Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 65


__ADS_3

Dena keluar dari kamarnya, melihat sudah ada Sisil yang berdiri di depannya saat ini.


"Kamu baru bangun tidur ya nak, maaf ya mama mengganggumu" ucap Sisil merasa bersalah pada Dena.


Dena tersenyum memperhatikan mertuanya.


"Tidak ma, Mama tadi bilang ada Daniel ya di bawah?" ucap Dena.


"Iya, Daniel ada di bawah. Katanya dia ingin bicara denganmu," tutur Sisil.


"Kalau begitu aku kebawah dulu ya ma" ucap Dena dan akan berjalan pergi ke lantai satu rumah mereka.


"Dirga belum bangun ya Dena,?" tanya Sisil.


"Di..dia sudah bangun" gugup Dena dan langsung berjalan pergi meninggalkan mertuanya yang tampak penasaran.


Bertepatan dengan Sisil yang akan pergi dari depan kamar putranya Dirga keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos putih dan celana jeans pendek.


"Ternyata kamu sudah bangun, Mama kira kamu belum bangun" ucap Sisil saat Dirga menutup pintu kamarnya.


"Sudah, dari tadi aku bangun ma. Malah mau bikinin mama cucu, eh malah ganggu" ucap Dirga asal dan dia lang nyelonong pergi membuat Sisil bingung sendiri. Tapi saat dia sadar ia tersenyum dan mengejar Dirga yang akan menuruni tangga


"Dirga, Dirga kamu tadi serius mau bikinin cucu buat mama. Ah tadi aturan mama nggak usah manggil-manggil kalian berdua ya. Tapi sudah kan kalian begitunya" ucap Sisil antusias dan terkesan menggoda Dirga.


"Ya nggak ma, belum apa-apa mama sudah teriak-teriak" ucap Dirga


"Sudah ah, aku mau sarapan. Aku lapar" Dirga langsung berjalan lagi untuk menuju ke dapur.


………………


"Daniel.." panggil Dena saat dia melihat Daniel yang duduk di ruang tengah rumah mertuanya.


Daniel langsung menoleh melihat Dena yang berjalan mendekat kearahnya saat ini.

__ADS_1


"Ada apa kamu ingin menemui ku?" tanya Dena memperhatikan Daniel yang saat ini berdiri di depannya sambil melihat dirinya dari atas ke bawah.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Daniel terkesan khawatir.


"Maksudnya?aku baik-baik saja"


"Aku dengar dari pembicaraan Papa dengan perempuan ular itu terkesan kamu telah disakiti olehnya" jelas Daniel masih menelisik badan Dena mencari bekas luka apa yang ditinggalkan perempuan murahan itu.


"Aku tidak apa-apa Daniel"


Daniel terdiam, netra matanya melihat ke leher Dena saat ini. Dia langsung menyibak rambut Dena yang menutupi sesuatu yang tampak memar berwana merah sedikit kebiruan.


"Ini bekas apa, apa bekas perempuan itu yang mencelakai mu. Kenapa kamu tidak jujur padaku" ucap Daniel masih memperhatikan memar di leher Dena.


"I..ini, ini bukan apa-apa" Dena langsung menutupinya kembali dengan gugup.


"Ini bukan karena wanita itu, ini tidak apa-apa" lanjut Dena gugup dan bingung harus bagaimana membicarakannya.


"Sudahlah, aku tahu bekas apa itu.." ucapnya merasa kikuk saat melihat kembarannya yang menunduk malu.


Dena mendongak melihat Daniel, dia kaget kalau Daniel tahu.


"Sudah kita bicarakan hal lain," ucap Daniel sedikit cuek dan duduk kembali ke sofa.


"Kenapa kamu melamun, duduk sayang. Kembaran mu sudah duduk tuh, kamu malu karena dia tahu" celetuk Dirga yang ternyata sudah berdiri bersender di tangga dengan dua tangan yang terlipat di dada.


Daniel diam memperhatikan Dirga yang malah tersenyum melihatnya. Sementara Dena terpaku di tempat saat mengetahui ternyata Dirga ada didekatnya. Ingatannya kembali pada kejadian tadi membuatnya merasa malu sendiri sekarang.


"Sudah sana, kembaran mu menunggu. Aku akan ke dapur, kalau aku disini pasti kau tidak akan konsen untuk bicara" Setelah mengatakan itu Dirga langsung melenggang pergi ke dapur untuk melakukan tujuan awalnya tadi sebelum mendengar pembicaraan kedua saudara itu. Dia ingin mengisi perutnya saat ini.


Saat Dirga pergi Dena langsung berjalan kearah Sofa dia duduk di Sofa lain yang berada di sebelah sofa Daniel duduk.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Dena melihat Daniel yang duduk diam.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memastikan kalau dirimu tidak apa-apa itu saja" jawab Daniel.


"Aku akan memulai aksiku" lanjutnya lagi.


"Maksudmu," Dena tidak mengerti dengan perkataan Daniel tadi.


"Aku akan mengambil alih perusahan kakek dan akan ku Investasikan semua ke perusahaan Papa dengan itu maka hampir setengah nya perusahaan Papa menjadi milikku. Akan ku buat perempuan ular itu tidak bisa memilikinya dan akhirnya ia akan mencampakkan Papa." Jelas Daniel penuh keyakinan tanpa ada keraguan dalam perkataannya itu.


"Daniel jangan terburu-buru, pikirkan dengan matang terlebih dahulu" ucap Dena menasehati.


"Aku sudah muak melihat perempuan ular itu yang seenaknya sendiri. Dia kira dengan kekayaan Papa dia bisa melakukan apapun terhadap dirimu. Dia sudah menanamkan kebencian di hati Papa untuk kita. Maka aku akan membalikkan kebencian yang telah kita terima kepadanya."


"Daniel kita tidak bisa langsung begitu, bagaimana dengan Reyhan apa dirimu tidak kasihan dengan Reyhan. Bagaimana pun juga dia adik kita, dia pasti merasa sedih jika kita langsung menghancurkan Mamanya"


"Jangan bilang adik kita, apa buktinya dia adik kita. Aku tidak memiliki adik, Jika kau tidak mau terlibat. Biar aku sendiri yang melakukannya. Sepertinya kau sudah luluh dengan yang namanya cinta" ucap Daniel dan di akhir dia terkesan menyindir Dena.


Dena langsung melihat kearah Daniel,


"Apa maksudmu Daniel, jangan berbicara seolah kau mengetahuinya".


"Kenapa kau marah?Kau tersinggung aku hanya bercanda. Terserah dirimu kalau mulai jatuh cinta dengan suamimu itu. Tapi kau harus waspada, dan mempersiapkan diri untuk terluka. Kau tahu sendiri bagaimana sikap suamimu itu" ucap Daniel memperingatkan Dena.


"Dan Soal Reyhan berikan bukti dulu kalau dia memang adik kita, mungkin kalau ada bukti aku bisa sedikit lunak dengan bocah itu. Sepertinya aku tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Aku meminta doa darimu sebagai kakakku. Aku akan mulai melakukan apa yang ingin ku lakukan untuk membalas apa yang telah mereka lakukan pada Mama kita" Daniel segera berdiri dari duduknya melihat kakaknya yang terdiam tak bicara. Sebenarnya dia merasa bersalah sih sudah berbicara begitu dengan Dena tapi mau bagaimana lagi. Dia harus memperingatkan kakaknya agar lebih waspada supaya tidak tersakiti seperti Mamanya yang dengan tulus mencintai Papanya tapi akhirnya malah dibuat sakit hati hingga dia tiada.


"Aku pergi" ucap Daniel dan langsung pergi meninggalkan Dena yang diam saja tidak bicara.


"Oh iya, Sebentar lagi Panti Harapan Bunda ulang tahun. Kita disuruh datang ke sana" ucap Daniel kembali berjalan pergi setelah sempat berhenti melihat kakaknya yang diam menatapnya lemah.


Ucapan Daniel itu sekarang memenuhi kepalanya membuat ia bingung untuk melakukan apa sekarang. Apa dia harus melakukannya seperti Daniel, tapi disisi lain ada Reyhan. Semenjak dia memiliki hubungan lebih dekat lagi dengan adik bungsunya itu ia semakin bimbang bagaimana perasaan adiknya yang lain.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2