut masuk kedalam untuk melampiaskan kesalnya dengan menarik Dirga keluar dari situ. Tapi sebelum keinginannya itu ia lakukan.


Dena terpaku ditempatnya ketika masuk kedalam kamar miliknya yang sudah lama tidak ia tinggali,


Kamar yang dulu hampir penuh dengan berbagai miniatur hiasan kamar dan foto-foto Mamanya kini itu semua tidak ada hanya menyisakan tempat tidur saja yang menjadi warna abu-abu.


Ia merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Kemana semua perginya foto mamanya, siapa yang berani menyingkirkannya. Apa Papanya yang melakukannya.


Dirga yang melihat Dena langsung mengarah ke lemari dikamar perempuan itu tampak penasaran. Karena dia tampak tergesa-gesa dan seperti marah.


Tidak jauh beda, lemari Dena hanya menyisakan beberapa bajunya bahkan barang-barang Mamanya juga tidak ada disitu.


Bahkan dia sudah mencari-cari sampai mengeluarkan baju-bajunya, cincin serta boneka yang menjadi peninggalan mamanya tidak ada.


"Hei, kau sudah gila. Kenapa kau mengamuk begitu" ucap Dirga tidak mengerti melihat Dena yang seperti orang tidak waras diam membuang baju-bajunya ke lantai.


Dena tidak menggubrisnya, perempuan itu berdiam di depan lemari. Seperti sedang berpikir.


Dena mengepalkan kedua tangannya erat, menutup pintu lemari dengan keras lalu ia berjalan terburu-buru mengepalkan tangannya wajahnya mengeras melewati Dirga yang tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada perempuan itu. Kenapa dia sekarang kelihatan marah.


Dena berjalan cepat keluar kamar, Dirga yang tadi diam juga ikut mengejarnya menuruni tangga. Menuju ke salah satu kamar yang ada diruang tengah.


"Bagaimana bisa dia melakukan itu padaku, padahal aku sudah menuruti kemauannya" gumam Dena tangannya mengepal semakin erat.

__ADS_1


Dia terus berjalan kearah kamar tamu yang biasanya ditiduri Papanya dengan perempuan ular itu.


"Buka pintunya, Papa buka pintunya" teriak Dena sambil menggedor-gedor pintu kamar yang tertutup rapat tersebut.


Dirga masih tidak mengerti dengan perempuan didepannya saat ini yang masih terlihat marah sambil menggedor-gedor kamar tamu.


"Aku bilang buka pintunya,!!Apa kalian tuli!!" ucap Dena begitu keras sambil terus menggedor pintu yang tak kunjung terbuka.


"Apa kalian sedang melakukan hal menjijikan sampai-sampai tidak bisa membuka pintu" Dena semakin keras menggedor pintu.


Membuat Dirga juga semakin mengernyitkan dahinya tak mengerti. Dia hanya melihat Dena dari belakang perempuan tersebut.


"Aku bilang buka" ucap Dena sudah mulai frustasi.


Baru saja ia akan luruh ke lantai pintu itu terbuka menampakan Soraya yang mengenakan jubah mandinya.


"Ada apa dengan dirimu anak tidak tahu sopan santun. Berisik sekali mengganggu diriku yang sedang mandi" ucap Soraya kesal.


Dena langsung berdiri tegak didepan tepat didepan Soraya menatap perempuan itu penuh kebencian.


Dena mendorong Soraya kuat, hingga membentur pintu lalu ia masuk kedalam berniat mencari Papanya.


Daniel yang ada disitu tadi sedikit terkejut melihat Dena yang mendorong mamanya.


"Anak Sialan," kesal Soraya sambil berdiri mengejar Dena yang masuk kedalam.


"Dimana Papaku, "tegas Dena menatap Soraya penuh emosi.


"Kau bodoh, tentu saja jam segini Papamu sedang bekerja. Ada apa kau mencari Papamu pagi-pagi begini"


"Baiklah, aku tanya saja denganmu wanita ular. Pasti kau juga mengetahuinya,"


"Aku tanya siapa yang berani merubah kamarku dan membuang foto-foto Mamaku yang ada di dalam kamar" ucap Dena penuh emosi dan penekanan di setiap katanya.


"Aku, aku yang membuang foto-foto Mamamu yang menjijikan itu" ucap Soraya dengan wajah yang menantang.


Plakkk


Dirga yang melihat itu merasa syok..

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2